[Ch.1] FORGETTING SIDNEY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

A Letter from Home

Saat seorang anak perempuan tumbuh besar, cinta pertamanya adalah sang ayah, tapi aku? Aku bahkan nggak pernah tahu seperti apa ayahku. Dia meninggalkan Mama saat aku masih kecil dan belum mengerti apa yang disebut pengkhianatan. Mama-ku menyelamatkan dirinya dari kekecewaan itu dengan pekerjaannya. Dia berhasil melewati penderitaan itu, tapi aku nggak. Aku juga merasa kehilangan Mama-ku di saat yang sama aku tahu kalau Papa-ku tiba-tiba saja pergi.

Bagiku setiap hari, adalah hari yang sibuk; sibuk melarikan diri dari kenyataan. Setiap pagi aku bertemu Mama di ruang makan. Seperti biasa dia mengenakan setelan kantor, sepatu tinggi dan handbag mahal. Nggak lupa sebuah handphone yang selalu berada di telinga. Dia berbicara dengan terburu-buru; kadang-kadang marah atau memerintah seseorang agar melakukan hal yang benar untuknya. Mama-ku orang yang tegas; juga cenderung pemarah. Nggak hanya sama bawahannya di kantor, tapi juga aku.

Aku duduk di meja makan; seringkali kehilangan selera makan memperhatikan Mama-ku yang nggak mempedulikan apa-apa selain panggilan telepon di pagi buta. Kalau suasana hati Mama sedang buruk dia akan menghampiriku.

“Saira, cepat habisin sarapannya, Mama bisa telat nungguin kamu sarapan!” katanya, lalu mulai mondar-mandir sambil tetap menelepon.

Aku pun berdiri dari kursiku. Aku sama sekali nggak menyentuh sarapan bikinan pembantu yang menunya selalu sama; roti isi dengan sayuran yang banyak sekali; itu dibuat atas permintaan Mama-ku. Supaya aku makan makanan yang bergizi setiap hari. Mama-ku mengatur hidupku dengan menggunakan orang lain. Misalnya pembantu tadi, lalu supir pribadi yang sering ditugasi Mama mengawasiku pulang sekolah. Mama benar-benar nggak mengizinkan aku keluyuran.

Begitu naik mobil, Mama masih belum selesai menelepon. Aku lebih suka dia menelepon saat di mobil, karena kalau sedang nggak menelpon, biasanya Mama menceramahiku soal seragam lalu dari soal seragam dia akan beralih ke hal-hal lain yang nggak dia sukai dariku. Ya, aku memang suka pakai rok di atas lutut. Mau bagaimana lagi, kakiku memang panjang dan memakai rok di bawah lutut membuatku seperti kutu buku; hanya tinggal menambahkan kaca mata bulat; kawat Magisa dan kepang rambut saja.

“Saira!” Mama memanggilku saat aku akan turun dari mobil. Dia tampak menginterupsi panggilan teleponnya untuk menegurku dan kurasa pasti ada sesuatu yang tidak dia suka.

Aku menoleh; hampir nggak bisa menunjukan kalau sebenarnya aku capek dengan omelan Mama walaupun aku belum mendengarnya sejak pagi tapi hari-hari sebelumnya aku sudah menerima banyak keluhan dari Mama yang nggak suka dengan rokku.

“Siapa yang mengizinkan kamu pakai rok itu?!” teriak dia dari dalam mobil.

“Ma, aku udah telat!” kataku sambil menunjuk jam tanganku.

Mama mendesak kesal. Kesal pada waktu; kesal pada orang di telepon; dan kesal karena ia nggak bisa meladeniku karena harus ke kantor cepat-cepat. Dia membelalakan matanya sambil mendecak kesal. “Pak Didi, sudah, jalan!”

“Baik, Nya...,” jawab Pak Didi yang sempat melirikku dan aku tersenyum.

