[Hal. 26] [Ch.9] NOTHING IN BETWEEN - Baca Novel Dewasa Online

🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia 🌛 Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari🥳

Info Gambar
Kellan sudah pergi ketika aku bangun sekitar jam delapan pagi; tapi dia meninggalkan pesan pada secarik kertas yang ia tempel di kulkas bahwa dia punya rapat penting pagi ini. Harish juga seperti itu; selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Tapi, menemukan sarapan di atas meja dengan segelas susu dan jus yang sepertinya sengaja dia siapkan untukku, perasaanku jadi tidak terlalu buruk. Tapi, tetap saja memikirkan kejadian semalam membuatku merasa tidak nyaman.

Apa Kellan benar-benar sengaja pergi ke kantor lebih awal karena tidak ingin bertemu denganku?

Kenapa Kellan menolakku?

Apa dia jijik padaku karena aku... pernah tidur dengan adiknya? Pikiran itu terus menggangguku sejak semalam.

Setelah selesai sarapan, aku memutuskan untuk menelpon taksi dan pulang ke tempatku. Kellan tidak mengabariku seharian dan aku harus berhadapan dengan rasa bosan. Hujan turun sejak pukul dua siang dan itu terus berlangsung sampai matahari terbenam. Aku memutuskan untuk tidur seharian demi menghilangkan kegelisahanku akan dirinya.

Jam sembilan malam, handphone-ku berdering. Hujan sepertinya telah reda, namun belum mengurangi hawa dingin yang tersebar di kamarku sampai-sampai aku harus bersembunyi di bawah selimut untuk bisa tidur dengan nyenyak.

Kellan akhirnya menelpon dan aku berada di atas tempat tidurku, setengah mengantuk.

“Aku ada di depan. Kamu bisa keluar sebentar?” kata dia dan sontak aku bangkit dari tempat tidurku, berlari keluar dengan hanya celana pendek dan kaos yang kebesaran di badanku.

Sisa-sisa hujan masih tergenang di cekungan tanah lembab di sepanjang gang yang ku lewati untuk memastikan bahwa dia benar-benar datang. Dingin dan basah. Langit masih gelap dan sekali-sekali, suara guruh terdengar di kejauhan.

Kellan terlihat berdiri di dekat mobilnya yang terpakir di sisi jalan masuk gang; sepertinya dia langsung pergi ke sini setelah pulang dari kantor untuk menemuiku.

“Kenapa kamu nggak langsung pulang? Kamu pasti capek habis dari kantor,” kataku dan ia menanggapiku dengan senyum tenangnya.

“Kamu nggak membalas pesan dan mengangkat telponku seharian ini. Aku kira kamu marah,” jelas dia.

Aku mendengus. Aku memang marah dan bertanya-tanya ada apa dengannya. Tapi, melihat dia datang sejauh ini karena khawatir aku merajuk, menimbulkan rasa bersalah. Dia selalu bisa membuatku tersentuh karena hal kecil yang ia ucapkan atau lakukan.

“Aku tidur seharian ini karena bosan. Kamu nggak lihat rambut dan tampangku berantakan begini?” balasku. “Padahal aku nggak mau kamu melihat aku sekacau ini.”

Kellan memandangiku dari bawah ke atas, lalu tertawa. “Kamu tetap cantik,” katanya merayu dan aku mendengus lagi.

“Setelah ini kamu mau langsung pulang?” tanyaku.

“Ya, aku bisa tenang setelah memastikan kalau kamu baik-baik saja.”

“Tapi, rumah kamu jauh dari sini,” kataku. “Apa kamu nggak capek harus menyetir lagi?”

“Tenang saja. Aku nggak apa-apa,” ujarnya, mendekat selangkah untuk membelai rambutku. “Kamu boleh masuk sekarang. Ini sudah malam. Cuacanya dingin dan agak mendung. Sebentar lagi juga hujan.”

Aku mengangguk; dia menyetir sejauh ini hanya untuk pertemuan singkat semacam ini? Bukankah itu tidak sepadan akan tetapi... apa mungkin aku memintanya tinggal sedikit lebih lama?

“Gimana kalau kamu ngantuk di jalan? Itu bahaya ‘kan?,” tanyaku, tidak rela saat dia memutar badannya dan bergerak menjauh. “Kamu bisa kecelakaan....”

Kellan menoleh padaku dengan ekspresi penuh misteri. “Aku nggak mungkin menginap di tempat kamu malam ini,” katanya. “Lebih baik aku pulang sekarang, ya?”

“Karena tempatku jelek dan sempit? Nggak seperti rumah kamu yang besar dan nyaman?”

Sambil tertawa, ia menggeleng pelan. “Aku nggak ingin melewati batas, Sabine,” katanya dengan mantap. “Bukannya aku sudah bilang, aku bukan Harish. Aku nggak ingin kamu memaksakan diri hanya karena kamu merasa nggak enak.”

“Siapa bilang?” balasku dan telingaku menangkap suara guruh yang cukup keras; sejenak kualihkan perhatian pada langit kelam di atas kepalaku. “Ayo masuk.”

***

Pada akhirnya ia menyetujuinya. Walaupun kemudian aku mendapati ia tidak nyaman dengan sekitarnya begitu masuk ke dalam kamar kos-ku.

“Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?” tanya dia.

“Sekitar dua bulan. Kenapa? Kamu nggak pernah tahu ada tempat seperti ini untuk tinggal?” balasku, sambil duduk di sisi tempat tidurku sambil mengucir rambutku yang seolah memanjang dengan cepat dan mengamati Kellan yang masih berdiri tidak jauh dari pintu.

“Kamu melakukan semua aktivitas di satu ruangan?” tanya dia lagi; sepertinya tebakanku benar.

Aku mengangguk-angguk. Tapi, tidak semua juga. “Di sana ada kamar mandi sekaligus toilet,” jawabku menunjuk ke pintu kamar mandi yang berada di ujung ruangan. “Aku memilih tempat yang kecil karena aku malas bersih-bersih.”

Waktu tinggal di apartemen aku sering membiarkannya dalam keadaan berantakan; aku memang pemalas. Harish bahkan pernah membereskannya untukku.

“Jangan jijik begitu,” kataku. “Aku menyesal bawa kamu masuk ke sini kalau aku tahu kamu malah nggak nyaman.”

“Bukan,” bantahnya; melangkahkah kakinya untuk kemudian mengambil tempat di sebelahku. “Bagiku ini... hal yang baru. Aku… memang nggak pernah tahu di Jakarta ada tempat seperti ini….”

“Kita bisa nonton TV sambil tiduran,” kataku mengambil remot di dekat bantal dan menyalakan TV yang menempel di dinding dan berhadapan dengan tempat tidurku. “Atau makan.”

Saat itu gemuruh hujan lebat mulai terdengar. Perhatian Kellan teralihkan pada pintu yang sudah kututup dan ventilasi di atasnya. Aku rasa dia cukup kaget karena suara dari luar terdengar begitu jelas dari dalam sini. Sementara aku pergi ke ‘dapur kecil’-ku yang berada di dekat pintu kamar mandi, di mana aku menyimpan stok makanan instan dan cemilan.

“Kamu mau mie cup?” tanyaku sembari menunjukan makanan yang kumaksud padanya.

“Apa itu?” balas dia, mengerutkan dahi dan terlihat agak menyebalkan.

Mana mungkin mie instan asing baginya.

“Kamu pernah makan ini sebelumnya?” tanyaku agak kesal.

Dengan polos, Kellan menggeleng. “Perutku sensitif,” jawabnya. “Tapi, aku mau mencobanya.”

Baguslah kalau begitu, rutukku dalam hati dan mulai membuat dua cup mie instan. Kellan sedang menonton TV dan sesekali menengok ke arahku, dia tersenyum seolah mulai terbiasa dengan suara hujan deras di luar dan sempitnya kamar ini. Sampai akhirnya mie sudah jadi, kami mulai makan sambil menonton TV –acara talkshow yang dibumbui dengan humor. Tapi, bagiku tontonan itu tidak menarik sama sekali.

“Mie-nya nggak enak?” tanyaku saat Kellan memakannya dengan perlahan.

“Ini terlalu panas,” jawab dia dan tiba-tiba asap dari mie-nya yang panas membuat kaca matanya berembun; dia kelihatan agak panik sementara aku tertawa dan langsung mengambilkan tisu.

Kellan melepaskan kaca matanya lalu menemukanku tertawa.

“Seharusnya dilepas dulu,” kataku saat dia mengambil tisu yang aku sodorkan dan mengelap kaca matanya. Dia tidak memakainya dan kembali menggenggam cup mie instan-nya.

“Kalau aku sakit perut, kamu harus tanggung jawab,” dia memperingatkan untuk satu suap yang ia makan dengan hati-hati.

“Iya, aku jamin kamu nggak akan sakit perut. Yang ada kamu malah ketagihan,” candaku.

Sambil makan mie cup, kami mulai membicarakan beberapa hal acak hanya untuk tertawa dan mencairkan suasana yang dingin oleh hujan deras. Kami juga minum teh bersama dan bercerita tentang masa kecil. Sampai acara talkshow-nya selesai dan diganti dengan berita malam yang lebih banyak tentang kriminal. Aku duduk di tempat tidurku, menyandar ke dinding sambil sesekali memperhatikan punggung Kellan di depanku; dia tidak beranjak dari sana sejak dia datang. Di atas TV yang bersuara cukup keras dan berusaha melawan gemuruh hujan, jam dinding menunjukan pukul setengah dua belas malam. Tak heran, aku menguap beberapa kali dan ingin tidur, tapi... mungkin aku tidak akan bisa.

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments