[Ch. 17] SLEEPING UGLY - Baca Novel Romantis Remaja Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Another Last Year

Tahun ketiga…

“Ini gambar apa?”, tanya Papa sambil menelisik salah satu lembaran kertas di bawah tumpukan buku sketsa Molly.

Molly menoleh sebentar sebelum ia kembali menggoreskan krayonnya di atas gambar yang sedang ia selesaikan. Tiba-tiba bel pintu berbunyi.

Mama dengan cepat segera berdiri dari kursinya untuk membukakan pintu.

“Itu gambar padang rumput, Pa”, jelas Molly, “Aku suka sama gambar padang rumput”

“Kenapa padang rumput?”

Molly mengangkat bahu, “Aku cuma sering lihat dalam mimpi dan itu bagus…”, katanya.

Mama kembali saat mereka sedang membicarakan soal beberapa gambar lain dalam buku sketsa Molly. “Molly, di depan ada Chika”, katanya, pada Molly yang langsung terkejut.

Tentu. Sejak menjenguknya di rumah sakit Molly nggak pernah lagi bertemu Chika disengaja atau nggak disengaja. Kira-kira gimana keadaannya sekarang?

“Sama Papa-nya…”, sambung Mama sambil mengikuti Molly ke ruang depan untuk menghampiri Chika.

Ya, Chika masih duduk di kursi roda. Mungkin karena itu ia harus ditemani ke mana-mana oleh Papa-nya.

Molly tertegun. Ia nggak tahu bagaimana menyapa Chika. Rasanya canggung, walaupun ketika melihatnya Chika tersenyum –ramah dan bersahabat.

“Hai, Mol…”, sapa dia dengan ramah, sedikit melambaikan tangannya, “Apa kabar?”

Molly berusaha tersenyum. “Ba…baik…”. Yah, walaupun jadi kelihatan ganjil, karena wajahnya jadi tegang. Untuk apa Chika datang ke sini?

Mama pergi ke dapur membuatkan minuman sedangkan Papa ikut bergabung di sofa.

Papa Chika juga kelihatan ramah dan senyum selalu menghiasi wajahnya sampai Papa duduk di depannya. “Maaf mengganggu sebentar, Pak…”, ia memulai, “Maksud dan tujuan kami datang kemari adalah untuk membeli piano yang dititipkan di Rumah Piano”

“Piano?”, Papa mengernyit, lalu melirik Molly yang masih berdiri di ambang pintu ruang tengah.

“Ya…piano yang dititipkan di Rumah Piano. Pak Sudjana bilang piano itu nggak pernah diambil sama pemiliknya jadi… kalau ingin membeli saya harus bicara langsung dengan pemiliknya. Saya nggak menyangka kalau pemiliknya Mama-nya Molly”, jelasnya.

Mama yang baru kembali dari dapur ternyata mendengarnya. Ia sempat terkejut, sebelum ia tersenyum menghampiri untuk menaruh teh-nya di atas meja. “Piano?”, dia bertanya, sambil melirik Papa, “Piano itu memangnya masih disimpan sama Pak Sudjana? Bukannya dulu itu rusaknya parah sekali?”

Oh iya, Molly jadi ingat cerita Papa dulu. Kalau nggak salah, Mama merusaknya karena depresi! Ternyata piano itu dititipkan Papa di Rumah Piano untuk diperbaiki! Ya, Rumah Piano tempat Richard mengajaknya dulu! Kenapa bisa kebetulan ya?

“Suaranya bagus kok, Tante!”, Chika menyela, “Aku udah pernah coba mainin di sana!”

“Oh ya?”, Mama kelihatan nggak percaya.

Sementara Papa terus memandangi Mama yang nggak keberatan membicarakan sesuatu yang dulu pernah membuatnya cepat tersinggung dan tertekan.

“Tapi, kata Bapak itu pianonya nggak dijual karena barang titipan…”, jelas Chika.

“Iya, Pak, Buk…”, ayahnya membenarkan, “Tapi, saya sudah janji sama Chika kalau dia lolos audisi saya akan belikan piano yang itu sebagai hadiah”

Hah? Chika menang audisi piano itu? Molly meliriknya. Dibandingkan dengan saat dia di rumah sakit dulu, Chika sepertinya sudah kembali jadi Chika yang sebenarnya. Tersenyum percaya diri dan yakin dia adalah segalanya. Tapi, Molly lega. Nggak ada kemarahan atau kebencian lagi di antara mereka.

“Jadi lo menang…?”, tanya Molly ragu-ragu tapi ia senang mendengarnya. Paling nggak yang menang itu bukan Rizna atau Nandia.

Sementara itu Papa Chika dan Mama Molly sedang negosiasi soal harga piano di dalam. Karena Mama setuju untuk melepas piano itu karena nggak akan ada lagi yang bisa memainkannya di rumah ini. Karena Molly juga sudah memilih jalannya sendiri.

Chika mengangguk, sama-sama menghadap jalan raya di depan rumah yang ramai dilewati orang yang mau jalan-jalan di hari minggu yang cerah seperti ini. Rasanya Molly juga ingin keluar menikmatinya seperti mereka yang pergi ke pantai. Berenang, di cuaca sepanas ini pasti menyenangkan. “Begitu lulus SMA, gue bakal sekolah musik di Austria”, jelasnya, “Bokap gue udah siapin semuanya”

“Oh ya?”, Molly pun ikut senang. Entah mengapa, melihat Chika begitu bahagia menceritakan masa depannya seolah ia punya petunjuk.

Tiba-tiba dia menghela nafas, “Yah…walaupun Nyokap sama Bokap harus cerai…”, katanya, terdengar sedih, “Tapi, udahlah… mereka udah ketemu sama kebahagiaan masing-masing…”

“Jadi lo tinggal sama Bokap?”, tanya Molly.

Chika mengangguk-angguk, “Sekarang…”, jawabnya, “Bisa aja nanti gue ke tempat Mama, tinggal beberapa bulan, terus ke Papa, yah…gitu deh seterusnya… dua-duanya tetap ortu gue kok…”

“Lo udah nggak apa-apa, Chik?”

“Gue nggak apa-apa”, jawabnya sambil menoleh ke Molly sambil tersenyum lebar, “Lebih baik memang pisah, daripada menderita terus-terusan sembunyi dari gue kalau mereka punya masalah…”

Molly pun diam.

“Awalnya sih emang susah banget buat nerima kenyataan…tapi…”, sambungnya, “Gue bersyukur saat itu Getta selalu nemenin gue….”

Jderr! Petir seolah menyambar jantung Molly yang tiba-tiba berdetak keras. Kenapa ya setiap mendengar nama Getta keluar dari bibir Chika, itu seperti sayatan silet di kulitnya?

Setelah Chika membuat perasaan Molly jadi ringan oleh sikapnya, sekarang Molly kembali resah.

“Oh ya, Mol, lo naik ke kelas tiga kan?”, tanya Chika, mengalihkan pembicaraan seolah sadar nama Getta masih jadi tabu buat Molly.

Molly mengangguk lesu.

“Syukur deh…”, katanya, juga terlihat senang, “Lo masih main sama temen-temen lo yang biasa itu juga kan?”

Molly mengangguk dua kali. Masih lesu.

“Itu bagus…”, komentar Chika, dan sebentuk rasa bersalah terlihat di wajahnya yang tersenyum itu.

Yuna dan Lara nggak seperti Chika. Mereka nggak pernah meninggalkannya. Walaupun di kelas tiga ini cuma Lara yang sekelas dengannya, Yuna selalu menyusul begitu bel istirahat siang. Mereka kumpul di kantin, plulang bareng, dan jalan-jalan ke mall sama-sama. Saling mendukung walaupun juga kadang saling ejek. Apalagi Yuna dan Lara, mereka masih bertolak belakang dan sering cekcok. Misalnya waktu cemburu sama Pak Heru. Yuna selalu memaksa Lara menyerah tapi Lara yakin kalau begitu lulus nanti dia dan idamannya itu bisa bersatu kembali. Tapi, begitu melihat kenyataan yan sebenarnya, hati Lara jadi hancur dan Yuna ikut menangis terharu –sama seperti saat dia nonton drama Korea favoritnya. Mereka berdua meratap bersamaan seperti anak kecil yang baru jadi yatim piatu.

Kebersamaan mereka paling terasa waktu Lara galau lantaran satu kali jalan di mall, mereka lihat Pak Heru duduk berdua sama Kak Cariss di coffee shop. Itu benar-benar bikin Lara uring-uringan walaupun dia sudah nggak pernah lagi jutek –apalagi sama Jonas.

Ngomong-ngomong soal Jonas, dia juga nggak sekelas lagi dengan Molly atau Getta. Dia punya teman-teman cowok lain yang sering nongkrong di halaman belakang godain cewek-cewek lewat. Atau…nemenin Getta tidur siang di tangga darurat.

Sedangkan Getta sendiri ya… sejak nggak sekelas lagi mulai menjaga jarak. Dia mungkin juga sibuk dengan latihan tinju dan persiapan turnamen kelas junior-nya atau… mungkin Chika.

Molly sudah jarang melihatnya karena kebetulan kelas mereka jaraknya dari ujung ke ujung. Lagipula, Getta masih hobi bolos dan tidur di tangga darurat. Kalaupun mereka kebetulan berpapasan, mereka hanya saling lempar senyum untuk kemudian sama-sama berlalu tanpa menoleh lagi. Ya begitulah, di tahun ketiga ini, semua berjalan seperti seharusnya.

Ada yang bertanya soal Richard? Kata Pak Heru, adik sepupunya itu melanjutkan sekolahnya di Falkutas Ekonomi di Jakarta. Ya, dia menghilang begitu saja, nggak berbekas di hati Molly yang berjuang keras untuk bisa lulus tahun ini!

***

“Gimana latihannya?”, tanya Chika begitu melihat Getta datang diantar sama Mbok Nah.

Getta hanya tersenyum simpul sambil duduk di sofa sementara Chika sedang memainkan lagu dengan piano yang baru dibelikan Papanya, “Lo mau ngomong apa?”, tanya dia, “Serius amat kayaknya…”

Chika tertawa pelan lalu menoleh ke Getta yang tampak lelah. Cowok itu masih pakai seragam sekolah dan sepertinya belum sempat pulang ke rumah. Lalu Chika pun menutup tuts pianonya dan memutar kursi rodanya untuk menghampiri Getta.

“Lo jangan sok misterius gitu deh, Chik”, kata dia, lalu tertawa. Kelihatannya mood Getta lagi baik. Jarang-jarang dia jadi banyak tanya.

“Apaan sih lo, Get”, celetuk Chika, ikut tertawa. Lalu mulai serius saat Mbok Nah datang mengantarkan minuman.

“Silakan diminum, Den…”, kata Mbok Nah sebelum pergi.

“Makasi, Mbok”, ucap Getta mengiringin langkah kaki Mbok Nah yang pelan sebelum ia kembali menatap Chika dan sadar Chika sudah berwajah sedih. “Lo kenapa?”

Anehnya, Chika malah tersenyum, sambil menggeleng-geleng, “Nggak kok…”, jawabnya sabil memutar kursi rodanya lagi dan menjauh dari hadapan Getta.

“Lo nggak biasanya nyuruh gue datang ke rumah”, kata Getta, dia mulai merasa ada yang nggak beres sama Chika, “Lo kan sukanya duduk di cafรฉ serba pink itu…”

Chika menggeleng-geleng. Sosok belakangnya yang duduk lemah di kursi roda tersembunyi balik punggung yang tegap dan hawa dingin yang seketika menyebar ke penjuru ruangan. Getta masih heran, kenapa hari ini sikap Chika mendadak aneh. “Tapi, lo nggak suka kan?”, balas dia, “Lo nggak suka apa yang gue suka”

“Lo ngomong apa sih?”, Getta mulai punya firasat buruk. Berdiri, ia pun menghampiri Chika yang membelakanginya. Ternyata, baru ia tahu kalau Chika menangis.

Memang Chika cewek yang ngeselin, tapi melihatnya menangis seperti itu, selalu bikin Getta nggak berkutik. Setelah orang tuanya bercerai dia harus hidup mengandalkan bantuan orang lain.

“Gue tahu…lo ngerasa terjebak sama gue…”, katanya merengek.

“Lo kenapa, Chik?”, tanya Getta sambil jongkok di depan kursi roda Chika untuk memandangi wajahnya yang sedih, “Kenapa tiba-tiba lo mikir gitu sih?”

“Kalau bukan karena keadaan gue yang sekarang lo…udah pasti ngejar Molly kan?”, tanya dia tiba-tiba.

“Gue nggak mau ngomongin itu. Itu udah lama, Chik…”, kata Getta berujar.

“Iya, itu emang udah lama. Tapi…masih kerasa sampai sekarang kalau lo itu berharap…”, kata Chika, suaranya gemetaran, “Jangan pikir gue nggak tahu… gue bisa ngelihatnya dari pandangan mata lo yang kosong, nggak fokus kalau lagi ngomong sama gue, atau saat lo tanding, lo terus-terusan melihat ke pintu masuk, seolah-olah nungguin seseorang masuk dari sana…”

Getta terdiam dan tertunduk.

“Udah deh, Get...”, celetuk Chika terisak, “Gue nggak tahan lagi…”

Getta masih diam.

“Lo cuma kasihan sama gue…”, sambung Chika, “Menurut lo sampai kapan gue mau dikasihanin terus cuma buat minta perhatian dari lo. Menyedihkan, tau nggak…”

“Gue udah ngelakuin semuanya. Kenapa tiba-tiba lo mikir gitu?”, tanya Getta lagi.

“Karena sekali pun lo nggak pernah bilang kalau lo suka sama gue, Get…”, jawabnya, disambung isak tangis yang bikin Chika nggak mau mengangkat wajahnya, “Udah hampir tiga tahun kita sama-sama…sekali pun gue nggak pernah dengar lo bilang suka sama gue…”

Getta membuang pandang. Ia tatapi sekitarnya dengan bingung, kecuali wajah Chika. Dia nggak siap ditodong seperti ini.

“Sampai kapan kita mau kayak gini terus?”, tanya Chika penuh harap sambil…menyentuh wajah Getta yang berpaling darinya, “Gue sayang banget sama lo, Getta… kenapa sedikitpun lo nggak bisa balas perasaan gue?”

Getta menarik nafas, sebelum membalas tatapan Chika lekat-lekat, “Perasaan itu nggak bisa dipaksain, Chik…”, katanya, mulai bingung, “Bukan berarti gue nggak pernah nyoba untuk... tapi…”

“Tapi apa, Get?”, Chika tampak nggak sabar.

Getta pun menggeleng dan wajah Chika berubah tegang, “Gue nggak tahu harus gimana sekarang…”, katanya, “Gue udah sebisanya menepati janji gue untuk selalu ada di sisi lo kan?”

“Itu nggak ada artinya kalau lo nggak pernah bisa suka sama gue!”, teriak Chika, mendadak semuanya jadi menegangkan saat tiba-tiba ia mendorong Getta sampai terjatuh, “Gue mau lo ada di sisi gue lebih dari sekedar teman…kenapa lo nggak ngerti juga?”

 “Gue ngerti, Chik…”, balas Getta, suaranya pelan, “Tapi, kalau lo ingin kita lebih dari teman… itu nggak mungkin…”

Chika terdiam. Sekalipun  ia sudah tahu apa yang mungkin dia katakan… belum terlambat untuk syok mendengar sebuah penolakan dari Getta –akhirnya.

“Gue hanya bakal nyakitin perasaan lo kalau terus dekat-dekat sama lo…”, kata Getta, “Gue nggak mau ngasih harapan palsu, Chik…”

“Tapi, lo udah bikin gue kayak gitu!”, teriaknya.

“Karena lo yang minta…dan sekarang…gue nggak bisa lagi kalau lo terus maksa gue buat suka sama lo…”, kata Getta, melemah di ujung kalimatnya. Lalu tertunduk, “Maaf…”

Chika pun terdiam. Ia hanya memandangi Getta yang tampak menyesal dan sedih. Entah kenapa hatinya semakin sakit setiap melihat Getta murung. Rasanya… yang bersikap kejam ini bukanlah Getta, tapi dirinya. Chika tahu siapa yang sebenarnya ada di hati Getta, tapi pura-pura nggak mau mengerti. Karena ia pikir, ia bisa menggantikan Molly yang sudah nggak menghiraukan Getta. Tapi, Chika keliru… selama ini ia hanya memaksa, padahal ia tahu bahwa Getta nggak akan bisa…

“Lo nggak perlu minta maaf…”, kata Chika, yang berusaha untuk nggak menangis. Sambil menarik nafas panjang beberapa kali dengan teratur. Perlahan, ia mulai tenang dengan terus memandangi Getta, “Gue tahu lo bakal nolak gue… dan gue nggak tahan terus-terusan bikin lo tersiksa di samping gue… gue sadar kok…”

“Chika...”, Getta tampak ingin menghampiri.

“Mulai sekarang… lo nggak perlu ngasihanin gue lagi…”, katanya, setelah menyapu habis semua air mata di wajahnya yang sedih. Ia menatap dengan yakin, dan perlahan bangkit dari kursi rodanya, untuk berdiri.

Getta cukup cemas, melihat Chika berusaha untuk berdiri dengan kedua kakinya.

“Menyedihkan ya?”, katanya, “Gue pura-pura cacat supaya bisa diperhatiin sama lo…”

“Lo…”, Getta tercengang. Selama ini…Chika udah bisa jalan?

“Makanya…”, kata Chika memperlihatkan langkah pertamanya yang mantap, dengan menghampiri Getta, “Lo nggak perlu harus ada di samping gue lagi…”

Ya, kedua kaki itu melangkah seolah nggak pernah terluka parah sebelumnya. Getta sadar dia dibohongi, tapi tetap nggak bisa marah. Ia berusaha mengerti walaupun inilah yang bikin dia harus merelakan Molly dan sekarang, sudah terlalu terlambat mengejar Molly. Cewek itu sudah menemukan kebahagiaannya sendiri.

“Gue…nggak seegois itu, Get…”, katanya, “Kalaupun lo pernah ngerasa kalau gue jahat… mungkin itu dulu…karena sekarang…”

Getta masih terpaku berdiri di tempatnya sampai Chika mendekat dan dia menyentuh wajah cowok itu dengan perasaan sedih.

“Cewek jahat mana…yang bikin orang yang dia sayang jadi sedih…?”, katanya, gemetaran dan kembali menangis, sambil menggeleng-geleng, “Gue juga nggak mau, Get…”

***

“Ih, apaan sih ribut-ribut?”, Yuna menggerutu sambil menengok ke asal suara gaduh –jeritan cewek-cewek yang berseru ‘Mau! Mau!’ di belakangnya.

Lara juga ikut menengok dan menemukan kalau Jonas lagi diperebutkan oleh sekelompok anak cewek –bukan dia, tapi selebaran yang sedang dia bagi-bagikan.

Cowok reseh itu tampak senang dikelilingi para cewek seperti sedang dimintai tandan tangan. Sok selebritis, gerutu Lara dan Yuna sambil kembali melanjutkan makannya. Sedangkan Molly tampak nggak terganggu sama sekali dengan suara-suara itu karena sibuk menggambar pemandangan –matahari terbit di daerah pegunungan di mana di bawahnya ada sungai yang mengalir jernih yang ia lihat suatu kali dalam mimpinya.

“Sabar! Sabar!”, Jonas sudah mendekat ke arah mereka sambil membagi-bagikan tumpukan selebaran di tangannya.

Apa sih itu?, Lara sempat melirik tapi ia langsung acuh saat Jonas menghampiri.

“Nih! Datang ya!”, kata Jonas sambil menaruh selembar selebaran di atas meja.

Lara berhenti makan dan mengambil selebaran itu. Selebaran untuk datang ke pertandingan tinju tingkat provinsi yang bakal diikut Getta nanti. Melihat foto Getta yang terpapang di sana saja bikin Lara jadi kehilangan selera makan dan jutek.

“Lo aja deh!”, katanya, “Bareng cewek-cewek fans berat Getta yang kecentilan itu!”

