๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Chev
“Menurutmu bagaimana... kalau ternyata aku yang membunuhnya?” Chev bertanya; dia sudah menanyakan hal itu berulang kali sampai Eloise muak.
“Kau menderita bipolar, bukan skizofrenia,” cetus Eloise. “Kau pasti sadar dengan yang kau lakukan kalau kau benar-benar menembaknya lalu membuangnya ke danau! Kau tidak melakukan itu, oke?”
“Tapi, aku berada di danau itu bersamanya!” teriak Chev kembali gelisah tak menentu. Ia mengacak-acak rambut lurus hitamnya yang sudah memanjang lalu mencengkram kedua pipinya sendiri.
“Aku sudah mengarahkan polisi agar segera menangkap Gary. Selama dia masih bebas kau belum bisa memberikan keterangan apa-apa karena itu akan menyulitkan posisiku,” kata Eloise berujar, menatap mata yang penuh ketakutan itu secara langsung. “Aku sudah menjelaskan alasannya. Kau ingat?”
Chev menggeleng-geleng. Dia tampak menolak ujaran Eloise mentah-mentah setelah sebelumnya dia mengangguk mengerti. Namun saat itu kondisinya masih stabil. Harus terkungkung di tempat ini kembali membuatnya gila.
“Kau tahu apa situasinya sekarang?” tanya Eloise lagi, sambil memegangi kedua bahu Chev yang gemetaran. “Ayah Patsy mencurigai kerabatnya sendiri karena Green Lake adalah tempat penuh kenangan bagi Patsy sehingga bukan kebetulan Gary membuang mayatnya di sana. Green Lake memutus hubungan kematian Patsy dengan Gary. Padahal Patsy tidak ke Santa Rosa. Kau mengejarnya sampai ke San Fransisco begitu juga dengan Gary yang mengikuti kalian dan kemudian dia menyerangmu. Kau pingsan, Chev. Sedangkan Patsy menghilang.”
“Mengapa kita tidak mengatakan yang sejujurnya saja?” desak Chev. “Aku sudah tidak tahan....”
“Aku berbohong pada polisi karena mereka pasti akan menuduhmu melakukannya. Gary melumpuhkanmu lebih dulu dan kemudian menembak Patsy. Kita mengira Patsy hilang tapi sebenarnya setelah ditembak, Gary langsung membuangnya ke danau. Kita tidak tahu itu sampai kemudian mayatnya ditemukan.”
“Aku pikir aku... yang melakukannya...,” kata Chev, meracau lagi sambil memandangi kedua tangannya. “Senjata itu ada di tanganku. Aku menembaknya dan membuangnya ke danau....”
Eloise hampir putus asa meyakinkannya. “Kalau kau yang melakukannya, katakan apa alasanmu,” katanya kemudian.
Kejadian traumatis itu mendistorsi ingatan Chev yang mengira dialah pelakunya hanya karena begitu tersadar tangannya memegang sebuah senjata. Gary memukulnya dengan keras sampai tidak sadarkan diri. Untuk orang yang mentalnya sudah tidak seimbang hal-hal seperti itu menimbulkan persepsi berbeda dari kenyataan; setidaknya begitulah kata psikiater yang menangani penyakit Chev. Terlebih kehilangan seseorang memicu halusinasi berlebihan yang tidak terkendali. Parahnya, Chev terkadang menganggap halusinasi itu adalah hal yang nyata.
Chev kembali meringis dan menggeleng.
“Kau tidak punya alasan!” tegas Eloise. “Kau mengejarnya karena takut kehilangannya. Kau mencintainya, ingat?”
“Aku memikirkannya, Eloise. Jangan kira aku tidak menganalisanya...,” kata dia. “Kalau Gary yang melakukannya, mengapa bukan aku? Mengapa dia hanya menghabisi Paris?”
“Kau lebih mengenal Gary daripada aku,” kata Eloise. “Dia tidak puas hanya dengan kematianmu. Dia ingin kau menderita seperti dirinya. Kehilangan orang yang dicintai dan kemudian membuat pembunuhan itu seolah-olah dilakukan olehmu. Penyakit mentalmu membuat hal itu mungkin saja kau lakukan karena emosi. Dia sengaja menaruh senjata itu di tanganmu untuk melihatmu akhirnya di penjara karena sudah membunuh kekasihmu sendiri. Kurasa itu lebih menyakitkan bagimu daripada melihatmu mati, Chev.”
“Bagaimana kau tahu itu...?”
Tiba-tiba Eloise merasa iba. Ia sangat menyesal, mengapa hari itu datang terlambat. Kalau tidak, dia tidak akan menemukan Chev dalam keadaan pingsan di dermaga danau dengan memegang senjata. Sejak hari itu ia harus menyembunyikan Chev karena polisi pasti menangkapnya. Gary sudah merencanakan pembunuhan itu.
