๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Membuat Pengakuan
Yuna mengerahkan semua tenaganya menyeret Lara yang terus-terusan menggeleng, menahan dirinya. Sementara Molly tengah memperhatikan sosok Pak Heru yang sedang berjalan di koridor sendirian, dia baru keluar dari kantornya.
“Udah deh, lo harus ngomong sekarang!”, desak Yuna, “Satu-satunya cara buat perbaikin hubungan lo sama Pak Heru ya ngomong, kalau lo nggak mau benar-benar kehilangan dia”
“Pak Heru udah hampir jauh”, kata Molly padanya, lalu kembali mengintip.
Lara menggeleng lagi, “Udah telat, Yun”, katanya kecut dan murung.
Yuna hanya menarik nafas lelah, laluk mendecak, “Lo nggak nyesal, harus berakhir kayak gini?”, tanya dia.
Ini pertama kalinya Lara kelihatan takut dan lemah. Dia benar-benar bingung, saat memandangi Pak Heru yang punggungnya semakin jauh. Tapi, jika bukan sekarang kapan lagi? Selama seminggu, ia nggak pernah bisa berhenti memikirkannya. Kenapa ia terus bertanya-tanya pada dirinya tentang kesalahan apa yang dia lakukan sampai jadi seperti ini? Tapi, ini bukan salahnya, juga bukan salah Pak Heru.
Mereka hanya ada berada dalam posisi yang serba salah…
“Pak Heru!”, Lara mengumpulkan semua sisa keberaniannya –keberanian yang selama ini membuatnya mampu bertahan di tengah-tengah orang yang membencinya.
Guru itu seketika berbalik. Ia menghentikan langkahnya dan tampak sengaja menunggu Lara sampai.
“Ada apa, Lara?”, tanya dia tenang, sangat tenang.
Lara agak kecewa saat dia bersikap sangat biasa. Seolah keadaan mereka nggak menyiksanya, sama seperti keadaan itu menyiksa Lara sampai ingin mati. “Aku…”, ia berusaha memulai, “Aku nggak mau kita berakhir kayak gini…maksud aku…apa kita nggak bisa kembali kayak biasa…nggak peduli sama omongan orang…”
“Keadaannya sudah berbeda, Lara”, kata Pak Heru, ada senyum di bibirnya, namun kegetirannya mulai terasa, saat melihat ekspresi Lara.
“Kamu udah nggak sayang aku lagi?’, tanya Lara, terdengar merengek.
Pak Heru terdiam beberapa saat, ketenangan di wajahnya tampak beriak sedikit, sebelum ia kembali berusaha tersenyum, “Kamu harus sekolah”, kata dia, tampak sangat hati-hati memilih kata, “Selama kamu masih sekolah, ini akan terus jadi masalah”
“Kalau gitu aku berhenti sekolah…”, kata Lara, tampak memohon.
Pak Heru menggeleng, “Sudah cukup, Lara”, katanya, “Saya nggak bisa lagi membiarkan kamu berbuat bodoh hanya untuk bisa bersama saya…sengaja tinggal kelas, atau bolos sekolah…saya nggak ingin kamu melakukan yang lebih dari itu yang pada akhirnya merugikan diri kamu sendiri…”
Lara terdiam.
“Nggak ada cinta yang tujuannya menghancurkan satu sama lain, Lara”, ujarnya, “Di usia kamu yang sekarang harusnya kamu bermain, bukan berkeluh kesah karena memikirkan saya… kamu pantas mendapatkan lebih dari itu…”
Air mata Lara hampir menetes. Ia menganggap itu seperti penolakan. Setelah ini malah, ia akan semakin bingung dan takut. Merasa bahwa ia telah kehilangan tumpuan hidup. Ia terisak lagi.
“Jangan isi hari-hari kamu dengan beban yang belum saatnya kamu pikul…”, ujar Pak Heru lagi, “Saya baru sadar bahwa saya nggak bisa memaksa kamu menerima keadaan yang nggak kamu nggak bisa menghadapinya dengan tetap bersama saya. Kamu masih tujuh belas tahun”
Isakan Lara mulai terdengar. Ia tertunduk, menjatuhkan semua air matanya yang membanjir di pelupuk mata.
“Yang harus kamu lakukan sekarang adalah bersenang-senang, nikmati masa remaja kamu, karena itu hanya terjadi sekali seumur hidup”, kata Pak Heru lagi, “Karena saya nggak ingin kamu menyesalinya suatu hari nanti ketika kamu sudah dewasa, kamu merasa kehilangan sesuatu yang nggak bisa kembali. Saat-saat seperti ini sangat penting dalam hidup kamu…”
“Tapi, aku…”, Lara ingin membantahnya.
“Kamu harus rajin belajar, jangan sampai tinggal kelas. Karena kalau kamu tinggal kelas lagi, itu hanya akan membuat kamu menjadi anak SMA lebih lama”, sambung Pak Heru, lalu menatapnya lekat-lekat, “Saya nggak ingin kamu jadi anak SMA lebih lama lagi karena…”
Tangis Lara tiba-tiba tertahan. Ia tampak menunggu apa yang Pak Heru katakan selanjutnya –mungkin saja sesuatu yang akan kedengaran lebih melegakan dan bukannya penolakan lagi.
“Kamu harus lulus dan meninggalkan sekolah ini dengan cara yang terhormat…”, kata Pak Heru, tersenyum, pada akhirnya, “Setelah itu sekolah nggak akan lagi menghalangi apa yang kamu rasakan…”
Lara hanya menatapnya nggak percaya. Itu bukan penolakan! Ia tutup mulutnya, sambil terus terisak.
“Cepatlah dewasa, Lara…”, kata Pak Heru, dalam dan tenang.
Dengan cepat, Lara langsung mengangguk-angguk.
“Saya pergi dulu”, katanya pamitan, sebelum menyeret langkah meninggalkan koridor.
Lara sudah sampai pada akhir yang nggak ia sangka sama sekali. namun, merasa lebih baik. Ia kembali berusaha tegak, memandang sosok yang dicintainya itu perlahan menjauh darinya sambil berkata dalam hati, ‘Lihat aja nanti. Aku bakalan lulus dari sekolah ini. Jadi perempuan yang cantik dan dewasa’. Jika sudah begitu, Pak Heru nggak punya alasan lagi untuk menolaknya.
Tarikan nafasnya yang panjang, menyusupkan perasaan lega yang luar biasa. Menyadari bahwa itu bukan penolakan, membuat Lara gembira. Pak Heru menunggunya, itulah yang ingin ia katakan.
---
“Gue…mau bilang terima kasih sama lo”, kata Lara, dengan senyum yang ternyata membuatnya jadi kelihatan lebih cantik.
Jonas melongo. Tiba-tiba dihampiri dan langsung mendengar ucapan Lara yang kedengarannya manis. Ia malah nyengir nggak jelas seperti kebiasannya, “Lo norak banget deh. Biasa aja kali”, kata dia sok keren.
“Gue juga mau minta maaf”, kata Lara lagi, “Selama ini sikap gue ke elo itu…nyebelin. Dan…”
“Dan apa?”, Jonas nyolot, terbaca sudah apa yang ingin Lara ucapkan melalui tatapan menyesalnya –seperti sebuah ungkapan duka cita.
“Gue nggak bisa nerima lo jadi cowok gue, Jo”, kata Lara.
Jonas malah ketawa, seolah itu nggak menyakitinya.
Lara pun mengernyit heran, bisa-bisanya dia ketawa di saat seperti ini!
“Gue nggak pernah nembak lo juga kok”, kata Jonas cekikikan, “Soalnya gue tetep bakal ditolak”
“Sory…gue…”, Lara kelihatan jadi nggak enak.
“Buat gue…yang penting lo nggak pasang tampang jutek lagi ke gue”, katanya, dengan senyum lebar, “Terus nggak ngancungin jari tengah lo lagi. Sumpah, itu bikin gue galau”
Lara semakin heran. Namun cemas, apa benar cowok ini merasa baik-baik aja?
“Tapi, sekarang udah nggak lagi kok”, kata Jonas berdiri dari kursinya, masih dengan senyum lebar yang menunjukan keceriaan yang sama seperti biasanya, “Gue senang kalau lo senang”
Terdiam, Lara hanya memperhatikan sikap Jonas yang tampak begitu tenang.
Cowok itu bergerak, meninggalkannya, “Semoga lo sama Pak Heru bisa bener-bener ketemu nanti”, dia berpesan sebelum pergi membawa senyum lebar itu. Tapi, tiba-tiba dia kembali lagi, menghampiri Lara, “Oh iya, harusnya tuh lo juga bilang makasih sama Molly”
Sejenak, Lara terhenyak. Lalu tersenyum untuk dirinya. Jonas benar.
“Gue tau dia dari SMP kok. Walaupun semua orang bilang dia dungu, begok dan aneh, tapi dia tuh baik. Terutama sama orang yang dia sayang”, kata Jonas lagi, “Dia mau dan bisa ngelakuin apa aja, termasuk ngorbanin dirinya sendiri supaya orang yang dia sayang bahagia”
Lara kembali tertegun.
“Dulu dia punya sahabat dekat dan demi sahabatnya itu dia rela ngorbanin perasaannya. Tapi, sayang, dia dikhianati. Dia jadi kehilangan sahabat juga orang yang dia suka…”, kenang Jonas dan tiba-tiba merasa bersedih.
“Maksud lo Getta?”, Lara menebak-nebak.
Jonas menarik nafas, “Gue juga masih ngerasa bersalah soal itu…”, akunya, “Mudah-mudahan dia nggak akan lagi ketemu teman yang baik di depannya aja tapi nusuk dari belakang…”
Pengakuan Jonas bikin Lara jadi berpikir lagi, “Kalau lo ngerasa bersalah kenapa lo nggak coba ngelakuin sesuatu buat nebus rasa bersalah lo?”, tanya dia.
Ngelakuin sesuatu?, Jonas menatap Lara yang kelihatan serius.
“Ngelakuin sesuatu yang dari dulu harusnya lo lakuin”, ulang Lara, “Lo kira apa?”
Sesuatu yang harusnya dulu Jonas lakukan tapi nggak bisa ia lakukan –karena Chika. Mungkin udah saatnya ia menunjukan kalau ia ingin memperbaiki kesalahannya dulu.
---
“Latihan tinju? Serius lu?”, Jonas mengernyit, nggak percaya memandangi Getta yang bersandar ke anak tangga dengan lelah, “Sejak kapan?”
“Baru seminggu ini”, jawabnya santai, memandang ke atas, lalu memejamkan matanya.
Jonas masih nggak percaya dengan apa yang Getta katakan. Getta dan latihan tinju –dua hal yang kedengarannya ganjil. Setahunya, Getta lebih jago dalam pelajaran daripada memukul, “Lo bisa bonyok, Get”, katanya lagi.
Getta tersenyum, hampa, masih memandangi langit dari tangga darurat tempat ia biasa membolos kalau mengantuk, “Gue lebih nggak ingin bonyok dipukulin tukang palak dekat rumah”, kata dia, tertawa pelan.
“Lo dipalak?”, Jonas lebih heran lagi.
“Hidup gue udah berubah drastis”, kenangnya sambil bangkit untuk duduk berhadapan dengan Jonas yang terus-terusan melotot padanya, “Waktu SMP, semuanya normal. Gue ceria, gue bisa ngasih perhatian sama orang-orang terdekat gue. Itu saat-saat yang paling menyenangkan buat gue dulu. Dikejar-kejar cewek tapi nggak ada satu pun yang gue suka karena gue sendiri nggak tahu apa itu suka. Yang jelas, gue nggak pernah butuh pacar. Waktu itu, ada lo, Chika, Molly dan yang lainnya juga…”, kenangnya, masih dengan senyum hampa, “Gue nggak pernah ngerasa sebahagia itu lagi sekarang”
Jonas diam. Sekarang ia hanya ingin mendengarkan Getta dan semua keluh kesahnya.
“Orang bilang kebahagiaan itu harus dicari”, sambungnya, “Gue nggak tau harus nyari ke mana. Sejak bokap sama nyokap mulai ribut, seolah nggak pernah ada ketenangan di mana pun. Di rumah, di sekolah, semua itu kayak nggak nyata, dan gue ngerasa entah hidup di dunia mana…seolah ada ‘Getta’ yang lain yang dunianya beda banget dan kita bertukar peran. Gue ngelakuin segala cara di otak gue untuk balikin kehidupan gue yang dulu, tapi semua itu nyata…”
“Gue ngerti perasaan lo kok…”, kata Jonas pelan, menatapi Getta prihatin, “Kalau lo ngerasa itu yang bisa lo lakuin sekarang untuk berhenti mikirin ortu lo. Tapi,… gue jadi mau tanya sesuatu”
“Apa?”, Getta kelihatan mau tahu.
“Soal lo sama Molly. Apa lo bakal bilang sesuatu sama dia?”, tanya Jonas, ragu-ragu, “Maksud gue…yah… kita tahulah kalau lo masih punya perasaan sama dia dan… ”
Getta tiba-tiba tersenyum, getir. Sikapnya itu bikin Jonas jadi nggak bisa melanjutkan kata-katanya, “Gue nggak ngerti…”, kata dia, tertunduk, masih dengan senyum itu, “Itu hak kalian buat ngambil kesimpulan kalau harusnya itu yang gue lakuin supaya semuanya jelas. Tapi, gue…punya banyak pertimbangan”
“Pertimbangan apa lagi sih?”, Jonas jadi nggak sabar, “Sekarang apa alasan lo nunda-nunda ini terus?”
