[Hal.7] [Ch. 3]WHO KILLED PARIS - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Winter mengalami kesulitan. Kita tahu itu,” Harriet mengajak Shelley berdiskusi tidak lama setelah mereka dipekerjakan oleh Daniel di perusahaan. “Sekolah bisnis bukan keinginannya. Tapi, dia tidak enak menolak tawaran Daniel.”

“Aku sering mengawasinya,” ujar Shelley, berusaha menenangkan ibu angkatnya yang selalu gelisah itu. “Jangan khawatir....”
“Shelley, apa Winter mulai terbuka padamu?” tanya Harriet tiba-tiba; masih dengan raut cemas itu. “Terkadang, aku khawatir dia akan mencari Paris lagi. Aku... sering melihatnya masuk ke kamar Paris. Dia selalu memikirkannya. Aku tidak tahu sampai kapan Winter akan terus menyiksa dirinya.”
Shelley pun juga sering melihatnya. Sayangnya, pembicaraan ia dan Winter lebih sering tentang pekerjaan. Selain dari itu, apa lagi topik yang bisa dipakai Shelley untuk sekedar mengajaknya bicara? Aneh bukan? Padahal mereka tinggal di rumah yang sama, tapi tak begitu akrab.
Dorongan dari Harriet kemudian membuatnya harus bertindak. Satu-satunya yang mungkin bisa dilakukan untuk mengalihkan perhatian Winter dari masa lalunya adalah membuat Winter bergantung padanya untuk sesuatu yang tidak bisa dia lakukan sendiri; yaitu bekerja. Shelley mulai menjejalinya dengan banyak tugas. Ya, Winter sibuk. Dia pun sibuk membantu. Shelley pikir, ada secercah harapan saat Winter akhirnya berterus terang bahwa Shelley seperti malaikat penolong baginya. Winter punya rasa takut apabila Daniel tidak puas dengan hasil kerjanya karena ia harus membalas budi atas kebahagiaan yang dia berikan pada sang ibu; meski di satu sisi, sama seperti Paris, ia masih mengutuk pernikahan itu.
“Ibumu sangat khawatir padamu,” kata Shelley dan Winter selalu memberikan reaksi apabila itu tentang ibunya. “Dia sering menanyakan keadaanmu padaku.”
“Kita tinggal satu rumah. Apa penghalang bagi ibuku untuk bicara langsung denganku?” begitulah cara Winter menanggapinya. Dingin, walau pun tadi ia sempat merespon Shelley.
“Tapi, jiwamu seakan tinggal di tempat lain atau mungkin... kau... mengurungnya setiap kali masuk ke kamar Paris,” tukas Shelley dan Winter pun terdiam. “Cukup, Winter. Kau membuatnya menyesali kebahagiaan yang dia miliki karena harus melihatmu seperti ini....”
“Aku baik-baik saja,” kata Winter, menghindari tatapan Shelley. Kata-kata ‘menyesali kebahagiaan’ cukup menekan batinnya.
“Dia merasa bersalah padamu, juga pada Paris,” Shelley semakin menekannya. “Paris pergi dan kau menjadi seperti ini. Ini bukan kebahagiaan. Ini sesuatu akan membunuhnya.”
“Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan demi perasaan ibuku, Shelley. Aku sudah menukar apa yang aku cintai dengan yang dia miliki saat ini. Kau tahu kesulitan yang dia lalui bersama ayahku yang abusiv.  Aku hanya berharap ibuku bisa melanjutkan hidup, menikmati masa tuanya.”
“Tega sekali kau berkata seperti itu soal ibumu...,”
“Aku tidak tahu lagi apa yang diinginkan ibuku dariku....”
“Dia hanya ingin kau melupakan Paris. Sampai kapan kau akan terus berharap dia kembali?”
“Sudahlah, Shelley. Kau tidak akan pernah tahu rasanya menjadi aku atau Paris!” tandas Winter, mulai terpancing emosi.
“Kau dan Paris juga tidak pernah berada di posisiku. Dibuang ke panti asuhan seperti sebuah ancaman. Dijauhi seperti penyakit menular,” balas Shelley tegas, lagi-lagi ia membungkam Winter. Nafasnya menjadi sesak ingin menangis. “Menggenggam sesuatu yang dikiranya adalah miliknya, tapi bukan. Ibumu... ingin menjadi ibu yang baik untuk Paris, bukan untuk diriku....”
Shelley mengakhiri perdebatan yang entah mengapa justru membuatnya harus berlari pergi sambil menangis.
“Orang-orang bodoh...,” celetuknya dalam isak tangis.
Mereka tak peduli orang lain selain dari perasaan mereka sendiri. Mereka tak melihat bahwa orang lain juga kehilangan. Seakan kepedihan hanya milik mereka dan orang lain selalu bahagia.
Orang-orang bodoh.
