๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Our Last Year
"Maaf ya waktu itu aku nggak datang", Molly terlihat malu-malu, membahas soal pertemuan di perkemahan yang jadi batal gara-gara Chika menahannya, "Habisnya Chika ngajakin aku kumpul sama yang lain"
"Nggak apa-apa kok", Getta tersenyum, ternyata dia nggak marah. Meski agak kikuk dan lugu, kadang kelihatan begok juga saat garuk-garuk kepala di depan Molly.
Sedangkan Molly adalah cewek 'gloomy' dan pendiam serta nggak pedean. Termasuk saat bicara dengan Getta yang jelas-jelas suka padanya.
Mereka sama sekali nggak cocok, pikir Chika yang berdiri dari kejauhan dan kebetulan lihat Molly dan Getta ketemu di depan kelas. Itu pertama kalinya ia melihat Getta dekat sama cewek lain selain dirinya. Dan ia nggak mengerti, kenapa harus cewek kayak Molly?Sejak ia tahu bahwa teman-teman sekelas lain suka masang-masangin Getta dengan dirinya. Chika harus usaha untuk bikin itu jadi kenyataan. Apa jadinya kalau mereka tahu kalau Getta malah suka sama cewek kayak Molly? Yang terkenal bukan karena berteman akrab sama Chika, melainkan karena nulis aja nggak becus dan kadang membaca terbata-bata pula?
"Molly!", Chika tiba-tiba merangkul pundaknya, "Kita ke kantin yuk!"
Molly melirik Getta yang masih duduk di belakangnya menunggu semua orang keluar dari kelas. "Gu...gue...", ia ingin menolak, tapi paksaan Chika membuatnya nggak bisa berkata apa-apa.
Chika menyeret lengan Molly setengah maksa, pura-pura nggak mempedulikan Getta yang bingung setiap kehilangan kesempatan untuk mengenal Molly. Chika selalu muncul di saat yang nggak diinginkan!
Ujian nasional makin dekat, semua siswa mulai uring-uringan. Terutama Molly dan Jonas, karena nilai mereka selalu pas-pasan dari tahun ketahun untuk naik kelas. Sedangkan Getta dan Chika tetap santai.
---
"Gue nggak akan bisa”, Jonas kelihatan parno sendiri waktu dia ditegur Getta karena kebanyakan ngelamun, "Gue nggak bakal lulus"
"Makanya lo belajar, jangan bolos mulu", celetuk Getta, "Lo sih, sekarang jadi berabe kan karena lo udah malas belajar"
"Get, lo bisa tolong gue kasih contekan nggak?", Jonas tampak putus asa, "Gue butuh bantuan lo. Kalau gue nggak lulus gue bisa digantung sama bokap gue"
"Gue sih mau bantuin. Tapi bukan nyontek", kata Getta padanya, "Gue bakal nolongin lo belajar, gimana?"
Jonas masih aja nggak yakin dengan idenya Getta itu. Karena dia nggak sepintar itu. Walaupun dia coba buat belajar semalaman sampai nggak tidur, tetap aja dia ketakutan sendiri. gimana kalau semua soal yang pernah dibahas nggak seberapa keluar di ujian? Semuanya bakal sia-sia. Lagian gimana bisa ia mengingat begitu banyak rumus dalam waktu singkat?
"Gue mau kasih lo contekan", kata Chika, muncul tiba-tiba kayak penyihir yang punya ramuan pintar yang manjur. "Gue jamin lo pasti bakal lulus"
"Beneran, Chik?", Jo terlihat senang, lega, ia seolah mau melakukan apa aja demi ramuan si penyihir itu, "Makasih banget! Gue sama sekali nggak bisa konsentrasi belajar, tau nggak?"
"Tapi, lo harus nolongin gue juga", kata Chika, dengan seringai di wajahnya yang lega.
"Gue harus nolong gimana?", Jonas memandangi Chika dengan sungguh-sungguh.
"Lo harus bantu gue misahin Getta dari Molly", kata Chika.
"Apa? Ta...tapi...Getta kan suka sama Molly...", Jonas gelagapan, kebingungan dan makin putus asa, "Getta sahabat gue, nggak mungkin gue... gue..."
"Lo mau lulus atau enggak sih?"
"Kok lo tega sih sama Molly?", Jo menggeleng, "Gue nggak bisa..."
