๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
TENTANG SAIRA
Gadis itu, dia adalah gadis paling nakal yang pernah kukenal
seumur hidupku. Dengan rambut hitam legam yang panjang tergerai, datang ke
sekolah dengan langkah kaki bak preman. Meski pun keseluruhan penampilannya
terkesan feminin, tapi sifatnya sudah seperti anak lelaki. Pertama kali
melihatnya, aku sudah menduga ia akan menjadi masalah besar dalam praktek magang
yang kulakukan di sekolah itu karena hampir setiap minggu Saira dipanggil ke ruang
konseling entah karena rajin membolos atau berkelahi.
“Jadi, katakan kenapa kamu berkelahi,” aku menatapnya
sungguh-sungguh tepat ke mata kirinya yang lebam karena dipukul.
Dengan cepat, Saira menunjuk siswa perempuan di sebelahnya
yang juga menderita lebam di pipi
kanannya. Mereka baru saja bergulat layaknya pe-sumo di tengah-tengah kelas.
“Gara-gara dia nih!” teriak Saira keras dan anak perempuan lainnya juga ikut
berteriak.
“Apaan sih lo?!” balasnya menepiskan telunjuk Saira dengan
kasar. “Elo tuh yang cari gara-gara sama gue!”
Benar-benar judul penelitian yang tepat ‘Kenakalan Remaja’,
pikirku sambil menghela nafas dan berdiri dari kursi.
“Sudah! Cukup kalian!” hardik Bu Tetty, guru konseling yang juga ikut menatar kedua siswi bermasalah
itu. “Besok ibu minta orang tua kalian hadir di sini, kalau tidak, jangan harap
kalian bisa masuk kelas!”
“Tapi, Bu...,” Saira tampak akan membantahnya.
“Tidak ada tapi-tapi, Saira!” bentak Bu Tetty keras sampai
keduanya tercekat, bahkan aku saja juga terkejut dengan kemarahan Bu Tetty.
“Sekarang, kalian boleh pulang. Jangan kembali tanpa orang tua kalian besok!”
Dengan lesu, mereka meninggalkan ruangan konseling.
Baru seminggu magang, aku sudah melihat banyak kelakuan aneh
dari siswa-siswa di sekolah itu. Meski pun begitu, mereka adalah bagian dari
penelitian yang kubuat untuk tesis mendapatkan gelar S2-ku. Masa-masa yang
sulit sekaligus menyenangkan.
“kamu pasti dibuat
pusing oleh kedua anak itu ‘kan?’ tanya Bu Tetty tidak lama setelah kedua gadis
itu pergi.
Bu Tetty adalah guru konseling yang pada saat itu menjadi
pembimbingku. Darinya aku belajar banyak bahwa menjadi guru SMA itu tidaklah
mudah. Ya, karena itulah aku tidak berniat menjadi seorang guru walaupun pada
akhirnya aku harus magang di salah satu SMA swasta di Jakarta sedangkan aku menempuh
pendidikan ilmu psikologi di negeri orang, Australia. Kenapa aku memilih negara
asalku sebagai tempat penelitian? Tentu karena kondisi sosial ekonomi Indonesia
yang sangat memprihatinkan adalah subjek yang menarik. Lebih spesifik lagi aku
memilih sekolah itu karena aku juga pernah bersekolah di sana selama satu tahun
sebelum ayahku yang seorang diplomat dipindahkan ke Canberra.
“Mereka memang seperti itu,” kata Bu Tetty lagi. “Kamu harus
sabar dengan mereka....”
“Saya juga seperti itu dulu, Bu Tetty,” balasku.
“Ya, walau bagaimana pun, kenakalan anak perempuan berbeda
dengan anak lelaki.”
Bu Tetty memang benar. Perbedaannya sangat mencolok. Jaman
sekarang, kalau anak lelaki suka sekali tauran, anak perempuan tak jarang
terlibat dengan prostitusi. Dan semua itu tidak pernah jauh dari sebab ingin
gagah-gagahan atau gaya hidup. Tapi, di sekolah yang reputasinya cukup baik
itu, hampir tidak ditemukan masalah-masalah tadi, hanya keberadaan sebuah
komunitas yang katanya sangat berpengaruh terhadap murid lain. Itu dia, sebuah
perkumpulan para gadis yang dipimpin oleh Saira.
Kalau di luar negeri, ada Sorrority atau yang terkenal pada
masa sekarang adalah Taylor’s Squad. Tapi, pada jaman itu, para gadis
menyebutnya ‘Saira’s Squad’. Geng itu sangat terkenal seantero sekolah. Dipimpin
oleh seorang gadis. Memang Saira diberkahi bentuk fisik yang cantik. Rambut
panjang bergelombang nan hitam bak ebony, tubuh tinngi dan ramping dengan kulit kuning langsat. Ke sekolah, dia
senang sekali memakai baju mengepas badan dan karena pelanggaran itu, ia sering
menjadi langganan Bu Tetty untuk dipanggil.
Lawan berat Saira di sekolah adalah Magisa Sunariya yang
dipanggil Gigi oleh teman-temannya. Gigi termasuk murid yang berpengaruh juga karena tergabung dalam klub mading.
Kemampuan jurnalis Gigi memang bagus dan prestisius. Jika Saira terlihat angkuh
dan glamor serta berkharisma bagi teman-temannya, Gigi cenderung pendiam dan
memendam. Sosoknya yang berkaca mata itu bahkan sering di bully oleh teman-temannya.
Namun, karena suatu permasalahan konflik antara Saira dan Gigi tiba-tiba
memanas, bahkan sampai anak-anak lain terpengaruh.
Sebenarnya ini bukan kisahku, tapi kisah seorang gadis
broken home yang tidak pernah menuntut keadilan atas apa yang terjadi padanya.
Tapi, bagaimana ia mampu mengatasi
permasalahan di masa remajanya yang sulit pada masa itu dengan Saira’s
Squad-nya yang fenomenal. Aku menulis tentangnya dalam penelitian itu. Berkat
Saira aku berhasil. Namun, tidak dengan hubungan kami.
Dari sinilah, kisah tentang Saira dimulai...
***
Sebuah mobil sedan Eropa berwarna hitam berhenti di depan
gerbang sekolah. Tak lama, Saira turun dari sana dengan menyandang ranselnya. Seperti
biasanya dia berjalan dengan wajah suram tampak mengutuk pagi. Itulah pertama
kali aku melihatnya.
Walau tampangnya selalu kusut saat ke sekolah, semua gadis
menginginkan kehidupannya. Berasal dari keluarga kaya, cantik, digilai dan
menjadi model majalah juga. Meski pun prestasi akademisnya tidak sebanding
dengan karir modelingnya, Saira diramalkan akan menjadi terkenal tapi tak ada
orang atau mesin apapun yang dapat menebak dengan pasti kehidupan seseorang.
Hidup Saira pun seperti itu.
“Ayo jelaskan kenapa kalian ribut,” suara Bu Tetty terdengar
keras sampai aku ingin mengintip untuk tahu siapa yang kali ini duduk di kursi
panas ruang konseling SMA Jaya Nusa.
Ada dua orang siswi perempuan yang saling memandang sinis.
Yang satu seorang gadis berkaca mata dan satu lagi adalah Saira, gadis yang
pernah kuperhatikan tanpa sengaja beberapa hari lalu. Saat itu, Saira’s Squad
belum terbentuk dan perserteruan hari itulah yang melatarbelakanginya.
Beberapa hari lalu sekolah dihebohkan dengan berita tentang
Saira di mading sekolah. Seseorang memajang fotonya tengah bersama pria asing
dengan tulisan ‘jalang’. Melihat itu, Saira kabarnya mengamuk di klub mading
sekolah sehingga ia harus berhadapan dengan Gigi. Karena perseteruan itulah
mereka akhirnya dipanggil ke ruang BK untuk disidang.
