[Ch.5] FORGETTING SIDNEY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Pertemuan Kembali

“Kenapa nggak ditelpon aja?” tanya Ananda ketika aku masih memandangi deretan angka-angka itu dengan gelisah.

Aku tersenyum gertir. “Gue nggak ingat kapan terakhir ngomong sama dia,” jelasku. “Apa yang bakal gue omongin? Kira-kira apa dia nggak bakal sakit jantung tiba-tiba gue nelpon?”

Ananda dan Pevi sengaja bertandang ke rumahku setelah pulang sekolah. Katanya mereka kangen karena aku selalu sibuk dengan Sidney dan mereka sedikit ‘cemburu’. Awalnya mereka memang sempat bertanya tentang Sidney dan aku dengan enteng menjawab ‘semuanya sudah berakhir’; mereka gembira mengetahuinya. Memang terlalu cepat untuk menyimpulkan sebuah akhir, tapi aku sudah nggak memiliki niatan lagi untuk bertemu Sidney sehingga di sekolah aku selalu menghindari tempat-tempat di mana dia sering terlihat.

Aku nggak mau sebuah hubungan yang dijalani untuk kesenangan di tempat tidur saja. Aku ingin dicintai, bukan dicurigai. Bukan berarti karena aku menginginkan Sidney, dia bisa memberiku apa yang kuinginkan. Mungkin aku tertarik padanya hanya karena dia keren. Sisanya... entahlah. Sidney memang sedikit misterius. Seingatku dia nggak mengizinkan aku memegang handphone-nya, dia nggak suka aku mengutak-atik sesuatu di apartemen semisal laci meja atau lemari. Padahal aku melakukan itu hanya karena kurang kerjaan dan tempat itu terlalu membosankan. Barangkali aku bukan satu-satunya gadis yang pernah masuk ke sana; bisa jadi.

Ah, tiba-tiba aku meneteskan air mataku. Kenapa aku malah menyiksa diriku sendiri dengan terus memikirkannya? Aku baru sadar kalau Sidney sendiri juga tampaknya menyembunyikan sesuatu dariku. Mungkin karena dia tahu aku gadis bodoh yang nggak mengerti dengan apa yang dia bicarakan di telepon karena berbahasa Inggris. Aku nggak benar-benar memastikan apakah itu memang adik perempuannya atau gadis lain.

“Yah, malah nangis!” celetuk Pevi yang kemudian merangkul pundakku. Dia mengira aku menangisi ayahku yang sudah melupakanku.

Aku kembali terisak. Bukan karena merindukan Papa yang sudah menghilang lebih dari separuh umurku, tapi karena lelaki yang ingkar padaku. Memangnya mana yang lebih menyakitkan? Merindukan sesuatu yang nggak pernah ada atau sesuatu yang pernah ada dan tiba-tiba hilang?

“Yang sabar ya, Sai...,” ujar Ananda yang bersandar di pundakku sambil memelukku.

Aku nggak benar-benar kehilangan tempat berpegangan; masih ada mereka yang setia. Kenapa aku bisa lupa tentang keberadaan sahabat seperti mereka?

“Udah deh, pokoknya telepon aja,” Pevi kembali berujar.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan memencet angka-angka yang dituliskan ibuku pada keypad telepon. Jantungku berdebar keras; bahkan berdiri di samping orang yang aku sukai saja nggak pernah sampai begini. Aku menaruh gagang telepon dengan hati-hati di telingaku dan mulai menunggu.

Panggilannya tersambung. Cukup lama aku menenggar nada tunggu yang membuat jantungku berlomba sampai aku mendengar suara itu. Suara seorang pria yang sesungguhnya pernah ada dalam hidupku tapi tiba-tiba menghilang.

“Hallo?” dia menyapa lebih dulu.

Aku tertegun. Suara detak jantungku bahkan lebih keras dari suara dari seberang.

“Hallo? Ini siapa?” suara itu kembali terdengar.

Kedua temanku menempelkan kupingnya di dekatku untuk ikut mendengar.

“Hallo?” ia memanggil lagi. “Ini siapa?”

