๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Broken Home
“Okay, Class!”, Cariss berseru ke penjuru ruangan dan seketika anak-anak muridnya menoleh, “Hari ini kita punya teman baru”
Molly berdiri nggak jauh dari Cariss, tepat di belakangnya. Dengan ragu, ia maju beberapa langkah untuk mengenalkan diri pada teman-teman barunya, “Na…nama saya…Molly Andreata…”, katanya menatap ke depan takut-takut.
Tapi, anak-anak di depannya jauh kelihatan beda dari teman-teman di sekolah yang rata-rata sebaya. Di sini, ia bahkan ketemu sama anak-anak kecil. Yah, ia ingat, di sini bukan sekolah formal. Anak-anak itu di sini karena ingin belajar piano. Kelihatannya mereka juga ramah.
“Itu aja, Molly?”, tegur Cariss karena Molly nggak lagi mengatakan sesuatu.
Molly mengangguk dengan sangat pelan.
“Nah, seperti biasanya Molly, setiap anggota baru harus main piano dulu”, Cariss tersenyum.
Apa?, Molly sedikit terkejut.
Cariss menuntunnya menuju piano Yamaha yang berada di sudut kelas, “Ayo, kamu harus mulai belajar main piano disaksikan orang lain…karena nanti saat festival kamu akan main di depan ratusan orang”, ujarnya.
“Tapi…”, Molly mulai cemas dan tangannya jadi gemetaran. Saat duduk di kursi, ia semakin deg-degan. Sekali ia pandang teman-teman barunya, terlihat di satu sudut, ia menemukan dua orang anak cewek yang tengah berbisik-bisik dengan tatapan mengejek. Membuatnya down seketika.
“Molly, ayo…”, kata Carris yang berdiri di nggak jauh dari pianonya.
Molly masih ragu-ragu, terlebih ia baru menerima pukulan nggak terlihat dari dua orang yang memandanginya dengan pandangan menusuk itu. Seolah Molly nggak pantas duduk di sini. Jari-jarinya gemetaran saking takutnya.
Tapi, ia teringat, ini bukan sekolah. Teringat kata-kata Richard yang menyemangatinya selama ini,
Sebenarnya nggak ada yang salah sama diri kamu kok.
Apa yang kamu takutin itu cuma perasaan parno kamu aja.
Kenapa kamu nggak bisa ngerasa main piano itu sama kayak mengambar? Hanya itu yang bisa kamu lakuin karena kamu nggak bagus dalam pelajaran. Gampang kan?
Jika ia nggak pernah mengenal Richard, apa ia akan berada di sini?
Demi Richard, pikirnya. Sebelum jari-jarinya menyentuh tuts piano, memperdengarkan sebuah lagu yang bikin cewek-cewek itu diam seketika. Membuat mereka merasakan bahwa dalam sebuah lagu, seseorang bisa mengungkapkan perasaan mereka terhadap sesuatu. Bagi Molly, lagu Beauty and the Beast itu seperti sebuah lagu keberuntungan, mengembalikan masa-masa indahnya bersama Mama dulu…
---
Chika masih memeluk dirinya yang menggigil kedinginan. Rambut panjangnya masih basah, terurai di atas bahunya. Tanpa terasa air matanya menetes lagi, dan ia menyekanya karena Getta sudah kembali dengan secangkir teh hangat yang ia seduh di dapur.
“Nih”, Getta memberikan cangkir itu padanya sambil tersenyum, “Biar lo nggak masuk angin”
Chika menerimanya dengan senang hati lalu menyesap minumannya perlahan.
Getta masih diam. Ia hanya memandangi Chika sedikit kebingungan –nggak menyangka apa yang pernah terjadi padanya juga terjadi pada Chika. Karena yang ia tahu, selama ini, mereka damai-damai saja dan Chika adalah cewek yang sangat sangat beruntung.
“Gue bingung…”, kata Chika, “Gue nggak ngerti kenapa mereka tiba-tiba kayak gitu…”
“Itu urusan mereka, Chik. Kita nggak pernah tahu”, ujar Getta, “Kita hanya dipaksa nerima keadaan mereka dan nggak boleh protes”
“Tapi, gue nggak bisa…”, katanya, menangis lagi, “Menurut lo, apa lo bisa milih salah satu di antara mereka?”
“Mau nggak mau, Chik…”, ujar Getta, “Lo harus siap sama kemungkinan terburuk kalau orang tua lo sampai pisah”
“Gue nggak siap…semuanya mendadak banget…”, rengeknya, “Sampai sekarang tuh gue nggak percaya, sampai sekarang tuh…gue nganggap ini cuma mimpi…tapi…gue nggak bangun-bangun…”
Getta diam lagi. Beranjak dari sofa tempat duduknya, ia pindah ke dekat Chika yang masih menangis, “Sorry, gue nggak bisa bilang sesuatu yang bikin lo lega, Chik…”, katanya, “Dulu semua orang selalu bilang gue harus kuat, tapi kenyatannya nggak segampang itu. Gue ngerasa mereka nggak ngerti karena mereka nggak pernah ngerasain ada di posisi gue. Tapi, gue bisa ngerti perasaan lo…”
Chika menatapnya lekat-lekat, sebelum meraih tangan Getta dan cowok itu lumayan kaget, “Gue cuma punya lo sekarang…”, katanya, terisak, “Karena lo pernah bilang bakal selalu ada buat gue…Jadi…please, Getta, jangan biarin gue sendirian…Gue nggak bisa ngadapinnya sendirian…”
Dengan berat hati, Getta mengangguk. Jika seperti ini, ia bakal punya sebuah kewajiban –buah dari kata-katanya sendiri yang selalu dipegang Chika. Sayangnya, kata-kata itu nggak bisa ditarik. Kenapa harus di saat seperti ini?, keluhnya saat Chika lagi-lagi menyandar ke dadanya.
Jika seandainya, ia nggak ketemu Molly lagi, akankah membiarkan Chika sebegini dekat dengannya menimbulkan perasaan bersalah? Karena ia belum bisa membuka hatinya untuk Chika?
Getta tiba-tiba beringsut menjauh, karena mendengar sesuatu. Chika agak syok, karena Getta menarik dirinya dan sesaat kemudian seseorang membuka pintu.
Seorang wanita masuk dan wajahnya terlihat kaget, “Ada tamu ya?’, tanya dia ramah, sebelum menaruh payung yang basah di luar pintu. Seorang bocah kecil perempuan ikut masuk sambil mengibas-ngibaskan jaketnya yang basah.
“Ini Chika, Ma”, Getta segera berdiri dan mengenalkan Chika yang ikut berdiri.
Mama memandanginya heran, karena Chika memakai kaos dan celana yang jelas-jelas punya Getta. “Oh…”.
“Tadi dia kehujanan, jadi aku ajak ke sini”, Getta menjelaskan dengan sedikit canggung.
Mamanya tersenyum, “Ya udah deh”, katanya, “Kalian pasti lapar dingin-dingin begini, Mama masakin sebentar ya?”
Getta mengangguk ragu lalu melirik Chika yang berusaha terlihat tenang dengan menyeka habis semua air matanya. Cewek itu mengikuti Mama-nya Getta ke dapur.
“Aku bantuin ya, Tante…”, katanya menawarkan diri.
“Aduh, nggak apa-apa. Jadi ngerepotin”, Mama Getta menolak, sambil tertawa kecil.
“Nggak apa-apa kok, Tante”, ujar Chika tetap mengikutinya ke dapur.
Getta menarik nafas panjang. Kalau udah begini, harus gimana lagi?
---
“Mama lo baik banget ya…”, kata Chika pelan sambil tersenyum dalam langkahnya.
Getta cuma tersenyum. Ya, Mamanya memang baik. Ia nggak pernah marah-marah. Yang Getta tahu, Mamanya sangatlah penyabar dan karena penyabar itulah kelakuan Papanya yang suka main tangan menjadi-jadi.
“Makasih banget hari ini”, ucap Chika, begitu mereka sampai di pinggir jalan dan nungguin taksi lewat.
“Ya…”, jawab Getta, tersenyum ramah padanya.
Hujan telah reda dan sore hampir meredup. Lampu-lampu jalan sudah menyala. Saatnya buat Chika pulang ke rumahnya walaupun ia masih belum ingin.
“Besok gue ke sekolah kok”, katanya mencoba untuk lebih semangat, “Gue bosan di rumah seharian. Lagian juga mereka mulai nggak peduli sama gue…”
Getta mengangguk-angguk dan matanya tertuju ke ujung jalan tiap sebentar. Dari ujung sana, yang lewat hanya mobil-mobil pribadi yang melaju sombong menerjang jalanan yang basah. Nggak ada satu pun taxi yang melintas.
Setelah hampir sepuluh menit berlalu dengan diam, sebuah taksi biru berhenti di depan mereka. Getta langsung membukakan pintu untuk Chika yang tampak ragu-ragu.
“Gue…balik dulu ya…”, katanya pamitan dan tersenyum.
“Ya, hati-hati”, Getta tersenyum, hanya itu yang bisa ia berikan setiap Chika menatapnya penuh arti. Tatapan yang penuh harap akan sesuatu yang besar setelah ini.
Chika mulai melangkah, ke pintu taksi yang terbuka. Masih memandangi Getta, ia menunjukan ekspresi yang nggak biasa sesaat sebelum ia meraih lengan Getta, menariknya lebih dekat secepat ia yang ia bisa dan membuat cowok itu terkejut.
Matanya membelalak, Chika mengecup pipinya selama kurang dari lima detik, sebelum ia akhirnya dilepas. Chika sudah naik ke taksinya dan pintu segera menutup. Getta termangu menyaksikan taksi itu akhirnya pergi.
Getta membalikan badan, menuju pulang dengan perasaan berat. Entah mengapa, ia mengeluhkan sesuatu yang nggak jelas dengan gelisah sepanjang perjalanan kembali ke rumah melewati gang sempit itu.
Matahari telah sepenuhnya tenggelam. Malam seolah mengusir hujan lebat yang membuat udara menjadi lembab. Dan orang-orang mulai keluar dari rumah. Tukang bakso mulai dicari-cari orang dan anak-anak kecil yang mau pergi mengaji mulai bermunculan. Termasuk juga preman dan tukang palak tempo hari.
Mereka selalu ada di sana. Seperti menunggu dan nggak pernah jera. Orang-orang sekitar sini terlalu takut sama mereka karena mereka bertampang mengerikan dan bertato.
“Bagi duit!”, kata salah seorang dari mereka saat Getta lagi-lagi lewat. Dari yang sudah-sudah, mereka udah jelas malakin bocah SMA yang nggak akan bisa melawan mereka.
“Lagi nggak ada, Bang”, jawab Getta senang.
“Apaan?!”, teriaknya, “Masa lo nggak ada duit sih?!”
Getta diam. Mimpi apa lagi semalam sampai ketemu mereka berkali-kali begini?
Preman-preman itu sepertinya mabuk. Bau alkohol tercium jelas dari nafas mereka, menyebar di udara lembab. Menjijikan.
“Saya nggak ada duit, Bang”, kata Getta menegaskan, ia pun berjalan melewati mereka.
Tapi, salah seorang dari mereka tiba-tiba menarik bajunya dari belakang. Dan satu bogem mentah, harus ia terima sampai jatuh tersungkur di atas tanah basah. Kaos abu-abu Getta sekarang terlihat menjijikan. Ia berusaha bangkit menahan perih di wajahnya, tapi nggak bisa lagi menahan amarahnya. Hanya saja, ia kurang cepat untuk membalas pukulan itu.
Terperanjat, Getta sudah melihat seorang pria memukuli ketiga tukang palak itu tanpa ampun. Getta hanya melongo sambil bertanya-tanya, siapa orang itu? Cepat sekali gerakannya memukul.
Dia hanya seorang pria berusia tiga puluh tahunan. Badannya agak besar dan bongsor, tapi gerakannya cepat untuk ukuran orang gendut. Wajahnya brewokan dan hampir semua rambutnya memutih. Ia tersengal begitu ketiga preman itu berhasil dijatuhkan.
“Mau sampai kapan lu mau digebukin terus sama mereka?”, kata dia dengan nada menjengkelkan sambil memunguti sesuatu di tanah. Topinya yang jadi kotor dan berlumpur. Dia tampak nggak ingin memakainya lagi.
Getta diam saja.
Pria itu merogoh saku celananya, mengambil rokok dari sana. Ia mendengus saat memukan semua batang-batang rokok itu bengkok. Tapi, ia tetap menyulutnya, meniupkan asap putih di depan wajahnya.
“Saya nggak bisa berkelahi, Bang…”, aku Getta.
“Lu nggak harus pandai berkelahi cuma buat ngadapin preman yang beginian”, katanya, “Lu cuma butuh nyali”
Kenyataannya Getta memang nggak punya nyali. Ia terlalu takut dihajar seperti kemarin oleh mereka. Takut kalau Mamanya melihat ia pulang dalam keadaan babak belur.
“Kalau lu mau, lu bisa datang ke tempat gue”, kata dia, tampak ingin segera pergi begitu preman-preman yang tadi terkapar itu sudah pada ngabur ke segala penjuru.
---
Rumah tampak sepi. Memang biasanya juga sepi. Tapi, kali ini kesunyiannya terasa agak beda. Mungkin sejak pertengkaran panas yang bikin hawa rumah ini jadi sedingin kutub selatan. Setahu Chika, sejak malam mereka bertengkar, Papa pergi dan Mama juga pergi, entah ke mana.
Harusnya salah seorang dari mereka menemui Chika. Menanyakan perasaannya, karena ujung-ujungnya korban dari keegoisan mereka adalah anak mereka sendiri. Tapi kata ‘anak’ seolah nggak ada di benak mereka artinya mereka nggak menganggap Chika ada. Itulah yang ia pikirkan sejak kemarin sampai nggak masuk sekolah dan mengurung diri seharian di kamar sampai bosan. Lalu tiba-tiba mencari Getta menjadi amat penting, karena Getta juga mengalami hal yang sama dan pasti hanya dia yang mengerti perasaannya.
Mbok Nah terlihat cemas saat menghampiri Chika yang mau naik ke lantai dua, ke kamarnya, “Non Chika dari mana aja?’, tanya dia.
“Rumah temen”, jawabnya acuh.
“Tadi Tuan nyariin, Non. Saya jadi bingung karena Non Chika nggak bilang-bilang mau pergi”, jelas Mbok Nah, masih kelihatan khawatir kalau Chika lagi-lagi nyolot.
“Ngapain Papa nyariin aku?’, cetusnya, lalu menghela nafas, “Papa mana?”
“Udah pergi lagi, Non…”, jawab Mbok Nah.
“Mama?”, tanya Chika lagi.
“Nyonya belum pulang sejak kemarin, Non”, jawabnya.
Chika pun langsung naik ke kamar. Nggak ada juga gunanya mikirin mereka, pikirnya lalu membanting pintu kamar begitu ia masuk.
Melompat ke atas tempat tidur, ia mulai memikirkan hal yang lain –hari ini, di mana ia dan Getta terasa semakin dekat. Mungkin ini kesempatan, paling nggak, ia nggak benar-benar sendirian. Tapi,…
Chika kembali bangkit untuk duduk, memikirkannya sekali lagi. Orang tuanya tetap nggak bisa tergantikan oleh kehadiran siapapun. Tapi, apa boleh buat, mulai sekarang ia harus menerima apapun yang terjadi. Rasanya, ia menjadi begitu kesepian. Biasanya malam-malam begini, ia akan ditemani Mama dan Papanya, main piano atau nonton TV sama-sama. Sepertinya itu nggak akan terjadi lagi.
Tiba-tiba air matanya menetes dan ia menyekanya. Lalu perhatiannya, tertuju pada sesuatu di atas meja yang sepertinya sudah lama ia taruh di sana. Dan seingatnya itulah yang ingin ia lakukan jauh sebelum orang tuanya berantakan.
Audisi musik. Chika pun bangkit dari tempat tidur dan meraih selebaran yang hari itu ia temukan di rumah piano. Keinginan untuk menang dan mendapatkan piano itu mungkin sudah nggak ada artinya begitu ia lihat orang tuanya bertengkar. Tapi, melakukan ini untuk diri sendiri mungkin nggak akan ada salahnya. Yang perlu ia pikirkan sekarang adalah sebuah rencana.
---
Kursi Lara kosong. Molly memandang ke sana tiap sebentar sampai jam pelajaran pertama dimulai. Ia jadi bertanya-tanya, apa Lara sudah di drop-out? Tapi kenapa nggak ada pengumuman resmi kalau dia dikeluarin?
“Kayaknya dia diskors lagi deh”, Yuna berpendapat, sambil duduk di atas meja Molly saat jam istirahat.
“Di skors? Emang dia ngapain?”, tanya Jonas, berpikir.
Molly diam, ia menatap ke depan di mana Getta kayaknya lagi ngelamun. Sejak pagi, dia memang sudah begitu. Sampai Jonas menyapanya, ia malah bersikap begitu dingin. Kenapa ya?, Molly masih memandanginya heran.
“Keseringan diskors jangan-jangan sekolah mau ngeluarin dia”, komentar Yuna, terdengar prihatin, “Masalahnya banyak banget sih. Gue jadi kasihan, dia itu selalu digosipin macam-macam sama yang lain”
“Digosipin gimana lagi sih?”, tanya Jonas, “Heran deh sama cewek-cewek, percaya banget sama yang namanya gossip”
“Soal Lara kebanyakan emang bukan gossip, Jo”, kata Yuna, “Orang tuanya kan masuk penjara gara-gara kasus penipuan. Utang mereka di sana-sini, Lara bahkan sampai dijual ke rentenir. Tapi, untungnya sekolah ngelaporin itu ke polisi. Masalah yang udah segitu banyaknya, siapa yang nggak stress? Kalau gue jadi dia, udah pasti gue bunuh diri, tau nggak?”
“Itu sih lo nya aja yang lebay, Yun”, ejek Jonas cekikikan.
Nggak lama, kelas mendadak ramai sama anak-anak yang masuk berbarengan. Nggak biasanya mereka ribut ngomongin sesuatu.
“Ada apaan sih?”, Jonas kelihatan bete karena tingkah teman-teman sekelasnya yang lain agak jengkelin. Ia pun menghampiri kelompok yang lagi mengobrol itu, “Woi, ada apaan?!”
“Lo nggak perlu teriak-teriak kali, Jonas”, cetus salah seorang cewek di antara mereka.
“Habis, tingkah lo semua pada aneh. Emang ada apaan?”, tanya dia, jutek.
“Masa lo belum tahu sih?”, balas salah seorang yang lainnya, “Di luar tuh pada ribut ngomongin Pak Heru sama Lara pacaran!”
Jantung Molly seakan meloncat keluar mendengarnya. Tiba-tiba juga, Getta menoleh ke belakang –ke arahnyanya dengan wajah terkejut.
“Apa?”, Jonas membelalak.
“Kan kemarin mereka dipanggil gara-gara masalah itu. Makanya si Lara nggak masuk, kayaknya dia malu banget tuh”, kata salah seorang lagi.
Jonas benar-benar syok. Ia kembali ke Molly, Yuna dan Getta. “Ma…masa sih?”, suaranya gemetaran dan ia menatap Getta yang sepertinya tahu sesuatu dengan tegang. Jonas tampak menuntut penjelasan darinya.
Tapi, Getta cuma buang pandang. Gimana cara menjelaskannya?
“Itu nggak mungkin!”, kata Yuna, lirih, “Guru sekaliber Pak Heru, gitu lho”
Getta diam. Molly diam. Sedangkan Jonas tampak mendesak Getta dengan tatapan sendunya.
---
“Terus terang…”, Richard tampak menarik nafas, “Aku juga kaget”
Molly sudah menduganya. Tapi, ia merasa kalau semua itu memang gossip. Sampai sekarang nggak ada bukti yang memastikan kalau Lara dan Pak Heru punya hubungan. Cuma omongannya Bu Sandra yang menuduh karena sebenarnya dia cemburuan –bukannya semua tau kalau dia suka Pak Heru, dari caranya bicara dan bersikap setiap guru keren itu ada di sekitarnya?
“Soal Pak Heru perhatian sama Lara itu aku tau kok. Tapi, kalau pacaran kayaknya itu nggak mungkin”, komentarnya.
“Iya sih…”, sahut Molly pelan, “Kak Cariss cantik begitu…”
Richard tiba-tiba tersentak dan mulai tertawa sendiri, “Kenapa bawa-bawa Kak Cariss sih?”, tanyanya.
“Kan kakak bilang pacarnya Pak Heru itu Kak Cariss”, katanya dengan polos.
“Aduh, Molly, kalau kamu sampai bilang begitu sama orang lain, Pak Heru bisa marah banget sama aku kalau dia sempat dengar nama Kak Cariss disebut-sebut”, katanya masih tertawa-tawa.
Molly mengernyit, maksudnya?
Richard menyapukan rambut kecoklatannya ke belakang, sambil menatap lurus ke depan, memperhatikan jalan, “Yah…itu urusan pribadinya dia. Kan aku udah bilang Pak Heru itu orangnya tertutup”, jelasnya.
“Aku kasihan sama Lara”, kata Molly, “Hari ini dia nggak masuk, Kak”
“Lara emang sering bolos”, kata Richard, “Waktu kelas satu, kita sekelas kok. Emang sih banyak yang nggak suka karena dia kelewat jutek. Tapi, dia itu cuma nggak suka diganggu atau dideketin. Dia terbiasa sendiri”
Molly mengangguk-angguk mengerti. Kenapa ya ia jadi kepikiran untuk ngelakuin sesuatu, seperti saat Lara menolongnya dari gangguan Karina cs?
“Udah sampai!”, seru Richard, begitu mobil berhenti. Ia kembali tersenyum.
Mereka sudah sampai di Maretha. Molly bergegas turun karena ia cuma punya lima menit sebelum kelasnya dimulai. Pasti Cariss juga sedang menunggu kedatangannya.
“Nanti aku jemput ya?’, Richard berpesan, sebelum Molly turun.
“Aku pulang sendiri aja ya, Kak. Kan nggak enak udah diantarin, juga dijemput. Tiap hari lagi…”, kata Molly tertunduk.
“Sampai kamu terbiasa kok”, ujar Richard, “Aku nggak mau kamu nyasar pulangnya”
Molly pun terdiam. Itu yang bikin Richard nggak pernah membiarkannya lepas dari ‘pengawasan’.
“Dag!”, Richard melambaikan tangan sebelum mobilnya melaju lagi.
Molly menarik nafas panjang. Cowok yang benar-benar baik. Cowok yang kebaikannya benar-benar nggak bisa ditampung lagi, pikir Molly saat menuju ke kelasnya.
Dari luar ia sudah bisa mendengar suara piano dimainkan. Sepertinya, Molly benar-benar udah telat.
Dengan perlahan ia mengetuk pintu yang tertutup lalu membukanya dengan hati-hati. Terlihat Cariss duduk di kursinya dan anak-anak lain diam mendengarkan musik yang tengah mengalun indah di ruangan itu.
Cariss berisyarat agar ia segera masuk tanpa suara. Molly melangkah mengendap-endap ke salah satu kursi kosong yang berada paling belakang. Dan begitu ia duduk, musik pun selesai dimainkan.
Sang pemain musik itu saat Carris menghampirinya.
“Permainan yang bagus. Ayo semua, tepuk tangan untuk Chika!”, katanya lantang dan langsung disambut tepuk tangan meriah dari anak-anak di sekitarnya.
Sementara Molly terperanjat. Ia pandangi sosok itu baik-baik. Wajahnya, rambutnya dan tatapan matanya serta senyum yang selalu penuh percaya diri itu. Semuanya benar-benar adalah milik Chika –sahabat lamanya yang entah kenapa bisa ada di sini.
---
Suara lenguhan terdengar jelas dari saat Getta masih berdiri di depan pintu. Ia memandangi sebuah kartu nama yang diberikan seorang pria asing yang menyelamatkannya kemarin. Alamat yang tertera di sana benar adalah alamat tempat kumuh ini. Kira-kira apa yang dilakukan pria itu di sini?
Getta membuka pintu kayu lusuh itu dengan perlahan. Dan rasa penasaran itu segera terkuak begitu ia melihat sebuah laga di atas ring tinju. Beberapa samsak tergantung pada langit-langit dan bergoyang ke sana kemari dipukul oleh orang-orang yang sedang berlatih. Barbell dan alat angkat berat berada di salah satu pojok ruangan. Ruangan itu sangat berisik dari yang bisa ia dengar di balik pintu.
Getta mulai mencari-cari pria itu di antara orang-orang yang tengah berlatih fisik. Di ruangan yang cukup luas itu, ada beberapa orang pria yang bentuk fisiknya hampir sama dengan pria itu. Tapi, mereka kelihatan sibuk sekali. Mereka sedang melatih pejuang mereka.
Akhirnya pria itu muncul juga. Dia masuk dari pintu yang sama dengan pintu yang membawa Getta ke sini. Nggak butuh waktu lama baginya menyadari kehadiran Getta karena ia masih mengenakan seragam putih abu-abunya. Dia menemukan Getta kebingungan di antara orang-orang itu, lalu menghampirinya.
“Jadi…gimana?”, tanya dia angkuh, dengan rokok tertancap di mulutnya dan mengepulkan asap putih yang menutupi wajahnya selama beberapa detik, “Apa lu punya nyali?”
Getta nggak langsung menjawab. Ia pandangi sekitarnya. Satu hal yang muncul di pikirannya –menjadi petinju sama sekali nggak pernah terbayangkan. Dari kecil yang ia tahu, ia harus rajin belajar, masuk sekolah favorit, mendaftar di sekolah penerbangan dan menjadi pilot, seperti cita-citanya. Tapi, terkadang orang bisa berubah karena keadaan. Ia ingat lagi keadaannya yang sekarang. Menjadi pilot tetap akan menjadi mimpi. Yang nyata sekarang adalah melakukan apa yang bisa dilakukan untuk masa depan.
Satu anggukan pelan cukup bagi pria itu. Ia berisyarat mengajak Getta ke ruangan lain. mengenalkan ia pada sebuah lingkungan baru yang akan menjadi tempat ia menghabiskan waktu sepulang sekolah nanti. Ruang ganti, para pelatih dan pejuang-pejuang mereka yang usianya masih sangat muda.
Bang Benny, pria itu, tampaknya nggak akan membuat Getta melepas seragamnya dan menggantinya dengan tanktop dan celana pendek hari ini. Di ruang terpisah dari tempat latihan, mereka punya papan tulis. Getta baru tahu bahwa latihan tinju juga memiliki teori.
“Apa yang lu tau soal tinju?’, tanya dia memulai sambil menjejalkan puntung rokoknya di asbak yang berada di meja tempat ia berdiri sambil bersandar.
“Memukul, bertahan…”, jawab Getta ragu-ragu, sambil tetap berpikir, “Menyerang…”
Pria itu tersenyum, wajahnya ternyata cukup menyeramkan, “Lu benar”, katanya, lalu beranjak dari meja untuk mengambil spidol dan ia mulai menulis di papan tulis –membuat sebuah ilustrasi tubuh manusia di sana.
Gambarnya lumayan jelas. Namun, itu nggak butuh penilaian.
“Tapi, bukan cuma soal memukul, menyerang dan bertahan”, jelas dia, menyelesaikan ilustrasinya, “Tapi, soal keseimbangan, kuda-kuda dan… kekuatan”
Getta terpana pada gambar itu. Dalam sesaat, semua beban pikiran yang tadi menyumbat otaknya dalam perjalanan menuju ke sini, lenyap. Pikirannya kosong, namun kata-kata Bang Benny pun mengisi kekosongan itu secara perlahan.
---
Krayon-krayon itu keluar berhamburan dari tasnya yang terjatuh, tercecer di kaki Chika yang sedang berdiri. Molly langsung memungutinya satu persatu dengan panik.
“Harusnya lo tuh ngambil kelas gambar, bukan kelas piano”, kata Chika ketus dan angkuh, berdiri sambil bertolak pinggang, memperhatikan Molly mengumpulkan barang-barangnya yang baru saja ia buang seperti sampah, “Mimpi apa gue semalam sampai ketemu lo di tempat kayak gini?”
Molly diam. Begitu selesai memasukan barang-barangnya kembali, ia lebih memilih pergi. Toh, kelasnya juga udah selesai. Ia nggak ingin berhadapan lebih lama dengan Chika yang menjadi amat sinis.
“Lo tuh emang nggak pernah mau berubah ya?!”, celetuk dia lagi, mengejar langkah Molly yang gontai, “Lo sengaja bersikap lemah itu supaya orang-orang kasihan sama lo. Lo itu menyedihkan, tau nggak sih?!”
Molly berusaha mengabaikan kata-katanya sampai rasanya mau nangis. Ia nggak menyangka ketemu Chika hanya untuk mendengarkan kata-kata kasarnya.
Chika pun berhenti mengikutinya karena sikap Molly seolah-olah menunjukan kalau dia nggak dengar apa-apa. Dasar budeg, gerutunya, saat ada dua orang cewek menghampirinya.
“Lo kenal sama dia?”, tanya salah seorang dari mereka, terlihat sangat ingin tahu.
“Temen SMP”, jawab Chika acuh, sambil berbalik, memunguti tasnya karena dia sendiri juga mau pulang.
“Kayaknya dia bikin lo bete banget. Kenapa sih?”, tanya salah seorang lagi, yang benar-benar mau tau banget.
Chika menatapnya gusar, “Dia tuh ngerebut cowok gue”, jelasnya, ketus, “Puas lo?”
“Apa?”, mereka kelihatan kaget, “Cewek kayak gitu ngerebut cowok lo?”
Chika tambah bete melihat mereka, tapi ia jadi sadar kalau dua orang ini kayaknya juga nggak suka sama Molly, “Iya”, jawabnya meyakinkan, “Emang kenapa?”
“Ya…aneh aja”, kata salah seorang yang rambutnya pendek, lalu mengulurkan tangannya, “Gue Nandia”
Chika membalasnya dengan senyuman, tanpa menyebutkan namanya. Begitu juga saat seorang lagi yang rambutnya panjang dan berombak mengulurkan tangan.
“Gue Rizna”, katanya.
Lalu mereka bertiga sama-sama keluar dari kelas sambil mengobrol –ngomongin Molly yang juga mereka benci.
“Dia tuh anak kesayangan Kak Cariss. Waktu baru pertama masuk dia tuh diperhatiin banget sama Kak Cariss”, jelas Rizna.
“Emang dia mainnya jago?”, tanya Chika, jadi penasaran.
“Jago apaan?”, celetuk Nandia, “Waktu perkenalan aja dia main lagu Beauty and the Beast. Belagu banget mainin lagu yang susah. Yang ada dia tuh sering stuck di beberapa nada”
“Beauty and the Beast?”, Chika hampir ketawa mendengarnya. Menurutnya tingkat kerumitan lagu itu tentu nggak termakan sama otak dungunya Molly. Pantas dia kesandung-sandung main pianonya. Tapi, jadi heran. Mereka temenan dari kelas satu SMP, kok Chika nggak pernah tahu Molly juga bisa main piano –walaupun nggak sesempurna dirinya?
“Si Molly itu sering di antar sama cowok. Nah kayaknya cowok itu masih saudaraan sama Kak Cariss”, jelas Rizna.
“Cowok?”, Chika jadi ingat sama cowok yang bersama Molly di cafรฉ Hello Kitty hari itu. Jangan-jangan masih cowok yang itu.
Cowok keren dengan tampang kebule-bulean. Rambutnya kecoklatan dan hidungnya mancung. Beruntung banget dia bisa dekat sama cowok kayak gitu.
Tiba-tiba Nandia dan Rizna menyikutnya, memberi isyarat kalau mereka melihat sesuatu yang penting untuk ia lihat juga. Sebuah mobil putih berhenti di seberang jalan dan Molly terlihat berlari ke arahnya.
Seorang cowok turun dari mobil itu untuk membukakan pintu buat Molly yang kelihatan begitu istimewa. Benar, itu cowok yang pernah ia lihat waktu itu!
Chika mulai berpikir, kalau sekarang Molly sudah punya pacar sekeren itu, nggak mungkin dong dia masih punya perasaan sama Getta?
“Itu tuh”, kata Rizna, “Cowok itu sering ngantar jemput. Enak banget ya hidupnya”
“Ya paling dia cuma manfaatin keadaannya doang. Molly suka ngarepin belas kasihan dari orang lain”, kata Chika.
“Beneran tuh?”, Nandia mengernyit nggak percaya.
“Ya iyalah. Gue kan tiga tahun satu sekolah sama dia”, tegasnya, “Dia tuh nulis sering nggak bener, kebolak-balik. Baca juga nggak becus. Heran deh, kenapa dia bisa sampai naik kelas dua. Gurunya pasti disogok”
“Separah itu?”,
Chika mulai senang mengungkit-ungkit masa SMP-nya seakan itu memberinya kekuatan untuk bangkit dari keterpurukannya sendiri
---
Getta melempar ranselnya ke sudut kamar, lalu melompat ke atas tempat tidur. Hari ini sangat melelahkan. Memandangi langit-langit kamar, ia membayangkan latihan fisik yang berat dan disiplin waktu yang tinggi berarti lebih dari sekedar berlaga di atas ring. Hari pertama sudah terasa begitu panjang, gimana dengan hari-hari selanjutnya? Apa ia akan sanggup?Tanpa sadar Getta pun tertidur dengan masih mengenakan seragamnya. Begitu matanya terpejam, dan rasa lelah itu membawanya ke dunia lain yang selalu ia datangi setiap ia nggak ingin melihat dan merasakan hal yang nggak ia suka. Dengan harapan, akan ada tempat yang indah di sana…
Di mana ia bisa melihat dirinya berdiri dengan tegap di bawah cahaya, mengenakan jubah hitam, menggenggam sesuatu di tangannya –sabuk kemenangan yang menjadi impian setiap petinju. Disertai oleh riuh dan tepuk tangan saat ia mengangkat sabuk itu melewati kepalanya.Itu mimpi terindah yang pernah ia lihat dalam tidurnya.
Begitu matanya terbuka, langit-langit kamar itu masih sama. Pagi seolah datang lebih awal dari biasanya. Getta bangkit dari tempat tidur.
Mama sudah menyiapkan sarapan di atas meja. Melihat Getta keluar kamar dengan handuk di bahunya, ia tersenyum, “Cepat mandi sana”, katanya, “Sebentar lagi sarapannya siap”
Setelah mandi dan mengenakan seragamnya lagi, ia bergabung dengan keluarga itu –keluarga yang sekarang juga adalah keluarganya.
Mama menyajikan nasi goreng dengan telur dadar di atas piring untuknya, juga segelas teh hangat. Ayah tirinya yang bekerja di kantor pos sudah berada di depan pintu saat Getta baru duduk di meja makan. Sebelum pergi dia pamitan dan membawa serta Cindy yang juga harus ke sekolah. Saat itu Mama terlihat senang melepas kepergian mereka.
Bagi Getta, ia nggak pernah melihat sang Mama sebahagia itu saat masih bersama Papanya. Sekalipun mereka tinggal di rumah yang sangat besar dan mewah –bukannya rumah sederhana hanya dengan satu kamar mandi ini, Mama tampak begitu mensyukuri semua yang ia punya di sini. Jika dulu Mama pernah terpojok sampai nggak bisa mendapatkan hak perwalian atas Getta saat bercerai, rasanya semua kesalahan yang ia lakukan itu menjadi nggak ada artinya. Mama pantas untuk bahagia dengan cara yang ia inginkan.
“Aku berangkat dulu ya, Ma”, katanya, sambil menghampiri Mamanya yang sedang mencuci piring. Dan tiba-tiba menggamit tangannya untuk menciumnya.
Sang Mama terkejut. Getta nggak pernah pamit dengan mencium tangannya. Biasanya dia selalu pergi dengan wajah muram seolah selalu mengalami mimpi buruk semalam. Tapi, pagi ini ia kelihatan begitu bersemangat.
Getta berlari. Dua puluh menit lagi, bel masuk kelas akan berbunyi. Melewati gang itu lagi, ia tampak lebih waspada.
Dari kejauhan, Getta mengawasi pondok kecil tempat preman-preman itu biasa nongkrong. Sama sekali nggak ada tanda-tanda kalau mereka lagi menunggu buruan. Dengan yakin, Getta pun melewati pondok kecil itu.
“Lewat juga lu!”, tegur suara garang, yang seolah melompat dari pondok kecil itu.
Getta terhenyak. Memandangi bekas-bekas luka di wajah mereka yang dipukuli Bang Benny kemarin. Ia menarik nafas panjang saat mereka mendekat. Ia memandangi ketiganya satu-persatu, tampak mencari celah untuk menghindar.
“Kemarin lu bisa selamat, tapi kali ini lu bakal habis, bocah!”, kata seorang yang berambut agak gondrong dengan bekas luka sayatan panjang di pelipisnya.
Getta mundur beberapa langkah. Fokus pada kepalan mereka yang sudah nggak sabar lagi mereka layangkan padanya. Begitu langkah mundurnya berhenti, ia pun mengambil langkah cepat menerobos celah di antara mereka dengan berlari sekencang-kencangnya.
Ketiga preman itu tampak kaget, “Oi!”, seru mereka saat Getta sudah berlari jauh dari mereka, dan mereka pun langsung mengejar.
Getta jadi menikmati saat-saat itu. Saat ia berlari, sambil sesekali menengok ke belakang. Preman-preman pemalas itu tampak kelelahan menyusulnya. Mereka tertinggal jauh dan Getta tertawa pada mereka.
Sebuah bus kebetulan berhenti di halte. Sekelompok orang yang mengantri mulai naik saat pintunya terbuka.
“Hei!”, preman itu berteriak, sambil terus berlari mengejar. Tapi mereka hanya bisa kecewa dan marah saat bus itu membawa Getta pergi dengan senyum puas di wajahnya yang membuat mereka makin gusar.
Pergi sekolah aja perjuangannya udah berat begini, pikirnya sambil mengatur nafasnya yang tersengal dan senyum-senyum sendiri.
Bus itu penuh sesak oleh penumpang yang rata-rata adalah anak sekolah dan pekerja kantoran. Getta nggak mendapatkan tempat duduk. Tapi itu nggak penting lagi walaupun kecapean setengah mati, ketika ia melihat seseorang tengah memandang ke arahnya, ia jadi merasa pagi ini ia nggak sesial yang ia kira.
Lanjut dong mba.. ;( :d
lanjutannya jangan kelamaan ya mbak, penasaran
hehehhe....tenang tenang... :d