๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rocky
Penyelidikan terus berlanjut. Daniel menjadi tidak sabar karena polisi belum juga menaikan status Winter dan Shelley dari saksi menjadi tersangka. Menurut penyidik, tidak ada bukti yang menguatkan bahwa salah satu dari mereka adalah pelakunya. Walaupun motifnya sudah jelas. Shelley yang ingin membalas dendam dan Winter yang tidak terima harus dicampakan, keduanya memberikan keterangan yang sangat sinkron. Mereka tidak pernah lagi bertemu dengan Paris sejak perempuan itu meninggalkan apartemen diam-diam.
Di lain sisi, Daniel mulai berprasangka. Bisa jadi keduanya bekerja sama lantaran keterangan yang sama persis seolah pembunuhan itu telah direncanakan. Ia tak peduli saat Shelley memohon padanya agar percaya padanya. Melihat sikap Winter yang angkuh terhadapnya cukup menjijikan. Untuk saat ini, Daniel tidak ingin bertemu dengan kedua orang itu, termasuk juga Harriet.
Ketidaksabaran Daniel membuat penyidik memperpanjang proses investigasi. Sekarang, ruang lingkup tersangka diperluas saat mereka merasa bahwa mereka harus tahu perjalanan Paris setelah menghilang dari apartemen. Satu-satunya yang bisa menjelaskan hal itu adalah Rocky –yang sekarang masih ditahan karena kasus penculikan.
Pria bertato itu dijemput dari selnya. Reaksi yang ia tunjukan ketika mendengar bahwa Paris sudah meninggal dunia adalah terkejut. Tidak ada yang memberitahunya tapi ia tidak merasa heran. Keberuntungan hampir tidak pernah berpihak pada perempuan itu dan malahan sebuah kematian lebih baik baginya.
“Terakhir melihatnya adalah tahun lalu,” kenang Rocky. “Dia menjengukku di penjara untuk meminta maaf.”
“Meminta maaf untuk apa?”
“Untuk tetap melenggang bebas di luar setelah dia juga terlibat kasus yang membuatku mendekam di tempat terkutuk itu selama hampir tiga tahun. Saat itu aku hanya tidak tahu bahwa dia berasal dari keluarga kaya dan kudengar ayahnya membayar uang jaminan yang sangat besar kepada kalian,” jawab Rocky, sinis. “Ah ya, satu lagi, hukumannya juga ringan karena dia membantu sandera untuk melepaskan diri.”
Penyidik itu menatapnya dengan dahi berkerut. Ternyata saksi yang satu ini jauh lebih menjengkelkan dari saksi-saksi yang sebelumnya. Tapi, bisa disimpulkan persahabatan mereka sepertinya retak karena penculikan yang pernah mereka lakukan bersama. Paris mengkhianati rekan-rekannya dengan membantu sandera melepaskan diri. Pria kurus itu terkesan enggan untuk memberikan keterangan karena sudah pasti kematian Paris tak ada urusan dengan dirinya. Karena saat gadis itu dibunuh, ia masih terkungkung di balik jeruji besi.
“Bisa Anda ceritakan lagi kronologi saat Anda dan Paris meninggalkan apartemen itu?” penyidik kembali bertanya dengan diplomatis. “Ke mana kalian pergi dan di mana kalian tinggal?”
***
“Apa kau yakin?” Rocky bertanya sekali lagi padanya.
Patsy, begitu Rocky memanggil Paris, menghela nafas panjang. Menatapi tempat tidur itu seolah ia akan begitu merindukannya. Ya, di sanalah ia pernah terbaring tidak berdaya dan berlumuran darahnya sendiri. Di sanalah ia berharap kematian akan segera menjemput agar ia bisa segera bertemu dengan ibunya.
Harusnya ia menunggu Winter datang, setidaknya untuk mengucapkan terima kasih. Berkatnya ia mendapatkan kesempatan satu kali lagi. Tapi, semuanya tidak akan berakhir baik bagi siapa pun jika mereka tetap bertemu. Dua hari yang lalu ayahnya datang ke sini dengan amarah memuncak. Shelley telah menuduhnya menggoda Winter dan pernikahan mereka yang sudah direncanakan terancam batal.