Aku membersihkan tenggorokanku untuk mengatakannya dengan jelas. “Sa... Saira...,” kataku ragu-ragu dan tiba-tiba hening. Aku hanya mendengar suaranya bernafas. “Ini... Saira...”

Apa dia masih ingat pernah memiliki seorang putri yang bernama Saira?

“Apa kabar, Saira?” suara itu menegurku setelah sepuluh detik keheningan yang membuatku bertambah gelisah.

“Ba... baik..., Pa...,” jawabku dengan terbata-bata. Lidahku kelu karena itu pertama kalinya lagi aku memanggilnya ‘Pa’. Aku saja nggak ingat kapan terakhir kalinya aku masih menyebutkan ‘Papa’ dengan bibirku.

Awalnya terasa begitu sulit. Namun setelah aku tahu bahwa ayahku nggak menutup teleponnya dan mulai bertanya banyak hal tentangku, membuatku sangat lega. Ada perasaan rindu yang menyelinap diam-diam setelah pembicaraan pertamaku dengan Papa sehingga kemudian aku sering menelponnya. Biasanya malam sebelum tidur aku menghubungi Papa. Walau sudah dua belas tahun lamanya ia meninggalkanku, aku nggak merasa marah ataupun dendam. Aku bersyukur, di saat yang paling kritis dalam hidupku ini, aku menemukan cinta pertamaku yang pernah hilang.

Aku mulai mereka-reka seperti apa sifat ayahku. Dari suaranya yang ramah, dia terkesan hangat; seperti Ayah-nya Ananda. Dia berbicara dengan nada yang lunak dan terdengar begitu perhatian; itu membuatku terpaksa membandingkannya dengan Mama yang tegas dan pemarah. Yang pasti, sifat Papa adalah kebalikan dari Mama. Mungkin karena itulah mereka berpisah. Tapi, itu hanya sebuah kemungkinan. Aku harus menanyakannya karena itulah niat awalku menghubungi Papa; untuk mempertanyakan kenapa aku nggak bisa memiliki sebuah keluarga yang utuh serta mengapa aku harus tinggal dengan Mama yang cenderung mencintai pekerjaannya ketimbang diriku.

“Apa Mama-mu belum pulang?” tanya Papa.

“Mama selalu pulang larut malam,” jawabku sambil mengutak-atik siaran televisi dengan remote sampai bosan. “Mama sibuk....”

“Mama-mu masih kerja?” tanya Papa lagi. Aku mulai heran, Papa nggak biasanya bertanya banyak soal Mama.

“Ya gitu deh, Pa...,” jawabku sambil menaruh remot di meja lalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas.

“Apa Mama-mu nggak menikah lagi?”

Aku tertawa. “Ya, enggaklah, Pa!” jawabku. “Boro-boro. Sama aku aja nggak perhatian apalagi sama orang lain. Lagian Mama ‘kan pemarah, mana ada yang mau sama Mama?”

“Dulu Mama-mu nggak begitu,” kata Papa dan aku terdiam. “Mama-mu itu sabar dan nggak banyak omong.”

Aku cukup kaget. “Oh ya? Aku nggak percaya,” kataku, tertawa lagi. “Mama itu pemarah, Pa. Kalau Mama marah serem banget! Aku ngerasa Papa pasti pisah sama Mama karena Mama yang egois dan nggak mau ngalah....”

“Kamu salah, Nak...,” kata Papa kembali membuatku terbungkam. “Penyebabnya bukan Mama-mu tapi Papa....”

Papa mengingatkanku pada tujuan awalku, yaitu mengetahui alasan mereka berpisah. Aku melupakannya karena mengobrol dengan Papa terlalu menyenangkan.

“Apa Mama-mu nggak pernah cerita?” tanya Papa kemudian.

Aku menggeleng. “Mama nggak pernah cerita karena aku juga nggak nanya...,” jelasku. “Sebenarnya... Mama... ngasih nomor telepon Papa, supaya aku nanya langsung ke Papa....”

“Begitu ya?” Papa terdengar sedih.

“Memangnya... kenapa, Pa?” akhirnya aku menanyakan juga. “Kenapa Mama juga nggak mau ngomong langsung sama aku?”

“Karena itu adalah kesalahan Papa, Saira...,” ucapan Papa membuatku lagi-lagi terdiam. Apa dia juga akan menjawab pertanyaan kenapa Mama juga hampir menangis sebelum naik mobil waktu itu?

Aku menunggu penjelasan Papa yang lain dan mengabaikan rasa haus di tenggorokanku. Aku hanya menaruh minuman itu di meja dan duduk di kursi.

“Papa jatuh cinta dengan orang lain sehingga Papa meninggalkan kamu dan Mama-mu,” jawaban Papa membuatku benar-benar hampir mati berdiri. “Mama-mu sama sekali nggak bersalah. Malahan dia berusaha jadi istri dan ibu yang baik... tapi Papa malah meninggalkannya....”

Ah, Mama... kenapa dia nggak pernah menceritakan kepedihannya padaku?

“Papa merasa bersalah dan karena itu Papa nggak pernah berani mengusik kalian lagi. Papa pikir... kamu membenci Papa setelah Mama kamu memberitahu apa yang Papa lakukan...”

Air mataku menetes lagi. Suaraku mulai gemetar. “Mama nggak pernah cerita tentang Papa... sama sekali nggak pernah....”

“Apa... kamu benci Papa, Saira?”

Aku langsung menggeleng. “Kenapa aku harus benci?” balasku. “Aku... nggak menyangka... ternyata Mama menyembunyikan itu dariku selama ini....”

***

Jam dinding menunjukan pukul dua dini hari tapi masih belum tidur sepejam pun. Mama sudah pulang sekitar jam satu tadi; aku mendengar suara langkah kakinya berjalan di koridor menuju kamarnya. Aku masih gelisah dan nggak bisa tidur. Pembicaraan dengan Papa di telepon tadi membuatku berpikir keras. Lalu aku keluar kamar dan melewati koridor panjang menuju sebuah ruangan yang ada di ujung; kamar Mama. Pelan-pelan aku membuka pintunya dan masuk dengan mengendap-endap selagi Mama masih berbaring di ranjangnya dengan mengenakan baju tidur.

Dengan pelan aku naik ke ranjang, dan menjatuhkan diriku di belakang punggung Mama yang tampak bernafas teratur. Aku sudah lama nggak memeluknya. Kami memang jarang bertemu selain di meja makan pagi hari. Lewat pelukan aku mengungkapkan penyesalanku atas kelakuan dan masalah yang kuciptakan selama ini. Mama sudah menanggung banyak beban tapi aku selalu berpikir Mama nggak menyayangiku.

“Maafin aku, Ma...,” ucapku pelan di punggungnya.

Kurasakan Mama bergeming. Mungkin Mama sudah terbangun. Tapi, Mama nggak mengatakan sesuatu padaku sampai aku tertidur dan pagi ketika aku bangun, Mama sudah nggak ada. Hanya saja aku menemukan diriku sudah diselimuti.

Mataku masih mengantuk, sayangnya masih hari Jumat dan aku harus ke sekolah lagi. Setelah kembali ke kamarku, aku masuk ke kamar mandi dan bersiap dengan seragamku yang biasa. Rupanya Mama sudah menunggu di ruang makan tapi ajaibnya kali ini sedang nggak menelepon lagi melainkan menyiapkan sarapan bersama Mbok Ijah.

“Habisin sarapannya,” kata Mama menaruh roti isi yang menyebalkan itu di depanku. “Mama harus ke kantor sebentar lagi.”

“Aku naik bus aja...,” kataku. “Lagian ‘kan hukumanku masih jalan....”

Mama menatapku lalu mengangguk-angguk. “Mama senang kamu suka dengan hukumannya,” celetuk dia dan itu terdengar menyebalkan tapi aku malah tertawa. Koleksi kata-kata menyakitkan Mama-ku masih banyak.

“Ya udah. Mama berangkat dulu,” kata dia pamitan lalu pergi.

Setidaknya hubunganku dengan Mama sudah membaik hingga rasanya aku ingin bercerita padanya tentang apa yang kualami. Tapi, aku perlu membiarkan Mama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mungkin setelah ujian nasional lalu disambut liburan, kami bisa pergi ke suatu tempat bersama. Namun, aku harus membuktikan padanya aku bisa merubah sikapku. Aku ingin menebus kesalahanku dengan berusaha sebaik mungkin dan membuang semua keinginanku yang keras kepala terhadap sesuatu yang belum pantas untukku.

***

Saat jam istirahat di sekolah, aku melihat Sidney; tepat di depan kelasku. Dia mengintip ke dalam lalu pergi setelah memastikan aku nggak ada di sana. Aku tersenyum mengetahui mungkin dia merasa bersalah mengusirku dari rumahnya waktu itu.  Tapi, aku harus menjauhinya. Orang seperti dia nggak mungkin bisa kumiliki dengan mudah semudah dia datang dalam hidupku. Sidney harus menyelesaikan tesis-nya sedangkan aku harus belajar untuk ujian nasional. Rasa hati terkadang masih memperdayaku agar kembali padanya, tapi aku hanya akan mengulangi kebodohan itu lagi.

Ananda dan Pevi tiba-tiba menghampiriku dengan cara yang mengagetkanku.

“Samperin sana!” goda Pevi saat kami sama-sama menyaksikan Sidney pergi dari kelasku.

“Enggak!” kataku sambil menghindari mereka. “Ngapain sih kalian dekat-dekat gue?”

“Ih, emang kenapa, Sai?” protes Ananda yang menggandengku dengan paksa.

“Lo mau pura-pura judes ke kita di sekolah?” celetuk Pevi yang ikut-ikutan menggandeng lengan kananku. “Udah nggak perlu kali! Biar mereka dunia tahu kalau lo sahabat kesayangan kita!”

Sekarang mereka memegangiku lalu menyeretku ke kantin. Semua orang melihat saat kedua gadis itu membuatku tertawa dan mereka pasti heran, sejak kapan Saira Gayatri berteman dengan orang-orang seperti Ananda yang nggak populer dan Pevi yang masih saja gendut.

Kabar tentang Saira telah mencuci otak pengikutnya di perkumpulan makin santer terdengar setelah kami sering muncul bersama di sekolah. Jangankan Sidney yang mencoba menemuiku tapi selalu digagalkan teman-temanku, Ananda dan Pevi juga mulai gerah sampai-sampai mereka berpikir untuk membuka semuanya.

“Kalau begini sih kasian lo juga, Sai...,” komentar Pevi. “Kita nggak tega lo menanggung beban itu sendirian....”

“Tapi, gue punya kalian. Memang kelihatannya gue kacau banget tapi kalian tahu sendiri ‘kan gue udah mulai bangkit,” ujarku menenangkan. “Gue udah lama nggak peduli sama omongannya si kawat gigi Magisa. Ntar juga dia kena sendiri. Kata Nyokap gue, kebenaran itu tetap kebenaran. Nggak ada yang bisa merubahnya....”

“Cie... yang udah bisa curhat sama Nyokap,” ledek Ananda.

Aku tersenyum. “Lagian yang harus kita pikirin itu bukan masalah kita bertiga aja. Kita punya sahabat-sahabat yang lain,” jelasku. “Kalau kalian buka rahasia, yang lain pasti bakal kembali di bully. Waktu kita di sini udah nggak banyak, nggak usah pikirin mereka yang sibuk fitnah. Ingat, Nan, Pev, kalian membangun ini dengan rahasia tentang kesedihan yang mereka rasain. Kalian ingat ‘kan gimana sedihnya saat kita nggak bisa mengungkapkan sesuatu dengan lepas seperti yang kita lakuin saat ritual? Orang lain menganggap itu konyol, tapi buat kita itu berharga dan kita harus menjaganya, oke?”

“Lo bener, Sai,...” Pevi mengangguk-angguk. “Hanya saat berkumpul lah kita merasa nggak sendirian....”

Bel masuk kelas berbunyi. Karena nggak sekelas, aku harus berpisah dengan mereka. Tapi, sebelum aku sempat masuk kelas, seseorang menegurku dan mengatakan padaku bahwa Bu Tetty memanggilku.

Lagi? Apa lagi sekarang?

