๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Daniel
Suatu kejutan di rumah ketika membuka pintu, dua orang petugas polisi berdiri di sana. Daniel cukup terkejut melihat mereka, namun, seketika ingat bahwa dia mempunyai seorang putri yang seringkali terlibat dengan kasus kriminal. Terakhir kali polisi menghubunginya adalah saat Paris terlibat kasus penculikan seorang putra konglomerat bersama teman-teman nakalnya. Kali ini apa lagi yang dilakukan Paris?
“Kami menemukan jasad putri anda di dasar danau, Tuan,” kata salah seorang polisi sembari memberikan sesuatu di dalam kantong plastik, sebuah kalung berliontin daun.
Daniel terdiam beberapa saat. Polisi itu sudah jelas tidak salah orang. Dia mengenali perhiasan yang setahunya memang dipakai oleh sang putri yang sudah lama tak ia temui.
“Apa ini milik putri anda, Tuan?” tanya polisi itu lagi karena ia hanya memandangi benda itu.
Perlahan, Daniel mengangguk. “Ya, itu kalung peninggalan almarhum istri pertamaku. Aku menghadiahkannya saat ulang tahun pernikahan kami,” dia menjelaskan. Dia masih ingat hari itu. Perayaan menyenangkan sebelum ia tahu bahwa istrinya mengidap kanker dan Paris masih delapan tahun. “Lalu dia memberikannya pada Paris sebelum meninggal....”
Polisi itu mengangguk. Terpancar keprihatinan di wajahnya untuk Daniel yang kini sedang memandangi kalung yang ia pegang. “Sebaiknya Anda ikut dengan kami,” ajak petugas itu kemudian.
Antara percaya dan tidak Daniel bersedia pergi dengan mereka.
Dalam perjalanan, kenangan itu pun terlintas di benaknya. Sebelum menjadi seorang kriminal, Paris pernah menjadi anak yang manis dengan pipi tembem dan rambut pirang yang sering dikucir dua. Dia pernah menyayangi Paris sebelum gadis itu terus-terusan membuat masalah yang memaksanya untuk membiarkan dia hidup di luar sana dengan jalan yang dia inginkan. Dia pernah memiliki harapan yang tinggi untuk masa depan putrinya. Namun sejak kematian Lenore, istrinya, segala hal berubah.
Terkadang, ia memang merindukan putrinya yang dulu kembali. Tapi, di sisi lain ia sadar, dirinya sendiri adalah pengaruh besar atas perubahan drastis yang terjadi. Tentu saja. Setelah ibunya meninggal, bukankah hanya dirinyalah yang dimiliki Paris?
Penyesalan terbesarnya adalah ia berhasil membesarkan Shelley yang ia adopsi dari sebuah panti asuhan dan Winter, putra tiri dari pernikahan keduanya tapi malah gagal mendidik darah dagingnya sendiri. Sekarang, kerinduan itu, bukan lagi kerinduan sebatas melihat Paris kembali ke jalan yang benar. Namun, kerinduan karena tak bisa melihatnya lagi untuk selama-lamanya.
***
“Daniel?” suara sang istri, menyadarkannya dari lamunan panjang akan putrinya yang kini masih berada unit forensik kepolisian untuk diotopsi.
Semua tahu, bahwa kematian Paris tidak wajar. Media nasional bahkan heboh dengan penemuan mayat gadis berusia 27 tahun itu dan mempertanyakan siapa yang tega menghabisi nyawa gadis cantik itu. Ada satu luka tembakan di punggung dan proyektilnya menembus jantung yang diduga membuatnya tewas seketika. Lalu untuk menghilangkan jejak jasad itu dibuang ke danau. Menurut ahli forensik, mayat Paris sudah ditenggelamkan sekitar lima hari sebelum akhirnya ditemukan oleh seorang anak kecil yang kebetulan berenang di sana.
Pembunuhnya belum bisa dipastikan meskipun kuat dugaan dia pasti dihabisi oleh orang yang ingin balas dendam padanya dilihat dari kehidupan keras yang dijalaninya, namun jasadnya ditemukan di Green Lake; tempat ia sering merenung sendiri dan sebelumnya itu merupakan tempat favoritnya bersama sang ibu. Tidak ada tanda kekerasan fisik lain atau seksual pada jasad itu yang artinya tidak ada bukti penyiksaan atau perlawanan pada orang yang menembaknya. Hanya sebuah lubang di kepala sepertinya penembakan dilakukan dari jarak jauh dan mungkin saja Paris tidak tahu bahwa seseorang tengah membidiknya. Hal ini menyangkal kemungkinan Paris melakukan bunuh diri pinggir danau. Lagipula senjata yang digunakan juga tidak ditemukan di sekitar tempat penemuan jasad.
“Kau belum tidur?” ia menanyai wanita itu.