"Ya udah, penawaran gue cuma datang sekali. Lagian beneran nggak sih Getta nganggap lo sahabat? Kenapa dia nggak mau bantuin lo?", cetus Chika, "Gue nggak percaya lagi sama yang namanya sahabat, tau lo?!"
"Lho kenapa sih, Chik?"
"Sekarang gue tanya lagi sama lo ya, Jo. Lo mau bantuin gue atau nggak?"
Jonas tertunduk sebentar, sebelum menjawab dengan nggakyakin, "Ya udah, gue bantuin...", katanya, lemas.
---
Ujian nasional datang juga. Jeda waktu setelah selesai ujian dan pengumuman kelulusan cukup lama.
"Kalau diperhatiin ya, Getta itu keren juga", kata Chika sambil tiduran di kasurnya Molly.
Jari-jari Molly yang sedang menggambar mendadak beku, ia menoleh ke belakang di mana Chika menghayal soal Getta.
"Gue nggak sadar selama ini", kata Chika, "Dia juga baik, jadi ingat saat dia nolong gue waktu hanyut di sungai"
Molly nggak berkomentar. Ia jadi nggak bisa menggambar lagi.
Chika bangkit, pura-pura nggak menyadari bahwa Molly cukup terganggu, "Mol, kayaknya gue suka sama Getta deh", katanya, "Gue bakal daftar di sekolah yang sama tempat Getta sekolah nanti"
Molly berusaha tersenyum. "Bagus deh kalau gitu" ia berkata, "Kalian cocok kok"
"Beneran?!", Chika terlihat girang. "Lo bakal dukung gue sama Getta kan?"
Molly mengangguk-angguk. Dan entah apa yang ia rasainmelihat mimpi Chika yang seakan ia bisa lihat di awan di atas kepalanya. Yang jelas, ia merasa begitu sedih dan bingung, sampai hari yang paling ditunggu datang dengan kegembiraan. Chika lulus dengan nilai paling tinggi dan dapat tiket emas untuk lanjut ke SMA yang dia inginkan. Sedangkan Getta di peringkat kedua, dapat kesempatan yang sama juga.
"Syukur gue lulus...", Molly terlihat lega dan senang, "Nggak kebayang kalau sampai ngulang setahun lagi"
Chika menepuk-nepuk bahunya, "Selamat ya", ucapnya dan Molly tersenyum.
Tiba-tiba Getta menghampiri mereka dengan senyum sumringah.
"Hai, Getta!", sapa Chika dengan riang, dan mendapati Molly mulai gelisah.
"Hai", balas Getta tapi matanya tertuju pada Molly yang berusaha memalingkan wajahnya dari dirinya.
"Nanti kita pergi daftarnya sama-sama ya", kata Chika, mengabaikan Molly yang gelisah.
Getta tampak nggak konsentrasi sama omongannya Chika karena sikap Molly yang aneh. Dan ia udah ngerasain itu sejak lama.
"Sekarang waktunya corat coret!", seru Chika sambil menyemprot cat warna hijau ke seragamnya Getta.
Anak-anak lain mulai merayakan kelulusan mereka pakai cat kaleng dan spidol.
"Jonas mana? Kok nggak kelihatan sih?", tanya Chika pada Getta.
Getta tiba-tiba murung, "Nggak tahu, tuh anak jadi aneh belakangan", jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Molly yang ambil langkah seribu begitu ia punya kesempatan.
Chika menyaksikan ekspresi sedih Getta saat itu dan merasa kesal pada dirinya. Ia tahu nggak akan bisa menghentikan mereka, karena ia berpikir bakal tenang setelah memastikan mereka nggak akan bersama. Ternyata ia malah menyakiti dirinya sendiri. Tapi, apa boleh buat, satu kebohongan membutuhkan seribu kebohongan untuk menutupinya. Semuanya harus tetap dilakukan.
Molly tiba-tiba dicegat beberapa anak cowok yang jahil. Mereka menyemprot seragamnya dengan cat warna-warni. Hingga ke rambut.
Chika yang melihatnya, berusaha membuat Getta nggak menyadari itu dengan membawanya pergi, "Kita cari Jonas aja yuk!" ajaknya.
"Gue sama Jonas berantem", kata Getta padanya menolak, dan Chika hampir kehilangan akal
"Getta!", panggil salah seorang teman sekelas mereka yang baju seragamnya sudah habis ditanda tangani teman-temannya yang bergerombol. "Lo tanda tangan baju gue dong!"
Getta menerima spidol yang mereka berikan. Beberapa orang cewek lainnya menyerbu Getta untuk di tanda tangani. Mereka membuatnya sibuk.cewek-cewek pada ribut soal tanda tangan sementara cowok-cowok lagi asyik mengerjai Molly.
Biar aja. Daripada dia melihat Molly dijahilin, bisa lain kejadiannya.
---
"Lo puas, Chik?", Jonas menghampiri Chika yang sedang memperhatikan teman-temannya corat coret seragam.
Hanya Jonas satu-satunya yang belum mengecat bajunya dan ia sepertinya sama sekali nggak ingin merayakan kelulusannya.
Chika tertawa sinis, "Harusnya lo terima kasih ke gue karena sekarang lo ada bisa jadi rankingtujuh", cetusnya.
"Kenapa gue harus berterima kasih sama lo?", balas Jonas, kesal, "Gue ngorbanin sahabat gue demi kepentingan lo. Jadi kita impas"
"Bagus kalau gitu", Chika tersenyum lagi.
"Gue nggak ngerti ya apa yang ada di pikiran lo", Jonas masih sebal, "Gue nggak nyangka ternyata lo itu jahat banget"
"Udah deh, harusnya lo bersyukur. Lo punya kesempatan buat masuk ke sekolah favorit", celetuknya
"Gue nggak minat sama sekolah favorit", balas Jonas lagi, "Asal lo tahu ya, gue bisa aja bilang yang sebenarnya sama Getta. Tapi, karena gue nggak mau bikin kacau, makanya gue diam"
"Oh ya?", Chika tampak acuh, "Kenapa nggak lo bilang aja sekarang kalau lo emang berani?"
"Denger ya, gue orangnya pegang janji. Dan gue anggap urusan lo sama Getta, juga sama Molly bukan urusan gue.", kata Jonas lagi, "Tapi lo harus ingat nggak selamanya lo bisa bohongin orang. Lo bakal kena batunya nanti. Makanya gue ingatin lo dari sekarang buat siap-siap gimana kalau seandainya Getta tahu apa yang lo lakuin! Sampai kapan pun lo nggak akan bisa memaksa orang lain sesuai sama keinginan lo, Chik. Ingat itu"
----
"Jo!", Getta menemukannya juga. Dengan baju putih yang habis ditanda tangan dan di cat warna warni, Getta kelihatan senang. "Lo mau ke mana?"
"Pulang", jawabnya.
"Kenapa sih lo?! Harusnya lo senang kali!", Getta meninju pangkal lengannya dan mulai mengajaknya jotos-jotosan.
Jonas masih sempat ketawa sebelum rasa bersalah menghantuinya.
"Jadi gimana? Lo bakal masuk ke sekolah yang sama kayak gue kan?", tanya Getta.
"Ogah gue!", cetus Jonas, membuang pandang, ingin segera pergi supaya Getta nggak curiga, sesuatu telah terjadi, "Gue cuma hoki bisa jadi nomor tujuh. Lo tahu gue begok, gue nggak akan mampu sekolah di sana"
Getta terdiam. Mulai sadar kalau kelakuan Jonas emang aneh belakangan.
"Udah ya, Get", Jonas akhirnya pergi. Dan sejak saat itu menghindar dari Getta secara perlahan, lalu memutuskan persahabatan di antara mereka.
Chika dan teman-teman ceweknya kelihatan asyik ngecat baju dan tanda tangan sana-sini. Molly dikerjain sama sekelompok anak, dan nggak ada yang peduli, termasuk Getta yang entah pergi ke mana -mungkin disandra cewek-cewek lain yang ribut minta tanda tangan.
"A***ng lo semua!", Jonas meradang sewaktu menghampiri kelompok itu, "Lepasin nggak?!"
Jonas menarik Molly dari kerumunan. Cewek itu menangis dengan rambut dan kulit yang jadi warna-warni.
"Lo gimana sih?!", teriak Jonas kesal padanya, "Kenapa lo nggak kabur kalau tau mau dikerjain sama mereka?!"
Molly cuma bisa diam, memandangi dirinya yang jadi bahan tertawaan orang.
"Lo mau nungguin ada yang peduli sama lo?!", teriaknya lagi, "Harusnya lo bisa ngelawan mereka! Bilang enggak kek, marah kek, atau kabur! Lo harus tahu sekarang, nggak ada seorang pun yang peduli sama lo! Jadi lo harus berhenti jadi cewek manja yang bisanya cuma berlindung di balik punggung orang lain!"
Molly cuma menangis. Selalu itu yang menjadi senjata baginya agar orang nggak bicara keras padanya. Jonas makin kesal pada dirinya, karena sadar, kenapa malah Molly yang menerima akibat perbuatan orang lain? Dia sama sekali nggak salah, dia cuma mempercayai orang yang salah...
Cewek ini sama sekali nggak pantas menerima kemarahannya
Setelah anak-anak jahil pergi, Molly pergi ke toilet untuk melihat seperti apa dirinya yang menangis. Pada kaca di wastafel, ia melihat seorang badut dengan tubuh warna-warni dan rambutnya terasa kasar dan lengket. Kalau Mama melihat ini pasti dia marah.
"Molly?!", Getta muncul juga, dia berlari ke arah Molly yang baru keluar dari toilet.
Molly langsung kabur sebelum Getta menyadari bahwa ia sedang dalam keadaan kacau balau.
"Molly! Tunggu!", panggil Getta berlari lebih cepat karena kaget, "Kamu...kenapa?"
Molly tertunduk, merengek, "Aku dikerjain...", jawabnya.
Getta jadi kasihan, "Siapa yang ngerjain biar aku hajar mereka!", katanya, kesal mendadak sambil terus mengamati Molly dan rambutnya yang berantakan.
"Biar aja! Mereka juga udah kabur...", kata Molly berhenti menangis, lalu membalikan badannya, "Aku mau pulang"
"Tunggu! Kamu belum tanda tangan di bajuku", kata Getta sambil meraih lengannya dan ia sangat berharap Molly menerima spidolnya.
Molly coba tersenyum saat mengambil spidol dan membuka tutupnya, "Aku mau tanda tangan di mana, kayaknya udah penuh", kata dia sambil tertawa.
Getta mulai berputar, mencari celah kosong pada seragamnya yang sudah tidak putih lagi. "Duh...di mana ya?", dia sendiri juga bingung. Tiba-tiba Getta melepas seragamnya dan hanya mengenakan kaos putih sekarang "Kamu tanda tangan di sini aja", katanya dengan sedikit malu.
"Tapi...", Molly ragu-ragu, baju itu kan masih putih bersih. Sayang kalau juga dicoret.
"Udah, nggak apa-apa", ujar Getta mendekat selangkah.
Molly menelan ludah saat mereka hanya berjarak beberapa inci lagi. Tangan Molly yang gemetaran menyentuhkan ujung spidol di permukaan kain yang halus tepat di dada Getta. Jarum jam melambat, merantai waktu yang berjalan detik demi detik yang deg-degan.
Selangkah Molly mundur darinya, sebuah tanda tangan berarti terukir di sana. Yang ia lihat Getta tersenyum padanya.
"Apa kamu nggak mau ditanda tangan juga?", tanya Getta padanya setelah menerima kembali spidolnya.
Molly sempat bingung, tanda tangan? Ia belum punya satu pun di bajunya. Yang ada cuma coretan warna-warni seperti lukisan abstrak yang kacau dan nggak jelas. Tapi, satu tanda tangan ini, mungkin akan sangat berarti baginya. Setelah mengangguk, Molly memberikan punggungnya dan Getta mulai menulis.
Beberapa saat kemudian mereka baru bisa saling melempar senyum. Hendak mengatakan sesuatu tapi ragu.
"Kamu mau masuk SMA mana?", tanya Getta padanya, setelah nggak ada lagi sesuatu yang menarik untuk dilakukan.
"SMA yang mau nerima aku",jawabnya singkat, "Nilaiku kan parah banget, Get..."
Getta tertawa, "Biasa aja, Mol", ujarnya, "Oh ya, bentar lagi kita mau konvoi naik motor, kamu ikut ya?"
Molly kaget, ikut Getta naik motornya?
Melihat ekspresi bingung Molly, bikin Getta ikut bingung. Dia nggak bisa menghadapi cewek ini dengan baik. "Ya?", ajaknya lagi.
"Aku nggak bisa...", jawabnya tertunduk, "Aku kan berantakan banget..."
"Ya nggak apa-apa...", ajak Getta sambil menarik tangannya dan mereka berlari di sepanjang koridor dengan bahagia. "Yang lain udah pada nungguin!"
Molly pikir, hari-hari yang mendebarkan itu berakhir dengan kepastian akan sesuatu yang dia tunggu. Getta bilang suka misalnya, atau ada hal yang menyenangkan yang mungkin bakal terjadi.
Tapi, kemunculan Chika mengubahnya menjadi sebaliknya.
"Molly!", panggil dia sambil berlari mengejar Molly yang sedang nungguin Getta ngambil motor. Dengan wajah ceria, ia menyapa Molly, "Lo kenapa sih?", dia tampak heran menemukan rambut Molly lengket dan berwarna.
"Nggak kenapa-napa...", Molly nggak bisa menyembunyikan rasa senangnya, terlupa bahwa Chika pernah bilang kalau dia suka sama Getta.
"Hari ini, gue mau bilang sama Getta kalau gue suka dia. Soalnya gue yakin ini kesempatan terakhir gue!", katanya dengan percaya diri, "Lo doain gue ya..."
Molly membeku, dia menatap wajah riang Chika. Sesaat kemudian ia mencoba tersenyum. Membiarkan Chika berlari dengan gembira untuk satu kesempatan terakhir, dengan memukul mundur dirinya sendiri.
---
"Molly! Tunggu!", Getta tampak nggak menyerah, ia mengejar Molly lagi yang kabur diam-diam, "Mau ke mana? Aku cuma mau ngambil motor sebentar kok!"
"Aku nggak bisa ikut konvoi...", jawabnya murung. "Maaf ya..."
"Kok tiba-tiba nggak mau sih?", tanya Getta heran, "Kalau gitu aku juga nggak mau ikut konvoi, kita pergi berdua aja!"
"Nggak bisa, Getta!", pekik Molly mulai cemas.
Kalau Chika lihat ini, pasti dia kecewa.
Getta membeku, memandangi Molly, dan terdiam.
"Aku nggak mau ikut. Aku nggak suka", kata Molly, "Aku nggak mau pergi sama kamu"
"Iya, kenapa?", Getta tampak nggak puas. "Aku pikir..."
"Udahlah, setelah ini kita juga nggak akan ketemu lagi...", kata Molly menelan nafasnya sendiri sambil tetap melangkah.
Getta merogoh saku celananya buat ngambil hp-nya, "Nomor hp kamu berapa?", tanya dia.
"Aku nggak punya hp...", kata Molly.
Getta belum menyerah, ia mengambil kertas dan pena dari tasnya dan menuliskan nomor telponnya sendiri untuk Molly. "Kamu simpan ya, nanti kalau udah punya hp telpon ke sana", katanya.
Suara-suara yang memanggil Getta mulai terdengar. Ia jadi nggak bisa membatalkan janji sama mereka yang sengaja menunggunya.
Molly menerima kertas itu. Nggak lama setelah Getta pergi, ia menangis. Di parkiran, anak-anak itu sudah menunggu. Sudah sangat terlambat baginya untuk mengejar Getta yang sudah ngebut bersama rombongan dengan membonceng Chika.
"Getta!!", ia memanggil dengan putus asa dan menyesal.
Harusnya, Molly mengatakannya karena ia tahu Getta punya perasaan yang sama. Meski pun Chika suka padanya, itu nggak akan mengubah apapun. Chika sahabatnya, dia pasti bisa menerima bahwa Getta memang nggak memilih dirinya. Tapi, mendahulukan persahabatan dari pada cinta adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk seorang sahabat yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.
"Aku suka sama kamu, Getta...", ucapan Molly menghilang dalam deru suara mesin motor yang menghilang di ujung jalan. Dengan menggenggam kertas yang diberikan padanya, kesempatan itu belum hilang.
Tapi, apa nanti jika ia mengambil kesempatan itu ia akan kehilangan Chika?
Mungkin...
Jadi ia meremas kertas itu dengan berat hati dan membuangnya. Dia nggak ingin kehilangan sahabatnya yang jauh lebih berharga dari perasaan ini, menjamin dirinya sendiri untuk nggak kecewa di kemudian hari.
Ini adalah keputusannya. Melupakan.
"Getta nerima gue, Mo...", kata Chika yang sengaja datang ke rumah sore harinya. "Dia nerima gue!"
Molly berusaha menerimanya, memalsukan sebuah senyum kepedihan yang nggak bisa ia tahan lagi. Ketika Chika memeluknya dengan bahagia, rasanya sudah cukup.
"Selamat ya..."
Sebagai pecundang yang kalah, Molly benar-benar mundur...
Lanjut dong mba :)
sabar yaaaaa....^_*