***

Nggak seperti biasanya. Ruangan Bu Tetty sekarang terasa begitu menegangkan. Bukan karena Sidney nggak ada di sana dan biasanya aku sering memperhatikan sosoknya yang sedang serius. Tapi, aku sudah nggak membuat masalah lagi akhir-akhir ini; tidak secara terang-terangan atau di luar Saira’s Squad yang menhebohkan jagad sekolah. Aku harus kembali menghadapi Bu Tetty dengan wajah masamnya.

“Saya nggak tahu harus berapa kali lagi kamu harus masuk ruangan ini dan saya harus menghadapi semua hal yang berhubungan dengan kamu,” ia memulainya dengan kaimat yang terdengar menyalahkan.

Kali ini aku harus menghadapinya seperti seorang yang benar-benar tertangkap lengkap dengan barang bukti; nggak bisa mengelak apalagi membantah. Aku nggak mau hanya karena menjawab tuduhan Bu Tetty, Mama kembali harus berada di sini.

“Kamu selalu membuat masalah yang berbeda,” lanjut dia. “Seragam yang selalu melanggar aturan, mem-bully siswi lain, merusak mading sekolah, mengumpulkan orang-orang untuk berpikiran sama seperti kamu, dan sekarang kamu melibatkan Sidney.”

Aku terkejut. Dari mana dia tahu soal aku dan Sidney?

“Saira, kenapa harus Sidney?” Bu Tetty bertanya. “Kamu tahu status Sidney bukan? Kamu bisa membuatnya dalam masalah.”

“Apa maksud Bu Tetty?”

“Saira, ayolah. Kalau saya mengatakannya, kedengarnnya nggak akan pantas....”

“Saya nggak ngerti, Bu....”

“Benar kamu mendekati Sidney?”

Aku tercekat. Siapa yang mengadukannya? Si kawat gigi Magisa lagi?

Bu Tetty berdiri dari kursinya dan duduk di kursi yang ada di sampingku. Dia tampak akan mengatakan sesuatu dengan pelan padaku. “Bisa kamu bayangkan betapa kecewanya ibu kamu kalau dia sempat mengetahui hal ini?” tanyanya.

Pertanyaan Bu Tetty membuatku merinding sekaligus sedih. Aku nggak bisa membantah ucapannya itu karena benar aku dan Sidney terlibat hubungan yang menjijikan dan nggak pantas. Aku sudah tahu kalau Mamaku nggak akan pernah memaafkanku kalau tahu yang sebenarnya. Tapi, kenapa masih ada saja orang yang mau menghancurkanku? Aku sudah berusaha hidup dengan baik.

Aku hampir nggak bisa bernafas saat keluar dari ruangan Bu Tetty. Apa usahaku untuk bangkit akan menjadi sia-sia hanya karena pengaduan orang lain yang nggak bertanggungjawab? Aku masih memiliki harga diri; satu-satunya penegak kepalaku saat orang-orang mencemooh dan nggak pindah dari sekolah sialan ini sebagai pengecut. Perkataan Bu Tetty kembali membuatku gelisah. Aku kembali dalam lambaian asap rokok di depan wajahku setiap aku takut.

Ketika halaman belakang masih menjadi saksi bisu dari kelemahanku setelah Bu Tetty memporakporandakan pertahananku, Sidney muncul. Dia menemukanku setelah aku mati-matian menghindarinya beberapa hari ini. Aku bisa saja membiarkan dia menghampiriku karena aku tengah menangis. Dimarahi lagi oleh guru konseling bukan akhir dari dunia. Hanya tinggal beberapa bulan lagi, aku akan bebas Tapi, saat ini aku memutuskan untuk lari.

Sepulang sekolah, aku, Ananda dan Pevi kembali melakukan ritual karena aku mempunyai sebuah permohonan yang baru; di luar dari kisah cinta yang kandas dan fitnah yang bertubi-tubi menggilasku. Semua ini akan berlalu.

“Aku ingin ketemu Papa,” kataku saat kami menyatukan jari dan merasakan angin laut bertiup menghembus wajahku dengan lembut. Kemudian aku menyerahkan permohonan itu ke lautan luas dengan sebuah botol kaca.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments