๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ

Selalu ada pertama kali untuk semuanya. Termasuk menyiapkan makanan untuk orang lain. Karena itu, ia beli semua makanan instan karena tidak bisa memasak. Ia membawa barang belanjaan yang begitu banyak dan kerepotan saat harus pulang naik kereta. Ia membereskan kamar dan sering bolak balik ke lantai dua untuk memastikan Juny tidak terjatuh. Ia melakukan banyak hal walau tak bisa dilihat oleh gadis itu dan Wentz pun t idak mau Juny mengetahuinya. Meskipun begitu, tetap saja ada yang kurang.
Gadis itu seperti kehilangan
segalanya selain dari nyawa dan tubuhnya. Hati dan pikirannya seakan telah
meninggalkan raganya. Apa yang bisa terlihat hanyalah tubuh yang lemah dan terus
menangis. Suatu hari ia terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk. Tiba-tiba
ia berlari keluar kamar sambil meraba-raba dengan ketakutan. Tidak tahu akan
pergi ke mana. Matahari baginya sudah lama tenggelam, tapi kegelapan yang ia
lihat saat ini terasa lebih mencekam dan
menakutkan dari sebelumnya.
Mungkin karena saat ini ia
sendirian.
Wentz berdiri di depannya setelah
cukup lama memperhatikan gerak geriknya. Seperti seorang gadis yang terjebak
dalam labirin yang gelap dan tidak bisa menemukan jalan keluar. Akhirnya ia
berhenti dan duduk untuk menangis. Mata kosong itu menangis tiada henti. Setiap hari, setiap
saat ia termenung lalu berkata ‘Aku tidak ingin hidup lagi’.
“Aku pikir...aku entah berada di mana?”
tangisnya sewaktu keluar kamar dan ia malah tersesat setelah hampir jatuh dari
tangga.
Aku
tidak bisa meninggalkannya...
---
November 2009...
“Hai, ini Wentz Neville,aku
sedang tidak di rumah. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi ‘bip’...” mesin
penjawab terdengar. “Hei, Wentz, apa kabar? Kenapa susah sekali menghubungimu?
Apa kau tidak tahu minggu ini ada acara yang sagat penting?! Kita akan
mengadakan reuni universitas! Dan kau tahu Nicole juga datang? Tentu, dia
bersedia jauh-jauh dari London ke sini. Dan...jangan lupa segera menghubungiku.
Scott Mason, oke?”
Wentz sedang tidak di rumah. ia
berada di stasiun kereta dan tengah memesan tiket.
“Baiklah. 2 tiket untukmu dan...”
wanita petugas loket melihat ke arah Juny yang berdiri di belakang Wentz.
“Keponakanmu.” Sambungnya.
“Dia bukan keponakanku” celetuk
Wentz karena wanita itu kelihatan menelisik dan lagipula itu juga bukan
urusannya.
Juny dengar itu dan dia pun
merasa aneh. Tapi, kadang wajar saja orang-orang berpikiran seperti itu.
mungkin karena Juny buta, ia pun sering menjadi perhatian orang lain. Juny
hanya tidak pernah melihat wajahnya.
“Kenapa kau marah padanya?” tanya
Juny.
“Apa aku terlihat setua itu?”
cetusnya sambil melangkah terburu-buru sambil menarik Juny.
“Mana aku tahu...” jawab Juny
tertawa kecil.
Mereka buru-buru karena keretanya
akan segera berangkat. Perjalanan ini akan sangat menyenangkan bagi keduanya
sebelum Natal dan mereka sudah merencanakan banyak hal menyenangan untuk
dilakukan nanti. Musim dingin kesukaan Juny yang berlalu dengan kegembiraan.
Begitu saja. Juny tak pernah merasa sebahagia itu sebelumnya.
“Semuanya putih, jalanan, atap
rumah, halaman, kolam, danau dan sungai juga putih karena membeku. Pohon-pohon
juga” jelas Wentz. “Semua juga putih...”
“Aku pernah melihatnya di dalam
mimpi” Juny menimpali. “Jadi...aku tidak terlalu ingin bisa melihatnya...”
“Kenapa?”
“Karena...dari semua hal yang
ingin kulihat, hanya ada satu hal yang paling ingin kulihat”
“Apa?”
Juny menjulurkan tangannya ke depan di mana
Wentz duduk memandanginya. “Wajahmu” jawabnya ketika menyentuh paras yang
membuatnya amat penasaran. Bagaimanalah rupa Wentz Neville yang selalu ada di
dekatnya?
“Tidak lama lagi, kau akan bisa
melihat...” ujar Wentz yang telah lama memikirkan semua itu, sambil memeluknya
dengan erat sekali. “Kupastikan itu”
Oktober 2010...
Musim gugur tahun ini terasa lebih
dingin. Wentz memperhatikan daun-daun merenggas berjatuhan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Telpon berbunyi. Setidaknya dalam
sehari ada 10 telpon yang masuk dan semuanya tersambung ke kotak surat.
“Hai, ini Wentz Neville,aku
sedang tidak di rumah. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi ‘bip’...” mesin
penjawab terdengar untuk keskian kalinya. Tapi, Wentz hanya duduk di sofanya
sambil minum secangkir kopi sambil memandang ke halaman. Menikmati saat-saat di
rumah itu untuk terakhir kalinya. Dan menangis, mengingat bagaimana Juny mencintai
seseorang dan bukan dirinya sendiri. Siapa yang akan menjaganya setelah ia
pergi?
Wentz sudah menjaga dia
semampunya, dan membuatnya utuh, tapi tak pernah cukup karena ia harus pergi.
Dan siapa yang akan menyelamatkanya setelah ia pergi? Siapa yang akan
menjaganya? Wentz tidak bisa lagi. Membiarkan Juny kehilangan segalanya lebih
dari yang dimilikinya. Siapa yang akan menutun jalannya, menghapus
kesedihannya? Dan siapa yang akan memberinya kekuatan di saat ia lemah?
Siapakah yang akan menjaganya setelah ia pergi?
Semuanya tidak berakhir seperti
biasa ia mengakhiri sesuatu. Tidak seperti saat Wentz memutuskan hubungan
secara sepihak karena bosan. Ia harus melepaskan Juny karena mereka berbeda.
Sangat jauh berbeda. Tuhan memang menciptakan manusia dengan perbedaan agar
dapat saling melengkapi.
Tapi,
mungkin terkecuali untuk kita. Aku ingin kau bisa melihat dunia ini, dan
memulai sebuah kehidupan baru karena aku hanya akan menghancurkan kebahagiaan
yang mungkin akan kau dapatkan, Juny. Maafkan aku tapi aku memang sangat tidak
pantas untukmu.
“Wentz?” suara lemah itu
terdengar memanggil.
Wentz segera sadar dan langsung
menghapus tetesan air mata di pipinya. Ia segera berdiri dan menghampiri Juny
yang baru turun dari lantai dua. “Kau sudah siap?” tanyanya.
“Kau kenapa?” tanya Juny karena
suaranya terdengar aneh. “Apa kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu?”
“Tidak ada, ayo kita berangkat
sekarang” ajak Wentz buru-buru ke lantai atas untuk mengambil tas bawaan Juny.
Juny tertegun menunggunya dan
tiba-tiba merasa sedih. Lalu ia dengar suara langkah kaki Wentz yang turun dari
tangga. Perasaannya tidak enak. Kedengarannya Wentz tengah menyembunyikan
sesuatu darinya. Firasatnya sangat kuat bahwa mungkin Wentz menangis. Tapi
kenapa? Mereka tidak akan berpisah kan? Pikirnya.
“Ayo” ajak Wenz memegangi
tangannya dan menuntun langkahnya.
“Wentz, aku tidak yakin dengan
ini...” keluh Juny sesaat sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari pintu
depan.
“Kenapa?” tanya Wentz mengernyit.
“Apa aku akan bisa melihatmu?”
tanyanya lagi.
“Kau bicara apa?” celetuk Wentz.
“Tentu saja...”
“Tapi, kenapa kau bicara seolah aku
akan mati?”
“Kau tidak akan mati” ujar Wentz
“Begitu sadar, matamu akan sudah bisa melihat. Percayalah padaku”
Itu yang ia katakan sebelum Wentz mengantarnya ke rumah
sakit untuk operasi. Dengan memeluknya sangat erat. Rasanya sagat berat
mengambil keputusan seperti ini. Tapi, ia harus melakukannya. Demi hidup Juny
yang kian terhempas, juga hidupnya yang makin terhempas.
Aku
punya tanggungjawab lain yang tidak bisa kutinggalkan. Andai saja aku tidak
melakukan kebodohan di masa laluku. Tentu kita akan bisa bersama
selamanya. Tak peduli apa kata orang,
kita akan hidup bahagia, di rumah ini. Tapi, sayang, Juny, kita harus mengakhirinya.
Aku ingin melihatmu bahagia, bukan dengan orang yang seperti aku. Aku takut
akan melukaimu setelah kau tahu apa yang kuperbuat nantinya. Setelah ini, kau
boleh membenciku selamanya, aku akan menerimanya, sekalipun aku tak akan pernah
menghapusmu selamanya...Aku mencintaimu, Juny...
“Dengar, kau akan baik-baik
saja...” ujarnya sebelum Juny memasuki ruang perawatan. “Aku sudah berjanji
padamu, kau akan bisa melihat dunia...”
“Apa kau akan menemaniku sampai
semuanya selesai?” tanya Juny cemas.
Wentz tidak menjawab, suaranya
tercekat. “Tentu saja...” jawabnya menahan nafas. Karena jika ia menghembuskan
nafasnya, akan terdengar bahwa ia sedang menangis.
Juny yang tidak tahu apa-apa,
masuk ke ruangan itu setelah Wentz memeluknya sangat erat dan berkata
mencintainya. Dan pertahanan Wentz runtuh seketika, karena ia menangis. Seperti
Juny yang menangis karena berfirasat buruk.
Selamat
tinggal, Juny...
Mengapa ini yang harus terjadi?
Tentu Wentz tak ingin Juny
mendapatkan kesulitan karena hidup dengannya. Juny masih 17 tahun dan
bersekolah. Tentu pendapat teman-temannya soal kehidupan pribadinya akan
membuatnya cukup terpukul karena usia mereka yang sangat jauh berbeda. Semua
orang memperhatikan mereka termasuk para tetangga yang pasti menganggap Wentz
seorang pedofilia dan Juny merasa sangat terganggu bila mendengarnya. Juny sudah
banyak bersabar, tapi tentu ia tidak mengerti mengapa orang terlalu
mempermasalahkan status sosial dan usia. Di saat Juny mulai dewasa, Wentz akan
beranjak semakin tua. Mereka tidak akan terlihat sepadan. Juny pasti akan menderita
karena cemoohan orang-orang. Wentz merasa akan mengambil masa-masa bahagia Juny
ketika ia masih muda. Wentz tidak ingin melukainya.
Lagipula ada satu masalah lain,
yang tak kalah besarnya dan memaksa Wentz untuk mengambil keputusan berat itu.
---

Critany bwt ak trharu n nangis mlm2 mbak..
Sukses bgt..:'(
salam kenal uni...^^
Bikin penasaran ceritanya