“Gue sama sekali nggak menunda-nunda sesuatu”, Getta menegaskan, “Posisi gue serba salah, Jo”
“Serba salah?”, Jonas heran, dan malah jadi kepikiran.
“Molly sama Chika jadi rusak gara-gara gue”, jelasnya dan Jonas kaget, “Dulu gue sama Chika terlalu dekat dan dia selalu berharap kita bisa pacaran. Gue nyaris kepikiran untuk setuju tapi…gue ngerasa ada sesuatu yang menahan gue buat nerima dia…kalau dibilang perasaan gue sama Molly masih kuat, mungkin nggak juga. Gue marah banget sama dia karena ngerasa ditolak…Tapi, setelah gue tau semuanya, sekarang perasaan gue jadi kebalik. Sementara…Chika udah terlanjur dekat sama gue dan dia…ngalamin kejadian yang sama persis dengan yang pernah gue lalui…”
“Lo percaya sama Chika dan omongannya dia?”, Jonas menatapinya serius.
Getta balas menatap Jonas, “Ortunya Chika juga berantakan baru-baru ini…”, jelasnya, “Gue ngerti saat ini dia sedih…”
“Apa cuma itu alasannya?”, tanya Jonas.
“Gue butuh waktu”, jawab Getta, tampak termenung, “Buat mikirin apa yang sebaiknya gue lakuin ke Chika di saat begini dan menjaga perasaannya Molly… Gue…belum bisa memilih, Jo”
“Kasihan Molly…”, gumam Jonas, menatap Getta sekali lagi, “Lo sadar nggak sih apa yang udah dikorbanin Molly selama ini? Dia dibuang sama Chika dan harus kehilangan lo! Sekarang dia harus nunggu lagi entah sampai kapan cuma buat kata-kata suka dari lo…Kalau ini kelamaan, dia nggak akan kembali lagi, Get.”
“Jadi ternyata lo tau soal mereka?”, tanya Getta suaranya datar dan tatapannya terlalu dalam –seperti mencurigai, “Kok gue bisa nggak sadar kalau lo tau semuanya?”
Jonas tercekat. Ia menatap Getta dengan tegang.
“Oh…”, Getta tampak menyadari sesuatu, “Gue jadi ingat tiba-tiba lo juga ngejauhin gue. Apa ini ada hubungannya sama mereka yang tiba-tiba renggang?”
Jonas terdiam. Masih belum hilang raut tegang di wajahnya, Getta terus menatapnya dengan rasa curiga itu.
“Lo juga bilang Chika cewek nenek sihir seolah lo benar-benar tahu semua ‘kejahatan’-nya sama Molly. Padahal kalau lo tahu, nggak masuk akal kan kalau lo nggak bilang sama gue”, Getta mulai kedengaran menuduh, “Yang gue tahu kalian dulu akrab banget, tapi kenapa sekarang kata-kata lo tentang Chika itu nggak pernah lagi enak didengar?”
“Gue…”, Jonas mencoba menjelaskan tapi ragu. Nggak, ia benar-benar takut, “Gue minta maaf, Get…”
“Minta maaf soal apa?”, Getta sekarang benar-benar curiga dan nggak sabaran. Ia nggak melewatkan sedikitpun perubahan mimik wajah Jonas yang kelihatan sedang menyembunyikan sesuatu yang penting.
“Gue bantuin Chika buat misahin lo dari Molly”, kata Jonas akhirnya dan ia mulai menunggu apa yang akan dikatakan Getta yang kelihatan syok.
Getta diam. Matanya membelalak. Kelihatan nggak percaya dengan yang ia dengar barusan dari mulut Jonas –sahabat terbaik yang selama ini ia percayai dan satu-satunya alasan mengapa ia pindah ke sekolah seperti ini.
Jonas tertunduk, “Gue nggak punya pilihan. Gue kelewat takut nggak lulus dan Chika mau ngasih gue contekan dengan satu syarat…”
“Jadi…lo sama Chika…”, Getta berusaha mengulangnya lagi dengan membayangkan saat-saat terakhir mereka di SMP dulu.
“Gue ngerasa bersalah banget sama lo dan Molly. Waktu pengumuman kelulusan…gue nyesel kenapa gue nggak bilang yang sebenarnya sama lo. Setelah itu juga, setelah kita masuk SMA, seharusnya gue bilang sama lo kalau hari itu…gue lihat Molly nangis waktu lo pergi konvoi naik motor sama yang lain…”
Getta diam lagi. Tiba-tiba, ia bangkit dan berdiri dari tempatnya.