“Apa kau melihat Gary ada di sana?” tanya Chev kemudian.
Eloise terdiam. Kalau dia melihatnya, tentu Patsy tidak akan mati. Benar bukan?
“Kau bahkan tidak melihat Gary berada di sana. Bagaimana kau yakin dia pembunuhnya?” Chev mulai mendesak.
“A... aku...,” Eloise tercekat.
Chev menatapnya tajam. “Kau... menyebutkan skenario itu dengan begitu rapi seolah memang begitulah adanya, Eloise. Padahal bisa saja tidak... bisa saja... itu bukan Gary,” katanya. “Gary seorang pengecut... dia tidak akan berani menyerangku langsung. Kau tahu alasan kenapa dia justru menyuruh orang untuk menculik dan menghabisiku? Itu karena dia tidak berani melakukannya sendiri....”
“Menurutmu, siapa lagi yang punya dendam terhadap kalian?” Eloise bersikukuh.
“Kau,” jawab Chev berdiri, mengamati Eloise yang tiba-tiba gemetaran. “Kau marah saat tahu aku bertemu dengan Paris lagi dan kemudian memberitahukannya pada keluargaku.”
Eloise terkekeh. “Jadi... sekarang kau menuduhku?”
“Kau yang menemukanku di dermaga dengan senjata itu dan membawaku tanpa melapor ke polisi...,”
“Aku rasa halusinasimu sudah sangat berlebihan, Chev. Senjata yang menembak Patsy ada bersamamu! Kalau aku tidak membawamu dari sana sudah pasti kau terbangun di rumah sakit dengan borgol!” katanya, menghindari tatap muka dengan Chev yang entah mengapa mulai mencekam. “Ya, kalau aku melakukannya. Aku pasti akan langsung melapor ke polisi. Kau satu-satunya tersangka dengan barang bukti termasuk penyakit mental itu! Aku akan datang ke persidanganmu untuk memberi kesaksian yang memberatkanmu! Lagipula, kau model yang selalu menyulitkan! Aku memang ingin menendangmu ke luar dari agensi karena selain perayu ulung kau juga sakit jiwa!”
“Lalu mengapa kau mengikuti kami sampai ke Green Lake dan muncul sebagai penyelamat?” tanya Chev lagi. “Apa yang kau pikirkan saat itu?”
Eloise kembali terhenyak. Alasan itu sangat sulit dijelaskan untuk saat ini. Tapi, yang pasti saat ini, halusinasi Chev semakin menggila.
“Kuatkan dirimu, Chev. Kau bukan laki-laki yang cengeng, ingat itu,” ujar Eloise yang memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka dan pergi.
“Setelah bajingan itu ditangkap, bagaimana kalau dia tidak mengakuinya karena dia memang bukan pelakunya?” tanya Chev lagi saat Eloise sudah berada di depan pintu.
Eloise menoleh. Tampak ia begitu lelah dengan perdebatan itu. “Polisi akan menahanku karena
ketahuan berbohong,” jawabnya. “Dan aku berbohong demi melindungi dirimu.”
“Mengapa kau melindungiku?”
“Karena itulah yang harus aku lakukan dan aku tahu kau tidak membunuhnya. Itu saja.”
***
Eloise selalu berkata bahwa ini hanyalah soal waktu.
Gary sialan itu akan segera ditemukan. Polisi akan membuatnya mengakui pembunuhan itu sehingga kemudian Chev baru bisa bersaksi bahwa dia ada di tempat kejadian. Hanya saja dia sudah lebih dulu tidak sadarkan diri dan bahkan tidak tahu bahwa Paris telah tewas. Kebohongan Eloise tidak akan memberatkannya nanti.
Namun, apakah Gary akan ditangkap? Lagipula apa benar dia yang melakukannya?
Chev memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur setelah ia menelan bebarapa pil yang diberikan psikiaternya pada konsultasi terakhir. Katanya obat itu tak akan membuatnya bermimpi buruk; bahkan tak akan bermimpi sama sekali. Karena setiap bermimpi, kejadian itu akan terus terulang seperti video rusak yang tak ingin dia lihat.
Tapi, Chev masih terus merasakannya. Rasa bersalah. Penyesalan. Seharusnya dia melindungi Paris dari siapa pun itu yang menginginkan kematian mereka.
***
Mantul banget tulisannya kak. Kereeen!
Kalo sempat bisa krisan punya saya ya kak. (Cerpen) Biduan by Alister N
Lanjuttt kka!!! Jdi pinisirin kin ikinyih ๐