๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Pilihan Getta
“Lu kenapa?!”, suara Bang Benny terdengar keras, hingga mampu menembus suara sentakan besi alat berat yang dipakai oleh seorang petinju yang sedang latihan fisik, merobek kegaduhan dari lenguhan mereka yang adu fisik di atas ring serta suara samsak yang terus menerus dipukul.
Getta tertegun, menghindari tatapan marah pelatihnya yang baru melihat bahwa ia nggak membuat samsak di depannya bergeming dengan pukulannya. Nggak ada sedikitpun tenaga yang ia hempaskan ke benda itu.
Tiba-tiba Bang Benny mencengkram dagunya yang jatuh seperti pengecut, “Lu harus fokus!”, katanya, lalu menepuk-nepuk pipi Getta.
Tapi, Getta masih kelihatan sangat lelah. Ia mengangguk pelan disela tarikan nafasnya yang tersengal.
“Latihannya memang berat, tapi lu nggak boleh nyerah! Kalau lu bener-bener ingin jadi petinju, lu harus bisa ngatasin tekanan dari luar!”, kata Bang Benny setengah berteriak, “Kalau nggak, di atas ring sana, lu cuma jadi sasaran empuk dan kalah dengan menyedihkan! Luka-luka yang lu dapat nggak akan ada artinya. Rasa sakit lu itu tetap bakalan berakhir jadi rasa sakit, bukan kebanggaan! Ini soal harga diri, lu harus ingat itu!”
Kata-kata Bang Benny menusuk. Ia memandangi pria itu dengan yakin bahwa kata-kata itu benar. Tapi, nggak cukup bisa membuatnya untuk nggak memikirkan kejadian siang ini di sekolah.Begitu latihannya selesai, ia merasa begitu lelah. Biasanya juga lelah, tapi nggak pernah sampai membuatnya terdiam sangat lama, dengan pikiran ngelantur. Wajar bila Bang Benny sampai marah habis-habisan tadi dan mengatainya cowok lembek.
Pintu ruang ganti terdengar berderak. Lagi-lagi, pelatihnya yang galak itu datang menemuinya.
“Gue nggak habis pikir”, kata dia sambil duduk di samping Getta yang melamun, “Lu bukan anak pertama yang gua latih, lalu tiba-tiba mundur karena nggak sanggup latihan lagi”
Getta masih diam. Tertunduk.
“Itu pun belum gue suruh maju di atas ring buat sparing”, lanjutnya, “Tapi, seperti biasa, gue selalu ingetin mereka di awal, kalau mau mundur silakan…dan sekarang gua juga bakal nanyain itu ke lu”
Getta seketika menatapnya heran. Setelah tadi dia beri semangat kenapa sekarang dia kelihatannya mau ngusir? Apa karena Getta kelihatan terlalu lembek?
“Lu masih mau lanjut, atau berhenti sampai di sini?”, tanya dia, “Gua jamin, latihannya bakal lebih berat dari yang sekarang. Gua juga nggak ingin dirugikan, buat gua, anak-anak didik gue adalah asset. Dan gua nggak mau menyimpan asset yang gagal, Getta. Jadi lu pikir sekali lagi, apa lu bakal nerusin ini atau mundur”
“Saya tetap lanjut, Bang”, kata Getta, menatapnya lekat-lekat.
Bang Benny mengangguk-angguk. Sambil berdiri kembali, ia menepuk-nepuk punggung Getta. “Besok, hari Minggu, gue tunggu di depan jam lima pagi. Lu harus datang tepat waktu, oke?”, kata dia sebelum pergi dan Getta mengangguk setuju.
Selangkah Bang Benny menghilang di balik pintu, ia kembali gelisah.
---
Sore menjelang. Panas terik mulai berkurang begitu raja siang mulai meninggalkan langit kota Bandung. Dan sebentar lagi gelap. Molly duduk di tangga sendirian dengan buku sketsanya dan melakukan sesuatu dengan itu –menggambar lagi, sekaligus menunggu jemputannya.
Suasana tempat les itu mulai sepi. Hampir semua anak sudah pulang dan beberapa masih terlihat mengobrol di depan dan beberapa masih di dalam gedung, membuat suara tawa dan obrolan yang kedengaran asyik.
Tiba-tiba ia dihampiri. Terlambat sadar, ia menemukan Chika, Rizna dan Nandia sudah berdiri di depannya. Membuat bayangan hitam yang menyelubungi tubuh Molly yang seolah mengecil dalam bayangan itu.
“Apaan nih?!”, Chika merampas sesuatu yang Molly pegang di tangannya –buku sketsa yang tengah ia gambari. Ia membaliknya satu persatu, “Ternyata kualitas gambar lo sama dengan kualitas main piano lo!”, komentarnya lalu melempar buku itu ke lantai sejauh beberapa meter darinya, “Jelek!”
Molly seketika berdiri, mengejar buku itu untuk mengambilnya kembali. Ia semakin nggak mengerti, kenapa Chika menjadi sejahat ini padanya. Dan yang mengerikan entah sejak kapan, segala sesuatu yang bikin Molly sedih adalah kesenangan buatnya. Rasanya ia jadi nggak percaya persahabatan mereka yang dulu itu nyata.
Tapi, ini benar. Chika memang membencinya setengah mati. Dia kelihatan nggak peduli lagi kalau kejahatannya diketahui Getta. Seolah nggak takut, Getta semakin menjauh darinya kalau dia terus-terusan menyiksa Molly. Dia pasti tahu kalau Molly nggak akan pernah mengadu pada Getta soal yang dia alami karena cewek ini dungu dan pengecut.
Mobil putih milik cowok indo itu datang lagi menjemput Molly. Ia terlihat seperti pangeran kuda putih-nya Molly yang selalu melakukan apa yang ia minta. Dia memperlakukan Molly seperti putri saat membukakan pintu untuknya, membuat Chika semakin iri.Seolah terus-terusan menyalahkan Molly atas keadaannya saat ini, Chika menjadi kian benci padanya. Menyakiti Molly, adalah satu-satunya hal yang membuatnya senang dan memberinya semangat saat ini. Gimana pun, Molly juga harus merasakan sakit hatinya karena Getta.
Tapi, tiba-tiba semua itu menjadi hampa begitu ia pulang dan lagi-lagi menemukan kedua orang tuanya bertengkar. Yang menjadi sumber ketidakbahagiaannya adalah mereka. Molly hanya pelampiasan, karena ternyata jauh lebih menyakitkan melihat mereka saling memaki lagi daripada melihat Molly mendapatkan apa yang ia inginkan.
Rumah itu mulai terasa seperti neraka.
“Diaaaam!!”, Chika tiba-tiba menjerit di ambang pintu, dan kedua orang itu terperanjat melihatnya “Diam!”, jeritnya lagi dengan putus asa, dan air mata mengalir di kedua pipinya.
“Chika…”, sang ayah tampak menyesal dan hendak menghampirinya untuk membuatnya merasa baikan.
Tapi, sepertinya bagi Chika, itu mustahil. Setelah apa yang ia lihat belakangan, nggak cukup hanya mengatakan maaf lalu melupakannya. Rasa kehilangan itu sudah menghantui dirinya sejak pertama melihat mereka bertengkar seperti itu.
“Aku udah nggak tahan…”’, kata Chika meringis, mengambil beberapa langkah mundur. Lalu berlari pergi, keluar sambil menangis. Melewati pintu, menyebrangi halaman rumah mereka yang luas, dan tiba di depan pagar. Sekali, ia menoleh ke belakang, menyaksikan Mama dan Papanya mengejar, tapi ia kembali berlari menghindari mereka. Seolah ada tempat yang lebih baik di luar sana daripada rumah.
Tapi, memang nggak ada tempat yang lebih indah selain rumah di mana sebuah keluarga harusnya berada.
“Chika!”, seru Mama yang menyaksikan sendiri Chika berlari menerobos jalan tanpa memperhatikan sekitarnya. Dalam satu kedipan mata, tubuh Chika tersambar oleh sebuah mobil yang melintas di jalan itu, “Chikaaaa!!”
---
“Gimana latihannya?”, Richard bertanya karena Molly diam sejak mereka meninggalkan Maretha.
Molly menoleh dan hanya tersenyum ambigu. Entah ia sudah merasa baikan atau sedang menyembunyikan kalau ia masih sedih.
“Jadi…sebenarnya tadi siang kamu kenapa?” tanya Richard lagi, sambil sesekali menoleh kepadanya.
Molly kelihatan nggak ingin menjawab dengan kembali tertunduk murung.
“Ya udah deh, kalau kamu nggak mau cerita juga nggak apa-apa…”, ujar Richard untuk selanjutnya nggak pernah bertanya lagi.
Sepanjang perjalanan pulang pun mereka nggak lagi membicarakan sesuatu. Richard membiarkannya diam dan Molly pun masih belum bisa berhenti memikirkan kejadian tadi siang di sekolah. Rasanya begitu melihat Chika lagi, ia selalu ketakutan.
Mobil berhenti di depan pagar rumah, dan hanya beberapa detik bagi Molly untuk segera turun dari sana. tapi, tiba-tiba Richard meraih tangannya, menahannya pergi beberapa saat.
“Kalau kamu punya masalah, kamu bisa cerita ke aku, kok”, ia kembali berujar dengan perhatian yang penuh, tersirat dari tatapannya yang serius, “Apa…ini soal cowok teman sekelas kamu itu?”
Molly menatapnya bingung, dan sedih. Rasanya begitu lancang kalau masalah itu sampai ia bilang ke Richard.
“Molly”, panggil Richard agar ia bersuara dan Molly pun tertunduk sedih.
Ya, Molly akhirnya menangis lagi –terdengar suaranya meringis seperti baru terluka.
“Aku nggak tahu masalahnya apa. Tapi, kalau kamu disakitin sama dia, kamu harusnya bilang ke aku”, ujar Richard, “Bukan berarti juga aku mau nantangin dia, tapi paling nggak aku kan tahu kalau kamu sama dia punya masalah. Mana tau aku bisa bantu”
Apa salah orang lain harus tahu?, Molly tiba-tiba jadi bertanya pada dirinya sendiri. Meskipun di belakangnya saat ini masih ada Lara, Yuna dan Jonas. Tapi, nggak tahu kenapa, rasanya dibandingkan mereka, Richard mungkin lebih mengerti. Molly baru sadar kalau ternyata mereka jauh lebih dekat dari yang ia kira selama ini. Seharusnya nggak boleh ada rahasia, apalagi menyembunyikan sesuatu yang kepalang tanggung sudah bisa dilihat dengan jelas. Nggak tahan lagi, Molly pun menceritakan semuanya tanpa ada lagi yang dia rahasiakan dan perlahan mulai melihat sesuatu yang lain pada Richard yang selama ini hanya ia anggap sebagai dewa penolongnya.
---
Sejak pagi nggak ada seorang pun yang berani ngomongin Jumat siang yang menyedihkan buat Molly. Baik, Lara dan Yuna apalagi Jonas yang selalu ingin tahu. Mereka menatap Molly masih dengan ekspresi sedih tapi nggak pernah berani bertanya. Soalnya Molly jelas-jelas masih kelihatan merana. Dan…hari ini bangku Getta kosong.
“Masa sih gara-gara masalah itu aja Getta sampai nggak masuk”, Yuna terdengar menggerutu, “Kenapa dia jadi nggak gentleman ya?”
“Getta masalahnya banyak”, Jonas mengingatkan, “Dari hari Sabtu gue udah coba nelpon tapi nggak pernah diangkat. SMS gue juga nggak dibalas”
“Jadi lo juga nggak tahu dia kenapa?”, tanya Lara.
