[Hal.34][Ch.19] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Mencari Jejak

2 bulan kemudian...
Rory melihat sekali lagi ke layar handphone-nya, membaca alamat yang dikirimkan Damar pagi ini. Ia memperhatikan sekitarnya untuk memastikan ia nggak tersesat. Namun, begitu melihat sebuah Honda Jazz putih parkir di depan sebuah rumah di ujung gang, Rory yakin ia nggak tersesat.
Rory sudah berdiri di depan pintu. Mengetuknya beberapa kali. Sampai sosok Laras muncul, tersenyum menyambutnya dan mempersilahkannya masuk. 
Damar sedang mengobrol bersama Erris. Lalu perhatian mereka teralihkan oleh kedatangannya.
"Gue pikir lo nggak akan datang!," kata Damar sambil  melempar sekaleng bir dan Rory menangkapnya dengan cepat sebelum mengenai wajahnya.
Erris hanya memandang ke arahnya sambil tersenyum simpul. Dan Rory kembali memandangi sekitarnya. Rumah sederhana yang dindingnya belum dicat sempurna. Masih ada beberapa barang yang belum disusun. Kardus-kardus  berisi barang tertumpuk di sudut ruangan.
Laras dan Damar baru pindah ke sini beberapa hari lalu.
"Lo nggak nyasar kan?," tanya Damar padanya.
Rory menggeleng. Lalu menjadi begitu pendiam saat Erris dan Damar asyik mengobrol, bahkan Rory nggak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Sementara Laras di dapur dan sibuk sendiri.
"Lo baik-baik aja kan?," tegur Damar yang kelihatan sangat bahagia.
"Yah, seperti yang lo lihat, gue masih rada dungu," jawab Rory.
Erris hanya melirik dengan dingin kepadanya. Mereka  belum lagi bicara sejak insiden di rumah sakit bersama Uki waktu itu.
"Lo ngapain aja emang?," tanya Damar. 
"Nggak ada. Nyokap ngelarang gue keluar," jelasnya.
"Lo bawa mobil ke sini?"
"Nggak. Diantar supir..."
"Gimana? Lo udah ingat semuanya?," tanya Damar lagi.
Rory terdiam. Lalu menggeleng dengan getir. Bagaimana menjelaskan kebingungan setiap kali ia bertanya bagian mana yang telah hilang. Sejak Natha pergi semuanya menjadi kabur dan samar-samar. Ia merasa begitu kehilangan. 
"Ngomong-ngomong lo berdua yakin bakal tinggal di tempat kayak gini?," tanya Rory.
Damar tersenyum. "Kenapa emang?," balasnya.
"Nyokap lo bilang apa? Meski gue memang hilang ingatan, gue tahu kalau Nyokap lo nggak akan bisa kompromi, Mar," tanya Rory lagi.
Damar menghela nafas. "Udahlah lo nggak usah pikirin itu deh. Pikirin aja caranya supaya ingatan lo balik," katanya lalu cekikikan. "Sumpah gue nggak tahan lihat lo jadi dungu lama-lama gitu... kayak bukan lo aja"
Rory jengkel. "Sialan lo!," cetusnya sambil melemparkan kembali kaleng birnya. "Nih! Gue nggak minum!"
"Bagus, Rory!," celetuk Erris saat kaleng bir itu nyaris mengenainya.
Damar tertawa. "Tuh ajarannya Natha masih kebawa-bawa sekali pun lo hilang ingatan!," katanya. "Lo pasti nggak ngerokok lagi kan?"
"Nggak jelas tuh...," gumam Rory sambil memandang kedua temannya. "Bawaannya malas terus gue..."
Rory diam sebentar, sebelum memulai. "Kemarin gue habis check up," jelasnya. "Ada kemungkinan gue amnesia permanen. Banyak kejadian yang nggak bisa gue ingat bahkan waktu SMA dan jauh sebelum itu."
"Yah...mau gimana lagi, Ror," kata Damar berujar. "Waktu Erris nemuin lo di kontrakan itu keadaan lo parah banget. Lo dipukulin rame-rame sih."
Rory nggak sanggup membayangkannya tapi sekarang ia merasa beruntung. Lepas dari masa kritis yang panjang dan masih dapat mengingat siapa dirinya. Angel Florisa Wiradilaga. Ibunya sudah meninggal. Ayahnya seorang direktur rumah sakit dan ibu tirinya seorang wanita cantik yang perhatian. Adiknya, Christophe Wiradilaga, mahasiswa kedokteran. Teman-temannya, Errisman Kurniawan, Damar Prasetyo dan Ayu Laras Suwandhi. Serta Rukia, gadis yang pernah dia cintai yang sekarang menghilang. Rory masih mengenal mereka dengan baik. 
"Sekarang, ingatan gue kembali atau nggak udah nggak penting lagi," kata Rory. "Yang jelas gue masih ingat sama kalian dan gue juga nggak bisa maksain untuk bisa ingat semuanya"
Erris mengernyit. Memandangnya dengan asumsi Rory sudah menyerah pada keadaannya . Seperti orang yang putus asa.
"Dan...," Rory melanjutkan. "Gue sudah tahu bahwa gue memang  punya pacar yang cantik dan gue mencintai dia."
Damar tertawa.
"Itu aja udah cukup buat gue," sambung Rory, tersenyum bahagia, melihat kedua temannya tersenyum untuk kebahagiaannya itu.
---
Damar menyusun beberapa kardus dengan rapi di tengah-tengah ruangan lalu mengalasinya dengan kertas koran. Laras datang dengan nampan makanan.
"Lo masak, Ras?," Rory mengernyit, memperhatikan Laras sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka.
Laras mengernyit. "Emang kenapa kalau gue masak?," cetusnya sambil kembali ke dapur dengan gusar. 
Damar meliriknya, sambil cekikikan sampai Erris juga ikut. "Udah, makan, makan!," serunya.
Rory diam, melirik Damar yang antusias dengan makanan buatan istrinya. Seingatnya Laras nggak bisa mengerjakan pekerjaan perempuan apalagi memasak. Jadi, dia hanya memandangi Damar.
"Nasi goreng nggak ada?" tanya Rory karena di meja darurat hanya ada nasi,sup daging kentang dan ayam goreng dengan sedikit sambal pedas. 
"Yah, elo, Ror! Apa makanan yang ada di otak lo itu cuma nasi goreng?!," cetus Damar.
"Lo yang ajarin Laras masak?," tanya Erris. 
"Nggak juga sih...," jawab Damar dengan satu sendok nasi sup di tangannya.
"Perasaan gue nggak enak...," kata Erris pelan, memperhatikan suapan pertama Damar yang bagaikan adegan Slow motion di TV.
Benar saja, Damar terkejut. Matanya membesar dan ia segera mengeluarkan isi mulutnya dengan menjijikan. Rory menggeleng-geleng sementara Erris buang muka.
Damar nggak berkomentar. Entah seperti apa rasanya dia nggak mengatakannya.
"Untung gue nggak makan...," gumam Rory sambil cekikikan dan Erris tertawa pelan saat Damar pergi ke belakang. 
"Ras!," panggilnya dengan terburu-buru. "Kamu masukin apa sih ke supnya?!"
"Kenapa sih?!" sahut Laras terdengar gusar. 
"Aku nggak tahu itu sup rasanya asin atau pahit!," suara Damar masih dapat terdengar.
Dunia akan menangis jika mereka sampai ribut.
Rory menggaruk-garuk belakang kepalanya, melirik Erris yang sedang mengaduk-ngaduk sup buatan Laras yang katanya nggak tentu rasa dengan penuh perhatian. Seakan ia akan tahu rasanya hanya dengan melihat teksturnya yang agak...kacau.
"Udah jelas-jelas aku nggak bisa! Kenapa kamu suruh aku yang masak?!," balas Laras. "Kamu malah enak-enakan di depan, nggak bantuin lagi! Giliran nggak enak aku yang disalahin!"
"Aku kan udah bilang jangan dicampur macam-macam!,"
"Aah, udah deh! Kamu marah aku jadi tambah pusing!"
---
"Ris," panggil Rory setelah mereka cukup lama nggak saling bicara.
Erris menoleh, dahinya sedikit berkerut, penasaran. Apa yang akan dikatakan Rory? Apa ini soal Uki lagi?
"Uki sudah pergi," kata Rory padanya dengan hati-hati sambil mencari tahu perasaan Erris dari raut wajahnya. Tapi nggak ada apa-apa. Rautnya sama sekali nggak terbaca.
Erris diam.
"Udahlah, juga nggak penting ngomongin itu lagi...," kata Rory menemukan ketidaksukaan Erris pada topik mereka yang hanya untuk melegakan ketegangan dan mengisi kesunyian di ruang depan. Sementara kegaduhan masih berlangsung di belakang sana. 
Lalu soal apa? Mata sipitnya bertanya di balik kaca matanya yang berbingkai tebal.
"Gue mau pergi ke Jerman," kata Rory. "Lo bisa temenin gue?"
Pada akhirnya ia selalu membutuhkan Erris.
"Lo mau pergi dalam waktu dekat ini?," tanya Erris datar.
"Lo nggak bisa?," Rory sedikit kecewa.
"Minggu depan gue wisuda," jelasnya. "Gue juga harus ngurus paspor dan lain-lain juga..."
Rory tersenyum. "Yah...gue juga harus minta izin sama Bokap karena dia pasti nggak akan biarin gue pergi jauh," 
---
Kata Erris,  rumah itu punya banyak kenangan. Jadi, Rory pergi ke sana. Dengan harapan akan ada sepercik harapan dia akan mengingat hal-hal manis yang pernah ia lakukan. Jika kehilangan ini hanya sementara...
Tapi, setelah berbulan-bulan tentu ada banyak hal yang berubah.
Seorang cewek manis membukakan pintu; penghuni yang baru dan telah mengubah banyak hal di dalam rumah.
"Cari siapa?," tanya gadis cantik itu. Ia tampak bertanya-tanya, siapa cowok asing yang berdiri di depan pintu rumahnya dan tampak begitu bingung dengan sekitarnya.
Rory menatapnya sejenak. Sebelum ia nekat menerobos, masuk tanpa izin.
"Hei!," gadis itu terkejut.
Rory menatap isi dalam rumah. Sangat asing. Benarkah rumah ini punya banyak kenangan dirinya bersama Natha?
Tetap saja asing. Rory tetap nggak mampu mengingatnya. Banyak hal yang berubah di sini. Warna cat dinding dan perabotannya tentu nggak sama lagi...
Ia memeriksa kamar dan malah hanya menemukan sesosok anak lelaki yang cacat dan menatap ke arahnya kaget dan bingung.
"Hei...," tegur cewek penghuni rumah lagi. Terlihat cemas dan ragu.
Begitu yakin nggak  ada yang bisa ia temukan, Rory melangkah keluar. Ia nggak bicara sepatah kata pun. Dengan buru-buru ia meninggalkan rumah itu.
Sementara cewek  itu masih berdiri di pintu bersama adiknya. Menyaksikan orang aneh itu akhirnya naik sebuah mobil yang kemudian membawanya pergi. 
---
"Nggak ditungguin, Den?," pak supir bertanya sebelum Rory turun dari mobil. 
"Nggak usah, Pak," jawab Rory sebelum membuka pintu.
"Kalau Nyonya nanyain saya jawab apa, Den?," Pak supir tampak khawatir.
Rory tetap turun dari mobil. Ia segera bergabung dengan barisan orang-orang yang  memadati gerbang kampus. Dan mobil yang mengantarnya langsung pergi. Ia mulai mengikuti orang-orang yang punya tujuan yang sama dengannya. Upacara kelulusan, di mana Erris dengan pakaian kebanggaannya terlihat lebih gagah.
"Selamat ya!," ucap Rory sambil menepuk punggung Erris. 
Erris tertawa saat Damar muncul entah dari mana dan ia langsung menyapa Rory. Bersama Laras yang kelihatan lebih feminin dengan gaun terusan berwarna abu-abu.
Semua lulusan duduk di tempat yang disediakan. Mereka dengan perasaan berdebar tengah menunggu sebuah penghargaan untuk siapa yang telah bekerja keras dan mendapatkan tempat terbaik setelah tahun-tahun yang berat. Seorang pria paruh baya, yang rambutnya hampir memutih semua, tampak misterius saat akan memarakan lulusan terbaik tahun ini.
Erris nggak kelihatan sampai kemudian ia berdiri setelah rektor menyebutkan namanya dan itu bergema ke penjuru hall yang padat. Disertai tepuk tangan dan juga seruan bahagia Laras di samping Damar.