Satu ketegangan sudah berlalu; itu hanya paginya saja. Aku beruntung pagi ini aku nggak perlu harus teriak pada Mama untuk membiarkanku memakai apa yang aku suka. Mama selalu berpikir rok pendek itu nggak pantas untuk anak sekolah; padahal juga Mama ke kantor sering pakai rok span. Di satu sisi Mama menginginkan aku untuk berpikir dewasa dengan nggak membuat masalah dan sisi yang lainnya Mama memperlakukanku seperti anak kecil yang cara berpakaian saja harus diatur-atur. Mama melarangku pacaran; dilarang hang out dengan teman cowok. Mama cuma nggak tahu aja, boro-boro seorang cowok, aku nggak bisa dekat dengan siapa pun. Di sekolah juga aku nggak benar-benar punya yang namanya... teman.

Orang-orang hanya melihat fisikku saja; mungkin rok di atas lutut yang selalu membuatku dipanggil Bu Yuni. Aku nggak peduli. Kalau aku dihukum nggak boleh masuk sekolah, ya sudah, aku senang nggak harus belajar. Kalau nanti Mama dipanggil lagi karena pelanggarannya sudah terlalu banyak; ya aku cuma harus mendengar omelannya; aku sudah sering diomeli. Mama paling-paling juga nggak memberiku uang jajan. Aku nggak peduli. Soalnya aku juga bukan orang yang boros. Malah uang jajan dari minggu-minggu sebelumnya juga masih ada. Setelah diomeli pun nggak ada yang berubah. Aku tetap melangkah, mengabaikan orang-orang yang berpikir aku suka pamer body.

Aku nggak ingin terlihat seperti mereka yang kekanakan. Bergosip dan cerita soal cowok. Hah! Cowok itu adalah makhluk paling menjijikan yang pernah aku tahu. Obrolan cowok itu nggak pernah jauh dari dada dan isi celana dalam cewek. Mereka bangga pernah ciuman atau lebih dari itu dengan pacar mereka seolah itu adalah prestasi yang bergengsi. Aku lebih suka sendiri; sejak aku merasa dimanfaatkan oleh mereka yang ingin ‘numpang’ tenar.

Padahal aku bukan selebriti. Aku menjadi model salah satu cover majalah karena kebetulan; kebetulan karena kakiku panjang. Menurutku tubuhku hampir seperti tiang listrik. Dada rata dan kurus. Aku hanya berkulit putih, berambut panjang dan berhidung mancung. Tapi, agensi model itu tertarik padaku karena katanya aku seperti Taylor Swift.  Aku nggak percaya itu. Mereka bilang begitu untuk membujukku supaya mau bergabung. Untungnya aku nggak mendapatkan masalah dari Mama yang kupikir akan melarangku. Memang jawabannya waktu aku bilang ingin jadi model itu sedikit membuatku sakit hati, ‘Ya sudah, kamu boleh jadi model asal kamu nggak keluyuran nggak jelas dan baju kamu yang sempit-sempit itu jadi berguna’.

Mama-ku memang nggak pernah mengatakan hal yang manis padaku. Dia hanya ingin aku seperti dirinya. Menjadi wanita karir yang sukses. Tapi, aku bukan anak yang pintar. Aku sering menyembunyikan nilaiku dari orang-orang. Begitu ada yang tahu aku pernah jadi ranking terakhir di kelas, mereka menjulukiku si cantik bego. Aaah, aku nggak mengerti. Apa karena terlahir cantik aku harus jadi anak yang pintar juga?

Tapi, aku ingat pernah ada yang kagum padaku walaupun aku jelas-jelas ketahuan bodoh. Waktu kelas satu aku pernah sekelas dengannya dan aku hampir nggak pernah bicara padanya. Habis saat itu, aku nggak berteman dengan golongan anak cupu karena digandrungi anak-anak keren. Aku masih ingat ketika dia datang dan menawarkan sebuah wawancara untuk bahan mading. Aku menolaknya karena menurutku nggak ada yang tertarik membaca mading di jaman yang sudah canggih ini. Mading itu sesuatu yang kolot.

Namun, sejak itu aku mempunyai seorang musuh abadi yang selalu bergerak dengan senyap. Walaupun aku nggak ikut-ikutan mem-bully dia seperti teman-temanku yang menjadikannya bulan-bulanan. Aku sudah mulai menyadari kalau teman-teman satu tongkrongan itu, hanya ingin terlihat keren saja. Lagian melihat mereka mem-bully seseorang secara beramai-ramai itu membuatku muak.

Sepulang sekolah, aku dijemput Pak Didi dan diantar ke agensi untuk sesi foto. Ya, di sana aku juga nggak terlalu bergaul. Di tempat itu, aku bukan model satu-satunya yang pernah dibilang mirip artis oleh manajer. Terbayang ‘kan, agensi model adalah tempat berkumpulnya gadis-gadis cantik yang ingin ketenaran dan kekayaan yang mana buatku itu nggak penting dan itu juga membuat aku nggak sepaham dengan mereka. Ujung-ujungnya mereka bilang kalau aku sombong dan berada di sana karena koneksi. Memang sakit hati sih, tapi aku nggak mempedulikannya. Toh, kalau aku nggak suka aku tinggal keluar dari agensi dan jadi anak SMA biasa. Apa susahnya?

Aku terlalu cuek karena sudah biasa mendengar komentar orang soal rokku, tabiatku dan kebodohan akademisku. Mana ada manusia yang sempurna? Kalau ada manusia yang berusaha untuk sempurna sih mungkin masih mending. Tapi, ada lagi manusia sakit yang memaksakan orang lain untuk sempurna. Mereka itu orang-orang yang melelahkan.

***

Sepintas kehidupanku memang terlihat glamor. Aku hanya perlu didandani, pakai baju bermerek dan berpose. Lalu orang-orang bisa wajahku terpapang di majalah-majalah remaja. Harusnya aku menerima tawaran untuk jadi bintang iklan juga dan mungkin main sinetron. Tapi, aku tahu Mama pasti nggak suka. Dia membayangkan kehidupan selebriti itu adalah kehidupan yang bebas. Nggak selamanya seseorang bisa hidup hanya dengan menjual kepura-puraan di televisi. Lagipula aku sudah menebak reaksi Mama kalau aku bilang aku ingin main sinetron ‘Memang kamu bisa akting?’. Mama pasti nggak akan setuju. Lagipula aku juga nggak tertarik menjadi lebih terkenal dari ini. Aku ‘kan cewek yang bodoh. Raport-ku selalu berbunga di setiap akhir semester dan membuat Mama-ku sering geleng-geleng kepala. Kalau aku jadi artis, aku nggak mau Mama bilang ‘Mama malu kalau kamu jadi artis yang nyaris nggak bisa punya rahasia soal kehidupan pribadinya. Kamu mau nilai-nilai kamu yang jebol itu jadi headline infotainment?’

Mama-ku selalu punya kata-kata yang menusuk sehingga aku nggak pernah berani membantahnya. Seolah Mama tahu hingar bingar kehidupan model itu nggak jarang dekat dengan pesta di diskotik, minuman keras dan seks bebas. Semakin lama, semakin banyak model baru yang bermunculan. Persaingan pun makin sinis di antara mereka. Saat itu aku merasa bahwa tahun-tahun gemilangku sudah mulai berlalu. Harusnya saat ini aku sudah melepaskan diri dari agensiku yang sekarang dan berada di bawah naungan agensi yang lebih bergengsi sekilas artis layar lebar atau minimal artis sinetron.

Usia 17 tahun akan mengantarkanku pada proses yang lebih ‘dewasa’ sehingga menjadi gadis sampul itu hampir tidak pantas lagi bagiku. Aku akan tergeser dengan anak kelas satu atau kelas dua SMA. Sehingga di tahun ketiga aku mulai berpikir untuk mundur saja. Namun, aku tidak melewatkan sebuah kontes model yang saat itu diminati oleh model-model lain. Sebenarnya hanya iseng; aku nggak berhasrat untuk menang karena sebenarnya aku cuma anak sekolah yang kurang kerjaan dan pemalas belajar. Aku ini seseorang yang nggak punya minat dan bakat yang jelas; meski pun suka difoto dan pamer perut. Begitulah.

Saat kontes model diadakan, semua orang datang untuk melihat. Nggak terkecuali si kawat gigi yang menjadikan kegiatan itu sebagai bahan untuk madingnya. Aku merampas kameranya karena menurutku dia baru saja menggambil gambar yang harusnya nggak diambil sembarangan. Aku nggak tahu bagaimana dia bisa masuk ke bagian belakang catwalk dan mengendap seperti pencuri bersama seorang temannya untuk mengambil foto di ruang ganti.

“Hei, balikin kamera gue!” dia berteriak padaku.

“Lo pikir ini tempat apa, hah?” tantangku sambil menjauhkan kamera itu darinya.

“Kenapa? Lo takut foto lo barusan gue pajang di mading gue yang menurut lo nggak penting?” balas dia dan aku kesal sekali.

“Gue nggak ada urusan sama lo ya, kawat gigi!”

Dia terkekeh sambil menatapku dengan santai. “Tuh kan lo takut!” kata dia dengan puas.

Aku diam. Memandangi temannya yang berwajah khawatir.

“Kenapa gue harus takut?” balasku, sambil bertolak pinggang. Selama ini nggak pernah ada satu pun orang yang berani mengancamku.

“Kalau lo nggak takut, balikin kamera gue, Saira!” kata dia dengan kasar padaku.

Aku hanya terkejut nggak percaya kalau sosok itu adalah dia yang dulunya nggak melawan saat aku menertawainya. Karena nggak ingin berurusan dengannya, aku pun mengembalikan kameranya walaupun aku punya kekhawatiran dia benar-benar akan memasang foto yang baru dia potret di mading sekolah. Habisnya aku baru saja diperlakukan nggak senonoh oleh seorang produser film yang sedang mencari wajah baru untuk film terbarunya.

“Udah deh, mending lo pergi dari sini!” kataku, mengusir. “Buruan sana!”

Tapi, aku merasa si kawat gigi nggak akan berani melakukannya. Harusnya aku curiga dengan ekspresinya saat dia meninggalkan ruang ganti, dia tersenyum penuh kemenangan. Dan beberapa hari kemudian, foto hasil jepretan isengnya itu menjadi headline sampai-sampai menutupi artikel-artikelnya yang menurutku adalah sampah. Semua yang dia buat di mading itu benar-benar hanyalah sampah.

Kejadian itu mengakhiri segalanya dan membuka gerbang neraka yang baru bagiku.

***

Aku adalah pelanggan ruang konseling yang setia. Gimana enggak? Guru BK di sekolahku adalah guru paling keren yang pernah ada. Apa aku sudah bilang sebelumnya soal kenapa aku nggak tertarik sama anak-anak cowok yang sering coba-coba mendekatiku? Simpel. Mereka bukan tipeku karena aku sudah punya seseorang yang benar-benar bikin aku seperti seseorang yang dimabuk kepayang.

Dan itu dimulai ketika Sidney –si guru BK memergoki aku mencoba bolos. Aku pikir sejak itulah kisah cintaku yang tidak biasa dimulai.

Di sana Bu Tetty selalu memarahiku ditambah dengan Mama-ku yang datang dengan kesal. Aku tahu kali ini aku nggak akan selamat dari semua kemarahan itu. Karir modelling-ku berakhir dan aku dihukum oleh Mama; inilah yang terburuk. Aku pikir dunia benar-benar sudah menentangku. Meskipun nggak dikeluarkan karena Mama sudah menyumbang satu laboratorium tahun ini untuk sekolah, hidupku sudah seperti buronan yang kabur dari Nusa Kambangan saja. Terlebih setelah aku menuliskan ‘mading tukang fitnah’ dengan cat semprot pada singgasana si kawat Magisa; yaitu mading-nya.

Seperti biasa, aku dipanggil lagi ke ruang konseling. Dimarahi Bu Tetty yang murka setengah mati dan seandainya sekolah nggak memandang Mama ku dia pasti sudah menamparku karena terlalu kurang ajar. Tapi, aku menyadari ada sesuatu yang berbeda di ruang konseling belakangan. Biasanya hanya Bu Tetty si tukang marah yang berada di ruangan itu, sekarang dia sudah punya asisten dan itu seorang laki-laki. Masih muda dan rada mirip Arifin Putra.

Aku jadi ingat pernah melihat segerombol anak perempuan yang mengintip ke ruang konseling saat mendengar bahwa ada cowok keren yang baru magang di sekolah. Rupanya dia. Tanpa sadar, aku melirik ke arahnya saat Bu Tetty kembali meyakinkanku bahwa aku adalah pembuat masalah. Tapi, orang itu asyik sekali dengan bukunya. Jangan-jangan dia homo, pikirku sambil kembali memusatkan perhatian ke guru konseling yang cerewet itu.

“Kalau foto ini keliru, lalu apa yang benar, Saira?” ia kembali memaksaku untuk menceritakan yang sebenarnya.

Aku pikir, menceritakan yang sebenarnya reputasiku juga tetap jelek. Nggak semua orang bisa memahami bahwa modelling itu adalah dunia persaingan yang lebih sadis dari perebutan juara umum di sekolah. Di dalamnya sarat dengan godaan dan tawaran menggiurkan yang membuat seorang gadis bisa saja kehilangan harga dirinya. Orang-orang sudah terlanjur mengira bahwa aku tidur dengan om-om tua untuk sebuah peran di sinetron. Aku nggak bisa menjelaskannya kepada setiap orang dan terlalu konyol untuk membuat konferensi pers. Konferensi pers hanya akan membuat masalah semakin lebar.

Jadi aku membiarkannya begitu saja. Aku nggak pernah menjelaskan kejadian sebenarnya di balik sebuah foto yang menunjukan bahwa aku duduk di pangkuan seorang lelaki tua. Kalau saja aku lebih hati-hati tentu pria genit itu nggak akan menarikku dengan paksa ke dekatnya. Si kawat Magisa mengambilnya dengan sangat tepat seolah dia memang sedang menunggu momen yang paling memalukan bagiku di setiap detiknya. Padahal hanya beberapa saat sebelum aku menarik diri darinya dan marah-marah karena dia baru saja melecehkanku.

Tapi, sekarang, semuanya percuma.

Mama-ku nggak pernah sebenci ini padaku. Dia benar-benar merasa aku telah mempermalukannya sehingga dia nggak sudi memandangku. Aku nggak percaya sebuah fitnah bisa memberiku sebuah penolakan yang begitu besar dari orang-orang sekelilingku. Jangan pikir saat itu aku bisa dengan acuh melangkah di hadapan orang-orang. Aku berusaha dengan kuat untuk tegar dengan berpikiran bahwa apa yang terjadi bukan salahku. Semuanya akan berlalu. Tapi, semakin lama aku semakin lemah.

Saat air mataku akhirnya menetes juga, aku merasa hidupku benar-benar kacau. Kemudian seseorang mendatangiku dengan penyesalannya. Dia bukan temanku; aku memang nggak berteman lagi sejak lama. Tapi, dia satu-satunya orang selain si kawat Magisa yang tahu bahwa kejadian di foto itu nggak seperti yang orang-orang pikirkan.

“Maafin gue, Sai...,” katanya, ikut menangis di depanku. “Gue nggak tahu lo bakal dituduh sejahat itu sama Magisa....”

Ya, dia adalah teman si kawat Magisa yang menemaninya saat mengambil foto di kontes model itu. Ananda namanya. Dia adalah orang pertama yang benar-benar bisa disebut sebagai seorang teman sejati. Aku menjulukinya gadis matahari.

***

Selama ini aku tinggal di dalam kotak kaca buatan Mama-ku. Sejak kecil hingga remaja aku nggak pernah bisa lepas dari pengawasannya. Kata orang, Mama-ku melakukannya karena dia menyayangiku tapi yang aku tahu kasih sayang seorang ibu kepada anaknya haruslah bersikap seperti seorang ibu. Ya seorang ibu yang memperhatikan anaknya. Tapi, Mama-ku adalah seorang bos; semua perintahnya harus dipatuhi. Kalau aku nggak mendengarkannya, dia dengan mudah menghukumku.

Aku memang punya kehidupan berkecukupan. Nggak pernah yang namanya jalan kaki ke sekolah; boro-boro. Naik angkot atau bus itu bisa dibilang belum pernah. Tapi, apa aku bahagia? Nol. Melalui sikap Mama selama ini terhadapku, sepertinya dia mengajarkan aku untuk nggak berempati terhadap orang lain. Entah dia sadar atau nggak. Namun, masih ada juga orang yang menginginkan kehidupan seperti kehidupanku. Ananda misalnya. Segala hal tentang dirinya adalah kebalikan dari diriku.

Aku seorang gadis broken home sedangkan dia mempunyai keluarga yang sempurna; sepasang orang tua yang saling mengasihi, seorang kakak dan adik laki-laki; Adrian dan Arman. Mereka hidup sederhana di pinggiran kota dengan menghuni sebuah rumah yang nggak lebih besar dari ruang tamu rumahku.

Aku ingat dengan jarak yang sempit antara satu ruang dengan ruang lainnya. Perabotan tampak berdesakan di setiap sudut. Ruang depan saja hanya berukuran enam meter persegi dan tampak tak cukup untuk kursi-kursi kecil yang lusuh.Mereka punya dapur yang dindingnya menyatu dengan dinding kamar mandi. Tapi, yang paling kuingat dari rumah keluarga itu adalah halaman depannya sempit dan ditanami bunga matahari; Ananda yang menanamnya sendiri.

Itu pertama kalinya aku bermain ke rumah seorang teman. Sambutan ibunya ketika Ananda mengenalkanku padanya adalah senyumnya yang ramah dan suaranya yang lembut; bertolak belakang dengan Mama-ku. Ananda memanggilnya dengan sebutan Bunda; itu terdengar sangat manis. Ayahnya Ananda hanya pegawai kantor biasa. Pergi pagi pulang sore. Sedangkan Adrian sedang kuliah di kedokteran. Kalau Arman saat itu masih SMP. Mereka semua sangat baik padaku. Yah, begitulah sebuah keluarga seharusnya.

Hampir setiap hari setelah pulang sekolah, aku pergi ke rumah Ananda dan itu pun dengan jalan kaki. Sejak masalah yang bikin aku dalam masalah besar, Mama melarang Pak Didi menjemputku. Sebenarnya Pak Didi nggak tega. Jadi dia sering curi-curi waktu untuk menjemputku kalau aku belum pulang juga.

Kami melewati perkampungan kumuh yang selama ini menjadi salah satu bagian yang tersembunyi dari sebuah ibukota yang penuh dengan mimpi muluk. Kota ini begitu padat karena orang-orang dari daerah terus berdatangan dengan harapan sebagian kecil dari uang Rupiah yang beredar di sini bisa menjadi milik mereka. Jakarta punya gedung-gedung tinggi yang bisa memperkerjakan ratusan bahkan ribuan orang. Mereka yang berhasil bisa ikutan terlihat berkelas layaknya bos-bos kaya. Tapi, bagi mereka yang bernasib sial, berakhir di tempat-tempat seperti ini; rumah-rumah gang sempit yang kumuh di bantaran kali.

“Sekali-sekali gue ke rumah lo dong, Sai,” kata Ananda padaku.

“Rumah gue ngebosenin. Yang ada cuma pembantu, tukang kebun sama supir,” balasku.

“Lo punya banyak pembantu? Keren dong!” serunya dengan girang. Entah apa yang keren dengan pembantu yang sering dimarahi Mama-ku.

Tapi, akhirnya aku mengajak dia ke rumah. Mengenalkan dia sama pembantu-pembantuku yang sebenarnya ramah dan baik. Ananda senang sekali saat Mbok Ijah membawakan minuman jeruk dan snack untuknya ke kamarku. Ironis bukan? Ananda menginginkan apa yang aku miliki dan aku menginginkan apa yang dia punya. Tapi, kami nggak bisa bertukar peran.

“Kamar ini keren, Sai!” dia nggak berhentinya kagum dengan kamarku. “Lo punya lemari baju yang udah kayak ruangan sendiri! Kayak toko baju!”

Aku hanya tersenyum simpul di depan pintu lemari dan memperhatikan dia sedang melihat-lihat koleksi baju dan sepatuku. “Kalau lo mau, lo bisa ambil baju yang lo suka,” kataku.

“Beneran, Sai?!” Ananda semakin girang. Dia mulai memilih dengan senang hati sambil menyanyi-nyanyi kecil.

Aku belum pernah melihat orang sesenang itu sebelumnya. Aku saja lupa kapan terakhir kali aku benar-benar senang. Tapi, nggak lama kemudian aku mulai terbawa karena sepertinya Ananda bingung memilih baju yang pas untuknya. Soalnya Ananda lebih pendek dariku dan tubuhnya sedikit berisi. Lagipula seperti yang Mama bilang, bajuku sempit-sempit. Kalau Ananda yang memakainya, aku yakin Ayah dan Bunda-nya nggak akan suka melihat anaknya pakai baju ketat. Di dalam lemari kami mulai mencari; aku baru sadar banyak baju yang sudah lama dibeli tapi belum pernah dipakai.

“Sai, lo beruntung ya?” kata Ananda lagi saat kami menjatuhkan diri di atas ranjangku setelah puas memilih baju sambil bermain di dalam lemari.

“Maksudnya?”

“Lo nggak perlu harus mikirin kerasnya kehidupan. Jadi anak tunggal dan nggak perlu harus ngalah sama saudara lo yang lain,” jelas dia, terdengar sedih. “Beda sama gue. Karena Adrian kuliahnya kedokteran, jadi Ayah lebih banyak ngasih ke dia. Sementara buat gue sama Arman ya... kalau bisa ditunda dulu, ya ditunda....”

“Kalau Adrian sukses lo juga senang, Nan...,” kataku. “Lo harus sabar. Bukan karena ortu lo nggak sayang sama lo. Mereka baik banget kok. Nyokap gue aja nggak begitu....”

“Iya, gue tahu...,”

“Gue yakin Adrian pasti berhasil,” ujarku.

Ananda tiba-tiba mengernyitkan dahinya padaku. “Ya sih...,” ia tiba-tiba menjadi muram sehingga membuatku bertanya-tanya.

Satu hal yang terlintas di pikiranku saat itu adalah mungkin saja Ananda merasa orang tuanya nggak adil. Memang, kuliah di kedokteran itu biayanya mahal dan orang tuanya pasti berjuang mati-matian untuk bisa menyekolahkan Adrian sampai berhasil.

“Sebenarnya gue juga pingin kayak Mas Adrian,” katanya sambil menatapi langit-langit kamar. “Maksudnya bukan jadi dokter tapi jadi arsitek.”

“Arsitek?”

“Yah, arsitek. Tapi, kuliahnya di luar negeri. Kayak di Australia, University of Canberra.”

“Kenapa arsitek?”

Ananda menarik nafas lalu tersenyum. “Lo ‘kan tahu rumah gue kecil banget. Udah gitu saluran airnya sering bermasalah. Kalau Bunda mau masak dan harus nyuci sesuatu, pasti harus pergi ke keran belakang. Soalnya dapur udah sempit dan penuh sama lemari-lemari jadi nggak bisa dikasih wastafel,” jelas dia. “Kamar Adrian sama Arman juga nggak muat untuk orang berdua. Mana Arman suka berantakan dan mereka sering banget berantem kalau ada barang yang hilang. Soalnya udah campur aduk gitu. Jadinya gue pingin bikin sebuah rumah impian untuk keluarga gue. Biar nggak sempit-sempitan lagi.”

Aku sering tertegun oleh hal-hal sederhana yang Ananda ungkapkan padaku tentang sebuah impian. Dia memiliki banyak harapan sedangkan aku? Aku sudah terlalu menyia-nyiakan banyak hal dalam hidupku. Hanya saja, kadang aku berpikir, kenapa aku tak pernah merasa benar-benar menginginkan sesuatu selama ini?

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

5 comments