Seorang gadis cantik dan terkesan asing terlihat di antara pelayat. Dia membawa setangkai mawar putih yang kemudian ia taruh di hadapan foto ‘Patsy’ yang tersenyum. Beberapa pasang mata memperhatikan setiap langkahnya seolah begitu penasaran tentang siapa dirinya; apa hubungannya dengan Paris. Sementara pemakaman itu hanya dihadiri oleh keluarga saja dan bebarapa kerabat.
Tidak banyak yang ia ketahui tentang gadis yang dikenalnya sebagai Patsy, selain dari selera fashion-nya yang begitu bagus dan kontras dengan penampilannya yang biasa. Begitu mengetahui bahwa nama aslinya adalah Paris dan ayahnya seorang pengusaha, Eloise akhirnya paham. Patsy bukan gadis yang lahir dari keluarga miskin.
Patsy juga cukup tertutup khususnya tentang masa lalu; sesuatu yang begitu ingin diketahui Eloise. Ya, ia ingat apa yang dikatakan gadis itu sebelum berpamitan padanya untuk pergi ke Santa Rosa.
“Aku adalah perempuan yang paling sial di dunia. Aku selalu jatuh cinta pada orang yang tidak akan pernah bisa kumiliki,” kata Patsy; kesedihannya begitu dalam terasa saat ia mengemasi pakaiannya.
Kalimat itu makin membuat Eloise penasaran, sebelum Chev, Patsy juga pernah mencintai seseorang yang tidak mencintainya; begitulah yang dikiranya. Cinta memang tak bisa memilih. Patsy berharap seandainya ia bisa jatuh cinta pada orang yang sama lusuhnya dengan dirinya, ia tak akan melarikan diri lagi seperti pengecut karena merasa kecewa oleh cinta yang tak kesampaian.
***
Berita kematian Patsy benar-benar mengejutkan. Di saat Eloise berhalusinasi bahwa Patsy sedang memetik anggur di bawah terik matahari dengan damai di Santa Rosa, ternyata tubuhnya telah ditenggelamkan di sebuah danau kecil di kota kelahirannya. Patsy tak pernah sampai di Santa Rosa. Dia berakhir di kamar mayat sebelum keluarga memutuskan untuk memakamkannya setelah otopsi selesai.
Dua hari yang lalu, polisi mengiriminya surat pemanggilan untuk memberi keterangan sebagai saksi atas pembunuhan Patsy. Seseorang menembaknya lebih dulu sebelum membuang mayatnya di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya.
Tepatnya kemarin, Eloise menjelaskan semua yang ia tahu tentang pertemuan terakhir mereka. Sebelum investigasi, penyidik memberitahunya latar belakang pemanggilan dirinya meskipun Eloise sudah menduga hal ini. Tapi, Eloise tidak menyangka, walaupun ia hampir bisa memastikan pelakunya, ternyata ayah Patsy mempunyai kecurigaan terhadap saudara tiri dan saudari angkatnya; yang mana Eloise tidak mengerti alasan mengapa.
***
“Rocky?” Eloise mengerutkan dahi. Nama itu terdengar asing baginya. Katanya, ada seorang informan yang mengarahkan polisi kepadanya. “Aku tidak mengenalnya...”
“Penculikan Chev?” tanya penyidik lagi.
Eloise baru ingat. Patsy pernah menyebut nama ini, tapi dia lupa. Terlebih dia memang tak pernah bertemu dengan Rocky.
“Katanya Anda-lah yang membantu Paris membawa Chev yang terluka ke rumah sakit setelah berhasil melarikan diri dari tempat penyanderaan,” jelas penyidik itu.
“Ya, itu benar,” Eloise mengangguk dengan tenang.
Kejadian itu sekitar pukul sembilan malam, ketika Eloise sedang asyik mengamati foto-foto hasil pemotretan model-modelnya. Teleponnya berbunyi. Patsy yang menelpon dan memintanya untuk bertemu malam itu juga. Patsy membutuhkan bantuan.
