๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Hal yang baik baru saja terjadi?” suara Eloise benar-benar mengejutkan di saat Chev terpana pada dirinya di depan cermin. Gadis itu sepertinya melihat senyum bahagia yang tak dapat ia sembunyikan sejak tadi pagi.
Selain punya firasat yang kuat, Eloise juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Terlebih melihat Chev yang biasanya berwajah masam, sekarang tersenyum. Ia tahu, semalam pasti modelnya itu menghadiri sebuah pesta dan pastinya ada sesuatu yang menyenangkan di sana.
“Aku bertemu dengannya,” kata Chev, mengakuinya begitu saja.
Eloise mengerutkan dahi. Siapa? Ia bertanya dalam hati walaupun ia mulai merasakan jawabannya. “Oh ya?” balasnya, begitu memastikan ini tentu soal Patsy; seseorang yang sering ditanyakan Chev padanya.
“Aku bertemu dengannya di pesta,” jelas Chev.
Pesta? Sejak kapan Patsy menghadiri pesta-pesta seperti yang didatangi Chev setiap akhir minggu?
“Ya, walaupun dia mengenakan seragam hitam putih,”
“Oh,” Eloise mengangguk-angguk, tapi entah mengapa ia mulai merasa tidak tenang walaupun akhirnya ia melihat modelnya itu sumringah; selama ini itulah yang ia inginkan dari Chev, bukan senyum palsu yang biasa ia tunjukan di hadapan kamera. Ternyata benar suasana hati seseorang benar-benar tidak bisa didustakan. “Lalu?”
Laki-laki itu tidak menjelaskan lebih rinci tentang pertemuannya dengan Patsy. Tapi, jelas, Chev selalu terlihat bahagia namun entah mengapa kesenangan Eloise tampaknya terganggu; seakan kehadiran Patsy kembali adalah ancaman.
Chev sudah menyadari itu sejak pertama kali Eloise mengingatkannya, bahwa ketika orang tahu hubungannya dengan Patsy, itu akan menghancurkan reputasinya. Tapi, seperti kebanyakan orang yang dimabuk cinta umumnya, peringatan keras pun seringkali tak diindahkan.
“Namanya Paris, bukan Patsy,” tegas Chev. “Dia tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Terserahlah. Tapi, kau tahu persis bukan itu masalahnya,” tandas Eloise, memulai perdebatan lagi. “Aku membangun citramu dari seorang playboy pengincar gadis-gadis kaya menjadi seorang model terkenal yang lebih bermartabat. Bahkan ibumu yang cantik saja tidak bisa memberikanmu hal seperti itu dan dia bahhkan hanya bersikap seperti seorang pahlawan tanpa pernah menolongmu!”
“Aku tidak melihat itu darimu!” kata Chev, setengah berteriak. “Kau tidak menyukai Paris! Itulah yang kurasakan!”
“Kenapa aku harus menyukainya juga?” tanya Eloise. “Duniaku, pekerjaanku tidak ada hubungan dengan dirinya. Begitu berurusan denganmu, aku tidak akan tinggal diam, Chev. Kau adalah aset bagi agensiku!”
“Jadi seperti itu? Aku hanya salah satu atraksimu?” Chev semakin gusar.
“Harus kukatakan iya. Kita bukan sepasang kekasih, ingat? Aku tidak mungkin bersikap seolah cemburu hubunganmu dengan Patsy karena itu menggelikan. Aku bersikap sebagai manajer sekaligus agensimu. Ini soal pekerjaan. Pekerjaan kita berhubungan dengan reputasi. Dan kita harus menjaga reputasi itu. Apa kau puas dengan jawabanku, Chev?”
“Kau benar-benar tidak punya perasaan?”
“Oh ya? Kau pikir untuk siapa aku melakukan apa yang aku lakukan saat ini?”
“Aku muak!”
“Ya sudah, pergi saja! Aku tidak butuh model keras kepala dan merepotkan seperti dirimu! Ingat, kalau terjadi apa-apa padamu jangan pernah mencariku lagi!”
Sisi menyebalkan Eloise semakin terlihat. Memang biasanya dia juga tidak ramah, cenderung ketus dan egois. Tapi, sejak itu, Eloise menunjukan sikap tidak peduli terhadapnya. Eloise tidak memberinya pekerjaan dan bahkan menghentikan proyek yang sedang mereka kerjakan bersama.
***
“Dia memang seperti itu. Kita tidak usah memikirkannya,” ujar Chev pada Paris yang tampak khawatir Eloise memecat Chev dari agensi.
“Setahuku dia tidak begitu, Chev,” Paris kembali membayangkan sosok Eloise yang pernah ia kenal.