“Get, maafin gue…”, Jonas kedengaran memohon, sambil memandangi sosok Getta yang tinggi berdiri menjulang di hadapannya. Sebelum Getta melangkahkan kakinya, ia nggak akan sadar betapa syoknya Getta mengetahui itu lewat langkah kakinya yang gontai.
Tapi, Getta malah pergi. Ia nggak mengatakan sesuatu. Bahkan ia nggak lagi menoleh walau sedikit.
---
“Kayaknya lo harus hati-hati sama Richard deh”, kata Lara tiba-tiba, ia menatap Molly dengan tatapan serius sementara Yuna tampak ngangguk-ngangguk seolah membenarkannya.
Molly jadi heran, hati-hati? Ia merasa nggak ada yang salah dengan Richard. Selama ini mereka cuma bertemu untuk urusan les piano, tapi seolah itu menjadi ancaman serius di mata kedua cewek ini. “Kak Richard kan sepupunya Pak Heru…”, kata dia, agak ragu-ragu, berharap itu dapat menegaskan apa yang ia rasakan.
Lara menghela nafas, “Ya, jadi sepupunya Pak Heru juga nggak jamin dia tuh beres”, balasnya.
Molly makin bingung.
“Lo tuh sadar nggak sih di-bully sama Karina cs itu gara-gara dia?”, tanya Lara, ketus. “Dia pernah PHP Karina sampai cewek itu kege-eran dan ngerasa kalau mereka pacaran. Makanya lo di-‘serang’ sama mereka”
“PHP itu apa sih?”, Molly melongo, dengan ekspresi polos.
“Pemberi Harapan Palsu!”, jawab Yuna cepat karena Lara mendadak lemas mendengar pertanyaan lugu Molly.
“Kayaknya kalian salah paham deh…”, kata Molly, tersenyum manis, “Aku sama Kak Richard nggak kayak gitu… kita cuma temenan kok…”
Lara dan Yuna saling tatap. Sepertinya bukan penjelasan seperti itu yang mereka ingin dengar.
“Temenan sampai dia dapet yang dia mau”, tegas Yuna.
Molly menggeleng-geleng dengan sangat yakin, “Aku nggak ngerti kalian ngomong apa…”, katanya, menatapi mereka satu-persatu, “Kak Richard udah banyak bantuin aku. Dia daftarin aku ke audisi festival musik, dia juga ngasih tahu aku tempat les piano yang bagus.”
“Piano?”, Lara semakin heran, Yuna juga. Mereka lagi-lagi saling tatap, sebelum memandang Molly sekali lagi.
“Iya”, Molly semakin bersemangat, lalu tiba-tiba murung teringat akan sesuatu karena tampaknya mereka belum mengerti dirinya, “Aku ini beda dari kalian…”
“Maksudnya?”, Yuna tampak bertanya-tanya.
“Semua orang bilang aku bego, bodoh dan dungu…aku nggak pernah tahu kenapa aku nggak bisa berteman dan dianggap aneh…”, jelasnya, dengan nada sedih, “Aku beda dari kalian”
“Beda kenapa?”, tanya Yuna, penuh perhatian.
“Aku disleksia”, jawab Molly, getir dan menatapi mereka dengan mata sayu, “Kalau kalian lihat tulisan aku, kalian pasti ngerti, atau dengerin aku membaca, kalian bakal tau kalau itu harusnya gampang buat aku…walaupun aku perhatiin hurufnya satu-satu, aku tetap salah nulisnya…kalau guru ngomong di depan kelas, aku sama sekali nggak ngerti apa yang dijelasin…aku nggak bisa ingat dengan persis...”
Hening.
“Satu-satunya yang bisa aku lakuin cuma gambar…dan main piano…”, sambung Molly.
“Kita sama sekali nggak maksud jelek-jelekin Richard kalau ternyata keadaannya begitu, tapi cuma ngingetin”, terang Lara setelah ia tercenung beberapa saat, “Gue nggak mau karena Richard segitu baiknya sama lo, lo jadi salah ngartiinnya kalau ternyata dia cuma niat nolongin…sementara dia kan yah…playboy…”
“Molly kan sukanya sama Getta”, komentar Yuna dan Molly seketika malu.
Melirik Yuna sebentar, Lara kembali menoleh ke Molly, “Kalian tuh aneh”, katanya, “Kita bisa lihat kalau kalian lagi kasmaran, tapi kenapa sih itu nggak berarti sesuatu buat kalian? Seolah kalian tuh nyaman jadi teman dan sibuk sendiri-sendiri”
“Itu sih karena Getta-nya aja yang lamban”, Yuna kembali berkomentar.
Lara mendengus, “Emang sih…”, gumamnya lemas.
Molly tertunduk, kembali terlihat murung dan sedih. Sebenarnya antara ia dan Getta masih punya satu penghalang.
“Lo nggak bisa mulai duluan emang?”, tanya Lara tiba-tiba, menjurus dan serius lewat tatapan menusuknya.
Yuna tiba-tiba ketawa, “Nggak mungkinlah!”, serunya cekikikan, “Gimana bisa Molly duluan yang bilang suka? Dia kan nggak pernah ngomong lebih dari lima kata kalau berdiri di depan Getta!”
Perkataan Yuna itu bikin Molly jadi berkecil hati. Memang sih…tapi…cewek nembak duluan? Itu nggak mungkin, apa lagi buat cewek seperti dirinya.
“Jonas udah cerita semuanya ke gue”, kata Lara, masih dengan tampang serius, “Soal masa SMP dan cewek yang sampai sekarang masih ‘berkeliaran’ di sekitar Getta…”
Molly terkejut, Jonas?, ia merasa heran. Kenapa Jonas sampai cerita-cerita segala?
“Maksud lo cewek yang sering nungguin Getta di depan?”, tanya Yuna ke Lara.
Lara mengangguk sedikit, sambil terus menatapi Molly –seolah memaksanya untuk mengambil keputusan, “Lo harus bilang sekarang, sebelum semuanya telat”, katanya, “Cewek itu bisa ngelakuin sesuatu yang lebih kejam lagi buat misahin lo sama Getta”
Molly menggeleng-geleng. Ia merasa nggak yakin untuk membuat sebuah pengakuan.
“Lo takut apa sih?”, Lara jadi nggak sabaran, “Ditolak?”, desak dia, “Lo nggak mungkin ditolak Getta, Mol. Semuanya udah jelas”
Molly masih menggeleng-geleng. Ia malah bertambah takut.
“Terus apa lagi?”, Lara benar-benar nggak sabar lagi, “Jangan bilang deh lo masih mikirin mantan sahabat lo itu”
“Lara…”, Molly tampak memohon agar berhenti mendesaknya, “Nggak gitu…”, suaranya terdengar sedikit merengek.
Yuna ikut-ikutan pasang muka serius, “Terus?”, dia juga mendesak.
Hanya desahan nafas lelah yang terdengar dari Molly, lalu gelengan kepala yang bikin keduanya jadi ngenes.
“Cinta itu harus diperjuangkan, Molly”, kata Lara padanya, ekspresinya mulai berubah tenang, “Kalau nggak sekarang, kapan lagi? jaman sekarang, nggak peduli cowok atau cewek yang nembak duluan, yang penting bisa tersampaikan”
“Tapi…”, Molly memikirkan beberapa kata untuk berkilah. Ia sama sekali nggak punya keberanian menyatakan perasaannya.
“Nggak ada salahnya, Molly”, ujar Yuna, tersenyum, “Kita bakal kasih lo keberanian untuk bilang ke Getta hari ini juga”
---
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi juga. Halaman sekolah yang tadinya lengang sekarang sudah dipenuhi anak-anak yang berjalan menuju gerbang. Pinggiran jalan kelihatan ramai oleh anak-anak yang meunggu jemputan atau yang jalan kaki menuju halte terdekat.
Molly gemetaran saat kedua lengannya diseret paksa oleh Yuna dan Lara. Mereka benar-benar serius soal ide itu, sementara Molly bingung, harus bilang apa sama Getta –maksudnya kata-kata apa yang cocok untuk mengungkapkan perasaan suka tanpa harus malu-maluin?
“Cuma tiga kata, Mol”, kata Lara, “Aku, suka, dan kamu”
“Tapi…”, Molly lagi-lagi memohon agar ia nggak diseret semakin dekat ke tempat di mana Getta berada.
Ya, cowok itu tengah berjalan seorang diri menuju gerbang sekolah. Mereka harus mengejarnya lebih cepat.
“Udah deh…”, ujar Yuna, menarik lengan kanan Molly lebih kuat, “Nggak apa-apa.!”
Molly merengek-rengek, sambil menggeleng-geleng, ia benar-benar nggak yakin.
“Lo mau memendam perasaan kelamaan begitu?”, suara Lara kedengaran mengancam, “Kalau lo nggak bilang sekarang, lo bakal nyesel. Sama kayak dulu waktu nggak bisa bilang perasaan lo cuma karena takut”
Molly tercenung.
“Lo udah bersabar selama ini. Nggak ada salahnya lo dapat hadiah atas kesabaran lo itu, Mol”, Lara berujar padanya, “Lo pantes buat ini…dia juga masih suka sama lo sekali pun cewek itu ada di dekatnya…”
Awalnya Molly terdiam dan berpikir lagi. Lalu ia menarik nafas panjang dan dalam; memberi Lara dan Yuna senyuman yang membenarkan pendapat mereka.
“Getta!”, panggilnya dengan lantang, saat Getta sudah melewati gerbang.
Getta langsung menoleh ke belakang. Dia berdiri di sana, dan tersenyum. Terlihat memberi sebuah kepastian.
Molly berlari ke arahnya tanpa diikuti Lara dan Yuna yang lebih memilih menunggu sambil menyaksikan Molly akhirnya memberikan pengakuan.
“Molly?”, Getta kelihatan senang saat menyapanya dan heran saat memandangi Molly yang ngos-ngosan begitu sampai ke hadapannya, “Ada apa? Kenapa kamu lari-larian gitu sih?”
Molly berusaha keras mengatur nafasnya dengan cepat. Agar suaranya nggak tertahan oleh lenguhannya yang sesak. Tapi,…
“Getta!”, suara lain terdengar memanggil dari kejauhan.
Sebuah mobil kebetulan melintas di belakang Getta, menyembunyikan sosok seseorang yang ingin melintas beberapa saat. Lalu Chika terlihat, tengah berlari dari seberang jalan ke arah mereka.
Getta kelihatan terkejut, begitu pula Molly yang sesak di dadanya seketika hilang melihat cewek itu langsung menghampiri Getta. Nggak cukup dengan kemunculan yang terlalu mendadak, seperti nggak tahu malu, Chika merangkul Getta dengan kedua tangannya dalam hitungan detik.
Rangkaian kata yang Molly siapkan di dalam kepalanya mendadak putus –seperti sebuah kalung mutiara yang terlepas, bulir-bulirnya jatuh berserakan memantul ke segala arah. Kepalanya langsung tertunduk, saat Getta kebingungan menghadapi Chika yang terlihat bahagia.
“Lo juga di sini?”, Chika menegur Molly, yang telah mematung dengan menyedihkan.
Nggak ada jawaban dari Molly yang sekarang keberaniannya sudah luluh lantak. Rasanya nggak akan ada lagi kesempatan yang sama untuk menyampaikan perasaannya. Melihat Chika memeluk Getta seperti itu, rasanya ada sesuatu yang tersirat. Mereka sudah sangat dekat lebih dari yang Molly kira selama ini. Ternyata kesempatan itu benar-benar nggak pernah ada.
Karena nggak dijawab, Chika kembali mengabaikan Molly dan mulai fokus ke Getta yang tampak merasa bersalah dan linglung.
“Kita pergi yuk”, ajak Chika, nggak tanggung-tanggung juga menggandeng lengangnya seperti pasangan baru jadian.
Jantung Molly mulai berdetak nggak karuan.
“Chik, gue…”, Getta kelihatan ingin melepasnya tapi Chika terlalu kuat.
“Lo kan udah janji sama gue, Get”, desak Chika. Tampak nggak memberi waktu sedikitpun bagi Getta untuk bicara. Ia tetap menarik Getta pergi bersamanya.
“Chika, gue…”, Getta masih kelihatan ingin menegaskan.
“Kenapa?”, tanya Chika, wajahnya kelihatan sedih tiba-tiba –tepatnya memelas, “Lo mau ninggalin gue lagi, karena sekarang udah ada Molly?”
“Chika…”, Getta mencoba berujar, “Dengerin gue…”
Chika menutup telinganya! Ia mulai menggeleng-geleng, “Gue nggak mau denger!”, ia bersikeras, mulai kehilangan percaya dirinya. Seketika, ia pun menghampiri Molly, “Gue tahu gue udah jahat sama lo”
Molly terkejut, syok dan bingung. Ia hanya bisa menatap Chika tegang.
“Gue minta maaf. Tapi, tolong, saat ini gue cuma punya Getta di dekat gue”, katanya cepat dan memaksa, “Ortu gue berantakan, gue nggak punya teman lagi, gue nggak punya siapa-siapa yang ada di samping gue sekarang…”
“Chika!”, suara Getta meninggi.
Wajah Chika memerah dan dia nyaris kelihatan nangis, “Keadaannya sekarang kebalik, Mol…”, kata dia lagi, “Sekarang giliran lo yang punya semua yang gue nggak punya. Orang tua, teman-teman, kehidupan sekolah yang normal…semua itu udah nggak ada buat gue, jadi tolong…lepasin Getta”
“Chika, lo apa-apaan sih?”, Getta mulai kesal. Ia menarik Chika menjauh dari Molly yang juga kelihatan hampir nangis mendengar kata-katanya.
“Molly”, Chika masih ingin bicara, ia menepiskan tangan Getta darinya agar ia bisa melanjutkannya, “Getta udah janji sama gue dan dia harus nepatin janjinya…”
“Chika!”, Getta semakin marah.
“Udahlah, Get!”, kata Molly cepat, keras dan lantang. Menahan sakit di dadanya sendiri, ia memandangi keduanya bergantian.
Getta dan Chika sama-sama terkejut.
“Aku pergi dulu”, kata Molly, langsung berbalik. Berlari pergi meninggalkan mereka. Ia nggak sanggup berdiri di sana lebih lama, melihat mereka.
---
“Molly?”, Getta bersiap mengejarnya, tapi lengannya ditarik oleh Chika yang menahannya sekuat tenaga.
“Please…Getta, jangan tinggalin gue…”, pintanya memohon, air matanya membanjir.
Semua orang jadi melihat ke arah mereka.
“Cukup, Chika!”, hardik Getta, luar biasa marah, “Bisa nggak sih lo itu nggak ngelakuin hal-hal yang nggak nyakitin orang lain?”
Chika hanya merengek, berusaha menahan Getta dengan cengkraman tangannya.
“Udah banyak yang menderita gara-gara lo dan perasaan lo itu. Gue, Molly, dan Jonas! Lo belum puas, hah?!”, makinya, “Sekarang lo maksa Molly lagi sesuai keinginan lo, lo nggak punya perasaan?”
“Gue sayang sama lo, Get…gue nggak mau kehilangan lo…”, Chika tampak memelas.
“Lo boleh sayang sama gue, Chik, tapi nggak gini…”, kata Getta, “Lo nggak harus bikin orang yang lo sayang nyakitin orang lain…”
“Getta, please…”, Chika masih memohon dengan keras kepala, memegangi lengan Getta yang berusaha ia tarik kembali agar terlepas. Tapi, Getta memaksa melepaskan diri untuk kemudian berlari mengejar Molly.
Getta berlari secepat yang ia bisa, melewati keramaian itu dengan perasaan khawatir. Molly sudah nggak terlihat lagi. Getta mengedarkan pandangan ke sekitarnya berharap Molly bisa ditemukan hingga kemudian ia melihat sosok belakang Molly yang berlari masuk ke gedung sekolah.
“Molly!”, panggil Getta dari kejauhan, tapi Molly menghilang ke dalam sana, “Molly!”
Lantai lorong sekolah yang mulai sepi kembali memantulkan suara langkah kaki Getta yang berlari. Ia sudah kehilangan Molly sejak masuk ke sini dan mulai melihat ke lorong-lorong lain yang mungkin dilewati Molly demi menghindar darinya.
Tapi, meskipun menemukannya, ternyata sudah cukup terlambat.
“Molly, kamu kenapa sih?”, itu suara Richard. Ia terdengar panik saat mencegat Molly yang kebetulan berpapasan dengannya.
Ya, Molly menangis. Ia tertunduk merengek di depan Richard yang kelihatan cemas.
“Hei…”, tegur Richard lagi, menggenggam bahu Molly.
Getta tertegun di ujung lorong memperhatikan mereka.
“Kamu kenapa?”, Richard tampak begitu penuh perhatian, “Kenapa nangis?”
Molly menggeleng-geleng dengan bingung. Ia menatap Richard sebentar sebelum terisak lagi.
“Hei…”, tegur Richard lagi, mulai khawatir dan mengguncang-guncang bahu Molly yang lemah.
Molly masih nggak jawab. Ia hanya menangis dan itu nggak bisa berhenti. Makin lama makin menjadi-jadi, mungkin sudah lama ia nggak menangis sampai seperti itu.
Langkah Getta tertahan di tempatnya berdiri dengan berat hati. Entah mengapa, ia nggak menghampiri mereka, dan menarik Molly dari Richard lalu membawanya pergi. Getta hanya benar-benar terlambat sekarang, menyaksikan Richard memeluk Molly untuk menenangkannya. Seseorang yang lain telah melakukan hal yang harusnya ia lakukan lebih dulu, mengetahui itu, Getta pun memutar arah sebaliknya, menjauh dari sana.
ooOoo
;( kasian banget sih molly...
thanks mba udah upload... ditunggu yaa kelanjutanx... (o)
Moga sehat slalu mba n teruslah kembangkn karya2x... #fighting (k)
thanks for the support ;-d baca karya yg lain uga yaaaa
Udah aku baca mba.. (o)
Mba punya nda akun wattpad?
ada kok... ARitaFe
follow ya