Eloise cukup heran; saat itu mereka belum terlalu akrab. Mereka berkenalan di sebuah toko baju langganan dan Patsy sering memberi saran tentang pakaian yang cocok untuknya. Dari sanalah ia mengetahui bahwa Patsy sangat mengerti dengan fashion.
Belakangan Eloise tahu bahwa Patsy sepertinya tak punya teman lain. Ketika ditemui di sebuah sudut jalan yang sepi, Patsy bersama seorang lelaki yang terluka parah dan tak sadarkan diri. Eloise sempat takut dan menolak untuk membantunya karena keburu berprasangka buruk lantaran tahu Patsy berasal dari lingkungan liar. Bisa saja mereka baru melakukan kejahatan bukan? Elois tak ingin terlibat dengan mereka.
Namun, lelaki itu hampir mati. Terlalu mengerikan bagi Eloise untuk mengingat kembali kondisi Chev. Darah terus mengucur dari dahinya. Tangan kanannya patah. Wajahnya tak berbentuk karena lebam dan bengkak di sana sini. Sepertinya dia sudah dihajar habis-habisan dan entah siapa pelaku yang kejam itu.
Patsy tidak bisa mengantarnya ke rumah sakit sendiri. Dia mengaku sedang dikejar-kejar oleh segerombolan orang yang menginginkan pria itu mati. Kalau bukan karena Patsy memohon padanya untuk menyelamatkan nyawa laki-laki bernama Chev itu, Eloise tak akan mau menaikannya ke mobil. Berkat bantuannya, Chev yang meregang nyawa tak akan hidup lebih lama untuk ‘menyakiti’ Patsy di kemudian hari.
Tapi, ia tak perlu menceritakan hal-hal seperti itu pada polisi. Yang jelas, begitu orang tua Chev datang ke rumah sakit, mereka langsung melapor ke pihak berwajib. Chev menyebutkan nama-nama orang yang berencana untuk menculik dan membunuhnya, termasuk Patsy yang menyerahkan diri. Satu orang eksekutor penculikan kemudian berhasil ditangkap dan satunya lagi tewas di tempat. Dua orang dari tiga penganiaya juga ditemukan dan diproses sementara satu orang lagi, Gary, masih jadi buronan.
“Enam bulan setelah kejadian itu, Patsy muncul lagi untuk meminta maaf sekaligus terima kasih padaku.” sambung Eloise.
“Lalu?”
Saat ini ia tak bisa menjabarkan sebaik apa kehidupan Patsy setelah kejadian itu. Mereka hampir tak pernah bertemu lagi. Eloise sibuk dengan pekerjaannya sampai suatu hari, Chev juga bergabung di agensi sebagai model.
Ah, tapi, itu tak ada hubungannya dengan penyebab kematiannya, pikir Eloise tiba-tiba tersadar bahwa ia mempunyai informasi yang lebih penting dari sekedar mengungkit kepedihan yang sudah dibawa mati oleh Patsy.
“Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan Paris?”
“Sekitar... seminggu sebelum mayatnya ditemukan. Aku datang ke tempatnya karena dia bilang ingin pamitan.”
“Ke mana?”
“Santa Rosa. Patsy mengatakan padaku bahwa dia mendapatkan pekerjaan baru di sana. Dia tidak bisa tinggal di Los Angeles lagi karena pernah terlibat kasus kriminal yang membuatnya tidak bisa mendapatkan pekerjaan,” jelas Eloise.
“Apa Paris menunjukan tanda-tanda bahwa dia khawatir akan sesuatu?” tanya penyidik lagi. “Apa dia menceritakan masalah lain yang sedang dia alami?”
Eloise menggeleng. “Paris orang yang tertutup,” jawab Eloise.
“Bukankah kalian berteman akrab?” tanya penyidik itu lagi, sedikit mencurigai. “Itulah alasan Paris meminta bantuanmu untuk menolong korban penculikan itu. Dia mempercayaimu seperti seorang sahabat.”
“Ya, itu benar. Tapi, adalah haknya untuk tidak menceritakan apa yang tidak ingin dia ungkapkan sekalipun aku bisa diandalkan, bukan?” balas Eloise tegas. “Dia mungkin saja tidak menyadari ada yang menginginkan kematiannya karena terlalu sibuk untuk bangkit kembali dan beberapa masalah pribadi yang tidak mau dia ceritakan.”
“Masalah pribadi?” penyidik menatapinya penuh tanda tanya.
“Ya..., semua orang memilikinya,” balas Eloise.
“Apa Paris pernah membicarakan tentang Winter? Atau Shelley?”
Winter?
Shelley?
Siapa mereka?
Jelas Eloise tak pernah mendengar soal dua orang yang ternyata masih kerabat Patsy. Sekali lagi, ia benar-benar mengira Patsy sebatang kara tanpa keluarga dan kerabat. Kalaupun ada mereka pasti sudah melupakannya.
Begitu polisi memberi sedikit gambaran, akhirnya Eloise mengerti alasan mengapa Patsy tak mau mengungkit kisah lamanya. Patsy pernah menjalin hubungan dengan seseorang yang harus menjadi saudara tiri. Dan kemudian orang itu malah menikahi saudari angkatnya. Kisah yang benar-benar haru, pikirnya hampir mengelus dada. Sementara itu masalah pribadi yang dimaksud Eloise hanyalah Chev. Namun, Eloise sudah bertekad tidak akan membuat Chev ikut dipanggil oleh polisi. Tidak untuk saat ini karena Eloise mempunyai sebuah rencana.
“Apa Anda pernah mendengar tentang Green Lake?” polisi memberikan pertanyaan berikutnya. Dari sekian banyak saksi, hanya Eloise-lah yang paling membantu penyelidikan. Dia sangat koperatif dan tidak bersikap menyebalkan selama diperiksa.
“Green Lake? Bukannya itu tempat mayat Patsy ditenggelamkan?” Eloise balas bertanya.
“Sebelum kematian Paris, apa Anda pernah mendengarnya?”
Eloise menggeleng. Dia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan itu dan justru hanya menatap penyidik itu bingung.
Penyidik menarik nafas. Memandangi Eloise dengan seksama sebelum melontarkan satu pertanyaan lagi. “Paris mengatakan padamu bahwa dia akan ke Santa Rosa. Apa Anda yakin dia benar-benar pergi ke sana atau malah pulang ke kota asalnya?”
“Aku tidak pernah tahu kota asal Patsy. Dia tidak pernah menceritakan masa lalunya. Winter. Shelley. Ayahnya. Aku sama sekali tidak pernah mendengar cerita tentang mereka,” jelas Eloise dengan yakin.
“Tapi, aku yakin ada satu orang yang mungkin saja membunuh Patsy,” kata Eloise akhirnya, setelah ia terdiam cukup lama.
“Benarkah?” petugas itu bersiap untuk mendengarkannya baik-baik.
“Aku rasa ini ada hubungannya dengan kasus penculikan Chev,” ia menjelaskan. “Patsy menggagalkan pembunuhan terhadap Chev yang direncanakan oleh teman Chev sendiri, Gary. Sampai saat ini dia masih berkeliaran di luar sana.”
Polisi itu diam.
“Dia mempunyai alasan yang kuat untuk menghabisi Patsy karena rencananya gagal total dan dia harus hidup dalam persembunyian,” Eloise mempertegas.
“Lalu membuang mayatnya di Green Lake?” celetuk penyidik; masih tampak meragukan pernyataan Eloise. “Yang jauhnya ratusan mil dari Santa Rosa?”
Eloise terdiam.
Polisi masih berkesimpulan bahwa sebenarnya Patsy tidak pergi ke Santa Rosa, melainkan pulang ke kampung halamannya. Entah apa yang membuat dia berubah pikiran.
***
Kelanjutnnnya kapan ka?