๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Winter
“Aku sudah lama tidak bertemu dengannya,” jawab Winter; dengan wajah murung yang tampak tidak menyukai sekitarnya. Sudah dua jam dia berada di ruang investigasi untuk memberikan keterangan tentang kematian saudari tirinya.
“Kapan terakhir kali Anda bertemu dengannya?” polisi itu masih tampak tak puas dengan jawaban Winter. Dahinya berkerut seakan tidak percaya bahwa Winter memang sudah berhenti bertemu dengan Paris sejak hari naas itu.
Winter kembali menatapi polisi itu dengan dingin; sedingin arti namanya yang berarti musim salju. Nama itu nama pemberian ayahnya yang sudah menceraikan sang ibu yang dianggap berselingkuh dan perceraian itu benar-benar mengusik kedamaian hidupnya. Bahkan tak mudah bagi Winter untuk memaafkan orang-orang yang telah berkontribusi dalam menghancurkan kehidupannya dan sekarang ia harus menerima kematian Paris.
“Menurut Daniel, Anda sangat dekat dengan Paris. Bagaimana mungkin Anda tidak menemuinya lagi? Bukankah Anda selalu membantunya?” desak polisi itu.
Emosinya kali ini terpancing. Ia berdiri dari kursinya dan menatap polisi itu tajam. “Mengapa kalian tidak bertanya pada ayah tiriku tentang alasan aku tidak menemuinya lagi?!” teriaknya.
Polisi itu cukup kaget. Daniel sangat ingin pembunuh putrinya segera ditemukan. Walaupun polisi sudah hampir menyimpulkan bahwa pelakunya adalah kriminal lain yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Paris sebelum ini. Namun, kejanggalan kematian Paris berada pada tempat mayatnya ditemukan. Tak mungkin kriminal itu sengaja membuang mayatnya di Green Lake. Hanya orang-orang terdekatnya-lah yang tahu bahwa danau itu memiliki arti bagi Paris. Karena itu, Daniel ingin semua anggota keluarganya juga diinterogasi bahkan termasuk dirinya sendiri.
Sepertinya keputusan Daniel membuat Winter geram. Dia diperlakukan seperti tertuduh dan tentu dia tidak pantas untuk tuduhan semacam itu. Bagaimana mungkin dia membunuh Paris? Cinta pertamanya dan selalu akan menjadi gadis impiannya?
Interogasi itu dihentikan karena Winter menolak untuk menjawab pertanyaan selanjutnya. Ia meminta polisi untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kepada ayah tirinya. Menurut Winter, kemungkinan keterlibatan Daniel juga bisa terjadi. Bukankah dia pernah mengatakan bahwa lebih baik Paris mati saja daripada terus mempermalukannya? Itu dikatakannya pada Paris saat ia mendatangi apartemen tempat tinggal Paris dengan penuh amarah. Sang ayah juga sempat memukul Paris sampai berdarah.
Winter masih ingat dengan jelas bagaimana syok-nya Paris mendengar kata-kata seperti itu dari ayahnya dan merasa bersalah telah menjadi penyebab Paris harus menerima hukuman dari sang ayah.
“Kau lihat, Winter. Akhirnya ayahku menginginkanku mati,” katanya dengan gemetaran. “Aku pikir... kenapa dari dulu dia tidak membunuhku saja? Dia bisa dengan mudah menyewa orang lain kalau tidak mau melakukannya sendiri bukan?”
Pantaskah ayah tirinya itu mencurigainya sebagai pembunuh?
“Ayahku pasti akan membunuhku....”
***
“Ibumu tidak akan muncul dari danau itu untuk memelukmu,” kata Winter.
Paris menoleh ke belakang. Ia langsung menghapus air matanya karena tak ingin terlihat lemah. Yang benar saja? Paris yang setidaknya lebih ceria daripada Winter yang kaku menangis hanya karena merindukan ibunya?
“Aku sudah bilang jangan mengikutiku!” balas Paris sambil berdiri.
Winter menarik nafas panjang. Bagaimana mungkin dia tidak mengikuti Paris yang memacu kecepatan sepedanya seperti dikejar hantu? Lebih-lebih dia kelihatan begitu marah. Bagaimana kalau dia terjatuh? Itulah yang Winter cemaskan sampai ia pun ikut memacu sepedanya untuk membuntuti ke mana Paris pergi.
