[Hal. 3] WHEN I'M GONE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Kenapa Dad selalu bersikap seperti itu?” tanya Kevin yang tengah duduk di meja makan sambil mengerjakan PR.

Nicole menghampirinya sambil tersenyum. “Dengar, sayang, Dad sedang ada masalah dengan pekerjaannya. Jadi kita harus memberinya waktu sampai dia menyelesaikannya”

“Tapi, Dad selalu mempunyai masalah, Mom” celetuk Kevin yang mulai merasakan ketidakwajaran anatara orang tuanya. “Dad selalu sibuk. Dia sangat jarang menjemputku. Bahkan dia tidak pernah menonton pertandingan baseball-ku”

“Kau tahu, Dad orang yang sangat sibuk” ujar Nicole mengusap kepalanya. “Sekarang kau harus belajar ya?”

Wentz lebih rumit dari yang pernah ia kenal. Entah apa yang mengubahnya. Wentz memang bukan orang yang mau berterus terang. Dia tidak pernah bicara tentang masalah yang dia hadapi baik soal keluarga ataupun pekerjaan.  Wentz  juga tidak pernah marah, anehnya mereka tidak pernah bertengkar. Mungkin karena Nicole sangat pandai mengendalikan diri dan bersabar. Tapi, bukan itu. ia hanya bersembunyi demi anak-anaknya. Agar tidak ketahuan bahwa sedang ada keretakan yang tidak terlihat namun terasa sangat menyedihkan. Terutama ketika Wentz merasa bosan. Ia harus banyak bersabar menunggu pria itu pulang sampai larut malam. Kadang ia pulang dalam keadaan mabuk, tapi lebih sering tidak.

 Nicole tak pernah mau bertanya karena takut ditinggalkan. Lebih-lebih demi menikah dengan Wentz ia rela dibuang dari keluarganya karena dianggap melakukan hal yang memalukan dengan pergi bersama pria lain di saar dirinya masih terikat pernikahan dengan seorang pria. Masalah lama ini pernah dipicu oleh lahirnya Kevin setelah perselingkuhan itu. Kevin yang sangat mirip dengan Wentz membuat keluarga Nicole meradang, terutama suaminya yang mulai menyiksanya secara fisik. Beruntung saat Nicole merasakan perlakuan kasarnya, Wentz datang dan menyelamatkannya.

Intinya, jika berpisah dengan Wentz, ke mana lagi ia dan anak-anaknya pergi? Bagaimana ia akan membesarkan mereka. Karena itu Nicole tak pernah berhenti berusaha mendapatkan hatinya tapi memang tak pernah cukup. Karena ia tahu, Wentz tengah mencintai seseorang yang lain namun tidak bisa bersamanya karena Kevin, dan sekarang ditambah lagi dengan Kelly.

“Aku...sebenarnya tidak ingin mengganggumu”kata Nicole dengan sangat hati-hati. “Aku rasa, aku membutuhkan seorang pengasuh bayi. Kau tahu aku sering kerrepotan mengurus Kevin, jadi kupikir...”

“Kenapa kau tidak mencarinya saja?” potong Wentz yag sedang duduk di depan komputer dengan secangkir kopi. “Aku rasa kau memang membutuhkannya”

Nicole tersenyum. “Baiklah. Mungkin aku akan meminta bantuan anak tetangga kita. Kau tahu Lola, putri Mrs. Smith? Aku rasa dia mau melakukannya untuk mengisi liburan semester”

Wentz tersenyum. “Baiklah. Lakukan saja. Tapi, kau harus memastikan bahwa dia bisa menjaga Kelly dengan baik” katanya sebelum Nicole meninggalkan ruang kerjanya dengan perasaan yang cukup lapang.

Tersirat sebuah perasaan bersalah pada tatapanya yang menunggu Nicole menghilang. Selanjutnya ia tidak bisa bekerja dan malah menghembuskan nafas lelah yang panjang. Seakan melakukan sebuah dosa besar yang tak pernah bisa diampuni. Ya, seperti itulah rasanya setiap kali memikirkan Nicole yang pasti hidup tersiksa bersamanya namun ia tidak pernah berbuat sesuatu. Ia malah membatasi dirinya dengan istri dan anak-anaknya sendiri.

----

Beberapa jam kemudian, Wentz turun dari lantai dua untuk mengambil minuman. Ia melihat Kevin sedang nonton TV sendirian sementara Nicole tidak ada.

“Mana ibumu?” tanyanya pada bocah itu.

“Belanja” jawabnya singkat karena terlalu serius menonton TV.

“Kelly?” tanyanya lagi,

“Tidur” jawab Kevin cepat.

“Kau sudah belajar?”

“Hari ini hari minggu, Dad!” celetuknya seolah merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan itu. kevin bahka tidak menoleh sedikitpun untuk menjawab dengan lebih sopan.

“Kau tidak bermain keluar?” ia kembali bertanya.

“Aku tidak mau!” cetusnya gusar.

Kenapa bocah ini jadi begitu? Pikirnya lalu kembali ke lantai atas.

“Mom menangis!” kata Kevin masih menatap TV tanpa bergeming.”Aku melihatnya”

Wentz tidak berkomentar dan kembali ke ruang kerja untuk melanjutkan pekerjaannya. Perasaannya tidak enak dan ia tidak tahu mengapa. Seolah sesuatu yang buruk akan terjadi hari ini.

­­­---

Nicole membeli buah-buahan, sayur dan susu serta kebutuhan lainnya di supermarket langganan. Ia biasa melakukannya setiap hari minggu karena Wentz ada di rumah dan bisa untuk sekedar mengawasi anak-anak. Lagipula ia tidak sempat melakukannya di hari-hari lain karena sibuk. Biasanya ia akan pulang dengan barang bawaan yang banyak dan merepotkan. Nicole mendorong troley belanjaan ke tempat parkir di mana ia akan memasukan barang-barang itu ke dalam mobil, di saat ia melihat satu kejadian yang membuatnya kaget.

“Dasar, tidak berguna!”

Nicole mendengar makian yang amat kasar sewaktu ia hendak masuk mobil. Ia sama sekali tidak tahu entah siapa yang membuat kegaduhan itu dan memberanikan diri untuk mengintip ke tempat asal suara itu. di sana ia melihat hal yang amat tidak wajar.

“Gadis jalang!” seorang lelaki memaki seorang perempuan muda sambil menamparnya dengan keras. Ia juga menjambak rambutnya dengan kuat. “Jangan macam-macam denganku!”

Kasihan sekali, pikirnya. Tapi, tak melakukan sesuatu.

“Aku janji tidak akan melakukannya lagi...” gadis itu memohon padanya sambil menangis. “Sakit...”

Lelaki itu melepaskannya. Tapi dengan mendorongnya lebih dulu sampai terjatuh. “Sekali lagi kau membohongiku, aku bersumpah akan membunuhmu!” ancamnya sebelum pergi bersama teman-teman berandalnya yang sudah menunggunya di ujung area parkir.

Nicole menyaksikan gadis itu bangkit tertatih-tatih menahan sakit, sementara lelaki itu sudah naik ke mobil dan mengebut.

“Kau baik-baik saja?” tegur Nicole sambil mendekat untuk mengetahui ia terluka atau tidak.

Benar. Bibirnya berdarah dan ia mencoba untuk terus menyekanya. Ia masih bisa tersenyum. “Aku tidak apa-apa...” jawabnya dengan suara bergetar. “Terima kasih” ucapnya canggung.

“Kenapa dia melakukan itu? memangnya apa yang kau lakukan?”

Gadis itu menggeleng-geleng dan tampak berusaha untuk tenang. Walaupun sepertinya gagal, karena ia tetap menangis juga karena kesakitan.

Kejadian ini pasti sudah sering terjadi, pikir Nicole yang lantas kasihan lalu berniat menolongnya.

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments

    • avatar lee imahminsun says:

      makasih ka updatenya, jangan" gadis di pakiran itu juny??? oh... tidak..!!! G kebyang klau itu juny dan klau nicole berniat membawa pulng apa yg terjadi nanti??? lanjuttt besok ^^