๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Hening; tak ada lagi suara lain selain hujan yang masih turun deras di luar. Malam semakin larut dan aku masih berusaha untuk tidur dalam usaha yang selalu sia-sia. Ketidaknyamanan ini tidak berasal dari fakta bahwa kamar kost ini bukan tempat yang layak bagi orang sepertinya untuk bermalam dengan seorang gadis. Tapi, aku curiga Kellan sebenarnya sedikit tidak peka. Apa memelukku seperti ini tidak menimbulkan ‘percikan’? “Aku memang menyedihkan ya? Aku seringkali merasa kesepian...,” kataku lagi, akhirnya entah setelah beberapa menit berlalu sejak Kellan sepertinya sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Bahkan saat masih dengan Harish, kesepian itu sangat jelas terasa. Meskipun dia tidak ada pada hari-hari di mana aku membutuhkannya. Aku tidak pernah menceritakan diriku pada Harish sebanyak aku menceritakannya pada Kellan. “Aku... mungkin adalah tipe orang yang mau melakukan apa saja... supaya nggak sendirian lagi. Kadang rasanya... nggak apa-apa disakiti asal jangan sendirian. Kebanyakan orang membenciku karena menurut mereka kelakuanku nggak wajar. Makanya aku juga sulit berteman,” kataku lagi. “Aku rasa... itu alasan kenapa aku mengikuti Harish walaupun aku tahu akhirnya akan seperti apa.” Harish satu-satunya yang aku tahu setelah Roland dan Jessica enyah dari hidupku. Aku benar-benar berharap ada seseorang di sampingku kalau aku sedang sedih atau... merindukan Mama dan adik-adikku. Kellan mendekapku lebih erat lagi. “Aku di sini sekarang,” ujarnya. “Seharian ini... aku benar-benar gelisah... memikirkan kamu...,” kataku lagi. “Kamu selalu memperlakukan aku dengan istimewa sampai aku terbiasa. Kalau tiba-tiba sikap kamu berubah sedikit saja, aku mulai bertanya-tanya apa ada yang salah denganku dan itu sangat menyiksa.” “Aku berubah? Kapan?” Dia tidak ingat menolakku kemarin? “Aku tahu... kamu memang sibuk dan kalau kamu sempat, pasti kamu akan menghubungi. Aku... mulai serakah dan menginginkan lebih. Mungkin kamu akan kesulitan karena aku jadi manja dan sedikit posesif. Juga kekanakan. Berharap kamu akan selalu ada... tapi... hanya kamu... yang membuatku bisa seenaknya begitu sementara selama ini... aku selalu takut melakukan apa yang aku mau... karena selalu dianggap salah....” Aku lebih sering menghindari orang-orang yang berpotensi menimbulkan masalah. Bahkan di kantor saat Leo, Mai dan Danny mengakrabkan diri mereka denganku, aku masih merasa khawatir akan dikhianati. “Aku ingin kamu terus seperti itu....” Meski sebenarnya itu egois. Aku tidak mencintainya seperti aku mencintai Harish. Aku hanya menyukainya karena dia selalu ada untukku. Berulangkali dia menyelamatkanku di saat tidak seorang pun di sisiku. Mulai dari saat dia menemukanku di jalan karena ketiduran di bus dan tersesat jatuh, menyelamatkanku dari momen menyedihkan setelah pesta ulang tahun Athlon, menarikku keluar dari hubungan toxic dengan Harish, memberiku tempat untuk ‘tinggal’ dan lebih dari itu, dia tetap mencintaiku sekalipun hatiku masih di tangan orang lain. Dia adalah jenis orang yang sangat aku butuhkan. Bukan hanya sekedar hidup tapi menemukan arti dari semua kejadian yang menimpaku dan menjadikannya pelajaran berharga. Kali ini aku berharap sekali untuk bisa membalas cintanya. Tiba-tiba Kellan melonggarkan pelukannya; saat aku masih heran tentang kenapa dia tiba-tiba bangkit untuk duduk dan matanya masih menatapku –aku bisa melihatnya dengan jelas walaupun hampir gelap. “Aku akan terus seperti ini selama kamu menginginkannya,” kata dia. Tanpa jawaban, aku hanya menarik setengah badanku untuk bisa duduk tepat di hadapannya. Seketika aku langsung menundukan pandanganku dari tubuh setengah telanjangnya saat ia meraih pipiku dengan ujung jari sebelum telapak tangannya menghangatkan pipiku yang mendingin karena udara dan malam. “Kamu selalu bisa minta apa saja padaku, Sabine,” ucapnya. “Kamu hanya tinggal bilang....” Untuk apa yang aku inginkan saat ini, aku tidak bisa mengatakannya begitu saja. Sentuhan tangannya saja sudah membuatku begitu malu. Aku tidak punya keberanian untuk memintanya... agar menyentuhku untuk dirinya sendiri. “Justru kamu yang seharusnya minta aku agar kamu senang,” kataku. “Ini bukan hanya soal aku, tapi kamu juga....” Kellan menatapku lembut, seketika meraih belakang leherku dengan tangannya yang besar. Aku pun memejamkan mataku dan menerima ciumannya lagi; membuang segala macam rasa bersalah yang selalu menghantuiku setiap aku membiarkannya menghapus jarak di antara kami. Bawah sadarku terus berkata betapa kejamnya diriku karena bisa melakukannya begitu mudah dengan Harish tapi tidak dengannya. Padahal kami bukan apa-apa. Aku hanya ingin hubungan ini adil bagi pria yang mencintaiku dengan tulus. Setelah sekian lama, baru kali ini aku bisa tertawa, mengenyampingkan kepedihan yang selalu tersimpan di hatiku seperti racun. Sampai aku lupa bahwa yang terpenting bukan hanya perasaanku, tapi juga perasaan Kellan; kekasihku saat ini. Tidak ada jalan kembali. Bukankah begitu? Aku tidak perlu menahan diriku karena aku... tidak akan pernah kembali lagi pada Harish sekalipun dia masih mengisi sebagian besar ruang di hatiku. Jika dengan membiarkan Kellan mengusirnya dari sana, tidak akan ada salahnya bukan? Kellan menatapku. “Aku ingin kamu melupakannya,” pintanya, sedikit menindihku, hingga punggungku kembali bertemu dengan dinding yang dingin saat aku bisa merasakan nafasnya yang panas di depan wajahku. Aku juga ingin melupakannya. Aku ingin seluruh jejak Harish menghilang dariku. Kellan adalah kekasihku; seseorang yang punya hak untuk memilikiku seutuhnya. Kecupannya terasa begitu dalam di bibirku hingga aku tidak bisa bernafas beberapa detik; seolah dia akan memakanku saking laparnya. “Kalau kamu ragu, kita bisa berhenti di sini,” kata Kellan kemudian; terlihat keraguan di wajahnya setelah ia membuatku haus akan dirinya. Aku menggeleng dengan sangat yakin; meski ini hanya untuk rasa penasaran dari pikiranku yang kacau. Yang aku tahu selama ini hanya Harish dan kebrutalannya; yang hanya memikirkan dirinya sendiri ketika dia menyentuhku. Aku tidak melihat jalan untuk mundur lagi saat ia menarik ujung kaos longgarku ke atas, melewati tubuhku yang langsung menggigil karena dingin. Tapi, ia langsung mendekapku lagi hingga kulit bahuku bisa merasakan panas nafasnya. Ini pertama kalinya sejak hari-hari berat yang aku jalani sejak hidupku benar-benar terbalik seratus delapan puluh derajat, aku tertawa sampai lupa diri. Aku telah berada di tempat yang tepat; pelukannya. Apa lagi yang aku butuhkan? “Apa... kali ini aku boleh sedikit serakah?” tanya dia; pelan dan lembut di telingaku. Tentu. Karena yang dia lakukan... tidak ternilai. Bahkan oleh tubuhku yang tak terlalu berharga ini. Lagipula sebuah hubungan adalah tentang memberi dan menerima. Harus ada keseimbangan antara menerima dan memberi. “Sabine, aku mencintai kamu...,” ucapnya lagi memelukku seolah ia akan kehilanganku esok pagi. Perasaan tak ingin melukainya semakin kuat. Yang aku tahu, aku menyukainya. Setidaknya itu alasan yang cukup kuat untuk membiarkan diriku menjadi miliknya. Aku juga berharap aku bisa mengatakan hal yang sama dengan jujur suatu hari nanti. Tapi, di saat yang sama pula... aku sedikit merasa bersalah pada Harish saat Kellan menjamah setiap bagian di tubuhku yang juga pernah disentuh olehnya. Namun, aku tidak bisa mengingkari bahwa sentuhan Kellan terasa jauh lebih berperasaan dan menghanyutkan. ***
Akhirnya lanjut lagi.. Semangat mbaa
Author, Lanjutin ceritanya pliiiissss, nanggung banget, jd penasaran sm kisah cinta segitiga Sabine, Harish, sama Kellan ๐ฅบ