๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Di pemakaman Patsy, Eloise akhirnya melihat dua sosok yang membuat perhatiannya teralihkan dari pidato pendeta sebelum jenazah dikebumikan. Pasangan suami istri yang tak lain adalah saudara tiri dan saudari angkat dari Patsy; Winter dan Shelley. Kedua orang itu duduk berdampingan, sama-sama memakai kaca mata hitam.
Di sebelah mereka terlihat pria paruh baya yang pastinya adalah Daniel, ayah Patsy yang didampingi istri keduanya, seorang wanita yang tak hentinya menangis. Dibandingkan pasangan yang tampak begitu berduka ini, Winter dan Shelley terkesan begitu dingin.
Setelah pemakaman selesai, mereka meninggalkan area pekuburan lebih dulu sementara Daniel tetap tinggal. Shelley terlihat menggamit lengan suaminya dengan mesra saat melangkah tapi perempuan itu sempat menoleh ke arah Eloise seolah sadar dirinya sedang diawasi. Shelley pasti sudah mendengar tentang dirinya. Tak jelas seperti apa ekspresinya ketika menatap Eloise, namun, Eloise sedikit merasakan kekhawatirannya karena dia terlihat berbisik kepada suaminya. Sekejap kemudian, Winter ikut menoleh tapi hanya sejenak sebelum mereka naik ke mobil.
Ayah mereka mencurigai mereka sebagai pembunuh. Bagaimana mungkin?
Eloise harus mengangkat panggilan telepon yang terus mengganggunya sejak setengah jam yang lalu. Ia harus segera pulang karena panggilan itu.
***
Eloise yang terkejut sontak merasa kesal. “Apa kau tidak bisa bicara baik-baik?!” balasnya sambil melemparkan tas kecil yang dibawanya ke sofa yang ada di ruang tidur gelap itu.
Seorang pria yang panik menghampirinya dan tiba-tiba mencengkram bahunya. “Apa kau tidak tahu bahwa aku sudah bosan berada di sini?!” teriaknya sembari mengguncang-guncang tubuh Eloise. “Di sini membuatku gila!”
Eloise menarik dirinya. Mengapa hal ini selalu terjadi?
“Kau sudah meminum obatmu?” tanya Eloise berusaha untuk tenang dengan duduk di sofa tadi. Ia masih mengamati pria yang mondar-mandir itu sambil menarik nafas panjang.
“Sudah,” jawabnya, tampak berusaha menenangkan diri dengan mengatur nafas.
“Tenanglah,” kata Eloise; sembari bersandar lelah dan tetap mengawasi lelaki itu. “Aku tidak akan bicara kalau kau tidak berhenti panik.”
Laki-laki itu kemudian ikut duduk. Sosoknya hanya diterangi sedikit cahaya yang menyusup dari jendela yang tertutup horden. Sehingga Eloise tak bisa melihat dengan jelas bagaimana keadaan orang yang baru ditinggalnya beberapa jam saja ini.
“Untuk sementara kau tidak bisa ke mana-mana, Chev....” ujar Eloise sambil berdiri dari tempatnya dan menuju ke jendela. Ia menepikan semua kain jendela, agar cahaya sepenuhnya menyinari kamar yang sudah dihuni Chev sejak hampir dua minggu ini –tepatnya sejak penemuan mayat Patsy muncul di berita TV. “Aku janji hanya untuk sementara.”
“Kau bahkan tidak mengizinkanku ke pemakamannya...,” kata Chev, terdengar meringis. Dia sudah seperti itu sejak mengetahui Patsy meninggal dunia.
Merasa bersalah dan terus dihantui ketakutan membuat gejala bipolar-nya semakin parah. Beberapa hari lalu, dia memarahi semua pelayan dan membanting barang. Sehari setelahnya, dia terlihat begitu tenang dan tabah. Pasang surut emosinya seringkali tanpa sebab namun jika ada masalah dia bisa berada di titik puncak. Tidak mudah menghadapi penyakit semacam bipolar.
“Polisi akan memanggilmu, apa yang bisa kau jelaskan pada mereka?” tanya Eloise. “Keadaanmu sedang buruk.”
“Seharusnya aku memberi kesaksian...,” katanya lagi; terdengar seperti racauan. Kemarin dia juga mengatakan hal yang sama.
Eloise menghela nafas lagi. “Kesaksian apa?” balasnya mulai jengkel. “Kau lupa dengan semua yang sudah ku jelaskan sebelumnya?”
“Apa mereka berpikir akulah pelakunya?” tanya Chev, menatapnya lekat-lekat sambil mendekat dan kembali mencengkram bahu Eloise kuat-kuat.
Polisi hanya berniat memanggilnya tapi Eloise tampaknya berhasil untuk meyakinkan mereka bahwa saat ini keterangan Chev belum dibutuhkan.
“Tidak,” jawab Eloise. Tenang.
“Kau berbohong!” teriak Chev tiba-tiba sehingga Eloise harus menjauh darinya.
Energinya selalu terkuras setiap berbicara dengan laki-laki dengan gangguan mental ini.
“Kalau mereka bertanya padamu, memangnya apa yang akan kau jelaskan?!” tanya Eloise gusar.
“Ya, aku akan menjelaskan kejadian hari itu,” jawab Chev, masih dilanda histeria yang sama seperti saat tadi ia seperti harimau yang hendak menerkam.
Mulai lagi, pikir Eloise yang kemudian memutuskan kembali duduk di sofa. Kali ini dia harus menenangkan pria itu. Dia harus meyakinkan Chev bahwa dia harus mengikuti rencana, setidaknya sampai Gary ditangkap. Karena jika tidak, akan ketahuan bahwa dia telah memberikan keterangan palsu pada polisi.
***
Ayo kka semngat, liat postingan kk yg di post ampe berbulan bulan.... Kmna kka nya? Hhe