Satu-satunya alasan dia tidak melawan ayahnya ataupun menemui Shelley agar mengakui kebohongannya adalah posisinya yang terlanjur salah. Ia tidak bisa menafikan kehadiran Winter untuknya sebagai bentuk perselingkuhan. Lagipula, ia pantas menerima itu dari Shelley yang selama ini hidup terusik karena dirinya.
Karena itu tiba-tiba saja, Patsy menghubungi Rocky, memintanya untuk membawanya pergi jauh. Tujuan mereka adalah Los Angeles. Rocky mempunyai banyak teman yang bisa membantu mereka untuk bertahan hidup di sana. Lagipula, hubungan Rocky dengan Cammy juga baru saja berakhir.
Rocky tahu ada kesedihan yang tidak biasa saat Patsy harus meninggalkan apartemen nyaman itu. Bukan karena ceritanya soal Winter, melainkan kemarahan ayahnya. Seumur hidup, betapa pun kurang ajarnya Patsy, ayahnya tak pernah memukulnya. Tak heran, rasa sakit di hatinya jauh lebih besar daripada yang ia derita di tubuhnya. Terlebih ia beranggapan bahwa ayahnnya sendiri akhirnya menginginkan kematiannya.
Sebelum pergi, Patsy sempat mengunjungi Green Lake. Dia bilang pada Rocky, untuk yang terakhir kalinya karena ia sudah bertekat tidak akan pernah kembali lagi.
Setelah meninggalkan kota kelahirannya, Patsy sama sekali tak pernah menyinggung masa lalunya. Rocky bahkan hampir tak pernah mendengar Patsy menyebut nama Winter atau Shelley. Seolah dia adalah orang yang baru saja terlahir kembali, Patsy mencoba untuk hidup selayaknya dengan bekerja dan melakukan hal-hal normal lainnya.
Patsy menyewa sebuah apartemen kecil sejak ia bekerja sebagai janitor di sebuah toko pakaian sedangkan Rocky hanya sesekali menginap. Yang pasti gadis itu sering bercerita tentang orang-orang yang dia temui di tempat kerjanya, terutama kaum gadis. Meski tidak pernah menyebutnya secara langsung, sepertinya dia sedikit merindukan ketika ia masih menjadi putri ayahnya; merindukan saat-saat ia bisa memberi gaun yang indah untuk pergi ke pesta. Namun, Patsy pernah memberitahu Rocky bahwa dia bertemu seorang gadis yang mengingatkannya pada dirinya yang dulu.
“Dia membeli sebuah gaun seharga lima ribu dolar hanya untuk sekali kencan,” terang Patsy. “Aku mendengarnya bertanya pada pramuniaga apakah dia cantik seakan tidak percaya diri. Seakan pria yang kencan dengannya tidak akan suka dengan penampilannya kalau dia sampai salah kostum. Kau tahu, Rocky, dia cantik tapi tidak berlebihan. Aku pikir, memakai baju murahan pun dia akan tetap terlihat cantik.”
“Kau juga cantik, Patsy. Tenang saja,” ujar Rocky. “Cantik itu tidak dinilai dari apa yang dikenakan seseorang.”
“Kau benar,” Patsy tersenyum; namun ia masih kelihatan memikirkan gadis itu. “Terkadang aku berpikir, jika aku punya lima ribu dolar hanya untuk sebuah gaun, aku akan menjadi versi yang lebih baik.”
“Kau ingin kembali pada kehidupanmu yang lama?”
Patsy menggeleng dengan cepat. Tapi, ketika ia bertemu lagi dengan gadis itu di tempat kerjanya, ia selalu menceritakannya sampai kemudian ia tahu, gadis itu bernama Eloise. Patsy berkenalan dengannya karena gadis itu tiba-tiba saja menyapanya dan meminta pendapatnya soal gaun baru yang ingin dibelinya. Gadis itu ramah, kata Patsy yang tampaknya mulai mengagumi sosok itu.
Setelah itu cukup lama Rocky tidak mengunjungi Patsy yang pasti menjalani kehidupannya dengan tenang. Rocky tidak tahu persis Patsy berteman dengan siapa saja di lingkungan yang baru. Namun, yang pasti dia baik-baik saja.
Semua berubah ketika suatu hari, Rocky kembali untuk meminta bantuan. Sedikitnya Rocky menyesali keputusannya membawa Patsy kembali ke dunia hitam.
“Aku membutuhkan uang yang cukup banyak,” kata Rocky padanya dengan ketakutan. “Kalau tidak, gerombolan itu akan membunuhku.”
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku mencoba menjadi kurir karena bayarannya menggiurkan. Tapi, di tengah jalan, kami dihadang oleh polisi. Kami tidak punya jalan lain selain melarikan diri dan meninggalkan paketnya,” jelas Rocky, ia benar-benar ketakutan. Menjadi buronan polisi saja, ia tak pernah setakut ini. “Si pemilik paket ingin kami mengganti tujuh puluh ribu dolar atas kerugian barang yang tidak sampai. Kalau tidak, kau tahu sendiri....”
“Kau sudah gila, Rocky...” Patsy ikut panik.
Rocky menggeleng-geleng, menenangkan Patsy walau dia sendiri juga belum bisa tenang. “Tapi, kami sudah menemukan cara untuk mengganti uangnya,” jelas dia. “Hanya saja kami butuh bantuan satu orang lagi. Kita bisa mendapatkan seratus ribu dolar setelah pekerjaan ini selesai. Sisanya bisa dibagi.”
Patsy terdiam. Dia jelas ragu untuk terlibat karena dia tahu akibat satu pekerjaan kotor, satu pekerjaan kotor lainnya harus dilakukan untuk menutupi kesalahan.
“Ayolah, Patsy,” bujuk Rocky. “Sisa uang bayaran dari pekerjaan itu lumayan banyak. Kita bisa pergi dari sini tanpa tertangkap lalu memulai kehidupan yang baru. Aku berjanji setelah itu kita tidak akan melakukan hal-hal seperti ini lagi. Aku juga muak.”
Namun, bagi Patsy, uang tak pernah lagi jadi persoalan dalam hidupnya. Dia baru saja membangun kualitas hidup yang baik bagi dirinya. Dia tak ingin mengakhirinya begitu saja dengan menjadi buronan lagi!
Tapi, karena ini Rocky –sahabat yang selalu membantunya, ia tak bisa menolak.
“Apa rencananya?” tanya Patsy kemudian.
Flatts, salah seorang teman Rocky mendapatkan sebuah pekerjaan dari seseorang yang mereka sebut ‘Big Boss’. Big Boss mempunyai banyak klien yang ingin ‘menyelesaikan masalah’. Siapa identitas aslinya tak pernah terungkap tapi dia mengenal banyak pembunuh, perampok, bandar narkoba dan sejenisnya, serta ratusan anak buah yang bisa ia tawari berbagai macam pekerjaan untuk kliennya.
“Kita akan menculik seseorang,” jawabnya.
“A... apa?!” Patsy terkejut. Hampir saja ia ingin menggeleng dan menolak. Ia hanya pernah mencuri dan merampok, sementara menculik adalah pekerjaan yang lebih kotor. Sudah terbayang, itu bisa saja anak kecil atau perempuan. Patsy tidak akan tahan. “Kita akan menculik seseorang untuk tebusan?”
Rocky menggeleng-geleng dengan cepat. Dia menatap Patsy lekat-lekat agar tidak keburu berpikir terlalu jauh. “Tidak, Patsy!” sergahnya. “Kita hanya menculik orang itu. Sama sekali tidak ada uang tebusan untuknya.”
Namun bagi Patsy itu justru kedengaran lebih buruk lagi. “Artinya kita akan membunuh dia?” tanya Patsy, sedikit merinding.
“Tugas kita hanya menculiknya,” tegas Rocky.
Iya, hanya menculik lalu menyerahkannya pada orang yang akan membunuhnya! Itu tetap saja sesuatu yang kejam.
“Setelah kita menyerahkan sandera pada klien Big Boss, kita akan langsung menerima bayarannya,” ujar Rocky. “Aku berjanji itu pekerjaan yang tidak terlalu sulit. Kami sudah menyusun rencana yang matang.”
***
Kka, blog nya ko next sama previousnya ngga lanjut ke cerita ini?