[Hal. 2] WHEN I'M GONE

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Selalu ada pertama kali untuk semuanya. Termasuk menyiapkan makanan untuk orang lain. Karena itu, ia beli semua makanan instan karena tidak bisa memasak. Ia membawa barang belanjaan yang begitu banyak dan kerepotan saat harus pulang naik kereta. Ia membereskan kamar dan sering bolak balik ke lantai dua untuk memastikan Juny tidak terjatuh. Ia melakukan banyak hal walau tak bisa dilihat oleh gadis itu dan Wentz pun t idak mau Juny mengetahuinya. Meskipun  begitu, tetap saja ada yang kurang.



Gadis itu seperti kehilangan segalanya selain dari nyawa dan tubuhnya. Hati dan pikirannya seakan telah meninggalkan raganya. Apa yang bisa terlihat hanyalah tubuh yang lemah dan terus menangis. Suatu hari ia terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk. Tiba-tiba ia berlari keluar kamar sambil meraba-raba dengan ketakutan. Tidak tahu akan pergi ke mana. Matahari baginya sudah lama tenggelam, tapi kegelapan yang ia lihat saat ini terasa lebih  mencekam dan menakutkan dari sebelumnya.
Mungkin karena saat ini ia sendirian.
Wentz berdiri di depannya setelah cukup lama memperhatikan gerak geriknya. Seperti seorang gadis yang terjebak dalam labirin yang gelap dan tidak bisa menemukan jalan keluar. Akhirnya ia berhenti dan duduk untuk menangis. Mata kosong itu  menangis tiada henti. Setiap hari, setiap saat ia termenung lalu berkata ‘Aku tidak ingin hidup lagi’.
 “Aku pikir...aku entah berada di mana?” tangisnya sewaktu keluar kamar dan ia malah tersesat setelah hampir jatuh dari tangga.
Aku tidak bisa meninggalkannya...
---
November 2009...
“Hai, ini Wentz Neville,aku sedang tidak di rumah. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi ‘bip’...” mesin penjawab terdengar. “Hei, Wentz, apa kabar? Kenapa susah sekali menghubungimu? Apa kau tidak tahu minggu ini ada acara yang sagat penting?! Kita akan mengadakan reuni universitas! Dan kau tahu Nicole juga datang? Tentu, dia bersedia jauh-jauh dari London ke sini. Dan...jangan lupa segera menghubungiku. Scott Mason, oke?”
Wentz sedang tidak di rumah. ia berada di stasiun kereta dan tengah memesan tiket.
“Baiklah. 2 tiket untukmu dan...” wanita petugas loket melihat ke arah Juny yang berdiri di belakang Wentz. “Keponakanmu.” Sambungnya.
“Dia bukan keponakanku” celetuk Wentz karena wanita itu kelihatan menelisik dan lagipula itu juga bukan urusannya.
Juny dengar itu dan dia pun merasa aneh. Tapi, kadang wajar saja orang-orang berpikiran seperti itu. mungkin karena Juny buta, ia pun sering menjadi perhatian orang lain. Juny hanya tidak pernah melihat wajahnya.
“Kenapa kau marah padanya?” tanya Juny.
“Apa aku terlihat setua itu?” cetusnya sambil melangkah terburu-buru sambil menarik Juny.
“Mana aku tahu...” jawab Juny tertawa kecil.
Mereka buru-buru karena keretanya akan segera berangkat. Perjalanan ini akan sangat menyenangkan bagi keduanya sebelum Natal dan mereka sudah merencanakan banyak hal menyenangan untuk dilakukan nanti. Musim dingin kesukaan Juny yang berlalu dengan kegembiraan. Begitu saja. Juny tak pernah merasa sebahagia itu sebelumnya.
“Semuanya putih, jalanan, atap rumah, halaman, kolam, danau dan sungai juga putih karena membeku. Pohon-pohon juga” jelas Wentz. “Semua juga putih...”
“Aku pernah melihatnya di dalam mimpi” Juny menimpali. “Jadi...aku tidak terlalu ingin bisa melihatnya...”
“Kenapa?”
“Karena...dari semua hal yang ingin kulihat, hanya ada satu hal yang paling ingin kulihat”
“Apa?”
 Juny menjulurkan tangannya ke depan di mana Wentz duduk memandanginya. “Wajahmu” jawabnya ketika menyentuh paras yang membuatnya amat penasaran. Bagaimanalah rupa Wentz Neville yang selalu ada di dekatnya?
“Tidak lama lagi, kau akan bisa melihat...” ujar Wentz yang telah lama memikirkan semua itu, sambil memeluknya dengan erat sekali. “Kupastikan itu”
---
Oktober 2010...
Musim gugur tahun ini terasa lebih dingin. Wentz memperhatikan daun-daun merenggas berjatuhan.  Sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Telpon berbunyi. Setidaknya dalam sehari ada 10 telpon yang masuk dan semuanya tersambung ke kotak surat.
“Hai, ini Wentz Neville,aku sedang tidak di rumah. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi ‘bip’...” mesin penjawab terdengar untuk keskian kalinya. Tapi, Wentz hanya duduk di sofanya sambil minum secangkir kopi sambil memandang ke halaman. Menikmati saat-saat di rumah itu untuk terakhir kalinya. Dan menangis, mengingat bagaimana Juny mencintai seseorang dan bukan dirinya sendiri. Siapa yang akan menjaganya setelah ia pergi?
Wentz sudah menjaga dia semampunya, dan membuatnya utuh, tapi tak pernah cukup karena ia harus pergi. Dan siapa yang akan menyelamatkanya setelah ia pergi? Siapa yang akan menjaganya? Wentz tidak bisa lagi. Membiarkan Juny kehilangan segalanya lebih dari yang dimilikinya. Siapa yang akan menutun jalannya, menghapus kesedihannya? Dan siapa yang akan memberinya kekuatan di saat ia lemah? Siapakah yang akan menjaganya setelah ia pergi?
Semuanya tidak berakhir seperti biasa ia mengakhiri sesuatu. Tidak seperti saat Wentz memutuskan hubungan secara sepihak karena bosan. Ia harus melepaskan Juny karena mereka berbeda. Sangat jauh berbeda. Tuhan memang menciptakan manusia dengan perbedaan agar dapat saling melengkapi.
Tapi, mungkin terkecuali untuk kita. Aku ingin kau bisa melihat dunia ini, dan memulai sebuah kehidupan baru karena aku hanya akan menghancurkan kebahagiaan yang mungkin akan kau dapatkan, Juny. Maafkan aku tapi aku memang sangat tidak pantas untukmu.
“Wentz?” suara lemah itu terdengar memanggil.
Wentz segera sadar dan langsung menghapus tetesan air mata di pipinya. Ia segera berdiri dan menghampiri Juny yang baru turun dari lantai dua. “Kau sudah siap?” tanyanya.
“Kau kenapa?” tanya Juny karena suaranya terdengar aneh. “Apa kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu?”
“Tidak ada, ayo kita berangkat sekarang” ajak Wentz buru-buru ke lantai atas untuk mengambil tas bawaan Juny.
Juny tertegun menunggunya dan tiba-tiba merasa sedih. Lalu ia dengar suara langkah kaki Wentz yang turun dari tangga. Perasaannya tidak enak. Kedengarannya Wentz tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Firasatnya sangat kuat bahwa mungkin Wentz menangis. Tapi kenapa? Mereka tidak akan berpisah kan? Pikirnya.
“Ayo” ajak Wenz memegangi tangannya dan menuntun langkahnya.
“Wentz, aku tidak yakin dengan ini...” keluh Juny sesaat sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari pintu depan.
“Kenapa?” tanya Wentz mengernyit.
“Apa aku akan bisa melihatmu?” tanyanya lagi.
“Kau bicara apa?” celetuk Wentz. “Tentu saja...”
“Tapi, kenapa kau bicara seolah aku akan mati?”
“Kau tidak akan mati” ujar Wentz “Begitu sadar, matamu akan sudah bisa melihat. Percayalah padaku”
Itu yang  ia katakan sebelum Wentz mengantarnya ke rumah sakit untuk operasi. Dengan memeluknya sangat erat. Rasanya sagat berat mengambil keputusan seperti ini. Tapi, ia harus melakukannya. Demi hidup Juny yang kian terhempas, juga hidupnya yang makin terhempas.
Aku punya tanggungjawab lain yang tidak bisa kutinggalkan. Andai saja aku tidak melakukan kebodohan di masa laluku. Tentu kita akan bisa bersama selamanya.  Tak peduli apa kata orang, kita akan hidup bahagia, di rumah ini. Tapi, sayang, Juny, kita harus mengakhirinya. Aku ingin melihatmu bahagia, bukan dengan orang yang seperti aku. Aku takut akan melukaimu setelah kau tahu apa yang kuperbuat nantinya. Setelah ini, kau boleh membenciku selamanya, aku akan menerimanya, sekalipun aku tak akan pernah menghapusmu selamanya...Aku mencintaimu, Juny...
“Dengar, kau akan baik-baik saja...” ujarnya sebelum Juny memasuki ruang perawatan. “Aku sudah berjanji padamu, kau akan bisa melihat dunia...”
“Apa kau akan menemaniku sampai semuanya selesai?” tanya Juny cemas.
Wentz tidak menjawab, suaranya tercekat. “Tentu saja...” jawabnya menahan nafas. Karena jika ia menghembuskan nafasnya, akan terdengar bahwa ia sedang menangis.
Juny yang tidak tahu apa-apa, masuk ke ruangan itu setelah Wentz memeluknya sangat erat dan berkata mencintainya. Dan pertahanan Wentz runtuh seketika, karena ia menangis. Seperti Juny yang menangis karena berfirasat buruk.
Selamat tinggal, Juny...
Mengapa ini yang harus terjadi?
Tentu Wentz tak ingin Juny mendapatkan kesulitan karena hidup dengannya. Juny masih 17 tahun dan bersekolah. Tentu pendapat teman-temannya soal kehidupan pribadinya akan membuatnya cukup terpukul karena usia mereka yang sangat jauh berbeda. Semua orang memperhatikan mereka termasuk para tetangga yang pasti menganggap Wentz seorang pedofilia dan Juny merasa sangat terganggu bila mendengarnya. Juny sudah banyak bersabar, tapi tentu ia tidak mengerti mengapa orang terlalu mempermasalahkan status sosial dan usia. Di saat Juny mulai dewasa, Wentz akan beranjak semakin tua. Mereka tidak akan terlihat sepadan. Juny pasti akan menderita karena cemoohan orang-orang. Wentz merasa akan mengambil masa-masa bahagia Juny ketika ia masih muda. Wentz tidak ingin melukainya.
Lagipula ada satu masalah lain, yang tak kalah besarnya dan memaksa Wentz untuk mengambil keputusan berat itu.
---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

3 comments