[Epilog] SLEEPING UGLY - Baca Novel Romantis Remaja Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Epilog

Sebulan kemudian…

Kerumunan tampak besar dari kejauhan. Seperti pucuk-pucuk tanaman yang berkiblat ke matahari mereka mengarah ke papan pengumuman yang digandrungi beramai-ramai. Molly hafal sekali dengan suasana yang berdesakan itu. Sampai rasanya ia akan terinjak jika masuk ke dalamnya sehingga ia hanya berdiri saja dari kejauhan bersama Lara dan Yuna.

"Duh, yang udah lihat hasil nggak minggir-minggir juga. Malah mewek di depan situ", Lara menggerutu dengan bosan.

Sementara Molly dengan penuh harap bisa melihatnya sendiri. Ia hanya memandang jauh ke kerumunan itu dengan menyimpan keinginan untuk bisa menerobos ke sana. Tapi, nggak mungkin. Kata Yuna, biar Jonas yang melihatnya untuk semua karena hanya dia yang paling bisa bergabung dengan kerumunan walau harus sikut-sikutan sama anak-anak lain yang nggak mau ngalah maju ke depan.

"Lo pasti lulus, Mol", ujar Yuna sambil menggenggam bahunya dan Molly tersenyum walau ia semakin deg-degan.

"Kalau gue sih nggak peduli lulus atau nggak", kata Lara, cuek, "Gue mau kerja apa aja kalau cuma buat bertahan hidup"

"Nggak boleh gitu, Ra", ujar Yuna, sedikit sedih karena kayaknya Lara lagi-lagi patah semangat setelah patah hati lantaran Pak Heru sudah balikan dengan pacarnya yang dulu. Sejak ia melihat sendiri kencan mereka, sejak itu pula dia jadi pesimis lagi.

Lara tertunduk, "Gue nggak punya banyak pilihan, Yun…", katanya dengan murung, "Setelah ini gue mau langsung cari kerjaan. Rencananya sih gue mau pindah ke Jakarta, di sana banyak kerjaan buat gue"

"Ke Jakarta?", sembur Molly, "Kenapa harus ke Jakarta?"

"Di sini nama gue sama nama keluarga gue udah jelek banget", katanya, terdengar makin sedih, "Di sini… nggak ada yang mau menampung hidup gue lagi…"

Molly dan Yuna sama-sama diam. Mereka hanya bisa bersimpati sembari memeluknya untuk menunjukan mereka sayang sekali dengan sosok Lara yang jutek itu. Karena sebenarnya mereka kagum dengan sifatnya yang tegar sekalipun dunia ini menentangnya. "Masih ada kita, Ra…", ujar Yuna.

"Makasih… tapi jalan hidup kita udah masing-masing 'kan?", kata Lara, seketika menyeka air matanya yang menetes, "Habis ini, Molly mau kuliah di jurusan seni rupa. Lo juga katanya mau ke Korea 'kan? Gue bakal sendirian lagi…"

"Lo bisa main ke rumah gue, Ra", ujar Molly, sungguh-sungguh, "Atau kalau lo mau lo bisa nginap di rumah gue selama yang lo suka"

"Iya, Ra. Kan cuma selama gue pergi. Kalau gue udah balik kita ngumpul lagi, jalan bareng bertiga. Lo nggak perlu sedih", sambung Yuna.

Tangis Lara semakin menjadi, "Duh…", keluhnya sambil menarik nafas dalam-dalam, "Kalian emang sahabat terbaik yang pernah gue punya…"

"Heh! Heh!", tegur Jonas yang heran melihat mereka menangis satu sama lain, "Pada lebay banget sih nangis-nangis segala!"

Ketiganya segera menyeka air mata.

"Udah kayak orang yang ngucapin kata-kata terakhir. Kita cuma lulus SMA, bukan mau ikut wajib militer", katanya berkelakar, "Lagian ngapain pada nangis? Kalian semua lulus kok!"

Tangis itu seketika berubah menjadi tawa, "Beneran, Jo?!", seru Molly yang seketika menghampiri, "Gue lulus?!"

Jonas nyengir, sambil mengacungkan dua jarinya, "Suer deh!", katanya meyakinkan "Makanya nggak perlu pakai nangis-nangis segala! Mendngan sekarang…", ujarnya kemudian mengambil sesuatu dari ransel yang disandangnya. Sekaleng cat, "Taraaaaaa! Saatnya ngerayain kelulusan kita!"

Tiba-tiba Jonas menyemprot Yuna sampai cewek itu kaget karena lengannya juga kena.

"Iih!", jeritnya sebal, hendak memukul Jonas tapi cowok itu seketika ngabur.

Molly dan Lara ingin mengikuti mereka tapi tiba-tiba teringat akan sesuatu.

"Getta mana ya?", tanya Lara pada Molly yang langsung angkat bahu.

Tadi, Molly mencoba menelpon tapi nggak di angkat. Ia juga ragu Getta bakal datang ke sekolah karena dia sudah bisa memastikan sendiri kalau dia lulus. Bisa jadi peringkat sepuluh besar juga.

"Lo nggak nyariin dia, Mol?", tanya Lara lagi.

Molly diam. Sejak tadi, ia belum melihat Getta. Cowok itu seolah nggak ada di sekolah ini. Walau ia sudah lama tahu Getta memang suka menyendiri. Tapi, di hari kelulusan seperti ini… apa mungkin dia ke sana lagi?

"Samperin sana", kata Lara mengingatkan, sebelum ia mengejar Jonas dan Yuna.

***

Dua tahun. Getta mengenang waktu selama itu dari gemerisik daun menenangkan yang seringkali membuatnya tertidur. Terlupa pada semua kewajiban atau beban yang hinggap di pundaknya. Tapi, sebenarnya tidur adalah cara lain agar kita dapat tenang sejenak. Rasanya, mungkin ia akan merindukan saat-saat ia mencuri waktu untuk terlelap di saat teman-temannya belajar sedangkan ia nggak tahu mengapa ia nggak suka lagi belajar.

Namun, bila dibandingkan dengan saat jadi murid teladan, rasanya menjadi pembolos terasa lebih menyenangkan. Karena ia bebas untuk memilih ke jalan mana ia akan melangkah. Meski banyak kerikilnya.

Dari sini ia bisa mendengar suara-suara gembira. Ya, ini hari kelulusan. Hari yang identic dengan coret-coret baju dan konvoi dengan motor. Ah, jadi teringat saat seragamnya masih biru putih. Teringat pula ia pada cinta pertama di depan mata yang nggak pernah tergapai. Tapi kelulusan tiga tahun berikutnya belum tentu terlalu terlambat. Setelah ia mengucapkan selamat tinggal pada tangga darurat ini, ia mungkin akan menemui Molly walau ia sendiri ragu. Entah karena malu atau belum punya kata-kata yang tepat.

Rasanya perasaannya sudah jelas bagi siapa pun terlebih Molly tanpa butuh kata-kata. Namun, kata 'suka' pasti adalah sesuatu yang paling dinanti oleh seorang cewek dari cowok yang dia suka. Ah, Getta mulai gelisah memikirkan bagaimana setelah ini. namun, karena ini kesempatan paling bagus sebelum mereka nggak ketemu lagi, maka ia harus pergi sekarang juga dan mencarinya!

Namun, seperti dihadiahkan dalam hari kelulusan sebagai prestasi berharga, Molly tiba-tiba sudah berada di sana, di belakangnya dan entah berapa lama ia berdiri di sana.

Seragamnya sudah berwarna warni. Habis ditanda tangani seperti pakta integritas lulusan SMA yang wajib. Bahkan catnya sampai ke rambut. "Aku dikerjain Jonas…", katanya menjelaskan soal rambut yang ikut berwarna pink dan kuning itu.

Getta mengernyit, "Jonas?", ia heran, kenapa Jonas jadi tega mengerjai sampai seperti itu? bikin Getta jadi geram sendiri, kalau nanti dia ketemu Jonas ia juga akan membalasnya.

Tapi, Molly kemudian tertawa, "Yuna sama Lara juga rambutnya dicat", kata dia, kemudian, "Kamu nggak ikutan coret-coret?"

Getta menggeleng. Ia masih merasa gelisah. Lagipula sepertinya nggak tertarik untu dicoret-coret. Beda sekali dengan Molly yang kayaknya girang sekali karena ada banyak teman yang sudah tanda tangan di bajunya. Ada hal yang lebih penting dari corat-coret nggak jelas itu. Selain buang-buang uang untuk beli cat, kalau seragamnya masih bagus bisa disumbangkan ke orang yang tidak mampu. Tapi, sepertinya baju itu memang cocok untuk dicoret karena sudah tradisi walaupun agak meresahkan.

"Kamu nggak mau tanda tangan di baju aku?", tanya Molly padanya, masih tampak semangat menggebu-gebu itu di matanya. Beda sekali dengan saat ia terlihat merana karena beberapa orang mengerjainya.

Getta sempat tertawa lirih, "Jadi kebalikan ya sekarang?", balas Getta dan seketika Molly heran, "Giliran kamu yang minta tangan"

"Semua teman sekelas aku udah tanda tangan", katanya, "Kamu belum"

"Tapi, kita nggak sekelas, Mol", Getta mengingatkan, "Apa pentingnya tanda tangan aku di baju kamu?"

Molly pun terdiam. Tiba-tiba bingung dan dengan polosnya ia pasang tampang sedang berpikir. Lalu nyengir sendiri, "Iya juga ya…", balasnya, lalu tertawa-tawa. "Kamu ngapain di sini? Yang lain nanyain kamu, tau?"

Getta nggak menjawab. Dari tadi ia hanya mengamati wajah dan tingkah Molly yang polos dan lugu. Rasanya tersihir untuk terus memandang ke wajahnya untuk tahu bagaimana caranya menatap, tersenyum dan bicara kepadanya. Semua yang ia bisa simpulkan dari suara riang itu hanyalah keceriaan, beda sekali dengan Molly yang dulu yang pernah ia kenal. Tapi, Molly yang sekarang kelihatan sudah jauh lebih baik. Ia nggak tahu bahwa saat ini Getta begitu berdebar.

"Yuk!", ajak Molly agar mereka segera pergi dari sana dan bersenang-senang.

Getta menggeleng. Ia tampak nggak ingin ke mana-mana.

Molly mengerutkan dahi, heran lagi kenapa Getta malah murung di hari sebahagia ini.

Lalu handphone-nya tiba-tiba berbunyi. Molly kembali mengabaikan Getta yang tampak ingin bicara tapi terpaksa menelannya kembali karena Molly harus mengangkatnya. "Lara!", serunya saat membaca nama di layar handphone-nya.

"Ya?", sahutnya, sementara waktu ia alihkan wajah lugunya dari Getta, "Iya, iya, gue ke sana ya…"

Hanya sebentar, untunglah, pikir Getta saat Molly kembali menyimpan handphone-nya. Tapi, ia tampak ingin segera pergi, "Yuk!", ajaknya sekali lagi, mulai kehilangan keceriaan karena seketika itu juga Getta menggeleng.

Molly jadi semakin bingung, saat menatap Getta yang nggak berhenti memandangnya. Sampai ia sadar bahwa Getta juga nggak menginginkan Molly pergi darinya. Lebih-lebih setelah Getta meraih tangannya, dan menunjukan bahwa ia ingin Molly tetap tinggal sekali pun yang lain bakal marah karena belum memunculkan diri sejak pagi. Ia mengajak Molly mendekat kepadanya selagi Molly ikut-ikutan deg-degan dan sudah pasti grogi. Sudah lama mereka nggak sedekat ini.

"Aku nggak mau coret-coret baju, juga nggak mau tanda tangan…", jelas Getta semakin membawa Molly ke dekatnya agar suaranya yang pelan bisa terdengar jelas.

Molly tampak menunggu, tentu dengan wajah yang tercengang dengan polos kepada sosok Getta yang juga sudah jauh berbeda dari yang dulu.

"Aku cuma mau kamu di sini", tegas Getta, mempererat genggaman tangannya, "Karena aku nggak mau kehilangan kamu lagi saat aku senang-senang sendiri tapi kamu malah sedih…"

"Get, aku nggak sedih kok…", ujar Molly.

"Ya, karena sekarang adalah kebalikannya. Justru aku yang sedih di saat kamu senang", kata Getta lagi, sambil memandangi tangannya yang menggenggam tangan Molly.

"Kenapa?", tanya cewek itu masih dengan wajah yang tak berubah.

"Karena aku belum bilang kalau aku sayang sama kamu", Getta mengatakannya dengan cepat, "Aku nggak mau seperti waktu itu lagi… aku nggak mau menunggu lebih lama lagi hanya untuk bilang kalau aku suka sama kamu… karena kita udah bukan anak kecil lagi…"

Nggak tahu harus membalasnya dengan apa, Molly hanya terpana, "Getta…", bibirnya gemetar, selagi lututnya lemas! Mendadak ingin jatuh, tapi karena Getta masih menggenggam tangannya, ia tetap berdiri. Ingin tertawa dan menangis di saat bersamaan.

Tiba-tiba Getta melepaskan tangannya. Karena tangan itu   kemudian membelai pipinya lembut.

"Aku nggak butuh jawaban iya atau enggak", kata Getta lagi, mulai terdengar seperti berbisik saat ia dekatkan wajahnya, "Karena aku tahu kamu nggak bakalan nolak aku…"

Molly hanya menatap beberapa saat sebelum dengan berani ia pejamkan matanya menerima sentuhan di bibirnya. Sudah pernah ia rasakan ciuman ini sebelumnya tapi tentu nggak seindah ini. Di dalam gemerisik daun dan di hari yang paling bahagia sedunia, mengukir kisah cinta yang bukan lagi sekedar cinta monyet. Dengan perasaan yang memiliki dengan penuh setiap  bagian dari dirinya yang tersentuh oleh cinta.

"Aku juga sayang kamu, Getta", kata Molly, setelah ciuman jadian itu dan sambil tertawa Getta meraihnya untuk benar-benar dapat memeluknya. "Aku sayaaang banget…"

***

Kata orang setiap pasangan yang pada awalnya mendapat banyak rintangan, pada akhirnya bisa bahagia jika benar-benar berusaha. Seperti Molly dan Getta misalnya, setelah si nenek sihir itu ke Austria, sekarang mereka bisa bahagia lagi, bahkan jauh lebih bahagia dari yang sebelumnya.

Lara mengelus dada dengan perasaan terharu. Andai ia juga bisa bahagia seperti mereka yang cintanya sedang berbunga-bunga. Masih terbayang tangisan Molly gara-gara Getta yang plin-plan. Sekarang, dengan bebasnya mereka berdua berpelukan saling merangkul satu sama lain, ciuman juga. Semua itu juga adalah hal yang begitu Lara rindukan. Tapi, karena merasakannya lebih cepat, maka ia juga kehilangannya dengan cepat. Sekarang, ia hanya bisa berbahagia dengan menyaksikan teman-temannya lagi kasmaran.

Niatnya datang sebenarnya hanya untuk menyusul Molly yang mencari Getta. Tapi, ia lupa bahwa sebenarnya mereka sudah lama butuh waktu berdua saja untuk mengungkapkan perasaan. Walau bukan pertama kali melihat mereka ciuman, tapi sepertinya kali ini Lara akan merusak suasananya. Jadi dia berbalik, dengan seragam warna-warninya, berniat ingin kembali ke Yuna dan Jonas yang pasti tengah asyik menebar tanda tangan.

Tapi, dua orang itu juga sibuk. Jelas saja, walaupun nggak seperti Molly dan Getta yang berpagutan seolah nggak ingin lepas dengan banyak animasi love love di atas kepala, toh mereka juga udah nggak malu-malu lagi. Walau cuma bermain kayak anak kecil dengan senjata cat semprot, mereka itu… ternyata romantis juga. Lara agak lega, senang Jonas sudah nggak lagi memikirkan patah hati gara-gara dirinya. Sayang juga kalau mereka diganggu. Sehingga Lara memutuskan untuk pulang. Dia nggak punya teman selain mereka untuk berbagi kebahagiaan ini.

Rencananya sudah di depan mata. Pertama, ia harus pulang. Di rumah semua barang-barang penting sudah dikemas dan Lara hanya menunggu waktunya pindah. Sebelum pulang, ia masuk ke toilet perempuan yang sepi itu untuk mengganti seragamnya dengan setelan baju biasa yang sudah ia siapkan di dalam tasnya. Lengkap dengan jaket bertudung untuk menutupi rambutnya yang lengkt oleh cat orange yang disemprotkan Jonas padanya.

Kembali, ia merasa sesak, saat menatap dirinya di cermin. Sambil berkata, 'Kamu sudah dewasa, nggak boleh nangis'. Tapi, tetap saja ia kemudian tertunduk karena nggak bisa menahan isakan yang sudah mendorong keluar dari dadanya. Setetes demi setetes air mata pecah di lantai keramik putih itu sementara ia berusaha untuk terus menghapusnya.

Sekolah ini, banyak kenangannya. Banyak hal yang belum ingin ia lepaskan. Walaupun, sebelum ini ia berusaha untuk lulus agar nggak berlama-lama jadi anak SMA demi pujaan hatinya. Tapi, mereka hanya manusia. Tiba-tiba di tengah jalan bisa berubah pikiran, bisa kembali ke jalan semula atau malah berbelok. Di ujung jalan yang ia tempuh saat ini, nggak ada siapa-siapa yang menantinya. Bahkan ujung jalan itu belum juga kelihatan dari sini. Lara hanya terus berjalan, seorang diri, sambil mengenang semua hal-hal yang pernah membahagiakannya.

Lara memasang tudung jaket menutupi rambutnya. Langkah dari kedua kaki panjangnya yang dibalut jeans hitam itu tampak gontai. Sambil menyandang tasnya, ia melangkah keluar gerbang sambil menghapus sisa air matanya di pipi lalu mulai mempercepat langkahnya. Ia ingin berlari, mengejar jalan di depan yang sepertinya panjang sekali.

Tapi, ternyata ia keliru. Jalan di depannya nggak sepanjang yang ia kira . Lagipula ternyata ada seseorang yang menunggu. Langkah gontai itu berhenti seketika, untuk mengamati baik-baik, siapa yang sengaja berdiri di persimpangan jalan itu.

"Lara!", namanya disebut selagi ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa bukan ilusi yang telah menyapanya.

Senyum seketika terukir dalam tangis pilu yang berubah haru dalam sesaat. Langkahnya yang gontai karena sedih sekarang berlari mengejar sosok itu. Dia telah menepati janjinya untuk menunggu saat sekolah nggak lagi menghalangi cinta mereka.

"Kenapa kamu nangis, Lara?", tanya mantan gurunya itu.

Lara kembali terisak sambil sesekali menghapus air matanya. Ia nggak bisa menjawabnya karena terlalu senang. Dan entah ini mimpi…

Pak Heru mendekat, untuk meraih puncak kepala Lara yang tertutup oleh tudung jaketnya. Untuk kemudian memeluk dengan rindu gadis yang dicintainya setelah selama ini hanya bisa memandang dari kejauhan dengan penuh harap, suatu hari mereka bisa mencintai seperti sepasang lelaki dan perempuan yang ditakdirkan memang untuk saling cinta. Lara pun menangis semakin keras, walau ia benci merengek, tapi, lagi-lagi ia nggak bisa berhenti melakukannya, sementara Pak Heru malah tertawa.

"Ayo, kita pergi", ajaknya setelah melepaskan Lara, lalu menggamit tangannya.

"Ke mana?", tanya Lara, matanya hampir sembab karena terlalu banyak menangis.

"Ke mana pun yang kamu suka", jawabnya.

***

"Nah, ini dia!", Jonas berseru begitu melihat Getta akhirnya muncul juga, "Lo dari mana aja sih?!"

Getta cuma nyengir. Lalu melirik Molly yang bersamanya, "Ribet banget hidup lo", komentarnya saat melihat bukan cuma bajunya aja yang habis dicat tapi sampai ke wajah juga dicoret pake spidol.

"Reseh lo! Gue ikon kelulusan, tau?! Mana ada yang berani nyoret muka pake spidol kayak gue?", celetuknya, "Jangan banyak komentar deh. Kita mau konvoi nih, lu ikut ya!"

"Sorry, mau konvoi pakai apaan? Gue nggak punya motor", katanya menolak.

"Temen gue ada tuh", ujar Jonas.

Getta kembali menggeleng. Sambil meraih tangan Molly, "Sorry, kita lebih baik naik bis aja",

Jonas hanya mengernyit. Ingin protes tapi apa boleh buat. Namanya juga baru jadian, pikirnya sambil melepas Getta dan Molly yang mulai berlari kea rah gerbang. "Ih, sok romantis..", gumamnya, sebal tiba-tiba saat melihat Getta melepas jaketnya untuk menutupi rambut Molly yang udah jelek itu.

"Molly ama Getta kok ngabur sih?", tanya Yuna yang baru datang. Penampilannya juga nggak kalah hancur dengan Jonas. Semuanya warna warni, wajahnya digambari dengan bunga-bunga warna pink. Tapi, karena dia cewek imut, entah kenapa kesannya jadi manis. Makanya banyak cowok suka sekali menggodanya.

"Mau pergi pacaran…", jawab Jonas yang tiba-tiba jadi murung. Pergi konvoi tanpa Getta pasti nggak asik. Tapi, dia tahu kok, kalau dari dulu Getta memang lebih ingin bersama Molly di hari sebahagia ini.

Nggak seperti tahun lalu di mana Chika menyabotase dan bikin Molly benar-benar tersingkir. Tapi, semua itu udah nggak ada gunannya diingat. Karena sekarang mereka bisa berlari bersama mengejar bis dan tertawa selama perjalanan ke mana saja di hari terakhir mereka bisa pakai seragam SMA.

Sleeping Ugly - end

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments:

  1. avatar LaLaLand says:

    Akhirnyaaa semua bahagia diakhir cerita. Agak ga ketebak sih endingnya bakal Kya gini, kirain Getta SM Molly mau dibikin cinta pertama yg gak berhasil, hehe. Sukaak deh ๐Ÿ˜