“Yee!”, sembur Jonas sambil kembali mengambil selebarannya dan tiba-tiba menyodorkannya ke Molly, “Lo wajib datang!”, todongnya dan Molly malah melongo.

Tiba-tiba Yuna merampasnya, “Gue aja deh yang datang!”, serunya girang, “Emang nanti Getta mau lawan siapa?!”

“Jangan mulai deh, Yun…”, gumam Lara kesal, dan Yuna mencibir.

“Apaan sih?”, Molly tertawa-tawa, “Nggak perlu berantem…”

“Cowok PHP kayak Getta aja lo naksir, Yun…”, celetuk Lara sambil menghela nafas.

Jonas tertawa, “Udah deh! Udah!”, katanya, “Nggak perlu serius gitu. Ini kan pertandingan terakhir Getta sebelum kita UN. Nggak ada salahnya dong kalian semua pada datang. Habis itu kita semua kan ada Kemah Bakti Sosial lagi. Pasti bakal sibuk”

Lara masih cuek dan Yuna mengangguk-angguk seperti anak kucing minta dibelai. Sedangkan Molly hanya tersenyum, sebelum Jonas menepuk pundaknya.

“Lo datang ya, Mol!”, serunya sebelum pergi dan kembali dikerubungi cewek-cewek yang minta selebaran.

Dasar Jonas, sudah mau lulus masih aja kayak anak-anak.

Molly mengambil selebaran itu dan melihatnya sebentar –tepatnya foto Getta yang nggak telanjang dada itu. Seingatnya dulu kan Getta cuma kurus dan tinggi, sekarang…dia berotot. Rambutnya selalu dipotong cepak. Keren sih. Pantas digilai banyak cewek yang mau sekali datang ke pertandingannya.

“Mandangnya jangan kelamaan”, tegur Lara ketus dan bikin Molly jadi malu sendiri, “Kalau kangen dia biasanya tidur di tangga darurat tuh! Samperin aja…”

Yuna terbahak, sambil menyikut Lara di sampingnya.

Molly tiba-tiba berdiri, mukanya merah. Ia menumpulkan semua barang-barangnya dari atas meja dan pergi, seperti anak kecil yang baru digoda.

Lara menggeleng-geleng, lalu ikut tertawa seperti Yuna.

***

Tangga darurat adalah tempat yang paling aman untuk tidur siang. Merasakan tiupan angin dan mendengarkan suara daun yang gemerisik.

Getta bersandar ke anak tangga dan menjadikan ranselnya bantal. Ia memang bisa tidur di mana saja asalkan tenang dan lapang. Apalagi kalau kelelahan, dia bisa bolos sampai pelajaran terakhir.

Seperti biasanya, setiap istirahat siang dia akan datang ke sini. Selain ngantuk, Getta juga nggak betah ada di keramaian apalagi sampai didatangi oleh beberapa anak yunior yang mau pendekatan. Dia nggak suka dikerubuti cewek-cewek karena melelahkan harus menjawab mereka satu per satu persis seperti bintang idola yang naik daun.

Getta menyandarkan ranselnya di salah satu anak tangga untuk dijadikan bantal. Paling nggak itu bisa sedikit nyaman untuk ditiduri.

Angin bertiup dan pohon gemerisik. Suara-suara keramaian tersamarkan oleh suara serangga musim kering yang bertengger di pohon. Getta mulai menghitung saat matanya semakin berat oleh rasa kantuk.

Satu…dua…tiga…empat…lima…enam…

Tiba-tiba ia tersentak! Ia meraskan kehadiran seseorang! Ia seolah mendengar suara langkah kaki yang mendekat! Dan ketika ia membuka matanya, wajah Molly hadir di hadapannya.

“Molly…”, Getta mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh wajah yang tengah tersenyum itu.

Ia baru sadar rambut Molly yang dulunya sebahu sekarang sudah panjang sekali. Menjuntai hingga ke wajah Getta yang menariknya untuk mendekat. Tanpa bicara, tanpa satu kata pun, Molly tampak menginginkannya lebih dekat untuk bisa menyentuhnya.