“Saya benar-benar lihat sendiri, Bu, kalau nggak dari mana saya
dapat foto itu?” Gigi membela dirinya bahwa apa yang dia lakukan –memajang foto
Saira dengan lelaki hidung belang itu adalah benar. Dia tampak ingin menghakimi
Saira yang cuma tertawa kecil menahan kesal. Dari keterangannya, Gigi
benar-benar serius meminta sekolah untuk mengusut kasus ‘prostitusi’ yang
menyeret Saira karena menurutnya Saira telah merusak citra sekolah.
Sementara itu Saira sendiri belum berkomentar. Memang, kalau
dilihat dari fotonya, Saira terlihat duduk di pangkuan pria itu. Mungkin karena
itulah selama Gigi menjelaskan, ia nyaris tidak bicara untuk membela dirinya
“Saira, apa maksudnya ini?” Bu Tetty bertanya padanya dengan
selembar foto barang bukti di tangannya. “Ini sangat memalukan! Kalau menjadi
model membuat kamu harus seperti ini lebih baik tidak usah dilanjutkan!”
“Seperti apa, Bu?” tanya Saira, terdengar tenang. Namun
dengan serius, ia membalas tatapan Bu Tetty yang gusar. “Jalang?”
“Stop!” jerit Bu Tetty benar-benar naik pitam, lalu melempar
foto itu ke atas meja. “Ini benar-benar sudah keterlaluan, Saira!”
“Aku sama sekali nggak ngerti,” kata Saira, masih berusaha
tenang namun belum berkurang intensitas senyum sinis di bibirnya. “Memangnya
uang jajanku kurang sampai aku harus jual diri?”
Bu Tetty mengambil foto itu lagi dan memperlihatkannya
sambil menunjuk-nunjuk gambar itu. “Lalu ini apa?!”
“Kalau aku bilang yang sebenarnya Ibu mau percaya?” balas
Saira, barulah nada suara itu gemetar. Ia melirik Gigi di sampingnya, hendak
melampiaskan kekesalan seolah ia benar-benar dituduh. Ia kemudian berdiri dan
tampak ingin pergi. “Nggak kan?”
“Saira!” hardik Bu Tetty melihat Saira sudah membalikan
badannya. “Ibu belum selesai!”
Tapi, Saira tetap berlalu. Dikeluarkan dari sekolah pun,
mungkin dia sudah tidak peduli. Dengan popularitas dan karir modelingnya, dia
akan menjadi lebih dari seseorang yang sekolah dengan benar. Namun, sepertinya
kejadian itu benar-benar memberi pukulan yang telak baginya.
Tersebarnya foto itu, membuat popularitasnya menurun. Ia
bukan lagi impian gadis-gadis. Kampanye untuk mengasah bakat ketimbang menempuh
jalan pintas pun mulai digadang-gadangkan oleh klub mading Gigi yang naik daun.
Mereka mulai memasang selebaran-selebaran kreatif untuk menghimbau anak
perempuan jangan terjerumus ke dalam dunia hitam seperti Saira yang nama besar
keluarganya sudah tercoreng.
Meski pun dianggap melakukan pelanggaran berat, Saira tidak
dikeluarkan. Karena keluarganya adalah donatur terbesar sekolah. Jadi kepsek
pun akan pikir panjang mengeluarkan Saira secara tidak hormat. Tapi, bagi Saira
bukan itu masalahnya. Aku adalah orang pertama yang tahu bahwa menghadapi
reputasinya yang jelek secara mendadak, Saira sangat terpukul. Hanya saja tidak
semua orang yang pernah melihatnya menangis seorang diri karena ketidakadilan
yang dia terima.
***
Aku melihatnya –bagaimana saat Ibunya yang malu sekali
datang ke sekolah dipanggil. Seorang wanita kantoran yang sepertinya sibuk
sekali. Seringkali telepon genggamnya berbunyi dan ia harus mengangkatnya.
“Maaf mengganggu, Bu Sastri,” kata Bu Tetty, terlihat amat
segan saat wanita itu baru saja menutup sebuah telpon penting tentang rapat
yang sepertinya harus ia hadiri segera.
“Ah, nggak apa-apa, Bu...,” balas wanita itu. “Saya
benar-benar repot hari ini. Tapi, mengenai anak saya... tolong, beri dia
kesempatan sekali lagi. Memang, Saira susah sekali untuk dinasehati. Apalagi
sejak saya dan Papa-nya bercerai. Saira semakin tidak terkendali....”
“Saya mengerti, Bu. Masalah ini akan terus ditelusuri.
Karena saya masih kurang yakin Saira berbuat seperti itu,” jelas Bu Tetty lagi.
“Sampai sekarang, Saira tidak pernah mau cerita tentang apa yang ia alami....”
“Saya mohon bantuannya, Bu Tetty. Dia nggak pernah mau
dengerin saya. Saya sendiri juga bingung harus menasehati dia dengan cara
bagaimana,” kata wanita itu buru-buru. Tampak sudah mau pergi.
Sementara itu Saira masih di luar, menunggu ibunya keluar
dari ruang BK. Ia tampak termenung sampai kemudian sang ibu muncul dalam
keadaan marah.
“Mama nggak ngerti sama kamu, Saira! Mama izinin kamu
modeling supaya kamu punya kegiatan yang positif di luar sekolah. Nggak
keluyuran, nggak aneh-aneh!” katanya
menyemprot Saira yang hanya memalingkan wajahnya dengan sedih. Tapi,
sang ibu menganggapnya seperti sebuah perlawanan karena tak kunjung mau
menatapnya. “Lihat Mama, Saira!”
Saira menoleh, memandang ibunya ogah-ogahan tanpa bicara.
“Mama malu banget, tahu?!” teriak Mama-nya lagi. “Kamu masih
diberi kesempatan sekolah di sini karena mereka masih memandang Mama, kamu
ngerti?! Jangan sampai kamu bikin ulah lagi!”
Saira masih tidak menjawab. Saat sang ibu pergi, ia hanya
menatap dengan kosong. Lalu setetes air mata mengalir dari sepasang mata yang
berkaca itu.
Hari setelah orang tuanya dipanggil, sekolah kembali
dihebohkan dengan kelakuannya yang lain. Saira merusak mading dengan
menyempotkan cat yang bertuliskan ‘Mading Tukang Fitnah’. Kemudian mereka
berdua kembali terpanggil ke ruang Bu Tetty. Saat Gigi berusaha membela
dirinya, Saira malah diam saja.
Walaupun semua memojokannya, aku tahu pasti ada sesuatu yang
dia sembunyikan dari semua orang. Tapi, kenapa dia tidak berkata jujur? Kalau
dia jujur, tentu keadaan menjadi terbalik. Lalu segala hal tentang Saira mulai
menjadi misteri.
Desas desus mulai berhembus. Semua fasilitas mewah yang ia
dapat dari keluarganya telah dicabut. Uang jajan pun dibatasi. Tapi, seolah
membuktikan kabar tentangnya tidak benar, Saira berhenti ikut kegiatan modeling
atau pemotretan segala macam. Hari-hari setelah itu, ia sering terlihat berjalan
kaki ke sekolah. Dia memotong rambut panjangnya menjadi sangat pendek, hingga
membuat orang-orang heran. Perubahan yang terjadi dalam dirinya sangat drastis.
Kebanyakan orang menyebutnya sedang menerima ‘hukuman’ tapi bagiku sesungguhnya
ia tengah membalas mereka yang memfitnahnya.
Bahkan saat Gigi memenangkan penghargaan Mading Terbaik
antar sekolah, Saira seolah tidak peduli. Dia tidak pernah terlihat mengambil
ancang-ancang menjatuhkan Gigi dari singgasananya seperti yang pernah Gigi
lakukan terhadapnya. Lalu apa yang dia lakukan?
***
Seru kka, kapan aktif lagi blognya hhe