Entah mengapa Eloise versi yang diceritakan Chev tidak sama dengan versi yang ia kenal. Teringat saat ia masih bekerja di toko busana itu. Eloise yang ia lihat adalah Eloise yang tidak terlalu percaya diri; alih-alih ketus, angkuh dan sedikit kasar. Awalnya, Paris hanya mengira bahwa dia hanya berusaha bersikap profesional karena hubungannya dengan Chev merupakan partner kerja. Barangkali di luar itu, sifatnya berbeda. Namun bagi Chev, di kantor atau di luar, Eloise sama saja.
Entah mengapa Eloise versi yang diceritakan Chev tidak sama dengan versi yang ia kenal. Teringat saat ia masih bekerja di toko busana itu. Eloise yang ia lihat adalah Eloise yang tidak terlalu percaya diri; alih-alih ketus, angkuh dan sedikit kasar. Awalnya, Paris hanya mengira bahwa dia hanya berusaha bersikap profesional karena hubungannya dengan Chev merupakan partner kerja. Barangkali di luar itu, sifatnya berbeda. Namun bagi Chev, di kantor atau di luar, Eloise sama saja.
“Dia menolongmu, bukan?” Paris mengingatkan bahwa di balik sikap bosnya yang mengesalkan itu dia sudah melakukan banyak kebaikan terhadap mereka.
Chev terdiam.
“Aku menyesal kalau Eloise sampai memecatmu,” kata Paris murung.
“Dia tidak akan memecatku. Saat ini dia hanya menghukumku,” ujar Chev lagi. “Kita lihat saja sampai kapan dia sanggup menghukumku. Lagipula aku tidak takut dia memecatku.”
“Chev...,”
“Paris, dengarkan aku. Aku tidak peduli dengan pekerjaan, karir model, ketenaran dan hal-hal semacam itu,” kata Chev lagi, menatapi Paris yang merasa bersalah padanya. Berharap gadis itu sadar bahwa yang terpenting baginya adalah cinta mereka.
Namun, tetap saja Paris merasa gelisah. Rasanya ada sesuatu yang lain yang mendasari setiap sikap
yang diambil Eloise.
“Apa kau tidak sadar Eloise sebenarnya cemburu, Chev?” tanya Paris kemudian dan jelas itu membuat Chev merasa sangat terganggu. “Aku mengerti karena aku juga perempuan seperti Eloise. Menurutmu apa yang dia rasakan saat tahu soal kita setelah selama ini dia berusaha menyimpan semuanya agar kau bisa tetap menatap ke depan dan melupakan masa lalumu?”
Chev terdiam.
Ya, perlahan kebahagiaan mulai pudar. Saat tiba-tiba Eloise menelponnya dan kembali memberinya
pekerjaan. Memang itu cukup aneh setelah hampir sebulan, Chev tidak melakukan apa-apa. Namun, setelah itu justru Paris mulai menghindari dirinya. Chev yakin telah terjadi sebuah pembicaraan di antara mereka di mana Paris mundur seolah itu demi kebaikannya.
***
Paris terkesan begitu sibuk. Katanya, dia ada pekerjaan di sebuah pesta lain yang bayarannya cukup tinggi. Chev seringkali menunggu dengan sia-sia hingga kemudian amarahnya memuncak; bukan pada Paris melainkan pada Eloise.
“Apa yang sudah kau katakan padanya?!” bentak Chev. “Jangan berpikir aku tidak tahu bahwa dia menemuimu!”
“Ya, dia memang menemuiku. Dan mengapa kau marah padaku?” balas Eloise acuh. Perempuan itu luar biasa kuat menghadang ‘terjangan’-nya.
Chev melemparkan setumpuk berkas di atas meja Eloise ke lantai dengan emosi. Dia mulai tampak kehilangan akal sehat, sementara Eloise begitu solid. Dia luar biasa tenang saat memandangi Chev yang gejala bipolar-nya kambuh.
“Aku pikir dia sudah melakukan hal yang benar,” kata Eloise.
“Apa katamu?!” Chev menghampirinya seolah ingin menarik Eloise dari kursinya dan menjelaskannya lebih jauh. Tapi, Chev mengurungkan niatnya. Bagaimana pun Eloise membuatnya naik pitam, ia hanyalah seorang perempuan. Eloise mungkin bisa menahan kata-kata yang kasar, tapi kekerasan fisik hanya menjadikannya seperti lelaki pengecut.
“Dia tidak ingin memberimu masalah,” jelas Eloise lagi. “Ya, mungkin begitulah cara dia mencintaimu.”
“Gila!” teriak Chev, kembali membanting sesuatu yang bisa ia raih dari meja Eloise; lampu hias.
Eloise berdiri dari kursinya. “Sudah cukup! Hentikan itu!” hardiknya, mulai terbawa suasana panas. “Satu bulan yang lalu kau tidak peduli apa pun selain Patsy. Aku membiarkannya karena mengurus urusan pribadimu hanya menambah masalah. Sekarang, semuanya tidak berjalan sesuai keinginanmu dan kau malah menyalahkanku seolah aku yang menyuruhnya menghindarimu?”
Eloise berdiri dari kursinya. “Sudah cukup! Hentikan itu!” hardiknya, mulai terbawa suasana panas. “Satu bulan yang lalu kau tidak peduli apa pun selain Patsy. Aku membiarkannya karena mengurus urusan pribadimu hanya menambah masalah. Sekarang, semuanya tidak berjalan sesuai keinginanmu dan kau malah menyalahkanku seolah aku yang menyuruhnya menghindarimu?”
“Itu bisa saja kau lakukan...,” kata Chev, menatapnya tajam.
Eloise hanya tersenyum sinis. “Aku punya urusan yang lebih penting, kau tahu itu?” celetuknya “Pekerjaanku tidak hanya mengurus model berpenyakit mental sepertimu! Aku sudah cukup bersabar memperhatikan sikap kekanakanmu selama ini, apa itu tidak cukup?! Bisakah kau menyelesaikan ini dengannya tanpa melibatkanku?!”
Menemui Paris kemudian bukanlah sebuah penyelesaian yang diinginkan Chev. Alih-alih bertanya apa yang gadis itu pikirkan dengan menjauhinya, Chev tetap berusaha mengejar. Lewat sebuah gaun cantik berwarna merah yang sengaja ia belikan dan makan malam di tempat mewah, Chev berharap ada sesuatu yang berbeda dari kencan mereka kali ini.
Paris tidak bisa menolak; ia bahkan menangis, mengakui bahwa sudah lama ia tidak memakai gaun. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kalinya momen itu. Chev tahu, selama ini Paris hanya memaksa dirinya untuk mengakhiri hubungan mereka di dalam ketidaksanggupan yang semakin jelas terlihat ketika dia memeluk Chev begitu erat. Seakan dekapan tangannya berkata, ‘seandainya aku tidak menjalani kehidupan yang begitu hina, entah...’
Untuk pertama dan terakhir, Chev melihat sosoknya yang begitu cantik dalam balutan gaun merah itu seakan menyaksikan hal yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Ia tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu bahkan sedetik pun. Ia mengingat dengan baik, Paris yang salah tingkah karena terus dipandangi. Ia mengingat senyum bahagia yang jarang itu. Ia mengingat tatapan Paris yang penuh haru saat Chev mengajaknya untuk melarikan diri saja; persis seperti yang selalu diinginkannya.
Namun, kesenangan itu berakhir saat dua orang menghampiri mereka untuk menyapa; tepatnya menegur Chev yang langsung terbangun dari cita-cita indahnya soal melarikan diri bersama Paris.
“Apa kau tidak punya malu, Chev?” itu ibunya yang memandangi Paris yang kehilangan selera makan serta keceriaannya yang langka.
Di sampingnya, berdiri seorang pria berwajah garang yang menatap dengan angkuh seakan dua makhluk di hadapannya adalah budak.
Entah dari mana mereka tahu bahwa malam itu Chev berkencan dengan seorang gadis yang tidak mereka kehendaki. Mereka sengaja datang seolah untuk menyeret putra mereka pulang layaknya seekor anjing yang harus selalu dijaga dengan dirantai.
“Ibu!” celetuk Chev, berharap kedua orang tuanya tidak mengatakan hal yang lebih menyakitkan lagi di hadapan Paris.
“Kami tidak pernah marah saat kau menolak siapa pun yang kami kenalkan, tapi bukan berarti kau bisa berkencan dengan gadis ini. Kau tidak ingat apa yang sudah dilakukannya padamu?” kata ayahmu. “Tidak peduli ayahnya kaya raya sekali pun, seorang kriminal tetap saja kriminal. Jangan harap kau bisa melarikan diri dari semua ini!”
Malam yang seharusnya indah menjadi mimpi buruk, saat Paris berlari keluar restoran sambil menangis. Dia hampir terjatuh di depan pintu demi menghindari seseorang yang baru saja masuk. Chev bersiap untuk mengejar ketika dua orang lelaki memeganginya.
Bahagia selamanya bersama, ternyata hanyalah dongeng. Setelah malam itu, Paris menghilang. Setelah itu, kecemasan berlebihan selalu menghantuinya. Sekalipun ia tahu bahwa Eloise-lah yang memberitahu ibunya tentang Paris, ia tidak lagi marah pada gadis itu. Chev berhenti bekerja. Ia mengurung dirinya selama berhari-hari di kamar gelap dan memaki siapa saja yang mendekat termasuk ayah dan ibunya. Tak ada lagi ketenangan, tak ada lagi kedamaian yang ia impikan seakan kematian adalah penebusan atas semua dosa yang ia lakukan.
***
Aku akan menunggumu posting kka ๐, aeeu bet ceritanya suer dah