***
Keesokan hari tiba-tiba Winter meminta maaf dengan mengajaknya makan siang. Ternyata, walaupun sikapnya sedingin es, Winter masih saja seseorang yang tak sanggup menyakiti hati wanita –kelihatannya saja. Dia lemah pada tangisan yang disebabkan oleh dirinya. Shelley sempat tersanjung saat mendengar pujian Winter bahwa dirinya terlalu baik dan mengakui, apa pun yang pernah dilakukan Paris padanya di masa lalu, Shelley tidak pantas untuk itu. Shelley selalu tahu bahwa Winter adalah laki-laki yang baik –sungguh ia tak pantas untuk Paris.
Celah itu semakin besar.
Winter mulai sering bicara ibunya di mana Shelley selalu terlibat. Shelley berharap Winter sedang tidak berpura-pura tengah menyenangkan hati Harriet sementara di dalam sana hatinya sendiri masih merengut. Tawa ibunya begitu tulus; layaknya seorang ibu yang ia rindukan. Tapi, Shelley tetap saja sedih. Ketulusan itu bukan untuk dirinya.
“Makanan seenak apa pun tidak akan membuatku luluh, Winter,” kata Shelley, memandangi Winter penuh curiga saat laki-laki itu mengajaknya makan malam di luar. “Kau tahu betapa sulitnya bagi wanita untuk menjaga berat badannya tetap stabil? Dan kau selalu membujukku dengan makanan.”
Herannya, Winter terkekeh, seakan Shelley lucu. “Setahuku kau tidak bisa gemuk,” balasnya.
Shelley tahu ini bukan sekedar apa yang ia makan bersama Winter, tapi pertemuannya.
“Sejak kapan kau memperhatikanku?” tanya Shelley; ingin tahu.
“Aku tidak ingat kau pernah gemuk,” jawab Winter, terkesan cari aman. Sedikit mengecewakan. Tapi tak apa.
Makan malam dengan Winter adalah sebuah keajaiban.
“Aku ingin berterima kasih akhir-akhir ini kau membantuku soal laporannya,” jelas Winter kemudian. “Aku berharap kalau Daniel tidak curiga bahwa semua laporan itu kau yang mengerjakannya.”
Dalam hati, Shelley hanya bisa berkata. Ayahnya sudah tahu itu. Tapi, Shelley meyakinkan dia bahwa Winter masih mau belajar dan serius bekerja. Untunglah Daniel selalu mempercayainya; satu-satunya keberuntungan yang dia miliki setelah diadopsi.
Di bibirnya hanya ada senyuman bangga sekaligus tersanjung.
“Kau tahu, terkadang aku merasa tidak berguna,” akunya. “Ibuku sudah meyakinkanku untuk tidak memaksakan diri mengambil sekolah bisnis. Menurutnya kalau aku ingin memenuhi hasratku di bidang mesin, seharusnya aku bertahan pada pilihanku. Sekarang, aku malah hanya... merepotkanmu....”
“Masih ada banyak waktu untuk belajar,” ujar Shelley. “Tapi, kalau kau benar-benar tidak yakin, kau bisa mundur kapan pun. Ayah pasti mengerti alasanmu.”
Winter tertawa pelan seakan tak percaya bahwa ayah tirinya bisa dengan mudah menerima. Tapi, selama Shelley yang mengatakannya, sepertinya, Daniel setuju-setuju saja. Shelley selalu bisa memenangkan hatinya.
“Aku tidak ingin mundur,” tegas Winter. “Tapi, bagaimana aku akan membalas jasamu kalau kau terus melakukan semuanya untukku?”
“Kenapa kau mengira aku akan meminta balasan?”
“Kau berbuat terlalu banyak dan aku tidak pernah bisa menolak itu karena ketidakmampuanku menjalankan tanggung jawabku sendiri....”
“Aku melakukannya karena itulah yang harus aku lakukan....”
“Mengapa?”
Shelley menghela nafas. Mungkin saat inilah, Winter harus tahu bahwa selama ini dia selalu memperhatikan sambil berharap, Winter menyadari kehadirannya.
“Apa selama ini kau tidak pernah melihatku?” tanya Shelley, menatapnya lekat-lekat.
Seakan terjaga, Winter membalas tatapan itu. Awalnya bingung namun mendadak semuanya menjadi jelas.
“Aku menunggumu melihatku,” sambungnya lagi. “Kau tidak perlu melakukan hal lain untukku selain dari melihat kalau aku ada di sini....”
***
“Sepertinya Winter mengalami banyak kemajuan,” komentar Daniel saat melihat laporan terakhir yang diserahkan anak tirinya itu. “Aku pikir dia akan terus menjadi pelamun yang khayalannya tidak pernah berakhir.”
Shelley tersenyum puas. Walau yang dipuji sang ayah adalah Winter, namun ia merasa bangga. Ialah yang membuat Winter bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Winter juga sudah mulai semakin serius.