Jonas angkat bahu, lalu melirik Molly yang sedang menggambar di bangkunya. Seolah nggak ingin terlibat sama pembicaraan yang jelas-jelas tentang dirinya, “Mol…”, panggil Jonas sambil menghampirinya, “Lo coba hubungin Getta dong…”
Molly nggak bergeming selain terus menggambar, menggoreskan krayonnya di atas buku gambar. Ia seolah nggak mendengarkan mereka, lebih-lebih ia nggak merasa terganggu sama sekali.
“Molly?”, tegur Jonas mulai khawatir saat Molly kelihatan menggerus-gerus krayon hijaunya di lembaran gambar bukunya berulang-ulang. Lama kelamaan guratan itu menjadi pekat dan semakin pekat. Tiba-tiba tangannya berhenti, seperti terkejut, genggamannya lunglai dan krayon hijau itu lepas dan jatuh. Ia baru menoleh kepada mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Tersadar bahwa ia harusnya nggak seperti itu.
“Lo kenapa?”, tanya Lara mendekat, menyaksikan sendiri Molly memandangi gambarnya yang rusak dengan sedih.
Yuna dan Jonas terdiam, saat Molly menutup buku gambarnya lalu memasukkannya ke dalam tas renjeng bersama krayonnya dengan buru-buru. Molly masih belum bicara.
“Lo harusnya ngomong, supaya orang lain ngerti perasaan lo”, kata Jonas, saat Molly kelihatan ingin meninggalkan kelas “Dari dulu sampai sekarang lo selalu ngebiarin orang semena-mena sama lo, Mol”
“Terus aku bisa apa?”, kata Molly tiba-tiba, “Kalau aku bisa milih, aku nggak akan mau kayak gini! Kalian tuh nggak tau rasanya disleksia”
Ketiganya terdiam, menatap Molly dan mengamati amarahnya yang baru sekarang mampu ia perlihatkan.
“Kalian tuh nggak tau rasanya selalu jadi beban buat orang lain”, sambungnya, “Hanya karena nggak bisa ngelakuin hal yang sepele… kalian nggak bakal ngerti rasanya jadi orang aneh…”
“Lo tuh nggak aneh…”, kata Yuna.
“Terus apa?!”, teriak Molly, air matanya tiba-tiba menetes, “Sampah?!”
“Mol…”, Jonas mencoba berujar tapi Molly keburu membawa tas renjengnya pergi, berlari keluar kelas secepat angin.
Mereka nggak mengerti!, katanya di dalam hati sambil terus menyeka air matanya yang nggak berhenti mengalir. Mereka pikir apa segampang itu bicara dengan Getta lalu semuanya selesai? Buktinya, dia dan Chika sedekat itu, gimana bisa ‘masa lalu’ seperti dirinya bisa kembali? Semakin dipaksakan, semakin ia menyakiti dirinya sendiri.
Anak-anak lain jadi memandanginya sepanjang jalan tujuannya yang entah ke mana. Yang ia tahu, ia sudah berada di depan pintu kelasnya Richard.
“Hellow…”, sapa Karina yang menyambutnya di depan pintu, lengkap dengan pengikutnya –Jessica, Adel dan Vina, “Lo berani juga datang ke sini”
“Aku nyari Kak Richard”, kata Molly datar dan dingin, dengan kepala menunduk. Tapi, nggak ada nada gentar pada suaranya.
“Richard lagi nggak ada”, kata Karina, sepintas menengok ke dalam lalu menggeleng-geleng dengan angkuh.
Molly langsung memutar badannya, bersiap meninggalkan mereka. tapi, tiba-tiba bahunya ditarik. Dan keempat cewek itu kembali mengepungnya untuk siksaan yang baru lagi.
“Dasar, nggak sopan lo ya!”, teriak Jessica di depan wajahnya, “Lo pikir lo bisa seenaknya gitu?”
Seenaknya?, Molly mengernyit, heran dan ketakutan. Apa maksud mereka dengan seenaknya? Ia masih memikirkan itu saat Vina mulai mendorongnya dan tubuh kurus Molly menimpa Jessica di belakangnya. Tapi, seperti sebuah bola, ia kembali didorong dan mengenai Adel. Adel pun juga melakukan hal yang sama, dan dengan tawa seolah mereka menikmati ketakutan Molly yang cuma merasa kesakitan. Ia dikepung dan kelihatan nggak ada celah baginya untuk bisa kabur dari mereka.
“Heh, kalian!”, suara Richard yang berteriak terdengar saat mereka baru merasa enaknya bersenang-senang sambil balas dendam sama orang yang menurut mereka pernah bikin mereka dihukum selama seminggu dan bahkan setelah itu pun mereka masih diketawai oleh sesisi sekolah. Cowok itu kelihatan melangkah tergesa-gesa, menghampiri mereka yang mendadak berhenti, “Apa-apaan sih?!”
Karina kelihatan membatu saat Richard berdiri di depannya dengan wajah yang marah luar biasa. Ia membalas tatapan Richard itu dengan acuh, sambil bertolak pinggang, “Lo mau apa?”, tantangnya.
“Lo emang sakit jiwa ya, Rin!”, teriak Richard sambil menarik tangan Molly agar menjauh dari mereka. Lalu mengamati keadaan cewek itu; Molly kelihatan sangat ketakutan, “Kamu nggak apa-apa?”
Molly menggeleng-geleng, sambil menangis. Tubuhnya jelas-jelas sakit tapi ia lega melihat Richard datang. Lalu membawanya pergi dari sana segera.
Karina dan teman-temannya masih kelihatan santai. Walaupun Molly sudah dibawa Richard pergi, ternyata mereka masih punya senjata yang menurut mereka ampuh.
“Gue heran sama cowok lo, Tris”, Karina menghampiri seorang cewek yang berdiri melongo nggak jauh dari mereka–Trisha, yang muncul bersama Richard tapi jadi nggak kelihatan karena Richard kelewat panik melihat Molly dikerjai mereka.
Cewek itu mulai gusar setelah mendengar Karina bicara–kelihatan mau memanas-manasi, “Lo nggak usah jadi biang kerok deh”, katanya, sambil berlalu, seolah nggak menanggapi hasutannya Karina, “Dasar, ular kepala dua!”
Karina geram, seketika ia berbalik, mengikuti ke mana langkah Trisha pergi, “Lo nggak ngerasa cowok lo berpaling ke cewek itu atau lo memang begok sih?”, balasnya, tapi Trisha tetap berlalu dan nggak pernah menoleh ke belakang lagi.
---
“Nggak usah dipikirin”, Richard kembali berujar, sambil menarik nafas dan menatap Molly serius, “Kurang dari tiga bulan lagi audisinya dibuka. Kalau pikiran kamu masih kemana-mana, nanti kamu nggak lulus lho”
“Aku nggak bisa, Kak…rasanya aku mau berhenti aja…”, kata Molly merengek, membayangkan nanti siang pasti bakal ketemu Chika lagi dan dia seolah selalu punya rencana jahat setiap mereka ketemu. Ditambah dengan dua cewek, teman sekongkol Chika yang nggak kalah nyeremin. Nggak di mana-mana, biar di sekolah atau di tempat les yang ia pikir akan menemukan ketenangan, selalu ada gangguan yang nggak bisa ia hadapi.
“Kamu nggak boleh nyerah…”, kata Richard lagi, “Nyerah itu bukan pilihan”
Molly berusaha mengatur nafasnya yang sesak dan mengatasi rasa sakit di dadannya yang seperti ditusuk-tusuk. Dan nggak sedikitpun ia mau mengangkat kepalanya seakan itu harus selalu menunduk karena ia terlalu penakut.
“Nanti aku bilang sama Kak Cariss supaya kamu lebih diawasi, gimana?”, Richard selalu menawarkan bantuan yang rasanya nggak mungkin terbalas segigih apapun Molly mencobanya, “Supaya cewek-cewek itu nggak gangguin kamu lagi”
Molly pun mengangguk-angguk. Kalau masih ada yang peduli padanya, rasanya lebih sia-sia lagi jika ia tetap ingin mundur. Richard terlalu baik. Di saat Molly benar-benar putus asa, cowok itu selalu bisa membuatnya bangkit. Kalau begini terus, gimana jadinya nanti? Ketika wajah Getta muncul di pikirannya, perasaannya mulai bimbang. Tapi…apa saat ini Richard merasakan apa yang ia rasakan? Dan pantaskah ia merasa bimbang?
Cowok itu mengantarnya kembali ke kelas, tepat sebelum pelajaran berikutnya dimulai. Teman-teman Molly kelihatan nggak menyambut Richard dengan baik dan entah Molly sadar kalau Lara menatap Richard sinis. Seolah merasa kalau Richard itu seorang cowok jahat yang masih suka mempermainkan cewek.
Molly duduk di kursinya dan Richard melangkah keluar segera karena merasakan hawa yang nggak menyenangkan dari teman-temannya. Richard kelihatan paham, kalau mereka jadi nggak menyukainya karena reputasinya selama ini –cowok playboy. Mereka itu memang nggak mengerti apa-apa, seperti yang Molly katakan. Padahal ia sama sekali nggak punya niat mempermainkan Molly. Ia benar-benar hanya berniat membantu.
“Richard!”, Lara berseru dari depan pintu kelasnya saat Richard sudah hampir jauh.
Richard berbalik, ia melihat mantan teman sekelasnya itu berlari ke arahnya, “Apa?”, tanyanya agak kesal, melihat Lara nggak pernah berubah sejak pertama kali mereka kenal. Tetap memperlihatkan wajah jutek.
“Gue nggak tahu apa niat lo ya…”, Lara kedengaran mengancam, “Tapi, gue nggak suka lo jadiin Molly…”
“Tunggu! Tunggu!”, potong Richard, terkekeh dengan wajah gusar, “Lo pikir gue ngapain Molly sih?”
Lara terdiam, tanggapan cowok ini di luar dugaan.
“Gue nggak mau ya lo sama temen-temen lo yang lain mikir yang nggak-nggak soal gue”, kata Richard cepat, karena ia buru-buru harus kembali ke kelasnya, “Bakalan panjang kalau gue jelasin sekarang, tapi… gue kasih tau ya, gue nggak seperti yang lo semua pikir! Satu lagi, lo boleh kenal gue sebagai cowok brengsek, tapi ingat, gue nggak sejahat itu!”
“Lo itu kelewat dekat sama Molly sampai orang jadi salah paham, lo sadar nggak sih?”, celetuk Lara, masih belum terima dengan penjelasannya Richard.
“Kalian merasa temennya Molly kan? Ngerasa peduli sama dia kan? Tapi, kenapa seolah dia tuh nggak bisa ngandalin kalian?”, balas Richard, “Itu karena kalian tuh nggak bisa ngerti dari sudut pandangnya dia. Terus salah kalau dia dekat sama gue karena sekarang gue satu-satunya orang yang ngerti keadaan dia?”
Lara menghela nafas. Nggak ada sanggahan yang bisa ia katakan lagi. memang sih, Molly nggak seterbuka itu sama mereka. Tapi, Lara cuma khawatir satu hal di antara mereka, “Oke, gue ngerti…”, katanya pelan, namun belum kelihatan tenang, “Terus Molly sendiri gimana? Gimana kalau dia suka sama lo? Lo mau apa?”
Richard kelihatan terkejut. Jelas ia nggak siap tiba-tiba ditanyai sesuatu yang sejauh itu. Ia belum pernah kepikiran. Dan nggak ada jawaban darinya. Ia cuma memandangi Lara bingung.
“Terus, apa Molly tahu kalau lo punya cewek? Lo nggak mikir kalau Trisha lama-lama bisa cemburu? Dan…apa lagi yang bisa Molly terima setelah Karina ngobrak-ngabrik Molly kalau lo sama cewek lo berantakan?”, tanya Lara dan Richard benar-benar terdiam.
