[Novel Romantis] Saira Epilog (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Aku mencintainya tapi aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi sekalipun aku selalu berharap dia kembali padaku. Karena melihat ratapan Saira di rumah sakit, aku semakin sadar aku memang tidak punya harapan. Aku tidak berdaya saat dia datang dengan wajah berantakan dan buru-buru masuk ke ruang ICU untuk melihat Adrian. Sementara aku berdiri di luar dengan pakaian dipenuhi noda darah.

Entah apa yang membuat dia datang menjemput Sunny hari ini; di saat jadwal tugasnya sangat padat. Dia datang sebelum aku sempat menyelamatkan Sunny dari perempuan gila itu dan harus menyaksikan bagaimana mobil itu menabraknya; lalu bagaimana dia terlempar jauh dan terhempas di jalan. Aku juga menyaksikan bagaimana darahnya mengalir dengan deras. Sementara Sunny terjatuh tidak jauh dari sisi jalan karena Adrian mendorongnya dengan kuat dari tengah jalan.

Kenapa dia yang menggantikan posisiku?

Aku mendengar Saira menjerit. “Adriaaaaaaaaaaan!” diiringi tangisan pilu seorang istri yang baru saja kehilangan.

Aku tidak sanggup menengok ke dalam ruangan itu karena aku sudah tahu bahwa Adrian tidak selamat. Adrian sudah tidak selamat dalam perjalanan ke sini.

Suara Saira menggema ke seluruh penjuru rumah sakit dan aku yang merasa bersalah berjalan ke arah sebaliknya; menuju ke tempat di mana putraku berada.

Seorang dokter menjaganya dan berusaha menetralisir trauma yang dia alami beberapa jam yang lalu. Lutut dan sikunya yang terluka sudah diobati dan ditutupi dengan perban. Ketika dia melihatku dia menangis lagi; mungkin dia mendengar tangis ibunya yang pecah. Sunny juga sudah memahami bahwa Papa-nya tidak akan kembali.

“Daddy...,” dia memanggilku lirih. “Apa Mama nggak apa-apa?”

Aku memeluknya dan berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja....

Setengah jam kemudian aku menemukan Saira tengah melangkah ke arah kami dengan mata sembab. Beberapa noda darah menempel di setelan kantoran yang dia kenakan. Aku tak tahan melihatnya karena dia bahkan berjalan tanpa alas kaki. Rambutnya yang tergerai panjang begitu acak-acakan. Dia tampak ingin meraih Sunny yang langsung berlari padanya dan ia memeluknya.

Aku masih tidak punya kata-kata untuknya. Aku ingin mengucapkan maaf tapi takut.

Namun, saat dia menatapku sedih, aku merasa bahwa dia tidak menginginkan maaf atau pun penjelasan dariku. Dia tampak tidak membutuhkan semua itu karena tubuhnya sudah lebih dulu rapuh. Kedua kakinya mendadak lemas saat dia memeluk Sunny yang menangis.

Aku pun mendekat; aku merasa dia membutuhkanku saat ini.

***

Satu bulan kemudian....

“Kamu pikir penjara itu menakutkan?” perempuan itu menanyaiku dengan seringai orang gilanya yang khas. “Kamu sudah mengurungku di sini selama tiga tahun, Sid. Seorang yang pernah di penjara kehidupannya nggak akan pernah utuh lagi.”

“Ya, khususnya untuk seorang pembunuh gila seperti kamu,” balasku sambil menatapnya tajam sampai ingin kucekik lehernya.

Aku dan Reggina sudah mengirimnya kembali ke tempat di mana harusnya ia berada seumur hidupnya agar tidak menghilangkan nyawa orang lain lagi. Dia benar-benar sudah gila. Aku menuntutnya atas pembunuhan berencana yang jelas akan membuatnya dihukum mati atau paling tidak dikurung selama sisa hidupnya.

“Sayangnya aku salah sasaran, Sid...,” dia kembali menyeringai; bicara dengan nada gemulai seakan ingin merayu. “Harusnya anak sialan itu. Tapi..., aku nggak nyangka dokter itu memillih jalan yang sama dengan adiknya. Mati di tanganku....”

Perkataannya membuat darahku mendidih tapi Reggina di sampingku berusaha menenangkanku. Dia memegangi lenganku yang inign menampar wajahnya.

“Harusnya kamu berterima kasih sama aku, Sayang...,” dia berkata lagi; makin terpancing karena emosiku.

Sampai detik ini aku masih tidak percaya; mengapa aku pernah berkata mencintai perempuan sialan ini!

“Kalau dokter itu mati artinya kamu bisa kembali lagi sama cinta sejati kamu,” godanya lalu tertawa cengegesan.  “Sebulan atau dua bulan lagi, kamu pasti sudah bisa meniduri dia seperti yang biasa kamu lakukan, Sidney. Bukannya dia pelacur sejak SMA?”

Aku berdiri dan tak bisa mengendalikan amarahku lagi. Dengan mudahnya aku melayangkan tamparan keras ke wajah perempuan yang tidak sudi lagi kusebut namanya itu. Tubuhnya bahkan sampai terpental dan aku sama sekali tidak merasa harga diriku terluka hanya karena memukul seorang perempuan yang  mana belum pernah kulakukan sebelumnya. Dia memang pantas mendapatkannya.

Dua orang sipir wanita langsung mendekat dan menjauhkan perempuan itu dariku karena menyadari gelagatku yang ingin menamparnya sekali lagi.

“Sidney,” Reggina kembali menarik lenganku dengan kuat. Dia mulai tampak khawatir.

Tawa kegilaan itu kembali terdengar. Dia meronta melepaskan diri dari sipir wanita dan tampak masih ingin menantangku.

“Ini sudah berakhir, Sidney...,” dia mengingatkan. “Aku menang.”

“Yes, you win...,” kataku, membalas seringainya itu. “But you are still a psycho bitch! Remember, psycho bitch!”

Umpatanku yang terakhir menghapus seringai di bibirnya. Aku yakin dia pasti terkejut kata-kata kasar itu keluar dari bibirku. Dia pasti masih ingat bagaimana selama ini aku memperlakukannya dengan baik; bersikap patuh kepadanya. Tapi, dari lubuk hatiku yang paling dalam saat ini, aku berharap Magisa Sunariya yang kunikahi sepuluh tahun yang lalu, membusuk di penjara. Selamanya.

Reggina membawaku pergi saat wanita itu mengamuk. Dia membalikan kursi dan meja tempat kami duduk berhadapan. Aku tidak memperhatikan bagaimana sipir menyeretnya pergi. Dia pasti meronta sekuat tenaga, berusaha untuk bisa mengejarku dan membalasku. Tapi, sekali aku menoleh, aku melihat dia menatapku dengan sedih. Dia benar-benar sudah gila.

“Aku kaget kamu bisa bicara seperti itu...,” komentar Reggina saat kami berjalan menuju mobil yang parkir di luar lapas. “Like... it’s not you....”

“She deserved it...,” balasku sambil mempercepat langkahku lalu menoleh sejenak padanya. “People changed, my sister...”

Reggina tersenyum.

“Jadi... setelah ini apa?” tanya dia kemudian sambil menatap lurus ke depan di mana seorang perempuan bergaun  hitam berdiri tidak jauh berdiri dari mobilku.

Aku juga memandangi Saira yang tampak menunggu kami kembali. Walaupun memakai kaca mata hitam, aku tahu Saira tengah mengawasi langkahku dan Reggina. Dia sengaja tidak ingin masuk karena trauma akan perempuan itu kembali bangkit. Itu wajar. Dia kehilangan sahabatnya, sekarang dia juga harus merelakan suaminya. Aku memahami perasaan itu ketika kehilangan Beatriz. Kehadiran perempuan itu seperti duri bagi kami dan aku sudah menyingkirkannya jauh-jauh dari kehidupan Saira juga kehidupanku.

“Aku mau bicara dengan kamu, Sidney...,” katanya. “Empat mata.”

Dengan segera, Reggina menjauh dari kami. Sementara telingaku masih belum terbiasa dengan cara Saira memanggilku; walaupun itu sudah berlangsung sejak lama. Mendengarnya memanggilku ‘Sidney’ mengartikan bahwa tidak ada lagi sesuatu yang khusus untukku darinya. Terkadang aku rindu dia memanggilku ‘Azid’ walaupun itu kedengaran aneh.

Saira masih belum melepaskan kaca matanya; bagiku ini bukan empat mata. Dia tampak tidak sudi memandangku karena beberapa kali memalingkan wajahnya bahkan aku tak tahu entah dia sedang menatapku juga atau tidak. Tapi, aku sudah mempunyai firasat dan apa pun tentang firasat itu sama sekali tidak baik untukku.

“Terima kasih kamu sudah menemani aku dan Sunny belakangan ini di saat sebenarnya kamu punya urusan yang lebih penting,” katanya. “Tapi, mungkin aku nggak akan nyaman dengan situasi itu kalau bertahan lebih lama.”

“Kenapa?”

“Jangan tanya kenapa, Sidney,” suaranya tiba-tiba meninggi. “Adrian sudah tiada. Aku masih punya kehidupan. Aku hanya ingin semuanya kembali seperti semula. Aku dengan kehidupanku dan kamu dengan kehidupanmu.”

Apakah Saira sedang mempertegas bahwa dia ingin aku pergi?

Aku diam.

“Jangan pernah berharap. Kamu sudah tahu kalau kita nggak akan pernah kembali lagi,” Saira mengatakannya juga; tapi aku sudah menduganya. Cintanya untukku sudah lama padam. “Jadi lupakan aku....”

Tanpa mendebatnya, aku mengangguk. “Baik, kalau begitu jaga diri kamu baik-baik, Saira...,” kataku berusaha untuk tetap tenang. “Aku akan melupakan kamu....”

Saira bersiap untuk pergi. Senyum simpul sempat ia perlihatkan sebelum ia membalikan badannya dan naik ke mobil silver yang berada tidak jauh dari mobilku. Dia mengendarainya seorang diri.

Deru mesin terdengar; dan mobil itu mulai bergerak menjauh.

Aku menyaksikannya berlalu dari hadapanku dengan khidmat; seperti menunggu malam berakhir saking mengharapkan fajar. Dan fajar itu datang juga. Matahari terbit dan mengakhiri semuanya. Demikian pula harapanku yang sesungguhnya tidak pernah ada bersamanya. Aku bukan Adrian yang bisa menunggu dengan sabar sampai Saira berpaling. Keinginanku terhadap Saira begitu besar bahkan di saat pertama kali mengenalnya. Itulah kenapa aku menyentuhnya walaupun aku tahu itu keliru; untuk menjadikannya milikku seorang. Sekarang pun aku masih mencobanya walaupun tak pantas bagiku. Dia telah mengubur semua cintanya bersama dengan Adrian.

Aku tidak akan pernah menjadi Adrian hanya untuk membuatnya kembali. Aku tetaplah Sidney Adams yang gegabah. Tapi, setidaknya aku ingin percaya apa yang pernah Adrian percayai, sesuatu yang ditakdirkan menjadi milikku akan kembali dengan sendirinya. Tidak peduli seribu tahun sekali pun. Aku akan selalu mencintai Saira....

***fin


https://karyacinta-rita.blogspot.com/2015/06/evil-boss-sinopsis.html

Masih penasaran dengan jalan ceritanya? Hm.... sebenarnya kisah Saira dan Sidney nggak hanya sampai di sini lho. Mereka akan hadir meramaikan salah satu novel upcoming yaitu Getting Her Heart Back yang akan segera diposting. Eits, tapi tunggu dulu. Kasihan penggemar Harrish dan Sabina di My Evil Boss yang masih menunggu akhir kisah cinta mereka. Jadi, hold your self dan nikmati karya-karya author yang lain dulu ya.
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments

  1. avatar Azka says:

    sambil nunggu chapter baru di upload.. mampir kesini dulu sajaa.. ayoo donk mbaa lanjut upload next chapter nya " getting her heart back "...