“Aku percaya dia bisa, Ayah,” katanya. “Dia hanya butuh waktu setelah... semua yang terjadi. Aku... hanya ingin semuanya kembali normal.”
Daniel terdiam. Shelley tahu, bagi ayah angkatnya tak ada yang terasa normal. Daniel memang percaya padanya, begitu menyangi dan membanggakan dirinya pada semua orang. Tapi, bila dibandingkan dengan Paris, siapalah dirinya. Kehadirannya tak pernah bisa menggantikan Paris. Daniel masih memajang foto semasa kecil sang putri di meja kerjanya dan bahkan juga menjadi gambar latar belakang komputernya.
“Shelley,” tegur Daniel kemudian. Ia memperhatikan senyum gembira Shelley yang tak biasa itu. Karena bagaimana pun, dirinya lah yang membesarkan Shelley. Daniel juga memahami Shelley sebagaimana ia memahami Paris.
Awalnya Shelley adalah gadis ceria dan penuh semangat. Tapi, kemudian, semua itu berubah sejak ia membawa gadis kecil itu tinggal di rumahnya dan harus berbaur dengan Paris. Daniel tahu semua yang dilakukan Paris pada saudari angkatnya dan karena itulah dia berusaha untuk terus mendukung Shelley. Hanya itulah yang bisa ia lakukan agar gadis itu kembali ceria. Namun, bertahun-tahun berurusan dengan Paris, membuatnya menjadi lebih tertutup dan penakut. Daniel menyadarinya ketika Shelley tiba-tiba ingin sekolah di Boston. Daniel menyetujuinya begitu saja karena sudah seharusnya Shelley dijauhkan dari putrinya itu. Shelley memiliki masa depan yang cerah sementara Paris tidak. Paris akan terus menjadi pembangkang dan liar.
“Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari Ayah?” tanya Daniel.
Shelley cukup terkejut dengan pertanyaan ayahnya. “Apa maksud Ayah?”
Daniel memandanginya dengan perhatian penuh. “Ayah sangat mengenalmu,” balas Daniel. “Ayah tahu bahwa kau sangat dekat dengan Winter belakangan ini. Ayah harap tidak ada sesuatu di antara kalian....”
Shelley pun bungkam. Ia tak meragukan firasat ayahnya itu. Tapi, sebelum ini dia sudah memikirkan segala kemungkinan yang terjadi jika dia menuruti perasaannya terhadap Winter.
“Kelihatannya begitu ganjil, Shelley. Setelah Paris lalu kau,” sambung Daniel. “Ayah... paham bahwa Winter adalah laki-laki yang baik. Dia hanya ‘sedikit rusak’ oleh Paris. Kau membantu untuk memperbaikinya. Tapi, kita tidak bisa melupakan masa lalu begitu saja. Kau berharga bagi Ayah. Ayah tidak ingin kau juga terluka karena orang yang sama.”
“Satu-satunya yang bisa membantu Winter hanya aku, Ayah. Ibunya bahkan sudah menyerah,” kata Shelley. “Aku hanya tidak tahan melihatnya terus seperti itu. Aku bertemu dengannya setiap hari. Ayah tahu aku tidak bisa membiarkannya.”
“Ayah senang kau membantunya tapi Ayah tidak mau kau jatuh cinta padanya,” tegas Daniel dan lagi-lagi Shelley bungkam. “Ayah hanya ingin kau bersama laki-laki yang benar-benar mencintaimu, Shelley....”
Raut bahagia Shelley lenyap dari wajahnya. Daniel sudah menduganya.
“Ayah...,” Shelley tertunduk murung. “Selama ini... aku tidak pernah meminta apa pun pada Ayah. Untuk kali ini saja, aku ingin Ayah mengerti apa yang sedang aku lakukan.”
“Kenapa harus Winter?”
Shelley menggeleng. Dia tidak punya alasan khusus. “Aku... aku menyukai Winter sejak lama,” jawabnya. “Karena aku bisa melihat banyak kebaikan di dalam dirinya, Ayah. Sampai detik ini, kebaikan itu masih ada. Dia hanya menutup dirinya karena terkungkung oleh Paris. Tapi, kita semua tahu, Paris tidak akan kembali padanya. Hanya aku, hanya aku yang bisa membuatnya terus bergerak maju. Aku tidak ingin melihat Harriet bersedih, Ayah. Aku tidak ingin melihat hati seorang ibu yang terluka karena tidak bisa melakukan sesuatu untuk anaknya. Dan aku... sudah melihat perubahan pada Winter. Aku pikir aku bisa mengatasi kemungkinan terburuk.”
“Ayah tidak ingin kau terluka,” ujar Daniel. “Percayalah, Nak, sepintar apa pun dirimu kau akan tetap berbuat bodoh hanya karena cinta.”
“Ayah harus percaya padaku,” pinta Shelley, memohon. “Kalau semuanya berakhir buruk, setidaknya aku puas aku telah mencoba....”
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments