๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Mengapa kau melepaskanku?” Chev bertanya saat gadis itu melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya.
Patsy tidak menjawab. Ia dengan cepat memapah tubuhnya yang remuk keluar dari tempat menjijikan itu. Bayangkan tubuh sekurus itu berusaha menyeretnya keluar tanpa suara saat para kriminal tertidur pulas. Meskipun tertatih dan seringkali Chev harus terhempas karena Patsy kekurangan tenaga, mereka berhasil.
Gadis itu terengah-engah setiap kali mereka berhenti untuk istirahat sejenak. Lalu ia kembali memapah Chev yang samar-samar mengingat perkataan Patsy waktu itu.
“Apa hal jahat yang kau lakukan padanya sampai dia membalasmu seperti ini?” tanya dia saat ia duduk di hadapan Chev untuk memberinya minum.
“Aku meniduri kekasihnya.”
“Wow, itu sangat menyakitkan.”
“Perempuan itu menyukaiku dan aku tidak menolaknya. Itu bukan kesalahanku.”
“Aku juga merasa tidak bersalah sama sekali sampai kemudian kekasihku menjalin hubugan dengan saudari angkatku.”
“Lalu kau berakhir di jalanan?”
“Itu cerita yang panjang. Aku akan menceritakannya lain kali. Saat ini, aku sedang memikirkan rencana untuk mengeluarkan kita dari sini. Temanmu, si Gary itu, dia lebih mengerikan dari saudari angkatku.”
“Apa dia pernah mencoba membunuhmu juga?”
Patsy mengangguk satu kali. “Dia mencekik leherku saat aku sedang sakit,” jawabnya.
“Bagaimana kau masih hidup?”
“Aku tidak takut mati”
“Lalu apa yang kau takutkan?”
“Sendirian.”
Ya, aku juga, jawab Chev di dalam hatinya. Tapi, kenyataannya dirinya selalu sendirian.
Lahir dengan harta berlimpah dan orang tua yang kaya raya, tapi tetap saja sendirian. Bagaimana bisa? Ya, Chev dibesarkan dengan uang, bukan kasih sayang. Dia bahkan iri dengan anak pelayan yang tinggal di tempat yang dulunya adalah gudang dan kemudian disulap menjadi sebuah rumah layak huni. Di sanalah, Gary bersama orang tuanya menghabiskan malam mereka dengan suka cita.
Sementara Chev, menghuni rumah besar dengan kamar yang luas dan perabotan mahal yang rasanya nyaris seperti kosong melompong. Ayahnya sering tidak pulang dan ibunya suka berpesta. Seringkali ia memandangi ke rumah kecil yang berada di seberang halaman belakang istananya yang megah.
Keluarga itu terkadang menggelar pesta barbekyu kecil-kecilan di halaman mereka. Gary dan Selma, adik perempuannya begitu bahagia. Sementara Chev tidak pernah merasakan bahagia yang seperti itu.
Menginjak remaja, mereka mulai berteman karena sekolah di tempat yang sama. Pertemanan berlanjut sampai dewasa dan berakhir dengan penculikan sadis itu.
***
Malam biasanya berlalu dengan pesta pora dan minuman. Paginya, ia terjaga bersama beberapa wanita cantik di atas ranjang kamar hotel. Lalu ia pulang dan meninggalkan mereka begitu saja. Chev tidak bekerja. Semua yang ia butuhkan selalu ada sehingga ia tak perlu bekerja keras seperti orang lain. Karena di perusahaan ayahnya sudah ada satu posisi penting yang menunggunya begitu ia lulus kuliah. Sayangnya, Chev tak kunjung lulus sampai kemudian bisnis ayahnya bangkrut.
Akhirnya bukan posisi penting yang ia dapatkan, melainkan sebuah beban berat sebagai anak tunggal. Ide gila itu datang dari sang ibu yang tak ingin melarat dan menjual semua barang-barang mahalnya. Kalau Chev bisa menikahi seorang perempuan dari keluarga kaya, mereka akan mendapatkan bantuan finansial. Tapi, dia belum ingin menikah. Dia masih ingin bersenang-senang walaupun kemampuannya sudah terbatas. Keluarganya menjual rumah mereka yang ada di Los Angeles dan untuk menyembunyikan kebangkrutan, mereka pindah ke Italia, negara asal ibunya. Sehingga ia sering melakukan perjalanan antar negara yang sebenarnya sangat melelahkan.
Lalu tiba-tiba dia terbangun di sebuah kamar rumah sakit dengan tubuh yang nyaris tak bisa digerakan. Butuh beberapa menit baginya untuk mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Selama beberapa hari ia sendirian hingga seorang gadis datang menjenguknya. Dia Eloise, orang yang membawanya ke sini.
Tak lama kemudian, kedua orang tuanya datang. Mereka terlalu terlambat dengan alasan kasus yang menimpa perusahaan membuat mereka tak bisa bepergian. Intinya, perusahaan jauh lebih penting dari nyawanya. Walaupun mereka kemudian segera melapor ke polisi, Chev sama sekali tidak merasa sudah berada di tempat yang tepat.
“Lihat dirimu,” kata ibunya memandangi dirinya penuh rasa iba; pada awalnya. “Keparat itu harus bertanggung jawab karena membuatmu cacat.”
Cacat?
“Kau satu-satunya harapan untuk menyelamatkan kita, Chev,” katanya mengulangi kalimat yang sama sesaat sebelum ia rela terbang dari Milan ke Amerika untuk bertemu seorang gadis yang katanya bersedia dijodohkan dengan dirinya. “Dia menggagalkannya....”
Bahkan di saat seperti ini sang ibu masih menyesalkan perjodohan yang batal itu?
“Cepatlah sembuh,” katanya lagi seraya membelai puncak kepala Chev dengan lembut.
Tapi, hanya sebentar sebelum ponselnya berbunyi dan dia harus pergi.
“Kalau aku punya ibu yang seperti itu, dari remaja aku pasti sudah bunuh diri,” celetuk seseorang yang berdiri di pintu tak lama setelah ibunya tak terlihat lagi. “Bagaimana mungkin kau bisa tahan dengan hal-hal semacam itu?”
“Aku tidak hidup bersama mereka,” jawab Chev singkat, namun ketus.
Eloise mengangguk-angguk. “Kalau aku jadi kau, aku tidak akan mau melakukannya,” katanya lagi, seolah memanas-manasi. “Menikah itu karena cinta. Bukan uang. Kau tahu rasa uang, ‘bukan? Tidak ada rasanya sampai kau berpikir itu hanya kertas biasa yang membuat orang-orang jadi gila.”
“Diamlah!”
“Begini saja, aku punya tawaran menarik begitu kau sembuh,” kata Eloise, sembari duduk di sisi tempat tidur. “Aku punya pekerjaan untukmu. Setidaknya itu lebih membuatmu terhormat daripada menjadi matrealistis. Setidaknya kau punya harga diri dengan bekerja.”
“Apa kau tidak lihat aku ini cacat?”
Eloise malah tertawa. “Kau percaya ucapan ibumu yang tidak bisa membedakan orang yang betul-betul cacat?” tanya dia. “Aku rasa dia tidak pernah melihat orang lumpuh seumur hidupnya.”
Gadis itu memandangnya dari dekat.
“Pertama kali melihatmu kau... tidak berbentuk, Chev,” sambungnya. “Entah bagaimana orang itu menghajarmu tapi sungguh, aku tidak bisa membedakan mana mata, hidung dan bibirmu. Saat ini aku baru sadar ternyata kau cukup rupawan.”
“Menjauh dariku!” teriaknya.
“Tubuhmu saat ini kurus. Tapi, aku tahu struktur tulangmu sangat sempurna. Rasanya aku jadi tidak heran lagi, mengapa ibumu berpikir kau akan laris di kalangan nona-nona kaya,” oceh Eloise semakin membuat Chev kesal. “Dan kau tidak cacat selain dari jari telunjuk kiri yang remuk. Kata dokter itu akan sedikit membekas. Tapi, tidak terlalu.”
“Ibuku tidak menjualku!”
Eloise tertawa makin keras. Dari awal memang gadis itu suka sekali mempermainkannya.
“Kau persis seperti adik perempuanku yang tidak suka saat aku mencandainya bahwa dia bukan anak kandung ibuku,” ejeknya lagi.
Tapi, harus diakuinya, Eloise sangat berjasa. Gadis itu memberinya tempat tinggal dan pekerjaan. Walaupun terkadang terkesan selalu ingin tahu urusan pribadi orang lain, Eloise adalah orang yang baik.
Patsy tidak menjawab. Ia dengan cepat memapah tubuhnya yang remuk keluar dari tempat menjijikan itu. Bayangkan tubuh sekurus itu berusaha menyeretnya keluar tanpa suara saat para kriminal tertidur pulas. Meskipun tertatih dan seringkali Chev harus terhempas karena Patsy kekurangan tenaga, mereka berhasil.
Gadis itu terengah-engah setiap kali mereka berhenti untuk istirahat sejenak. Lalu ia kembali memapah Chev yang samar-samar mengingat perkataan Patsy waktu itu.
“Apa hal jahat yang kau lakukan padanya sampai dia membalasmu seperti ini?” tanya dia saat ia duduk di hadapan Chev untuk memberinya minum.
“Aku meniduri kekasihnya.”
“Wow, itu sangat menyakitkan.”
“Perempuan itu menyukaiku dan aku tidak menolaknya. Itu bukan kesalahanku.”
“Aku juga merasa tidak bersalah sama sekali sampai kemudian kekasihku menjalin hubugan dengan saudari angkatku.”
“Lalu kau berakhir di jalanan?”
“Itu cerita yang panjang. Aku akan menceritakannya lain kali. Saat ini, aku sedang memikirkan rencana untuk mengeluarkan kita dari sini. Temanmu, si Gary itu, dia lebih mengerikan dari saudari angkatku.”
“Apa dia pernah mencoba membunuhmu juga?”
Patsy mengangguk satu kali. “Dia mencekik leherku saat aku sedang sakit,” jawabnya.
“Bagaimana kau masih hidup?”
“Aku tidak takut mati”
“Lalu apa yang kau takutkan?”
“Sendirian.”
Ya, aku juga, jawab Chev di dalam hatinya. Tapi, kenyataannya dirinya selalu sendirian.
Lahir dengan harta berlimpah dan orang tua yang kaya raya, tapi tetap saja sendirian. Bagaimana bisa? Ya, Chev dibesarkan dengan uang, bukan kasih sayang. Dia bahkan iri dengan anak pelayan yang tinggal di tempat yang dulunya adalah gudang dan kemudian disulap menjadi sebuah rumah layak huni. Di sanalah, Gary bersama orang tuanya menghabiskan malam mereka dengan suka cita.
Sementara Chev, menghuni rumah besar dengan kamar yang luas dan perabotan mahal yang rasanya nyaris seperti kosong melompong. Ayahnya sering tidak pulang dan ibunya suka berpesta. Seringkali ia memandangi ke rumah kecil yang berada di seberang halaman belakang istananya yang megah.
Keluarga itu terkadang menggelar pesta barbekyu kecil-kecilan di halaman mereka. Gary dan Selma, adik perempuannya begitu bahagia. Sementara Chev tidak pernah merasakan bahagia yang seperti itu.
Menginjak remaja, mereka mulai berteman karena sekolah di tempat yang sama. Pertemanan berlanjut sampai dewasa dan berakhir dengan penculikan sadis itu.
***
Malam biasanya berlalu dengan pesta pora dan minuman. Paginya, ia terjaga bersama beberapa wanita cantik di atas ranjang kamar hotel. Lalu ia pulang dan meninggalkan mereka begitu saja. Chev tidak bekerja. Semua yang ia butuhkan selalu ada sehingga ia tak perlu bekerja keras seperti orang lain. Karena di perusahaan ayahnya sudah ada satu posisi penting yang menunggunya begitu ia lulus kuliah. Sayangnya, Chev tak kunjung lulus sampai kemudian bisnis ayahnya bangkrut.
Akhirnya bukan posisi penting yang ia dapatkan, melainkan sebuah beban berat sebagai anak tunggal. Ide gila itu datang dari sang ibu yang tak ingin melarat dan menjual semua barang-barang mahalnya. Kalau Chev bisa menikahi seorang perempuan dari keluarga kaya, mereka akan mendapatkan bantuan finansial. Tapi, dia belum ingin menikah. Dia masih ingin bersenang-senang walaupun kemampuannya sudah terbatas. Keluarganya menjual rumah mereka yang ada di Los Angeles dan untuk menyembunyikan kebangkrutan, mereka pindah ke Italia, negara asal ibunya. Sehingga ia sering melakukan perjalanan antar negara yang sebenarnya sangat melelahkan.
Lalu tiba-tiba dia terbangun di sebuah kamar rumah sakit dengan tubuh yang nyaris tak bisa digerakan. Butuh beberapa menit baginya untuk mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Selama beberapa hari ia sendirian hingga seorang gadis datang menjenguknya. Dia Eloise, orang yang membawanya ke sini.
Tak lama kemudian, kedua orang tuanya datang. Mereka terlalu terlambat dengan alasan kasus yang menimpa perusahaan membuat mereka tak bisa bepergian. Intinya, perusahaan jauh lebih penting dari nyawanya. Walaupun mereka kemudian segera melapor ke polisi, Chev sama sekali tidak merasa sudah berada di tempat yang tepat.
“Lihat dirimu,” kata ibunya memandangi dirinya penuh rasa iba; pada awalnya. “Keparat itu harus bertanggung jawab karena membuatmu cacat.”
Cacat?
“Kau satu-satunya harapan untuk menyelamatkan kita, Chev,” katanya mengulangi kalimat yang sama sesaat sebelum ia rela terbang dari Milan ke Amerika untuk bertemu seorang gadis yang katanya bersedia dijodohkan dengan dirinya. “Dia menggagalkannya....”
Bahkan di saat seperti ini sang ibu masih menyesalkan perjodohan yang batal itu?
“Cepatlah sembuh,” katanya lagi seraya membelai puncak kepala Chev dengan lembut.
Tapi, hanya sebentar sebelum ponselnya berbunyi dan dia harus pergi.
“Kalau aku punya ibu yang seperti itu, dari remaja aku pasti sudah bunuh diri,” celetuk seseorang yang berdiri di pintu tak lama setelah ibunya tak terlihat lagi. “Bagaimana mungkin kau bisa tahan dengan hal-hal semacam itu?”
“Aku tidak hidup bersama mereka,” jawab Chev singkat, namun ketus.
Eloise mengangguk-angguk. “Kalau aku jadi kau, aku tidak akan mau melakukannya,” katanya lagi, seolah memanas-manasi. “Menikah itu karena cinta. Bukan uang. Kau tahu rasa uang, ‘bukan? Tidak ada rasanya sampai kau berpikir itu hanya kertas biasa yang membuat orang-orang jadi gila.”
“Diamlah!”
“Begini saja, aku punya tawaran menarik begitu kau sembuh,” kata Eloise, sembari duduk di sisi tempat tidur. “Aku punya pekerjaan untukmu. Setidaknya itu lebih membuatmu terhormat daripada menjadi matrealistis. Setidaknya kau punya harga diri dengan bekerja.”
“Apa kau tidak lihat aku ini cacat?”
Eloise malah tertawa. “Kau percaya ucapan ibumu yang tidak bisa membedakan orang yang betul-betul cacat?” tanya dia. “Aku rasa dia tidak pernah melihat orang lumpuh seumur hidupnya.”
Gadis itu memandangnya dari dekat.
“Pertama kali melihatmu kau... tidak berbentuk, Chev,” sambungnya. “Entah bagaimana orang itu menghajarmu tapi sungguh, aku tidak bisa membedakan mana mata, hidung dan bibirmu. Saat ini aku baru sadar ternyata kau cukup rupawan.”
“Menjauh dariku!” teriaknya.
“Tubuhmu saat ini kurus. Tapi, aku tahu struktur tulangmu sangat sempurna. Rasanya aku jadi tidak heran lagi, mengapa ibumu berpikir kau akan laris di kalangan nona-nona kaya,” oceh Eloise semakin membuat Chev kesal. “Dan kau tidak cacat selain dari jari telunjuk kiri yang remuk. Kata dokter itu akan sedikit membekas. Tapi, tidak terlalu.”
“Ibuku tidak menjualku!”
Eloise tertawa makin keras. Dari awal memang gadis itu suka sekali mempermainkannya.
“Kau persis seperti adik perempuanku yang tidak suka saat aku mencandainya bahwa dia bukan anak kandung ibuku,” ejeknya lagi.
Tapi, harus diakuinya, Eloise sangat berjasa. Gadis itu memberinya tempat tinggal dan pekerjaan. Walaupun terkadang terkesan selalu ingin tahu urusan pribadi orang lain, Eloise adalah orang yang baik.
Semakin dikit ceritanya :(