๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku mencintainya tapi aku tidak pernah menginginkan hal ini
terjadi sekalipun aku selalu berharap dia kembali padaku. Karena melihat
ratapan Saira di rumah sakit, aku semakin sadar aku memang tidak punya harapan.
Aku tidak berdaya saat dia datang dengan wajah berantakan dan buru-buru masuk
ke ruang ICU untuk melihat Adrian. Sementara aku berdiri di luar dengan pakaian
dipenuhi noda darah.
Entah apa yang membuat dia datang menjemput Sunny hari ini;
di saat jadwal tugasnya sangat padat. Dia datang sebelum aku sempat
menyelamatkan Sunny dari perempuan gila itu dan harus menyaksikan bagaimana
mobil itu menabraknya; lalu bagaimana dia terlempar jauh dan terhempas di
jalan. Aku juga menyaksikan bagaimana darahnya mengalir dengan deras. Sementara
Sunny terjatuh tidak jauh dari sisi jalan karena Adrian mendorongnya dengan
kuat dari tengah jalan.
Kenapa dia yang menggantikan posisiku?
Aku mendengar Saira menjerit. “Adriaaaaaaaaaaan!” diiringi
tangisan pilu seorang istri yang baru saja kehilangan.
Aku tidak sanggup menengok ke dalam ruangan itu karena aku
sudah tahu bahwa Adrian tidak selamat. Adrian sudah tidak selamat dalam
perjalanan ke sini.
Suara Saira menggema ke seluruh penjuru rumah sakit dan aku
yang merasa bersalah berjalan ke arah sebaliknya; menuju ke tempat di mana
putraku berada.
Seorang dokter menjaganya dan berusaha menetralisir trauma
yang dia alami beberapa jam yang lalu. Lutut dan sikunya yang terluka sudah
diobati dan ditutupi dengan perban. Ketika dia melihatku dia menangis lagi;
mungkin dia mendengar tangis ibunya yang pecah. Sunny juga sudah memahami bahwa
Papa-nya tidak akan kembali.
“Daddy...,” dia memanggilku lirih. “Apa Mama nggak apa-apa?”
Aku memeluknya dan berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Semuanya akan baik-baik saja....
Setengah jam kemudian aku menemukan Saira tengah melangkah
ke arah kami dengan mata sembab. Beberapa noda darah menempel di setelan
kantoran yang dia kenakan. Aku tak tahan melihatnya karena dia bahkan berjalan
tanpa alas kaki. Rambutnya yang tergerai panjang begitu acak-acakan. Dia tampak
ingin meraih Sunny yang langsung berlari padanya dan ia memeluknya.
Aku masih tidak punya kata-kata untuknya. Aku ingin
mengucapkan maaf tapi takut.
Namun, saat dia menatapku sedih, aku merasa bahwa dia tidak
menginginkan maaf atau pun penjelasan dariku. Dia tampak tidak membutuhkan
semua itu karena tubuhnya sudah lebih dulu rapuh. Kedua kakinya mendadak lemas
saat dia memeluk Sunny yang menangis.
Aku pun mendekat; aku merasa dia membutuhkanku saat ini.
***
Satu bulan kemudian....
“Kamu pikir penjara itu menakutkan?” perempuan itu
menanyaiku dengan seringai orang gilanya yang khas. “Kamu sudah mengurungku di
sini selama tiga tahun, Sid. Seorang yang pernah di penjara kehidupannya nggak akan
pernah utuh lagi.”
“Ya, khususnya untuk seorang pembunuh gila seperti kamu,”
balasku sambil menatapnya tajam sampai ingin kucekik lehernya.
Aku dan Reggina sudah mengirimnya kembali ke tempat di mana
harusnya ia berada seumur hidupnya agar tidak menghilangkan nyawa orang lain
lagi. Dia benar-benar sudah gila. Aku menuntutnya atas pembunuhan berencana
yang jelas akan membuatnya dihukum mati atau paling tidak dikurung selama sisa
hidupnya.
“Sayangnya aku salah sasaran, Sid...,” dia kembali
menyeringai; bicara dengan nada gemulai seakan ingin merayu. “Harusnya anak
sialan itu. Tapi..., aku nggak nyangka dokter itu memillih jalan yang sama
dengan adiknya. Mati di tanganku....”