Ya, Green Lake selalu menjadi tempat merenung bagi Paris setiap ia merasa sedih. Dulunya, ia dan sang ibu selalu duduk di sana menikmati suasana hijau yang begitu segar sembari merajut. Kadang-kadang ibunya menyanyi sambil memeluknya. Tentu hal-hal seperti itu sangat dirindukannya terlebih di rumah ia merasa begitu kesepian.
Winter tahu, di setiap nafasnya, Paris selalu berharap kehidupannya kembali seperti dulu; ketika ibunya masih hidup. Ketakutan mulai hadir saat ia diberitahu bahwa ibunya mengidap kanker otak stadium dua. Ayahnya bilang, dia akan melakukan segala cara agar ibunya tetap hidup. Mereka pergi melakukan pengobatan ke mana pun. Setiap Paris ditinggal, dia selalu membuat doa yang sama setiap malam sebelum tidurnya.
“Tuhan, sembuhkan ibuku...,”
Tapi, tetap saja ketika stadiumnya meningkat, sang ibu harus tinggal di rumah sakit. Ia harus menyaksikan bagaimana rambutnya mulai rontok. Wajahnya semakin pucat dan tirus. Setiap pulang sekolah, Paris selalu menemaninya dan memberinya dukungan, karena itulah yang dibutuhkan ibunya. Semua tahu bahwa Lenore tidak akan hidup lebih lama dan Paris mencoba untuk memperlihatkan ketegaran itu pada ibunya dengan tidak menangis. Meski pun berat; ia berusaha untuk tersenyum dan membuat ibunya tertawa ketika ia terjaga dan baru menangis setelah ibunya tidur agar tidak melihatnya. Itu adalah hal tersulit bagi Paris yang masih empat belas tahun.
Ketika Paris belajar tentang make up dari teman-teman perempuannya, ia juga mempraktekan cara merias pada ibunya agar tak terlihat pucat. Walaupun tak banyak membantu karena saking pucatnya, setidaknya sang ibu bisa tertawa melihat wajahnya menjadi semakin jelek karena Paris tidak memakaikan eyeliner-nya dengan benar. Matanya malah terlihat seperti mata rakun. Mereka tertawa sambil berpelukan setelah melihat cermin.
Winter menyaksikan setiap detilnya hingga suatu pagi Lenore tidak pernah bangun lagi. Paris sudah tampak merelakan kepergiannya saat pemakaman. Dia tidak menangis. Winter mengira Paris akan membaik seiring berjalannya waktu terlebih ibunya Harriet bersedia menjadi sosok ibu pengganti bagi Paris. Ya, Harriet adalah sahabat terdekat Lenore. Tak heran, Paris yang usianya lebih muda setahun daripada Winter juga bersahabat sejak kecil. Mereka tumbuh bersama di rumah yang jaraknya hanya beberapa blok.
Setiap berseteru dengan ayahnya, dia akan kabur ke rumah Winter. Di sana Harriet akan menjadi teman ceritanya. Berbagai keluhan soal ayahnya yang sibuk bekerja akan dia ungkapkan pada wanita ramah itu.
Ibu Winter selalu menghibur Paris dengan makanan rumahan yang lezat pada makan malam. Winter selalu menyukai malam-malam ketika mereka bercerita tentang sekolah dan teman-teman. Harriet yang hangat juga sering terlibat pembicaraan dan mengingatkan Winter agar tidak terlalu dekat dengan anak-anak perempuan agresif yang diceritakan Paris. Lalu Paris akan meminta untuk menginap saja dan ibunya tak pernah keberatan. Harriet pasti akan menghubungi ayah Paris untuk memberitahu bahwa Paris tidak akan pulang malam itu.
“Janga khawatir, Daniel,” ujar Harriet pada ayah Paris di telpon. Setelah Lenore tiada, mereka pun juga mulai bersahabat. “Aku pasti menjaganya.”
Sedangkan ayah Winter? Ya, Rob, bukan orang yang terlalu ramah dan menyenangkan. Dia bekerja di sebuah pabrik kayu di pinggir kota.
***
Tapi, tak ada yang bertahan selamanya. Menginjak enam belas tahun, Paris mengalami perubahan drastis pada dirinya dan begitu juga dengan Winter. Mereka bukan lagi sepasang anak kecil yang hobi bermain sepeda di sepanjang jalan perumahan. Meski pun Winter tetaplah anak yang kurang gaul sementara Paris dengan banyak teman. Meski pun perceraian antara ayah dan ibu Winter mengguncang jiwa anak lelaki itu, hubungannya dengan Paris tak pernah berubah. Masa-masa itu adalah masa yang berat bagi Winter.
Winter teringat pada pesta yang dibuat Paris di rumah saat sang ayah sedang pergi konferensi ke Jenewa selama lima hari. Tentu Paris mengundangnya walau Winter merasa ide pesta itu sepenuhnya gila. Berbeda dengan Paris, Winter masih berada di dalam pengawasan ibunya selama dua puluh empat jam sehari dan selalu mengingatkannya untuk menjaga Paris. Berkali-kali, Winter meyakinkan Paris untuk membatalkannya saja karena Paris pasti tidak akan bisa mengendalikan tingkah teman-temannya yang norak.
“Bagaimana kalau ada perabotan atau sesuatu yang rusak?” Winter masih mendebatnya.
Paris dengan santai menggenggam kedua bahunya. “Kita akan menggantinya dengan yang baru atau memperbaikinya sebelum ayahku pulang,” jawabnya. “Lagipula ayahku tidak akan menyadarinya. Dia lebih sering berada di kantor daripada di rumah.”
“Bagaimana kalau tidak ada barang yang sama?”
“Jangan jadi pecundang, Winter,” kata Paris. “Aku sudah mengingatkan mereka. Tidak boleh ada ribut-ribut dan acara merusak barang-barang!”
“Tapi, mereka akan mabuk, Paris! Kau tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan nanti? Bagaimana kalau Shelley mengadu?”
“Baik, baik. Itu akan kita pikirkan nanti. Aku sudah membuat Shelley tutup mulut. Kau tenang saja.”
Tak ada yang bisa menghalangi Paris dan niatnya. Selama ini, Winter selalu berusaha agar Paris tidak ikut-ikutan dengan teman-teman gaulnya. Terlebih saat mereka mulai memiliki pacar dan tampaknya ada sejumlah anak lelaki yang mencoba mendekati Paris. Winter tidak pernah membiarkan salah satu dari mereka berhasil walaupun ujung-ujungnya dia selalu mendapat sebutan ‘anjing penjaga-nya Paris’, Winter tidak peduli. Winter hanya tidak bisa membayangkan salah satu dari anak lelaki itu berhasil menyentuhnya. Dia tidak rela.
Pesta itu tetap digelar; penuh sesak dan berisik. Winter harus bersabar dengan suasana hingar bingar itu tanpa melepaskan perhatiannya dari sosok Paris yang asyik menari bersama teman-temannya. Siapalah dirinya yang terkenal karena sifatnya yang pendiam? Dia akan melirik tajam apabila ada anak lelaki yang coba-coba memeluknya dan akan langsung menghampiri untuk itu ia sengaja menolak tawaran minum apa pun agar tidak mabuk. Bisa-bisa Paris akan terlepas dari pandangan.
Ketika Andrew; seorang don juan sekolah, berusaha meraih Paris dengan langsung memeluknya dari belakang, saat itulah Winter langsung turun ke lantai dansa.
“Hei, hei!” tiba-tiba dua orang anak lelaki lain menghadangnya seolah menyadari bahwa Winter akan menjauhkan Andrew dari Paris yang senang-senang saja; gadis itu juga sama mabuknya dengan yang lain. “Anjing penjaga sebaiknya tetap duduk.”
Winter memaksa untuk lepas dari mereka walaupun kedua teman Andrew tubuhnya lebih besar. Tekatnya untuk menjaga Paris lebih besar dari tubuh anak-anak itu. Sehingga ia mendorongnya dengan sekuat tenaga walau sepertinya mustahil untuk menerobos kumpulan anak-anak yang menari. Saking kuatnya Winter melawan, salah satu dari mereka menghakhiri perlawanan itu dengan satu pukulan di wajah yang membuat Winter berakhir ambruk di lantai dansa dengan semua mata memandang dan tawa geli; termasuk Paris yang langsung berlari ke arahnya.