---
Tawa Rizna kedengeran jenaka dari balik pintu. Seperti biasanya, ia selalu ditemani Nandia. Setelah Chika juga les di sini, ada tiga cewek yang selalu merasa lebih pintar dari yang lain. Harus diakui, ketiganya itu belajar piano dari kecil dan sering ikut festival. Molly belajarnya juga dari kecil, tapi sempat terhenti sangat lama dan jari-jarinya masih cukup kaku.
Main piano membutuhkan banyak koordinasi antara jari tangan kanan dan kiri bersamaan, serta kaki pada pedal.Saat tangan kiri memainkan legato (*menghubungkan satu nada dengan nada yang lain), tangan kanan memainkan staccato (*pendek). Kak Cariss mengajarkannya beberapa gerakan berbeda dengan masing-masing tangan dan betapa sulitnya ketika ia nggak bisa berkonsentrasi –kelemahan penderita disleksia. Sehingga ia harus memainkannya berulang-ulang untuk memberi ‘ingatan’ kepada jari-jarinya.
Karena butuh perhatian khusus itulah yang membuat murid lain seperti Rizna dan Nandia kesal padanya. Mereka menganggap bahwa Molly nggak cocok main piano dan harusnya ia bergabung di kelas pemula –anak-anak SD yang baru belajar, bukan pada latihan intensif untuk festival. Mereka sangat yakin Molly nggak akan memenangkannya, dan juga merasa nggak boleh kalah dari Chika yang sudah sangat mahir.
Tapi, hari ini, dia nggak terlihat. Molly sudah takut duluan kalau tiba-tiba dia dicegat lagi di depan pintu kelas. Dari awal lesnya dimulai sampai selesai, hanya Rizna dan Nandia, serta beberapa anak lain yang hadir di kelas hari ini. Bukan berarti juga Molly bisa selamat dari ancaman berupa kata-kata melecehkan Chika; seperti ketularan Rizna dan Nandia juga nggak kalah jahatnya dari Chika. Makanya mereka kelihatan kompak dan nyambung membentuk geng khusus untuk menindas Molly.
Benar-benar dunia yang nggak adil! Tapi, Kak Cariss baik. Baiknya sama seperti Pak Heru. Mereka cocok, sama-sama baik, pikir Molly melantur selama pelajaran. Tapi, mendadak ia jadi menghela nafas. Memang sih cocok, tapi… pacarnya Pak Heru kan… Lara. Benar-benar pilihan yang rumit kalau ia dimintai pendapat. Yah, tetap saja itu bukan urusannya.
Tapi, ngomong-ngomong, seperti apa sebenarnya hubungan Kak Cariss dan Pak Heru, kalau yang pernah Richard itu benar-benar ada? Apa Lara tahu soal itu?
“Oke, semua!”, Cariss berseru di depan, ia mengumpulkan semua perhatian yang masih terpecah ke mana-mana. Ia hanya butuh kurang dari lima detik untuk mendapatkannya. Sebelum melanjutkan bicaranya, “Hari ini latihannya cukup. Dan…saya mau mengabarkan sesuatu yang penting buat kalian”
Ekspresi serius Cariss memancing keingintahuan murid-muridnya yang antusias menunggu. Seolah akan mendengarkan sesuatu yang menggembirakan.
“Tadi pagi saya baru dapat kabar kalau salah seorang teman kita harus dirawat di rumah sakit karena kecelakaan…”, kata Cariss, memberi jeda beberapa saat untuk mengamati wajah murid-muridnya yang bertanya-tanya ‘siapa yang bernasib malang itu’. “Chika”, sambungnya tanpa berlama-lama lagi, “Hari ini saya berencana akan menjenguk Chika dan bagi kalian yang ingin ikut mungkin kita bisa pergi bersama-sama”
Molly tertegun di kursinya. Terpana tanpa ekspresi memandang ke depan dan ia membatu di sana hingga kelas dibubarkan. Ia nggak terpengaruh oleh suara-suara yang mulai membicarakan keadaan Chika dengan prihatin, sampai Cariss menghampirinya.
“Molly?”, tegur perempuan muda itu heran, “Kamu nggak pulang?”
Molly nggak tahu sudah berapa lama ia mengulang-ulang rangkaian kata itu di kepalanya ‘Chika kecelakaan? Kapan? Dan kenapa bisa?’
“Kamu mau ikut ke rumah sakit?”, tanya Cariss saat mereka sama-sama mengosongkan kelas.
Molly hanya diam. Ia nggak yakin, akan menjenguk Chika walaupun ia penasaran kenapa Chika bisa sampai kecelakaan dan entah kecelakaan seperti apa yang ia alami. Dan keadaan Chika sekarang menjadi pertanyaan besar.
“Malang sekali…”, komentar Cariss, terdengar mendengus sedih, “Saya dengar dari keluarganya, Chika sedang koma”
Terkejut. Molly menatapi Cariss, seakan ia nggak percaya kalau yang ia dengar itu benar.
Pantas, Getta nggak masuk sekolah hari ini. Pasti dia menemani Chika, pikirnya seketika berkecil hati. Tapi, rasanya jadi nggak pantas menggerutu seperti itu karena toh Chika baru saja lolos dari maut –entah itu masih mungkin. Molly bahkan belum tahu pasti keadaannya.
Molly menggeleng, “Aku belum izin pulang telat…mungkin besok, Kak…”, jawab Molly berdalih. Lalu membiarkan Cariss pergi bersama mobilnya sementara ia harus menunggu Richard yang belum datang. Seperti biasanya, Molly duduk di tangga, mengeluarkan alat gambarnya dan mulai memanfaatkan waktunya
Kedua cewek reseh itu muncul lagi. Mereka keluar belakangan entah dari mana, namun Molly segera menyingkir dari tangga sebelum mereka melihatnya dan melakukan hal yang menyakitkan lagi padanya. Di atas sana mereka kedengaran membicarakan sesuatu.
“Nasibnya apes juga ya…”, suara Nandia terdengar antara tawa dan senang.
“Itu sih karena kualat. Habis, baru masuk aja udah belagu, mentang-mentang mainnya jago”, cetus Rizna, dan suaranya diiringi langkah kaki mereka yang santai menuruni tangga.
Molly menyembunyikan dirinya di celah bawah tangga, di mana mungkin mereka nggak akan melihatnya.
Keduanya tertawa dan tetap berlalu, hingga suara mereka nggak kedengaran lagi begitu melewati pintu keluar. Ternyata mereka memang nggak seperti kelihatannya… Mereka lebih jahat dari yang bisa Molly lihat!
---
Getta kelihatan nggak bersemangat. Di saat Jonas heboh menanyakan kemana ia menghilang kemarin, ia memilih menghindar tanpa bilang sesuatu. Jonas mulai menggerutu, ia mengajak Yuna dan Lara untuk bersekutu dengannya mengatakan kalau Getta benar-benar menyebalkan. Sepertinya Getta belum bilang soal Chika.
Molly menarik nafas. Sadar, keadaannya jadi rumit. Ia nggak siap, jika ketiga orang ini tiba-tiba membahas soal yang kemarin lagi. ternyata, hanya untuk bilang suka saja begitu susahnya. Tapi entah mengapa, Molly merasa kalaupun ia mengatakannya, Getta nggak akan memberikannya jawaban yang ingin ia dengar. Sejak pagi, Getta mendiamkannya. Getta nggak menyapanya, bahkan ia nggak pernah menoleh ke belakang untuk melihat Molly.
Terasa begitu menyakitkan, melihatnya pergi dengan acuh dan membawa keluh kesahnya sendiri. Seolah nggak ingin diketahui siapapun kalau ia tengah dipusingkan oleh sesuatu. Ternyata Getta yang dulu itu benar-benar sudah nggak ada.
Begitu jam istirahat selesai, Getta nggak menunjukan tanda-tanda ia akan kembali alias bolos lagi. Molly sedang menebak-nebak, cowok itu pasti ketiduran karena kecapean. Dengar-dengar dari Jonas juga Getta sekarang ikut latihan tinju. Molly sempat heran, apa hubungan latihan tinju dengan pilot –kalaupun itu masih jadi cita-cita terbesarnya. Dari sana saja, Molly mulai bisa menilai kalau Getta benar-benar sudah jauh berubah. Tapi, ia sendiri juga membuat perubahan, dengan tiba-tiba latihan piano dan ikut festival musik. Rasanya, mereka mulai berseberangan. Seperti berdiri saling memunggungi lalu berjalan ke depan perlahan-lahan, makin lama makin jauh dan nggak akan pernah bertemu. Keadaan ini seolah mengisyaratkan bahwa cinta pertama itu terkadang memang harus dilupakan –bagaimana pun…
Jam dua siang. Setiap kelas mungkin sudah kosong. Namun, Molly masih beranjak dari tempat duduknya. Karena ia lihat ransel Getta masih tersandar di kursinya, menunggu untuk dijemput.
Dengan raut kusut dan rambut yang sedikit acak-acakan, Getta menemukannya selangkah menginjakan kakinya di kelas yang sepi. Ini bukan pertama kali Molly menjagai tasnya saat ia bolos. Namun, mungkin ini akan jadi yang terakhir.
“Kamu…”, Getta bingung, ia nggak punya kata-kata yang cocok untuk mengungkapkannya sekarang. Tersirat rasa bersalah di wajahnya yang lelah dan kurang tidur.
“Gimana keadaan Chika?”, tanya Molly, berusaha tenang begitu ia berdiri dari kursinya.
Getta tampak kaget. Mungkin ia nggak menyangka bahwa Molly sudah tahu apa yang ia sembunyikan dari teman-temannya, “Masih koma…”, jawab Getta, tertunduk sejenak, “Kamu tahu dari mana?”
Molly mengusahakan senyum di bibirnya, walaupun mungkin suaranya akan kedengaran gemetar. Gimana pun nggak akan wajar kalau ia terus berusaha menunjukan bahwa ia sama sekali nggak terluka. “Aku sama Chika les piano di tempat yang sama”, jelas Molly, “Instruktur yang bilang”
“Les piano?”, Getta tampak lebih terkejut mengetahui ini. Terlihat jelas bahwa ia nggak terlalu tahu banyak tentang Molly –melebihi Richard.
“Ya, udah lumayan lama”, tegas Molly, berusaha setenang mungkin, namun ia tetap harus menunduk untuk menyembunyikan perasaan tersiksanya dalam suasana yang kaku dan dingin ini. Seolah udara bisa berbisik, kalau sekarang mereka bukan siapa-siapa jika kata ‘teman’ saja nggak bisa mewakilkan hubungan mereka saat ini. Dan kata ‘musuh’ terlalu asing karena dulunya mereka pernah merasa dekat –sangat dekat. Sedangkan kata ‘pacar’ malah nggak bisa disebut sebagai impian.
Hari-hari cerah yang berlalu di atas bus yang menuju ke sekolah itu seakan hanyalah mimpi. Mimpi yang seutuhnya nggak cukup mampu menjadi kenyataan. Pedih sekali ketika mengenangnya.Menarik nafas, Molly membuat langkah pertamanya dengan pelan. Namun terasa gontai, karena menahan sedih. Di matanya, Getta terlihat seperti orang asing.
“Maaf ya…”, kata Getta tiba-tiba, menghentikan langkah Molly yang hampir membuatnya terhuyung, “Maaf kalau aku bikin kamu sedih…”
Molly diam. Mendengarkan satu per satu kata yang Getta ucapkan dengan lamban dan… hati-hati. Dan ia tampak menahan kata-kata ‘mematikan’ di ujung lidahnya, masih berusaha agar Molly nggak melihat penyesalan itu di wajahnya.
“Aku nggak bisa ngelakuin sesuatu buat kamu…”, sambungnya, terlihat menelan ludah, “Tapi… aku nggak pernah punya maksud buat nyakitin kamu, apalagi sengaja…”
“Getta”, potong Molly, ingin segera menyudari pembicaraan mereka yang sepertinya nggak bermuara di suatu penyelesaian.
Cowok itu terhenyak. Ia tampak ragu-ragu memandangi raut Molly yang sedih. Karena ia sadar Molly banyak tersiksa bilamana berdekatan dengannya. Seakan dirinya sebuah paket dengan gabungan antara kebahagiaan dan kesedihan, tapi kesedihan lebih mendominasi –kesedihan yang disebabkan oleh Chika yang terus menjadi bayang-bayang di antara mereka.
“Aku ngerti kok”, kata Molly, “Aku sama sekali nggak ingin kamu jadi terbebani sama aku…”
Getta tertegun.
“Aku nggak ingin bikin kamu jadi bingung”, sambung Molly lagi, “Aku ngerasain kita banyak berubah. Begitu kita punya sesuatu yang lain untuk dipikirin…kita punya tujuan utama masing-masing…nggak ada salahnya, kalau sekarang…kamu ngelakuin sesuatu yang kamu anggap lebih penting. Aku juga gitu kan? Les piano, audisi musik, semuanya ada di kepala. Juga ada banyak hal yang nggak muat di kepalaku yang mau aku lakuin. Kamu juga…”
Getta mulai bingung dengan apa yang sebenarnya ingin Molly katakan.
“Aku nggak apa-apa. Kamu nggak usah cemas soal aku”, kata Molly lagi, “Jangan buat seolah-olah bikin orang jadi terbebani adalah cara orang lain menggambarkan aku…aku nggak mau lagi seperti itu…”
“Maksud kamu apa…”, Getta mengernyit.
“Aku kehilangan Chika bukan karena kamu kok”, kata Molly, “Aku kehilangan dia karena salah aku sendiri. Karena aku selalu bergantung sama Chika. Aku yang egois dan nggak ngertiin Chika sebagai sahabat…sekarang aku sadar, semua yang terjadi sama aku salahku aku sendiri…dikerjain, dimusuhin, aku ngasih kesempatan berkali-kali buat diperlakukan nggak adil…”
“Molly…”, Getta mulai ikut sedih.
“Kalau keadaan aku sekarang mulai bikin kamu bingung harus gimana, mulai sekarang aku berhenti…”, lanjut Molly, berusaha mengatakannya dengan cepat walau suaranya sudah gemetaran, “Aku berhenti jadi cewek lemah yang bisanya cuma minta dikasihani…dan aku nggak ingin kamu merasa bersalah sama aku…”
Kata-katanya lagi-lagi membuat Getta diam.
“Chika lebih butuh kamu daripada aku”, kata Molly dengan yakin, “Karena dia sendirian. Sedangkan aku…punya banyak”
Getta mengangguk perlahan, ia memang nggak punya kata-kata yang berarti untuk Molly yang terlanjur menegaskan bahwa alangkah baiknya mereka seperti ini saja. Nggak pernah menjadi ‘sesuatu’, hanya dua orang yang pernah saling mengenal sangat lama.
“Aku nggak akan ngerasa kesepian…”, Molly terdengar berujar, dan membuat beberapa langkah yang menjauhkannya dari Getta, “Aku pulang dulu ya…”
Sangat berat untuk mengatakan ‘ya’, tapi Molly seolah nggak membutuhkannya, karena ia terus berjalan hingga nggak terlihat lagi. Pintu kelas menutup dan suara langkah kakinya yang terdengar menjauh, menandakan bahwa ia nggak akan kembali lagi untuk mengatakan bahwa ia berubah pikiran. Nggak akan pernah. Getta merasa begitu lelah dan sedih. Rasanya ia nggak menginginkan sebuah ‘akhir’ yang seperti ini padahal baik ia ataupun Molly nggak pernah memulai.
Sementara dalam langkah yang buru-buru itu, tangan Molly yang belum berhenti gemetar terus berusaha menyeka air matanya. Ia berlari sekencang-kencangnya, seolah itu bisa menghilangkan perasaan sedih yang membuatnya nggak bisa bernafas.
---
“Kamu yakin?”, Richard kelihatan sangsi dan ia memperhatikan raut Molly sambil mengamati benarkah ia siap turun dari sini lalu masuk ke gedung itu.
Molly menarik nafas lagi sebelum mengangguk dengan pasti. Lalu ia mencoba tersenyum, “Kakak jangan bikin aku down dong…”, keluhnya.
Richard cekikikan, “Iya deh iya!”, katanya, “Aku tunggu di parkiran ya?”
Molly tersenyum sebelum turun dengan yakin dan menyaksikan Richard membawa mobilnya pergi. Lalu ia mulai melangkah masuk ke gedung rumah sakit itu. Hari ini tepat dua minggu Chika dirawat di rumah sakit. Kata Getta melalui teman-temannya, Chika sudah sadar dari komanya. Meskipun ia nggak yakin Chika menerima kehadirannya, setidaknya ia tetap harus datang. Meski bukan sebagai sahabat lagi. namun, di antara mereka masih ada satu hal yang belum selesai. Sebuah kejelasan.
“Molly?”, Chika terlihat kaget saat melihatnya masuk.
Molly masih mengenakan seragamnya, jelas sekali ia sekalian mampir sebelum pergi les.
“Ngapain lo ke sini?”, tanya Chika skeptis memandangi langkah Molly yang hampir gentar saat mendekatinya. Tapi, sebenarnya Chika cuma malu, Molly harus melihat keadaannya yang sekarang. Tubuhnya lebih kurus, rambut panjangnya kusut dan wajahnya tirus dan pucat. Beberapa lapis perban masih melingkar di kepalanya dan bagian belakangnya masih terlihat bercak darah. Kaki kanannya dibalut sangat tebal dan sepertinya nggak bisa digerakan. Ternyata keadaan Chika lebih parah dari yang Getta ceritakan ke teman-temannya.
“Gue…”, Molly nggak punya jawaban yang mungkin bisa membuat Chika nggak menatapnya seperti mengusir.
Di kamar itu ia sendirian. Getta bilang, orang tuanya masih saja berseteru dan saling menyalahkan. Karena itu Getta selalu menemaninya bahkan sampai bermalam di rumah sakit.
“Audisinya tinggal dua bulan lagi”, kata Molly mencoba berbasa-basi dan ia memang nggak bagus dalam hal itu.
Yang ada, Chika malah mengernyit dan senyum sinis terlukis dengan mudahnya,”Apa peduli lo?”, celetuknya, “Bukannya bagus gue nggak ikut?”
“Lo ikut atau nggak ikut, gue belum tentu bisa menang”, kata Molly, “Daripada Rizna atau Nandia yang menang”
Tiba-tiba Chika jadi kesal. Ia jadi ingat kalau kedua orang yang sudah ia anggap teman itu bahkan nggak pernah datang menjenguknya. Sekaligus sadar, toh mereka cuma teman untuk mengganggu Molly. Namun, jadi ganjil karena malah yang diganggu itu datang menjenguk. “Nggak mungkin dong lo datang ke sini cuma buat ngingetin gue soal audisi itu. Gue kasih tau ya, gue nggak bakal ikut”, tegasnya.
“Kenapa?”, tanya Molly.
“Lo nggak lihat?! Kaki gue patah!”, teriaknya, “Gue nggak bisa jalan!”
Molly terkejut, mendengar suaranya itu seperti mendengar gemuruh petir di siang hari. Tapi, ia berusaha untuk tetap tenang. Menahan segala ketakutannya. Mereka harus bicara meski Molly nggak yakin ini adalah saat yang tepat.
“Lo masih bisa pakai kursi roda kan?”, kata Molly polos dan Chika makin kesal.
“Lo itu emang dungu ya!”, teriak Chika lagi, “Lo pikir pakai kursi roda itu enak. Lo nggak bisa lihat kalau gue ini cacat! Gue cacat seumur hidup!”
Molly kembali terdiam. Apa yang bisa dia katakan lagi, kalau sekarang Chika udah segitu bencinya bahkan terus-terusan menghindari tatapannya?
“Gue juga punya cacat yang nggak kelihatan…”, kata Molly kemudian, masih memandangi Chika yang sekarang membelalak, “Seumur hidup yang bahkan mungkin udah ada sejak gue lahir”
Chika sekarang diam.
“Gue disleksia. Kalau lo pernah nanya kenapa gue nulis atau baca nggak becus, itu dia jawabannya”, kata Molly pelan dan setenang mungkin. Mengendalikan perasaannya setiap ia berusaha mengungkapkan ini, “Paling nggak itu penyakit yang nggak bisa disembuhkan dan bikin gue…jadi seperti orang dungu…sering kesasar dan nyusahin lo…”
Masih diam, sekarang Chika nggak mampu melepaskan tatapannya dari wajah sedih Molly yang ingin menangis.
“Karena itu gue datang ke sini…”, sambung Molly, “Gue cuma ingin bilang semua hal yang harusnya gue bilang sama lo sejak dulu…sekalipun sekarang lo anggap kita bukan sahabat lagi…”
“Lo mau bilang apa sih?”, Chika masih bernada sinis.
“Gue nggak pernah minta maaf atau bilang terima kasih sama lo”, kata Molly, “Maaf karena gue nggak pernah sadar selalu nyusahin lo dan terima kasih lo pernah mau jadi sahabat gue…dan di saat lo sendirian gue bahkan nggak ngelakuin sesuatu…”
Chika malah terkekeh, “Lo nggak usah sok memelas gitu deh…”, katanya, “Gue nggak tahu apa maksud lo bilang itu ke gue…atau…lo pikir Getta bakal simpatik gitu?”
“Chik, ini nggak ada hubungannya sama Getta”, potong Molly, “Sama sekali nggak ada”
“Terus?”
“Lo benar, gue cuma berharap belas kasihan dari orang lain”, kata Molly, “Sekali pun kita nggak akan pernah kayak dulu lagi, juga nggak apa-apa. Paling nggak bisa ngomong sama lo soal ini udah bikin gue tenang”
Chika masih kelihatan sangsi.
“Soal Getta…”, sambung Molly, “Gue ini bukan siapa-siapanya dia kalau lo pikir gue berencana buat ngambil dia dari lo. Lo harus sadar, Chik, Getta itu manusia, bukan barang. Dia punya perasaan dan ngelakuin sesuatu sesuai keinginannya sendiri…”
“Kenapa omongan lo nyinggung gue banget?”, celetuk Chika lagi.
“Dia udah mutusin kok…”, kata Molly dan Chika lagi-lagi terbungkam, “Dan menurut gue itu keputusan yang lebih baik buat kita bertiga…supaya nggak ada dendam lagi…”
“Maksud lo apa?”
Molly tersenyum.Mengambil beberapa langkah mundur lalu menarik nafas yang kelihatan lega, “Gue senang bisa ngomong sama lo lagi”, katanya, “Lo harus cepat keluar dari sini”
Chika masih heran, tapi ia nggak menghalangi Molly yang ingin segera pergi.
“Semoga cepat sembuh ya”, kata Molly tersenyum lapang, sebelum ia menarik gagang pintu lalu menghilang.
Pembicaraan seolah itu menghapus semua penyesalan yang nggak pernah tersampaikana untuk persahabatan yang hancur. Meski pun itu nggak bisa dibangun lagi, tapi memberi akhir yang bagus sudah seharusnya Molly lakukan, supaya Chika nggak lagi menyiksa dirinya sendiri dengan kebencian. Molly melangkah, makin lama makin cepat, hingga akhirnya ia berlari, seperti meninggalkan semuanya di belakang, masa lalu dan rasa sakit yang sudah nggak ada artinya lagi.*
;( #slowUpdate
Sisa brapa chapter lgi nih mba? #sleeping uglyx
#fighting (h)