Begitu ia bisa merasakannya, Getta pun membuka matanya.

Silau!

Dan sesuatu menempel di bibirnya!

Getta bangkit sambil mengambil daun kering yang jatuh di bibirnya!

Ya, cuma sehelai daun kering yang bikin Getta jadi bermimpi aneh dan malu sendiri. Bisa-bisanya dia mimpi seperti itu, pikirnya sambil kembali menjatuhkan punggungnya di anak tangga. Memandangi daun kecil berwarna kecoklatan itu beberapa saat, sebelum ia melepaskannya dan lalu terbang bersama angin.

Ya, mungkin Getta terlalu merindukannya.

Padahal ada di depan mata, sesalnya. Tapi, rasanya sangat jauh dan kata-kata saja nggak bisa menjangkaunya. Molly selalu berjalan ke depan, tanpa pernah menoleh. Dan saat itu dia tertawa –tawa yang sangat lepas.

Sebenarnya, waktu Chika berkata melepaskannya, ia bisa saja berlari mengejarnya. Tapi… tampaknya Molly sudah jauh lebih baik. Getta meragukan kalau Molly masih punya perasaan yang sama. Getta pun mengerti, setahun setelah mereka lulus SMP, perasaannya sendiri pun mendingin. Jika sekarang perasaan Molly juga demikian, maka itu wajar.

Getta nggak tahu, bahwa jarak di antara ia dan Molly bisa hilang hanya dalam satu jentikan jarinya. Seperti sihir, Molly akan hadir di depan matanya. Wajahnya yang manis dan polos itu akan mengisi perasaan rindu di rongga dadanya yang sesak setiap mengingatnya.

Karena tangga darurat juga adalah tempat Molly menyendiri menyelesaikan gambar-gambarnya. Hanya berbataskan dengan dinding, di satu sisi yang lain dari sini, Molly sedang bersandar bersama buku sketsanya sambil menunggu bel istirahat siang berakhir. Ia tahu, di balik dinding kokoh ini, Getta yang nggak peka itu tertidur dengan pulasnya di anak tangga.

Bel pun berbunyi. Molly segera mengemasi barang-barangnya, sebelum Getta terbangun. Tapi, cowok itu memang nggak bangun-bangun. Dia terlalu suka tidur dan bahkan nggak bergeming. Aneh memang.

Sehingga Molly hanya berdiri di sana sejenak, memandangnya sambil tertawa pelan. Lalu ia pun menuju ke kelas dan nggak tahu kalau ternyata Getta terbangun oleh suara langkah kaki yang menjauh itu.

Ia bangkit, mendongak ke lorong-lorong yang sepi. Sosok itu sudah pergi. Tapi, ia tahu beberapa saat lalu Molly berdiri di sana walaupun kurang dari lima detik.

Getta bersandar ke dinding, di dekatnya sambil tersenyum senang.

Kenapa sekarang jadi main kucing-kucingan?, ia bertanya pada dirinya sendiri. Lalu termenung, meningat sebuah kilasan yang tersimpan di kepalanya, begitu ia terbangun karena mendengar bel berbunyi.

Sesaat dalam mimpinya tadi ia melihat sebuah pemandangan yang indah. Matahari terbit di balik bukit yang dialiri oleh sungai yang jernih. Ya, rasanya Getta pernah melihatnya sebelum ini. Getta pun mulai berpikir keras, selama perjalanan kembali ke kelas –hari ini dia nggak punya niat bolos.

Di mana ia pernah melihat pemandangan seindah itu ya?, ia masih terus memikirkannya sampai wali kelasnya datang dan ia memberikan sebuah pegumuman penting tentang Kemah Bakti Sosial pada minggu-minggu tenang sebelum UN nanti.

Bicara tentang kemah dan lokasinya, membuat Getta akhirnya ingat juga, bahwa ia pernah datang ke tempat itu sebelumnya. Sebuah tempat yang ingin ia tunjukan pada Molly, tapi…cewek itu nggak pernah datang. Jadilah, hari itu Getta, menyaksikan matahari terbit sendirian dengan penuh harapan seseorang akan menemaninya menikmat keindahan itu

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments