[Ch. 18] SLEEPING UGLY - Baca Novel Romantis Remaja Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Fajar di Kaki Bukit 

Nyanyian terdengar seirama dengan petikan gitar dari salah seorang teman sekelas cowok yang jago sekali. Dia duduk di barisan paling belakang dalam bus yang menuju perkemahan di puncak Bogor. Teman-teman yang lain mengikuti lagu Nobody’s Child yang seru itu sambil tertawa.

Tapi, ada yang mengobrol, ada yang sibuk mendengar musik lewat earphone, ada juga yang membaca buku. Dan nggak sedikit pula yang memilih tidur seperti Lara yang nyenyak di sebelahnya. Sedangkan Molly, asyik memperhatikan pemandangan di luar jendela bus yang beriringan dengan beberapa bus lainnya yang diisi oleh oleh anak kelas lain. Nggak seperti terakhir berkemah waktu SMP dulu, Molly suka sekali ketiduran sampai tiba di tujuan. Rasanya mulai sayang melewatkan banyak hal dalam perjalanan dengan tertidur.

Bus berhenti. Wali kelasnya –yang bukan Pak Heru lagi, melainkan seorang guru wanita yang sudah agak berumur, berdiri di depan, “Kalian sudah boleh turun, tapi pastikan nggak ada barang yang ketinggalan di bus, mengerti?”

“Ya, Bu!” seru mereka yang sebagian sudah nggak sabar untuk segera turun.

Molly menunggu giliran paling terakhir karena nggak ingi berdesakan. Lara, seperti biasanya selalu melabrak siapa saja yang menghalangi jalannya sehingga bisa turun lebih dulu. “Yuk, Mol!”, ajaknya tapi Molly menggeleng, dia harus mengambil tasnya yang berada di bagasi atas.

Molly pun menunggu sampai nggak ada yang menghalanginya berdiri di gang bus untuk menurunkan ranselnya yang berat. Ia membuka tutup bagasinya dengan perlahan, untuk memastikan tasnya itu nggak merosot turun dan menimpa kepalanya. Ia dengan sangat hati-hati membukanya, dan tas itu nggak meluncur, ia tetap ada di posisinya dan Molly tiba-tiba tertawa, sebelum ia menariknya keluar.

Ia sudah bisa menurunkan tas seberat itu sendiri.

Kenangan itu perlahan mulai kembali. Tempat yang sama. Suasana yang sama. Udaranya dingin dan sejuk. Mata yang sudah lama dijenuhkan oleh pemandangan kota sekarang dimanjakan dengan pemandangan hijau yang luas sekali. Untuk itulah di minggu-minggu tenang sebelum ujian akhir, sekolah mengadakan acara kemah.

Molly masuk ke barisan anak-anak di kelasnya sambil sesekali mencari seseorang di antara sekelompok barisan lain. Tapi, Getta nggak kelihatan.

Padahal Molly hanya nggak sadar, bahwa Getta tengah melihat ke arahnya dari sisi yang lain hingga peraturan kemah dibacakan oleh guru pembimbing. Kelompok mulai memecah dan mencari tempat masing-masing yang sudah ditetapkan untuk membuat tenda. Sebelum Maghrib tenda-tenda sudah berdiri dan anak-anak mulai menyiapkan kayu untuk membuat api unggun.

Malam pembukaan akan segera dimulai.

***

Molly bersin beberapa kali sejak ia duduk di sini. Hawa hangat yang berasal dari api unggun seolah nggak mempan bagi Molly yang terserang flu.

“Udah minum obat belum?”, tegur Lara yang duduk di sampingnya, saat semua mendengarkan pidato kepala sekolah di pembukaan kemah –panjaaaang banget dan sejak tadi sudah nggak terhitung berapa kali Molly harus bersin.

Molly mengangguk, menarik nafas lewat hidungnya yang tersumbat. Dan kedua tangannya yang dingin tersimpan di saku jaket tebalnya. Walaupun flu, masih untung ia nggak terserang demam.

Mereka pun sama-sama menyimak pidato itu sebelum acara makan malam bersama. Seperti biasa, setelah itu ada permainan yang dilakukan di sekitar api unggun. Permainan kuno seperti tebak-tebakan gaya dan pesan berantai. Yang salah dihukum menyanyi atau goyang-goyang. Ternyata panitia nggak bisa membuat acara yang lebih seru dan nggak bikin ngantuk.

Lara menguap. Molly melirik jam tangannya –baru jam setengah sembilan. Lara memang pemalas sih. Dia terkantuk-kantuk di atas lututnya yang terlipat selagi permainannya berlangsung. Dia tampak nggak berminat sama apapun yang ada di sekitarnya. Beda dengan Yuna yang kelewat percaya diri. Dengan berani dia disuruh  menari di depan api unggun.

Semua orang dibikin tertawa dengan goyangan ala SNSD yang terkenal dengan kaki-kaki cantik itu. Dari sekian banyak yang dihukum di depan cuma Yuna yang memberi hiburan sampai yang lain tertawa terpingkal-pingkal. Sampai-sampai dia diisengi oleh anak-anak cowok supaya terus-terusan dihukum dan menyanyi ke depan. Ujung-ujungnya semua jadi ikutan joged di depan, begitu ada yang memutar lagu dangdut. Jadilah malam itu semuanya menari, membentuk lingkaran, mengitari api unggun sambil menyanyi Seribu Alasan-nya Zaskia Gotik. Semua  asyik bergoyang dengan gaya masing-masing. Termasuk Molly yang tiba-tiba diajak oleh Yuna. Maju mundur dengan pantat meliuk-liuk dan jempol di depan atau kedua tangan di atas.

Begitu satu lagu selesai, anak lain memutar lagu berikutnya “We are one tonight and we’re breathing in the same air…so turn up the love, turn up the love, we’re turning up the love…”. Gerakan pun berubah saat lagu Far-East Movement mulai diputar. Ada yang mulai melompat-lompat membuat gerakan-gerakan aneh yang lucu. Ada yang break dance juga, goyang robot dan cacing kepanasan.

Molly nggak bisa mengikuti gerakannya. Yang ada dia cuma memandangi Yuna sambil tetawa lucu.

Tiba-tiba Yuna ditarik ke tengah-tengah oleh sekelompok anak cowok yang dikepalai Jonas. Mungkin karena goyangannya paling heboh juga percaya dirinya bikin suasana yang agak seram di kegelapan menjadi seru.

“Like pop pop pop pop pop! Drop low to the LO, VE gotta get more, so clap your hands, clap clap your hands, I got nothing to give but love” lagu semangat terdengar lewat pengeras suara yang sengaja di taruh di dekat pemutar musik agar terdengar jelas di antara kerumunan. “Turn it up, turned up you don’t hear me no, here’s love for your stereo, so clap your hands, clap clap your hands like pop pop pop pop!”

Molly seketika merasa tersesat. Ia nggak melihat jalan keluar dari kerumunan yang mengelilinginya. Ia juga nggak mendengar suara selain suara mereka yang tertawa. Sampai ia melihat Getta sudah berdiri di depannya. Tersenyum padanya.

Rupanya di sinilah dia, kata Molly. Matanya sudah mencari sosok tinggi dan atletis itu sejak turun dari bus. Dia seolah menghilang dan tiba-tiba muncul.

Cahaya oranye api unggun menyusup di celah-celah kerumunan, menerangi Getta yang terdiam di sana. Tapi, nggak bisa menyembunyikan bahwa ia merasa senang malam ini. Bibirnya tampak ingin mengatakan sesuatu saat ia membuat langkah pertamanya mendekati Molly yang membatu menunggunya.

“Hatsyiiii!!!”, tiba-tiba Molly bersin, membuat Getta kaget. Ia mulai sibuk menutupi hidung dan mulutnya selagi Getta mencoba mendekat lagi.

“Getta!!”, salah seorang anak cewek menjerit histeris. Diikuti beberapa temannya yang lain “Sini dong jogetnya!”

Molly sedang menyeka bekas bersinnya denga tisu saat Getta diseret!

Getta diseret oleh empat orang cewek yang membawanya menghilang dalam kerumunan!

Wow..., Molly pun melongo. Mereka cepat sekali menghilangnya. Lalu ia hanya menghela nafas panjang, mencari jalan sendirian untuk keluar dari lingkaran itu dengan sedikit kecewa. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Getta digandrungi cewek-cewek, mereka selalu ada di mana-mana menyantroni Getta yang kayaknya juga nggak pernah menolak –namanya juga cowok, katanya dalam hati sambil menghela nafas panjang.

Lara sudah nggak ada di tempat tadi ia meninggalkannya. Molly melihat ke sekitarnya, ia nggak melihat Lara. Ia beralih ke keramaian di depannya –orang-orang masih menari. Tapi, nggak mungkin Lara bergabung dengan mereka. Lara bukan tipe yang mau betingkah konyol seperti itu.

Oh, mungkin kembali ke tenda untuk melanjutkan tidur karena nggak ada lagi acara yang penting. Molly pun segera meninggalkan keramaian dan kembali ke tendanya.

Tapi, ternyata, di tenda nggak ada siapa-siapa. Molly sempat takut di dalam sendirian, tapi, di luar sana ia nggak lagi merasa betah. Hatinya jadi kacau dan ia memutuskan untuk berbaring karena matanya mulai berat. Mungkin ia sangat lelah, bisa jadi flu ini membuat tubuhnya jadi lemah. Mungkin karena tadi ia juga minum obat flu.

***

Udara dingin menusuk hidung Molly yang tersumbat. Ia bangkit karena mendengar suara-suara dari luar –adzan Shubuh. Ia pikir semua orang sudah keluar dari tenda dan beraktivitas. Tapi, teman-teman satu tendanya masih tertidur pulas berdesakan dalam kantong tidur mereka. Molly bangkit dan menggeliat. Ia menjadi orang pertama yang keluar dari tenda.

Dan alangkah kagetnya ia, saat menemukan fajar belum menyingising dari balik bukit. Molly baru melirik arlojinya. Jam empat pagi. Pantas semua orang masih tertidur apalagi semalam begitu melelahkan, pikirnya sambil  tetap melangkah meninggalkan tenda.

Pandangan matanya tertuju pada sungai yang berada nggak jauh dari area perkemahan. Ya, itu sungai yang sama tempat mereka bermain dulu dan Chika hanyut terbawa arus.

Molly berdiri di pinggir sungai, merenungi kenangan itu lagi. Ia nggak menyangka akan kembali lagi ke sini. Dan dari sini –tempat ia kini berdiri, ia memandangi Getta yang saat itu nggak jutek atau pendiam seperti sekarang.

“Kamu ngapain di sana?”, tegur seseorang yang membuat Molly seketika berbalik.

“Getta?”, Molly terkejut.

Getta mengenakan jaket tebal dan tampangnya kusut. Wajahnya agak pucat. Bisa jadi semalam dia nggak tidur karena kelihatannya dia juga capek.

“Kamu nggak tidur…”, tanya Molly.

“Aku nggak tahan dingin”, jawabnya, “Mana bisa tidur…”

Molly mengangguk-angguk mengerti, sebelum ia memandang lagi ke sungai.

“Waktu itu juga aku nggak tidur-tidur…”, kata Getta yang sekarang berdiri di sampingnya, “Aku sengaja bangunin Jonas supaya kita ngelakuin sesuatu”

“Oh ya?”

“Kita jalan-jalan di pagi buta gini...sampai nemu tempat yang bagus banget”, jelasnya, sambil melirik Molly, “Aku nggak tahu apa kamu masih ingat atau nggak, tapi waktu itu aku mau ngajakin kamu ke sana untuk lihat pemandangan. Tapi…kamu nggak pernah datang…”

“Getta, aku…”

“Aku tahu”, potong Getta sambil tertawa, “Chika kan?”

Molly diam.

“Ya, aku cuma nebak sih…”, katanya, “Tapi itu udah nggak penting lagi…udah lama banget kan?”

Molly masih diam. Dia mulai deg-degan setiap ada Getta di dekatnya. Seperti biasanya dan jika seperti ini terus apa jantungnya bisa kuat?

“Kamu…mau ke sana nggak?”, tanya Getta tiba-tiba, tersenyum.

Molly mengangguk pelan dengan senang hati. Lalu mengikuti langkah Getta yang berjalan di depannya. Setelah tiga tahun baru kali ini mereka berjalan beriringan seperti ini ke suatu tempat.

“Tempatnya agak susah sih”, kata Getta mengingatkan saat mereka mulai memasuki hutan yang megelilingi area perkemahan, “Harus nyebrang sungai, banyak batu-batunya, terus… jalannya juga naik turun…”

“Hatsyii!!”, Molly bersin. Ia yakin kondisinya sekarang nggak mengizinkan buat pergi sejauh itu, tapi…dia ingin sekali, karena Getta yang mengajak.

“Kamu demam?”, tanya Getta sambil kembali menghampiri dengan cemas.

“Aku juga nggak tahan dingin…”, akunya sambil menarik nafas dan menyeka wajahnya dengan lengan jaket.

“Ya udah kalau gitu kita balik aja…”, kata Getta, ia jadi cemas, bar u sadar kalau wajah Molly memutih –pucat.

“Nggak!”, kata Molly, “Aku mau ke sana”

“Iya, tapi…”

“Nggak apa-apa, Get. Aku bisa kok….”

Getta mulai ragu, “Nggak apa-apa?”, tanya dia lagi.

Molly menggeleng-geleng, “Nggak apa-apa kok”,ia berujar.

Getta pun tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Kali ini tanpa ragu Molly pun meraihnya. Tapi, ia urung! Ada sesuatu bergerak-gerak di belakang Getta dan membuat suara gemerisik!

Itu semak-semak yang bergerak-gerak!

Molly jadi ngeri.

Apa itu binatang?

“Get…”, Molly gemetaran, sambil mundur beberapa langkah, selagi Getta memastikan ada apa di balik semak-semak itu.

Getta juga sebenarnya cemas. Apalagi mataharinya belm terbit. Hutan masih gelap seperti malam, bisa saja…

“Hoaaaaaaa!!!”, sesosok manusia tiba-tiba melompat dari balik semak itu. Lalu terdengar suara jenaka yang bikin Getta yang kaget setengah mati langsung kesal.

Jonas! Lagi-lagi cowok reseh itu. Untung Molly nggak sampai pingsan dibuatnya.

“Lo berdua mau ke mana, hah?”, tanya dia mencurigai, lalu Yuna dan Lara juga ikut-ikutan muncul dari semak-semak itu. Ternyata mereka sembunyi di sana, dan sengaja bikin ulah!

“Pacaran ya?”, goda Yuna.

Getta jadi malu dan salah tingkah.Yang ada dia cuma garuk-garuk kepala. “Kalian juga ngapain sih?”, balasnya jutek.

“Kita mau jalan-jalan. Udah direncanain dari kemarin kok”, jelas Yuna “Kata Jonas dia tahu tempat yang ada pemandangan matahari terbitnya…”

“Lo mau ke sana juga, Get?”, tanya Jonas.

Getta mengangguk.

“Kalau direncanain dari kemarin, kok aku nggak diajak?”, tanya Molly yang jadi cemberut.

“Lo kan lagi sakit.”, ujar Lara padanya, “Ntar malah tambah parah lagi…”

“Kalian udah berapa lama sembunyi di semak-semak?”, tanya Getta masih kelihatan sebel sama kejadian barusan.

“Nggak lama sih…”, aku Jonas, “Kita dengar suara-suara orang ngomong gitu sampai Yuna jadi parno. Mana masih gelap gini lagi. Pas gue lihat, ternyata lo berdua lagi kasmaran. Gue pikir…lagi nyari tempat buat…”

Getta jadi tambah kesal, segera ia raih leher Jonas dan mencekiknya dengan sebelah lengannya, “Sialan lo ya….”

“Aduh, sakit! Sakit!”, seru Jonas sambil tertawa-tawa dan Getta melepaskannya.

“Udah ah! Lanjut jalannya!”, kata Lara, “Kalau masih di sini, nanti mataharinya keburu terbit!”

****

“Jadi ingat sama lagunya kartun Ninja Hattori”, kata Jonas sambil menengok ke belakang karena dia berjalan paling depan. “Mendaki gunung, lewat di lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman bertualang..”

Getta tertawa, melirik Molly di sampingnya.

“Hatsyii!”, cewek itu malah bersin lagi.

“Kamu nggak apa-apa?”, tegur Getta sengaja berhenti menunggu Molly melangkah lagi.

Molly menggeleng-geleng. Wajahnya pucat tapi ia masih saja tersenyum, “Aku bisa kok”, katanya, terdengar yakin meski nggak meyakinkan.

“Masih jauh lho”, Getta mengingatkan sambil menengok ke depan dan ketiga teman mereka sudah membuat jarak yang cukup jauh.

Molly masih menggeleng-geleng, tersenyum, “Aku bisa!”, katanya sambil mempercepat langkahnya, mendahului Getta sehingga ia pun hanya mengikutinya.

Dibandingkan dengan dulu, Molly memang sudah jauh berubah. Dia lebih ceria dan banyak tersenyum. Dia selalu riang dan bersemangat. Dan yang melegakan, dia sudah nggak malu-malu lagi saat bicara dengan Getta, malahan Getta yang jadi deg-degan karena Molly menatapnya begitu penuh perhatian. –dengan menatap langsung ke matanya. Seumur-umur mengenal Molly, ia merasa cewek itu adalah satu-satunya cewek pemalu yang pernah ia kenal.

Kenapa jadi terbalik?, pikirnya sambil mempercepat langkahnya menyusul Molly.

Jalan setapak yang menanjak, membuat gerak mereka melambat karena melelahkan. Bebatuan yang tertanam di dalam tanah beberapa kali membuat langkahnya tersandung. Kalau Jonas yang berada paling depan tiba-tiba berguling, maka yang lain pun ikut menggelinding ke bawah karena tanjakan yang lumayan tinggi. Tapi, tampaknya Jonas kelihatan sangat hati-hati, ia menopang setiap langkah kakinya dengan sebatang ranting kayu yang kuat. Untuk membantu Yuna dan Lara yang nggak bisa naik, di setiap tanjakan yang tinggi.

Dari satu undakan ke undakan yang lebih tinggi, langkah Molly terhenti. Berkali-kali, ia mengatur nafasnya, bersin juga, tapi ia merasa yakin bahwa mereka akan sampai di tempat yang ingin mereka lihat bersama.

Hampir satu jam lamanya berjalan, matahari akan segera datang. Mereka sudah tak sabar inin menjamu kedatangannya walau hanya dengan rambut kusut, wajah yang lelah dan mata sembab yang kurang tidur.  Maka satu langkah terakhir hingga akhirnya mereka menginjak ketinggian, satu tarikan nafas panjang, membuat mereka puas pada langit kemerahan di mana matahari mulai menyingsing dari balik bukit. Perlahan terang mulai mengisi dunia mereka, menghalau kegelapan lewat bias kekuningan yang lama-lama memudar.

Itu adalah hal terindah yang pernah mereka lihat. Hingga Jonas merentangkan tangannya sambil berseru puas. Teman-temannya melirik sambil tertawa padanya, dengan perasaan yang puas juga. Sedangkan Molly memandang Getta di sampingnya, nggak percaya bahwa ia melihat hari yang indah ini dimulai bersama orang yang disukainya. Sosok Getta yang menyamping dan lebih dewasa itu membuatnya haru. Tentu, selama ini mereka hanya anak kecil yang tahunya hanya cinta monyet. Sekarang mereka hampir meninggalkan masa-masa remaja yang penuh warna-warni ini.

Tiba-tiba saja, Molly tertegun. Ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh tangannya yang gemetaran oleh dinginnya pagi perbukitan. Tahu bahwa hanyalah genggaman Getta, membuat rona pipinya semakin merah dan jantungnya yang sudah mulai tenang kembali berlomba.

Hanya itu yang bisa Getta lakukan saat ini. Walau ia ingin mengutarakan perasaan yang seperti mau meledak jika ia nggak mengatakannya sekarang, dengan momen yang pas pula saat matahari terbit. Tapi, hadirnya anak-anak reseh ini bakal membuat Molly menunggu lebih lama. Habisnya, sekembalinya dari sini, mereka akan sangat sibuk.

Namun, kali ini Getta nggak takut akan kehilangan. Karena ia pastikan itu nggak akan terjadi lagi. Tidak untuk yang kedua kali.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments: