๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Malam tahun baru menunggu kami. Dan aku masih berharap malam itu terulang kembali. Malam pertama kali cinta itu datang dalam hidupku.
Carra muncul dengan undangan dari Sonia. Dia tahu aku akan langsung setuju untuk pergi. Tapi dia mengingatkanku bahwa di acara perkumpulan sudah ada sejumlah cewek lain -teman-teman Sonia, yang menunggu kami untuk bergabung. Mereka akan berpesta sampai pagi. Acaranya lebih ramai dari yang sebelumnya dan masih di tempat yang sama. Aku sudah menemukan Davi di antara mereka yang tertawa. Kami saling tersenyum, menyapa dan berlalu. Dia sudah punya pasangan lain -cewek cantik murahan dengan dandanan make up yang juga tampak murahan.
Dan aku sama sekali nggak selevel dengan mereka. Jadi, setelah acara hitung mundur selesai, dan menyanyikan lagu terakhir, aku melepaskan topi pesta konyolku, menaruh trompet di atas sofa. Lalu segera pulang.
"Kok pulang sih?", Davi menegurku begitu aku dan Carra pamitan pada Sonia dan semua yang menatapku heran.
"Kan gue udah pernah bilang gue nggak pernah nggak pulang", kataku tersenyum. Aku melambaikan tanganku, "Daag!"
Carra memegangi tanganku yang gemetar saat kami melangkah keluar. Dia tahu aku hampir menangis karena nggak bisa menahan perasaan. Tapi, kali ini dia nggak memarahiku karena aku sama sekali belum memperjuangkan cintaku.
Aku hanya nggak ingin menghancurkan diriku sekali lagi dengan mengejar-ngejar orang yang belum tentu mencintaiku. Dan inilah aku yang dengan harga diriku tetap bertahan, cinta akan datang pada saatnya. Aku ingin menunjukan padanya bahwa aku berbeda dari mereka semua yang ada di dalam sana - termasuk cewek yang bersamanya. Aku nggak mendekatinya hanya karena apa yang dia punya. Aku bahkan nggak tahu alasan kenapa dari sekian banyak orang yang datang dan pergi dalam hidupku, hanya dirinyalah yang meninggalkan jejak. Namun, yang pasti saat kita berdua di atas mobil, kita seperti orang buta, nggak saling mengenal tapi bisa begitu dekat.
Dia mungkin sudah melupakannya.
Musik masih menggema dan trompet masih memekik ke penjuru ruangan. Aku melangkahkan kakiku yang berat karena pusing dan lelah keluar lewat satu-satunya pintu yang ada di sana, ketika semua kembali ke tengah-tengah untuk menari. Permohonanku telah terkabul, aku bertemu lagi dengannya di suasana malam yang sama. Meski ini lebih seperti pesakitan karena kami tampak asing satu sama lain. Carra berusaha mengalihkan perhatianku darinya tapi tetap saja aku merasa sedih, bukan aku yang ada di dekatnya saat itu.
Aku menyeka pipiku yang basah. Carra tampak sedih. "Lo begok banget sih...", dia masih mengeluh. "Usaha dikit kenapa sih?"
Carra mengajakku berdebat dan aku sangat malas bicara. Dia sama sekali nggak mengerti. Bahwa aku hanya nggak ingin memaksa. Davi sudah tahu perasaanku dan malam itu dia tampak nggak mau memikirkannya. Aku mengerti, itu adalah sebuah penolakan. Wajah Carra tampak gusar padaku ketika aku masih saja merengut sambil menangis, tapi tiba-tiba matanya membelalak.
Aku memutar badan karena kupikir dia melihat ada hantu di belakangku. Tapi, bukan. Dia hanya melihat Davi dan aku juga melihatnya sekarang.
"Biar gue yang ngantarin", katanya.
Aku terdiam. Keran air di mataku tiba-tiba mati sehingga nggak ada lagi yang menetes.
Carra tersenyum, "Oke, gue bisa balik ke pesta lagi", katanya girang dan nggak berlama-lama menungguku sampai naik mobil.
Aku menyeka sisa air mataku sebelum masuk mobil dan Davi sudah di dalam. Dia tampak menungguku masuk dan ketika dia melihatku, aku sudah kembali seperti biasa. Penuh senyum, dan melupakan bahwa dia melihatku menangis. Aku ingin mengatakan sesuatu yang menghibur supaya dia nggak memandangku dengan tatapan menusuk, tapi yang kudapatkan adalah sebuah pelukan -bukan gelitikan. Dia nggak berkata apa-apa. Aku juga. Dan aku jadi ingat, malam saat aku akan turun dari mobil dia juga melakukan hal yang sama, menunjukan bahwa dia belum ingin aku pergi. Kenapa dia lakukan itu?
Saat ini pun aku masih bertanya-tanya, tapi aku sudah tahu bahwa sejak awal, Davi sudah menjadikanku sebuah pengecualian.
Aku nggak melepaskannya sampai tiba-tiba tubuhnya mengejang. Aku menggelitiknya lagi dan dia tampak jengkel lalu membalasku tanpa ampun. Cinta itu juga nggak harus dikatakan bukan?
_Fin
Yaaaa kirain jadian. Wkwwkwkw... Tp keren alur ceritanya mba, bikin baper...
Like it!
hehhehhe... idenya dr pngalaman pribadi sih. tp udah di modif sana sini biar asyik. thanks
Dari my evil boss dan getting her heart back, akhirnya sampe juga kesini.
Aku mulai jatuh cinta pada.. tulisanmu kk penulis.
Semangat berkarya ya!