Harriet sebenarnya bermaksud untuk ke dapur mengambil minuman. Namun, ternyata ia melihat suaminya yang masih kelihatan terpukul belum juga terlelap. Jam antik di ruang tengah yang biasanya selalu berbunyi setiap satu jam sekali menunjukan pukul tiga dini hari.
“Biarkan polisi yang mengurusnya. Mereka pasti akan segera menemukan pelakunya,” ujar Harriet sambil memegangi pundak ayahnya dan menggenggamnya dengan lembut. “Pembunuh itu tidak akan bisa kabur”
Tapi, Daniel menggeleng. Terlalu aneh baginya saat mengetahui bahwa jasad putrinya ditemukan di tempat yang dulu pernah ia ungkapkan akan menjadi tempat kematiannya. Ya, suatu hari Paris yang masih lima belas tahun, kecewa padanya tak ingin pulang ke rumah. Ia duduk di pinggir dermaga danau itu selama berjam-jam dan setiap kali diajak pulang, dia selalu menolak. Ia memahami, Paris suka berlama-lama di danau itu karena mempunyai banyak kenangan di sana bersama ibunya.
“Ayah juga tidak peduli padaku!” celetuknya. “Aku akan berada di sini. Aku akan mati di sini!” Setiap dia marah pada ayahnya dia akan berteriak, “Kenapa ayah tidak membunuhku saja?”
Sifat Paris semakin keras hati sejak SMA, tepatnya setelah kehilangan sang ibu ia merasa ayahnya tak lagi memperhatikannya. Paris menganggap, sang ayah telah menghukum dirinya hanya karena tidak bisa menerima kematian ibunya dengan sibuk bekerja dan meninggalkan dirinya dengan pelayan. Mungkin karena Paris begitu mirip dengan ibunya; setiap melihat wajah putrinya itu sang ayah selalu merasa sedih. Kemudian ia memutuskan mengadopsi Shelley, gadis penerima beasiswa yang besar di panti asuhan. Menurutnya Shelley lebih tahu diri dibandingkan putrinya yang saat itu mulai liar yang mana sifatnya itu perlahan ia tularkan kepada Winter yang awalnya penurut.
Daniel masih ingat saat ia harus pergi keluar negeri dan meninggalkan rumah untuk waktu yang cukup lama, Paris mengundang teman-temannya untuk berpesta semalam suntuk di rumah. Pesta itu menimbulkan kekacauan bagi lingkungan sekitar karena ada perkelahian sampai-sampai ia harus meninggalkan konferensi yang penting hanya karena telepon dari petugas polisi. Wajahnya tercoreng saat tahu bahwa anaknya terlibat dalam perkelahian yang nyaris membuat seorang anak kehilangan nyawa dan itu terjadi di rumahnya.
Hukuman tidak pernah membuat Paris jera. Dia akan kabur dari rumah; hilang selama berhari-hari dan pulang dengan sendirinya karena kehabisan uang. Pernah juga ia menghapus jatah uang untuk putrinya itu agar ia tak punya kesempatan untuk berfoya-foya namun gadis itu mengancam akan melacurkan diri jika dia tidak punya uang. Daniel selalu kehabisan akal. Dia sempat mengirim Paris ke sekolah asrama khusus perempuan, tapi berada di antara anak-anak perempuan justru membuat gadis itu semakin beringas. Seringkali terlibat perkelahian atau kabur, akhirnya dia dikeluarkan. Kalau bukan karena kesanggupannya memberikan donasi yang banyak kepada sekolah, tak akan ada satu pun sekolah baru yang mau menerima murid seperti Paris.
Daniel berpikir dengan menikahi seorang perempuan yang dia anggap cukup dekat dengan Paris, maka gadis itu akan berubah. Setidaknya dia memiliki sosok pengganti ibunya yang sudah lama tiada. Tapi, itu malah menjadi sebuah kekeliruan besat bagi Paris yang malah membuat sebuah gebrakan besar dalam hidupnya, yaitu kabur dari rumah dan kali ini dia tidak pernah kembali. Sejak saat itulah, Daniel benar-benar kehilangan sosok putri kecilnya yang manis.
“Apa Winter sudah tahu soal ini?” tanya Daniel pada Shelley. “Mengapa di saat seperti ini dia malah tidak ada?”
“Aku sudah menelponnya. Ayah tahu dia pasti syok,” jelas Shelley.
Sang ayah terkekeh. Putra tirinya itu seringkali menghilang akhir-akhir ini. Entah apa yang dia lakukan namun sepertinya sifat keras Paris mulai terlihat pada diri Winter. Mereka dekat, sangat dekat dan tidak terpisahkan. Tentu saja, kemarahan terbesar Paris pada sang ayah seumur hidupnya adalah karena menikahi Harriet, ibu Winter.
***
Meski cerita 2 thn yg lalu, ttp seru ceritanya :)