“Apa-apaan kalian?!” teriak Paris pada kedua orang itu. “Sudah kubilang, jangan membuat keributan!”
“Kau sudah berjanji tidak akan ada pengganggu,” kata salah seorang dari mereka dengan acuh.
“Ini pestaku dan aku berhak mengundang siapa saja!” teriak Paris sekeras-kerasnya. “Dan Winter bukan pengganggu!”
Keduanya terkekeh lalu melirik Andrew yang ikut menghampiri dan seketika merangkul pundak Paris. “Ada apa ini?” dia bertanya dengan santai, memandangi kedua temannya yang tampak begitu melecehkan Winter yang hidungnya berdarah.
Tak sampai dua detik, Paris langsung menghindar dari Andrew dengan wajah masam. Kali ini dialah yang sepertinya kesal; pada kedua orang itu juga pada Andrew yang cukup kaget dengan penolakan Paris padanya; mungkin karena beberapa saat lalu ia berhasil memperdaya seorang gadis lain dan menciumnya jadi dia mengira Paris pun akan luluh berada di dekatnya. Kenyataannya pesona Andrew tidak mempan pada Paris.
“Sebaiknya kalian meninggalkan pesta kalau tidak bisa berhenti bersikap norak!” cerca Paris; ia benar-benar mempermalukan Andrew.
Ketiganya bungkam disaksikan orang-orang sekitar dengan berbagai reaksi; ada yang melongo dan ada pula yang cekikikan. Merasa malu, mereka pun hengkang dari lantai dansa.
Paris mengamankan sahabatnya itu karena luka dari pukulan yang keras itu harus diobati.
***
Helo, helo!Well, aku nggak tahu apa kalian suka dengan cerita yang satu ini. Sebenarnya saya cuma nggak ingin kalian bosan dengan cerita yang itu-itu saja, terlebih blog ini hanya punya Getting Her Heart Back yang masih ongoing dan selalu ditunggu setiap bab nya. Sayang aku belum terima respon apa-apa dari pembaca sejauh ini, jadi mungkin aku masih mikir untuk postingan selanjutnya.
Menulis cerita itu lumayan berat, beb. Sifatnya kadang-kadang mut-mutan. apalagi kalau kena yang namanya writer's block. Haduh, bisa ditinggal itu naskah berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Yang paling berat itu adalah mencoba untuk konsisten dan tidak terlalu mengharapkan tanggapan pembaca yang lebih suka jadi silent readers (apalagi buat penulis yang nggak terkenal amat kayak saya). Terkadadng tanggapan dari pembaca itu berarti lebih dari sekedar tau karyanya dibaca. Rasanya saya jadi makin ngerti, kenapa penulis wattpad sering 'nyinyir' agar divote atau comments dengan ngancam kalau nggak divote atau comment, doi bakal ngambek dan nggak mau post bab baru..Ibaratnya kayak driver gojek dengan review bintangnya (kalau bintangnya selalu 5, mereka lebih mudah dapat orderan). Vote dan comment adalah cara untuk 'menjual' cerita mereka agar semakin laku dibaca dan menunjukkan semacam kebanggaan tersendiri (ibarat seorang jendral dengan bintangnya).
Penyebab writer's block itu macam-macam. Misal karena naskahnya kelamaan ditinggal gara-gara sibuk dengan keseharian. Pas mau mulai lagi feeling nya hilang entah ke mana. Bisa jadi, kurang bahan bacaan berkualitas sebagai sumber inspirasi (ini saya banget).
Tapi, sudahlah. Saya hanya bisa pasrah dengan pembaca. Tanpa pernah tahu penilaian yang sejujurnya tentang karya saya. Saya sangat berterima kasih buat yang masih mau menghargai dengan komentar walaupun ada yang bilang ceritanya bertele-tele atau karakternya alay dan lebay. Hanya itu yang dibutuhkan oleh sang penulis selain dari karyanya dibaca.
Sebagai informasi, mungkin saya akan lebih banyak menulis cerita yang bergenre misteri. Karena romance mainstream sepertinya bikin saya lelah. Seperti idola saya, Taylor Swift yang berganti genre dari country ke pop modern.
Semoga kalian tetap enjoy dengan apa pun yang saya tulis
Arita
Keep enjoy to reading :)