๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kalian mungkin akan sedikit kecewa dengan postingan malam ini karena admin belum mau memposting Getting Her Heart Back. Tapi, semoga kalian tetap enjoy dengan sajian malam ini. Terutama buat penggemar setia blog ini yang baca semua cerita yang aku tulis.
Berhubung aku sedang merapikan blog, khususnya judul postingan yang bikin puyeng karena semua hurufnya kapital semua dan juga label postingan yang terlalu banyak, silakan baca chapter ini dulu ya.....
_____________
Ps.
ini potongan terakhir chapter 21 (bagian 3) ternyata kemarin ini aku salah bagi.
“Jadi apa yang membuatmu
tiba-tiba datang ke Jakarta dan memberitahuku setelah di bandara seakan aku ini
supir pribadi?” tanya Chakka, menatapi Talisa dengan mata sipitnya yang agak
sinis.
Talisa mengerti,
laki-laki itu menggerutu karena ia harus meninggalkan rapat penting di kantor
hanya demi menjemput perempuan yang entah kenapa membuatnya tak berkutik. Istrinya
yang lebih pemarah dari Dara saja tak pernah membuatnya meninggalkan kantor segenting
apa pun keadaan di rumah.
“Apa kamu sibuk hari
ini?” tanya Talisa, tertawa pelan.
Ya, Chakka mulai
mengumpat. Dia benar-benar sibuk tapi tak bisa mengatakan soal agenda yang
harus dia tinggalkan demi Talisa. Baginya, kedatangan Talisa setelah tiga tahun
ini seperti menunggu jatuhnya komet Halley yang terjadi tujuh puluh enam tahun
sekali –tak pantas disia-siakan demi rutinitas yang memang sudah ada bahkan sebelum
manusia terlahir ke dunia.
“Aku hanya ingin bicara
dengan seseorang,” jelas Talisa, lalu menyeruput kopinya dengan pelan.
“Tiga tahun ini kamu bisa
mengatasinya tanpaku,” kata Chakka, sedikit heran. Tapi, ia tahu, Talisa merasa
takut. Ia bisa melihat itu dari raut Talisa yang terkadang gelisah.
“Aku punya banyak teman
baik. Yang bisa menjaga rahasia,” aku Talisa, tertunduk murung. “Tapi, aku
tidak bisa berbagi rahasia yang hanya kita dan Tuhan yang tahu, Chakka. Dan itu
adalah yang terburuk dari semuanya.”
“Katakan, kenapa itu
tiba-tiba mengganggu. Aku pikir kamu sudah jatuh cinta dan bahkan menikah,”
kata Chakka dengan santai dan memperhatikan perubahan air muka Talisa.
Perempuan itu menggeleng
satu kali. “Tidak akan ada pernikahan, Chakka,” kata Talisa tegas, menatapnya
lekat-lekat. “Selama aku tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi kepadaku.
Apakah aku sudah dikutuk sejak hari itu? Seperti dirimu?”
Chakka terdiam. Dia tak
mampu menjawabnya di saat segala hal yang dibutuhkan Talisa untuk segera
didengarnya seakan bergentayangan di sekitar Talisa yang duduk, memandang
dengan sayu ke arahnya penuh harapan. “Kamu benar-benar percaya soal kutukan?”
Chakka terkekeh.
“Kamu membuatku
mempercayai bahwa kutukan itu ada, Chakka!” Talisa menjadi tak sabar. Matanya
membelalak. “Seperti yang terjadi kepadamu sejak kecil!”
“Kamu patah hati oleh
laki-laki lain, kenapa kamu seolah sedang menyalahkanku?” balas Chakka;
suaranya datar dan tatapannya menusuk. “Apa yang sudah aku lakukan?”
“Aku tidak bertanya apa
yang kamu lakukan tapi apa... yang... sebenarnya terjadi kepadaku?!” Talisa
berteriak sambil memukul dadanya.
Chakka menarik nafas. Ia
memalingkan wajah sejenak sebelum kembali menatap Talisa dengan sedih. “Apa
yang kamu harapkan, Talisa?” dia balas bertanya. “Kenapa kamu berpikir seolah
aku bisa menghentikannya?”
“Aku hanya ingin tahu...
apa aku juga bernasib sial seperti Dara dan istri keduamu?” tanya Talisa lagi,
suaranya merendah namun sarat kesedihan. “Tidak ada yang bisa mencintaiku. Ini seperti
kutukan! Di saat aku berpikir aku menemukan hidupku, semuanya tiba-tiba hancur
berantakan!”
Dia tengah membayangkan
pertengkarannya dengan Arun yang terakhir kalinya di mana Arun mempertanyakan
masa lalu seperti apa yang membuat Talisa tertutup. Arun tidak suka dengan rahasia
sejak tanpa sengaja ia mendengar dari sepupunya –Onny, tentang Chakka. Itulah
yang membuat Arun mulai merubah sikapnya karena Talisa cenderung tidak mau
membahasnya.
“Aku bisa menceritakan
pada orang lain tentang kamu! Tapi, bagaimana dengan malam itu?! Apa aku bisa
menceritakannya?! Malam itu masih menghantuiku, Chakka! Aku tidak bisa
menceritakannya pada siapa pun! Karena masa lalu yang ingin aku buang itu...
bukanlah tentang kamu, Chakka, tapi malam terkutuk itu....”
Chakka tertunduk. Dia
sendiri pun tak bisa melupakan malam itu.
“Aku menyelamatkan
hidupmu dua kali, Talisa,” katanya kemudian saat ia hanya bisa memandangi
Talisa yang terisak pedih di hadapannya. Ia memahami ketakutan Talisa saat ini
hanya satu: tak bisa berterus terang pada orang yang dia cintai tentang
dosa-dosanya. “Pertama dari bus itu dan kedua di malam yang kamu anggap
terkutuk. Dan lebih dari itu... aku... aku...,”
“Apa?” balas Talisa yang
mulai lelah. Tampaknya, menemui Chakka sejauh ini akan sia-sia.
“Aku tak ingin kamu bernasib
sama dengan Dara atau perempuan lain yang pernah celaka karena diriku. Aku tak
menyelamatkan mereka seperti aku menyelamatkanmu. Aku membiarkan mereka mati
tapi tidak dengan kamu,” jelas Chakka, masih menundukan kepalanya. Suaranya
amat pelan namun terdengar jelas.
“Kenapa?” tanya Talisa,
membelalak tak sabar menanti jawabannya.
Chakka mengangkat
kepalanya dan kini menatap Talisa lekat-lekat sambil meraih tangan perempuan
itu dan menggenggamnya. “Karena aku mencintai mereka tak lebih dari aku
mencintaimu, Talisa...,” jawabnya.
Beberapa saat Talisa tak
bernafas. Benarkah yang ia dengar kurang dari sepuluh detik yang lalu?
“Kamu terkejut karena aku
tak pernah mengatakannya?” tanya Chakka, kemudian ia melepaskan genggaman
tangannya. “Atau karena kamu merasa bahwa aku menciummu dan pergi denganmu
hanya karena aku kesepian?”
Talisa terdiam di saat
Chakka justru terlihat ironis.
“Aku pernah mencintai
Dara tapi kebencianku padanya lebih besar dari itu. Tidak ada yang lebih
menyakitkan dari pengkhianatan, Talisa,” Chakka menjelaskan dengan wajah yang
dipenuhi luka tak terlihat. “Dia meninggalkanku dan membiarkanku hancur. Aku bersedia
pindah dari Jakarta hanya untuk membuatnya merasakan kehancuran yang sama bukan
untuk membantunya. Kamu pikir kenapa aku melakukan hal-hal yang tidak bermoral
itu di kantor kalau cintaku begitu besar padanya? Tapi, aku tidak tahu kamu akan
mendengarnya dan tiba-tiba berada di tengah kegilaanku untuk menyiksa Dara. Dan
aku tidak tahu bahwa dari sekian banyak perempuan yang kubiarkan mendekat hanya
untuk melihat mereka mati tersiksa, aku paling tak ingin gadis setulus dirimu celaka
untukku.”
“A... apa...?”
“Aku tak menikahinya
karena cinta...” akunya lagi. “Cinta apa, Talisa? Di saat aku telah
meninggalkan semuanya padamu? Tanpa pernah kamu sadari?”
Setetes air mata merembes
di mata kanan Talisa, jatuh melewati pipinya yang mulai memucat. Ia memandangi
Chakka dan kata-katanya yang melesat bagai meteor itu dengan seksama. Ada
ledakan besar di kepalanya saat ini hingga ia tak mampu bicara.
“Aku tak pernah
mengatakannya padamu karena aku tahu kamu akan terus mengejarku bahkan sampai
ke neraka sekali pun. Tapi, Kamu... kamu tidak pantas menderita karenaku. kamu perlu
menjauh dariku agar kamu bisa tetap hidup....” sambungnya.
Kecelakaan bus dan malam
terkutuk itu seketika melintas di benak Talisa. Ya, kedua kejadian itu sangat
mengerikan dan selalu ingin ia lupakan.
“Bukan kamu, Talisa.
Bukan kamu yang dikutuk untuk menjalani nasib yang demikian sial. Melainkan
aku,” tegas Chakka. “Aku lahir dengan membawa kutukan ibuku. Dia seorang
perempuan asal Pati dengan tahi lalat di bahu. Orang Jawa menyebutnya perempuan
Bahu Laweyan. Pria yang mencintainya akan mati karenanya. Itu terjadi kepada
ayahku. Dia meninggal secara mendadak bahkan di saat dia belum tahu bahwa ibuku
sedang mengandung. Saat aku lahir, ibuku harus meregang nyawa dan orang berpikir
bahwa kutukan itu tak akan turun karena aku seorang lelaki....”
Talisa hanya terkesima
dan seketika melupakan apa yang dia pikir selama ini dia ketahui tentang
Chakka. Ternyata dia tak benar-benar mengenal Chakka sebaik itu. Laki-laki ini
seakan di penuhi oleh duri tak terlihat yang beracun.
“Tapi, mereka salah.
Kutukan itu tetap diturunkan kepadaku. Aku sudah sangat dekat dengan hal-hal
ganjil yang tak bisa dipercayai oleh logika dan itulah kutukan yang sebenarnya.
Aku dijagai oleh mereka yang tak bisa kamu lihat,” Chakka mulai terdengar
sedih. “Satu persatu orang yang aku cintai mati. Kita semua akan mati, Talisa.
Tapi, aku tidak membiarkan kematian yang naas itu terjadi kepadamu!”
“Itu benar-benar
menyiksaku. Akan lebih baik jika kamu tak pernah mengatakannya...,” kata
Talisa. “Kamu tahu, aku... aku....”
“Aku tahu kamu mencintai
orang lain,” potong Chakka; kegetirannya terdengar amat sayup hingga Talisa
benar-benar merasa bersalah.
Tapi, perasaannya sudah
terlanjur hilang. Dia tak ingat lagi bagaimana cintanya yang begitu dalam
terhadap Chakka. Bahkan dia sempat berpikir, kenapa dirinya sebodoh itu?
Menyerahkan dirinya kepada lelaki yang pada akhirnya pergi? Tapi, mengetahui bahwa
ternyata Chakka juga mencintainya saat itu, membuat kebodohan itu menjadi tak
semakin salah.
Arun bersedia menerima
ketidaksempurnaannya sebagai perempuan dan berkat Arun-lah, Talisa pernah
merasakan cinta yang begitu indah. Meski masa lalu berusaha mengoyaknya dan
sekarang Talisa seakan kehilangan arah karena tak tahu bisa mengungkapkan
kegelisahannya pada siapa.
Tiba-tiba Talisa merasa
bahwa keputusan menemui Chakka ini adalah kesalahan. Tak seharusnya dia berada
di sini.
“Talisa?” Chakka heran
saat tiba-tiba Talisa berdiri.
“Aku harus kembali,”
katanya pada Chakka dengan tergesa-gesa.
“Pulang?” tanya Chakka
dan Talisa hanya mengangguk-angguk cepat sambil meraih gagang kopernya.
“Kamu tidak bisa
menolongku, Chakka! Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadaku!” kata Talisa
dan dia menatap Chakka dengan putus asa. “Kamu
tidak menyelamatkan hidupku, tapi kamu membuatku hidup hanya untuk
menderita. Lima tahun aku berusaha menganggap bahwa malam itu tidak pernah ada
seperti yang kamu ingin aku untuk lakukan. Dan kamu membohongiku dan
meninggalkanku dalam ketakutan setelah kita... kita...,” Talisa tak sanggup
melanjutkan. Dia hanya mengepalkan kedua tangannya sambil berharap dia bisa
mengungkapkan ketakutannya itu.
Chakka hanya diam. Tak
ada lagi yang bisa dia katakan saat ini. Semua rahasia besarnya sudah tak lagi
bisa disebut rahasia.
“Aku akan memberitahunya
tentang apa yang selama ini kita tutupi, Chakka...,” jelas Talisa. “Aku merasa
bahwa... aku... aku masih pantas dimaafkan karena dia mencintaiku!”
Tapi, di luar dugaan
Chakka menggeleng, seakan membantahnya. “Tidak, Talisa,” katanya. “Aku memang pernah
berkata bahwa kamu akan bertemu orang yang akan kamu cintai lebih dari kamu mencintaiku.
Dan itu benar. kamu sangat mencintainya. Tapi...
tidak ada orang yang mencintaimu seperti aku mencintaimu....”
“Apa yang kamu inginkan
dariku?!” Talisa menghardiknya lagi.
Tiba-tiba Chakka mengulurkan
tangannya pada Talisa. “Tinggalah di sini, bersamaku...,” ucapnya tampak
sungguh-sungguh. “Tidak ada lagi tempat untuk lari dari masa lalu itu selain
dari menghadapinya. Kita terjebak, Talisa. Aku akan terus mengulangi pola ini
dan kamu tidak bisa lari darinya.”
Talisa menggeleng-geleng.
“Itu tidak mungkin... kita sudah lama berakhir, Chakka...,”
“Tidak bagiku, Talisa,” ucapnya
lagi, dengan seringai dengan kesan mengerikan. Sejak kapan Chakka mempunyai senyum
seperti itu.
Talisa segera menarik
kopernya dan pergi. Dia bahkan tak berpamitan. Baginya, ini benar-benar keliru.
Entahlah. Dia teringat pada Dara yang juga pernah bersikap dan berkata amat
ketus pada Chakka –seperti itu jugalah dirinya saat ini. Ah ya, Dara bahkan
pernah menyebutnya psikopat dan selalu menjauh dari Chakka seakan lelaki itu
penyakit menular. Barangkali inilah sisi lain dari Chakka yang pernah dilihat
oleh Dara dan membuatnya ketakutan.
Apakah ini juga penyebab
Dara mengalami depresi setelah menikah dengannya lalu meninggal dunia? Begitu
pula dengan perempuan setelah Dara?
“Talisa!” Chakka
memanggilnya saat Talisa sudah berhasil memberhentikan sebuah taksi di depan
cafe tempat mereka mengobrol tadi.
Talisa menoleh meski ia
sudah sangat yakin akan naik ke taksi itu dan menuju bandara. Matahari sudah
hampir tenggelam saat ia melihat Chakka melangkah ke arahnya.
“Jangan naik ke taksi
itu,” kata Chakka padanya.
“Kenapa?”
Chakka menggeleng. Tampak
memohon padanya agar jangan pergi. “Ini terakhir kalinya aku melakukan
kebodohan hanya karena berpikir bahwa kamu sebaiknya menjauh dariku,” katanya. “Itu
baik untukmu tapi tidak untukku. Dia tidak mencintaimu, Talisa. Aku tahu itu.”
“Bagaimana mungkin kamu tahu
sementara kamu tidak mengenalnya?” Talisa bertolak pinggang.
“Kalau lelaki itu
mencintaimu dia tidak akan membiarkanmu pergi sejauh ini. Kamu tidak akan
berhasil menuju ke sini karena dia pasti menghentikanmu, Talisa.”
Talisa menggeleng. “Intuisimu
kali ini salah, Chakka,” tegasnya. “Dia
adalah semuanya yang bukan dirimu, Chakka.”
“Kalau kamu mati sekali
pun dia tak akan menangisimu,” kata Chakka. “Apa yang bisa dilakukan oleh seorang
laki-laki lemah yang sisa hidupnya akan ia habiskan untuk bertanya apakah dia
bisa bertahan besok dan besoknya lagi? Dia tentu lebih mencintai dirinya
sendiri, Talisa.”
Tawa sinis terlompat dari
bibir Talisa walau dia mengakui ketepatan tebakan Chakka tentang Arun yang
sedang sakit dan berpikir hidupnya tak lama lagi memang benar. “Lantas
bagaimana denganmu? Kalau aku mati, seperti perempuan yang pernah bersamamu,
kamu akan tetap melanjutkan hidup? Menikah dengan perempuan lain seperti yang
sudah kamu lakukan selama ini?”
Chakka menggeleng. “Aku akan ikut mati bersamamu, Talisa,” jawabnya
penuh kepastian. “Kalau kamu mati, aku
juga akan mati....”
Tapi, Talisa hanya
membalasnya dengan tatapan skeptis. Setelah membuka pintu taksi ia segera naik.
Tanpa mengucapkan selamat tinggal pada Chakka, ia menutup pintu. Saat taksi
mulai melaju, ia sempat menoleh ke belakang di mana Chakka berdiri sambil
berkata pada dirinya sendiri ‘Semuanya sudah terlambat’. Ia berharap, inilah
terakhir kalinya ia melihat Chakka.
Sosok Chakka di belakang
sana yang bisa terlihat dari ini mulai mengecil dan sesaat kemudian Talisa baru
bisa bernafas lega dengan membayangkan Arun yang sore ini mungkin saja bersiap
untuk menjemputnya ke kantor. Kemudian, ia mulai mencari handphone-nya di dalam
tas; terpikir untuk memberitahunya bahwa dia tidak ke kantor hari ini atau
mungkin sekedar ingin mendengar suaranya. Sungguh, kerinduan yang tiba-tiba ini
membuat Talisa kembali meneteskan air mata seolah ia tak bisa bertemu
kekasihnya lagi. Ia ingin cepat-cepat sampai di bandara dan membeli tiket
penerbangan terakhir menuju pulang.
Tapi, sebuah hantaman
keras yang membuatnya tubuhnya terpental dan melayang, memupus keinginan itu. Ia
hanya mendengar pecahan kaca dan jeritannya sendiri di tengah-tengah cahaya
menyilaukan yang baru saja menghampirinya.

Aduhhhh kyak nunggu komet haley lewat....lama update nya.tapi aku kan tetap menunggu.
Aduhhhh kyak nunggu komet haley lewat....lama update nya.tapi aku kan tetap menunggu.
haduuuh mbak saaay, apa kabar? masih setia ternyataaaaaaa. hahhahahahahaha.
Iya nih, kebanyakan novel mau dirapikan semua. ENIGMATIC bakal aku post ulang, kan udah template baru, lebih gampang.
baca yang lain dulu yaaa....
aku udah schedule postingan tiap hari, jadi blog nggak bakal sepi.
akhir2 ini aku emang sibuk ngutak ngatik blog nya biar yg baca jadi nyaman.