Perkataannya membuat darahku mendidih tapi Reggina di
sampingku berusaha menenangkanku. Dia memegangi lenganku yang inign menampar
wajahnya.
“Harusnya kamu berterima kasih sama aku, Sayang...,” dia
berkata lagi; makin terpancing karena emosiku.
Sampai detik ini aku masih tidak percaya; mengapa aku pernah
berkata mencintai perempuan sialan ini!
“Kalau dokter itu mati artinya kamu bisa kembali lagi sama
cinta sejati kamu,” godanya lalu tertawa cengegesan. “Sebulan atau dua bulan lagi, kamu pasti
sudah bisa meniduri dia seperti yang biasa kamu lakukan, Sidney. Bukannya dia
pelacur sejak SMA?”
Aku berdiri dan tak bisa mengendalikan amarahku lagi. Dengan
mudahnya aku melayangkan tamparan keras ke wajah perempuan yang tidak sudi lagi
kusebut namanya itu. Tubuhnya bahkan sampai terpental dan aku sama sekali tidak
merasa harga diriku terluka hanya karena memukul seorang perempuan yang mana belum pernah kulakukan sebelumnya. Dia
memang pantas mendapatkannya.
Dua orang sipir wanita langsung mendekat dan menjauhkan
perempuan itu dariku karena menyadari gelagatku yang ingin menamparnya sekali
lagi.
“Sidney,” Reggina kembali menarik lenganku dengan kuat. Dia
mulai tampak khawatir.
Tawa kegilaan itu kembali terdengar. Dia meronta melepaskan
diri dari sipir wanita dan tampak masih ingin menantangku.
“Ini sudah berakhir, Sidney...,” dia mengingatkan. “Aku
menang.”
“Yes, you win...,” kataku, membalas seringainya itu.
“But you are still a psycho bitch! Remember, psycho bitch!”
Umpatanku yang terakhir menghapus seringai di bibirnya. Aku
yakin dia pasti terkejut kata-kata kasar itu keluar dari bibirku. Dia pasti
masih ingat bagaimana selama ini aku memperlakukannya dengan baik; bersikap
patuh kepadanya. Tapi, dari lubuk hatiku yang paling dalam saat ini, aku
berharap Magisa Sunariya yang kunikahi sepuluh tahun yang lalu, membusuk di
penjara. Selamanya.
Reggina membawaku pergi saat wanita itu mengamuk. Dia
membalikan kursi dan meja tempat kami duduk berhadapan. Aku tidak memperhatikan
bagaimana sipir menyeretnya pergi. Dia pasti meronta sekuat tenaga, berusaha
untuk bisa mengejarku dan membalasku. Tapi, sekali aku menoleh, aku melihat dia
menatapku dengan sedih. Dia benar-benar sudah gila.
“Aku kaget kamu bisa bicara seperti itu...,” komentar
Reggina saat kami berjalan menuju mobil yang parkir di luar lapas. “Like...
it’s not you....”
“She deserved it...,” balasku sambil mempercepat
langkahku lalu menoleh sejenak padanya. “People changed, my sister...”
Reggina tersenyum.
“Jadi... setelah ini apa?” tanya dia kemudian sambil menatap
lurus ke depan di mana seorang perempuan bergaun hitam berdiri tidak jauh berdiri dari
mobilku.
Aku juga memandangi Saira yang tampak menunggu kami kembali.
Walaupun memakai kaca mata hitam, aku tahu Saira tengah mengawasi langkahku dan
Reggina. Dia sengaja tidak ingin masuk karena trauma akan perempuan itu kembali
bangkit. Itu wajar. Dia kehilangan sahabatnya, sekarang dia juga harus
merelakan suaminya. Aku memahami perasaan itu ketika kehilangan Beatriz.
Kehadiran perempuan itu seperti duri bagi kami dan aku sudah menyingkirkannya
jauh-jauh dari kehidupan Saira juga kehidupanku.
“Aku mau bicara dengan kamu, Sidney...,” katanya. “Empat
mata.”
Dengan segera, Reggina menjauh dari kami. Sementara
telingaku masih belum terbiasa dengan cara Saira memanggilku; walaupun itu
sudah berlangsung sejak lama. Mendengarnya memanggilku ‘Sidney’ mengartikan
bahwa tidak ada lagi sesuatu yang khusus untukku darinya. Terkadang aku rindu
dia memanggilku ‘Azid’ walaupun itu kedengaran aneh.
Saira masih belum melepaskan kaca matanya; bagiku ini bukan
empat mata. Dia tampak tidak sudi memandangku karena beberapa kali memalingkan
wajahnya bahkan aku tak tahu entah dia sedang menatapku juga atau tidak. Tapi,
aku sudah mempunyai firasat dan apa pun tentang firasat itu sama sekali tidak
baik untukku.
“Terima kasih kamu sudah menemani aku dan Sunny belakangan
ini di saat sebenarnya kamu punya urusan yang lebih penting,” katanya. “Tapi,
mungkin aku nggak akan nyaman dengan situasi itu kalau bertahan lebih lama.”
“Kenapa?”
“Jangan tanya kenapa, Sidney,” suaranya tiba-tiba meninggi.
“Adrian sudah tiada. Aku masih punya kehidupan. Aku hanya ingin semuanya
kembali seperti semula. Aku dengan kehidupanku dan kamu dengan kehidupanmu.”
Apakah Saira sedang mempertegas bahwa dia ingin aku pergi?
Aku diam.
“Jangan pernah berharap. Kamu sudah tahu kalau kita nggak
akan pernah kembali lagi,” Saira mengatakannya juga; tapi aku sudah menduganya.
Cintanya untukku sudah lama padam. “Jadi lupakan aku....”
Tanpa mendebatnya, aku mengangguk. “Baik, kalau begitu jaga
diri kamu baik-baik, Saira...,” kataku berusaha untuk tetap tenang. “Aku akan
melupakan kamu....”
Saira bersiap untuk pergi. Senyum simpul sempat ia
perlihatkan sebelum ia membalikan badannya dan naik ke mobil silver yang berada
tidak jauh dari mobilku. Dia mengendarainya seorang diri.
Deru mesin terdengar; dan mobil itu mulai bergerak menjauh.
Aku menyaksikannya berlalu dari hadapanku dengan khidmat;
seperti menunggu malam berakhir saking mengharapkan fajar. Dan fajar itu datang
juga. Matahari terbit dan mengakhiri semuanya. Demikian pula harapanku yang
sesungguhnya tidak pernah ada bersamanya. Aku bukan Adrian yang bisa menunggu
dengan sabar sampai Saira berpaling. Keinginanku terhadap Saira begitu besar
bahkan di saat pertama kali mengenalnya. Itulah kenapa aku menyentuhnya
walaupun aku tahu itu keliru; untuk menjadikannya milikku seorang. Sekarang pun
aku masih mencobanya walaupun tak pantas bagiku. Dia telah mengubur semua
cintanya bersama dengan Adrian.
Aku tidak akan pernah menjadi Adrian hanya untuk membuatnya
kembali. Aku tetaplah Sidney Adams yang gegabah. Tapi, setidaknya aku ingin
percaya apa yang pernah Adrian percayai, sesuatu yang ditakdirkan menjadi
milikku akan kembali dengan sendirinya. Tidak peduli seribu tahun sekali pun.
Aku akan selalu mencintai Saira....
***fin
Masih penasaran dengan jalan ceritanya? Hm.... sebenarnya kisah Saira dan Sidney nggak hanya sampai di sini lho. Mereka akan hadir meramaikan salah satu novel upcoming yaitu Getting Her Heart Back yang akan segera diposting. Eits, tapi tunggu dulu. Kasihan penggemar Harrish dan Sabina di My Evil Boss yang masih menunggu akhir kisah cinta mereka. Jadi, hold your self dan nikmati karya-karya author yang lain dulu ya.



sambil nunggu chapter baru di upload.. mampir kesini dulu sajaa.. ayoo donk mbaa lanjut upload next chapter nya " getting her heart back "...
Sip deh. Hehehhe