Rory tersenyum, Erris memang hebat, pikirnya kagum. Membayangkan di antara ratusan kepala yang ada di depan sana, Erris adalah satu-satunya yang terbaik. Dia pantas untuk itu.
Ibu dan kedua saudarinya tampak bahagia. Mereka memeluk Erris bergantian dengan tawa bahagia sebagai ucapan selamat. Mereka tampak begitu bangga padanya.
Lalu di tengah bahagia mereka, seorang pria datang menghampiri mereka. Seorang pria biasa,  berkulit putih dan bermata sipit, menyapa Erris yang tampak senang dengan kehadirannya.
"Kerja bagus...," pria itu memuji sambil menepuk pundak Erris pelan dan mereka bertatapan beberapa saat. 
Mereka tampak bicara serius berdua. Sangat akrab.
"Seumur-umur gue kenal Erris baru kali ini gue lihat bokap-nya," kata Rory pada kedua temannya.
Laras menghela nafas lalu menyipitkan matanya saat menatap Rory. "Kita pernah ketemu sekali sama bokapnya, waktu SMA dulu," Laras mengingatkan. "Lo pasti lupa dulu pernah nabrak orang sampai mati. Kalau bokapnya Erris nggak nolongin kita, kita pasti dipenjara, Ror"
"Gue? Nabrak orang sampai mati?," Rory mengernyit. Lalu melirik Damar untuk memastikan Laras sama sekali nggak berbohong.
"Yah... itu kejadian nggak lama setelah lo ditolak Uki mentah-mentah," jelas Damar, lalu menepuk punggungnya pelan. "Udah, itu udah lama banget..."
Rory menghela nafas, begitu banyak peristiwa penting yang telah ia lupakan. Itu hampir membuatnya menyerah menemukan kembali keping-keping masa lalu yang teramat berarti baginya. Walau ia berkata nggak apa-apa, tetap saja setiap kali ia terbangun dari tidur, ia merasa dunia yang ada di depannya nggak nyata. Seperti mimpi yang suatu saat ia berharap akan terbangun darinya.
Begitu menyadari bahwa itu adalah kenyataan yang sesungguhnya, ia kembali hancur. Merasa begitu asing di antara teman-temannya.
Namun, ada satu pengecualian  yang membuatnya nggak perlu berpikir keras untuk meyakini, bahwa tempat ini adalah tempat yang paling ia sukai. 
Ketika melihat Erris dan Damar merokok dengan bebas sambil cekikikan, dan mereka membuang puntung rokok di bawah kaki mereka. Rory menatap ke bawah, lapangan hijau di bawah sepatunya. Lalu ia tersenyum. Rasanya ia pernah begitu menikmati hal ini...
Atap gedung kampus, tempat pertama yang bisa ia ingat. Sebuah pertanda baik. Ketersesatannya, akan berakhir nggak lama lagi, begitu ia menjemput bidadarinya...
---
Suara klakson terdengar beberapa kali. Memanggilnya. Rory sedang menelpon Damar yang nggak bisa mengantar karena bekerja. Handphone-nya masih di telinga saat ia mengintip dari jendela, di balik gorden coklat kamarnya.
"Erris udah datang," katanya segera mengakhiri pembicaraan.
Rory terdiam sejenak. Memandang keluar jendela. Seseorang berdiri di dekat mobil Honda Jazz putih, seperti sedang menunggu.
Mengingatkannya akan sesuatu yang samar-samar, namun ia nggak yakin. Seperti pernah mengalami ini sebelumnya. Erris yang menunggu di dekat mobilnya dengan nggak sabaran, berisyarat padanya bahwa mereka terlambat untuk sesuatu yang harus segera dilakukan.
Rory berlari ke bawah, membawa ransel dan jaket kulit serta sepatu kets-nya. Menuruni tangga dan melewati ruangan sepi hingga ia bisa melihat dengan jelas sosok Erris yang tengah mengeluh.
"Lo dandan ya?," celetuk Erris.
Rory gusar. "Lo kali!," cetusnya sambil naik mobil dan Erris mengikuti. 
Ia duduk di depan dan merasa aneh.
"Lo mau check in jam berapa sih? Udah hampir telat tau!," celetuk Laras yang duduk di belakang sendirian.
Rory geleng-geleng kepala, ia melirik Laras dengan senyum simpul sebelum menyebut hari ini adalah de javu. Lalu Erris mulai mengebut menuju bandara di saat Rory sudah yakin dia nggak akan memberi tahu keluarganya soal kepergiannya ini.
Pada satu kesempatan yang sama, ia melihat dirinya di kaca. Memandangi rambutnya yang memanjang. Ia lagi-lagi merasakan keanehan itu. Seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Saat ia merasa model rambutnya terlihat menggelikan seperti banci.
Rory ingin memotongnya, karena mungkin gadis yang disebutnya kekasih nggak akan menyukainya... 
---
Erris, Damar dan Laras,  sepakat menjelaskan, pertemuan pertama mereka adalah di bandara. Ketika Natha salah mengenali orang dan ia memaki Rory habis-habisan dengan kata-kata yang kasar.
Rory memperhatikan keramaian di sekitarnya. Orang-orang yang berjalan, datang dan pergi, berhenti lalu berlalu begitu saja. Mereka bagaikan siluet saat tiba-tiba Rory merasa melihat seseorang di antara mereka.
Ya, otaknya berpikir dengan keras, pernahkah ada saat di mana ia berjalan sendirian di tempat seperti ini mencari seseorang yang dia rindukan?  Pernah.  Di satu kilasan mimpi saat ia kebingungan memanggil-manggil seseorang yang kemudian ia temukan di kursi tunggu. Tampak lelah, terluka dan kesepian. Rory ingat, ia memeluknya dengan sangat erat sebelum ia melihat langit-langit putih kamar rumah sakit dan mencium  aroma pahitnya yang khas.
Setelah itu semuanya seakan terhapus. Rory menghentikan langkahnya untuk sekedar melihat ke belakang. Memandangi satu persatu orang yang sibuk dengan agendanya masing-masing. Nggak  ada apa-apa, selain hiruk pikuk yang sangat biasa antara para penjelajah dengan koper dan ransel mereka.
"Kenapa, Ror?," tanya Erris saat Rory terdiam beberapa saat dan hampir ketinggalan.
"Nggak, nggak ada apa-apa...," Rory kembali berjalan, mengabaikan perasaan aneh saat ia mungkin sudah mulai mengingat dengan baik pertemuan itu.
---
Laras melambaikan tangan, memperhatikan dengan jelas kedua cowok itu sampai mereka nggak terlihat lagi. Setelah itu ia segera berbalik, dan mulai melewati keramaian antara orang yang datang dan pergi saat handphone-nya berbunyi.
Damar.
"Pesawatnya udah langsung berangkat.. untung mereka nggak telat....," Laras mulai sibuk bicara, berjalan sambil memperhatikan sekitarnya. "Iya, aku langsung pulang! Kenapa sih mikirnya yang nggak-nggak...Apa lagi sih?!...Harusnya kamu kerja...kita butuh uang, Mar!"
Laras menghembuskan nafas kesal saat mematikan telponnya. Ia berhenti sejenak untuk menenangkan dirinya saat tiba-tiba dia terkejut, menemukan seseorang yang sangat ia kenali melintas di depannya. Dalam jarak beberapa meter.
"Natha?," Laras mencoba memastikan bahwa ia nggak salah lihat meskipun sosok tinggi dan langsing itu nggak mengenakan gaun putih membosankan lagi. 
Natha terlihat mengenakan setelan jeans dan kaos longgar berwarna putih. Berjalan sendirian keluar.
"Natha!," Laras berlari mengejarnya.
Menerobos rombongan tur yang berjalan dengan sangat pelan dengan koper mereka dan menghalangi Laras yang berusaha fokus untuk tetap memusatkan mata padanya.
"Natha!!," Laras memanggil dengan lebih keras. 
Tapi, sosoknya menghilang beberapa saat. Sebelum Laras melihatnya naik ke taksi yang langsung membawanya pergi.
Laras kembali ke tempat di mana terakhir kali ia melihat Rory dan Damar. Seorang petugas menghalanginya masuk meski ia mengatakan ada hal yang sangat mendesak.
Kepalanya terasa pusing. Mungkin karena tenaganya terkuras habis untuk berlari mengejar Natha.
Rasanya ingin berteriak. "Jangan ke Jerman! Natha di Indonesia!"
Tapi, semua tenaganya habis dan ia rubuh saat bersitegang dengan petugas bandara yang melarangnya masuk.
ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments