“Gue ketemu Uki lagi semalam," kata Rory, murung.
Erris hampir nggak bereaksi. "Bukannya lo juga sering ketemu dia?," balasnya acuh, lalu menghisap sebatang rokok di sela jarinya.
Nggak ada kata yang keluar dari bibirnya
Hening.
Erris nggak berkomentar, padangannya tertuju ke lapangan di bawah mereka, di mana hanya ada sedikit orang yang melintas menuju kelas mereka masing-masing.
Rory terburu-buru menghabiskan sebatang rokok di tangannya setiap kali ia nggak bisa menguasai dirinya atas hal yang nggak dia harapkan atau nggak ingin dia ketahui. Ia makin nggak tenang setelah satu batang habis, dan menyentil puntung yang masih menyala ke udara. Puntung berasap itu jatuh di bawah kakinya. Rory mulai mencari satu lagi di dalam satu jaketnya tapi itu batang terakhir yang dia punya, lalu Erris menyodorkan satu padanya. Rory menyulutnya dengan tergesa-gesa, seperti orang yang gugup dan kedinginan.
“Dia jalan sama Chris” kata Rory, suaranya tercekat.
“Apa?," semburnya, menatap Rory nggak percaya. “Mereka kenal di mana?”
Rory membalas tatapannya itu, sedikit terguncang. "Ya, kemarin gue ketemu mereka," ia meyakinkan Erris. Lalu mulai menceritakan suasana hatinya saat itu dan ia nggak sadar bahwa Erris nggak benar-benar mendengarkannya, tampaknya Erris-lah merasa lebih terganggu dengan kabar itu. Tubuhnya membeku saat Rory menceritakan pertemuan semalam dengan Uki.
---
“Lo ngapain di sini?," itulah sapaan Chris ketika melihatnya datang menghampiri mereka yang ingin segera meninggalkan mall.
Uki menutupi seragam kerja yang ia pakai dengan cardigan hitamnya. Ia terkejut menemukan Rory sudah ada di depan mereka sekarang
Mereka bersaudara. Meski Rory lebih tua dua tahun darinya, tubuh Chris sedikit lebih tinggi. Rory dan Chris nggak mirip. Chris hanya terlalu kurus dan putih, - kalau nggak mau disebut pucat. Rambutnya hitam dan berombak, wajah lebih tirus dan sepasang mata dengan sorot dingin. Mereka berbeda secara fisik, tapi punya kesamaan sekarang.
Mana Chris tahu mereka jauh dari sekedar kenal? Tapi, Chris lumayan menghormati Rory.
“Oh ya, ini Uki," Chris dengan bodohnya memperkenalkan gadis yang berdiri di sampingnya.
Rory terlalu terus terang. "Udah kenal," katanya, membuat Chris heran.
Uki terlihat bingung, setelah tadi begitu senang.
“Oh?," Chris berusaha mengendalikan keadaan. Tanpa mengalihkan tatapannya dari kakaknya yang terpaku pada Uki. “Kapan?”
“Kita teman dari SMA," jawab Uki ragu-ragu dan ia berusaha mengangkat kepalanya, tapi takut.
“Oh ya?," Chris tercekat pada suaranya, ia memandang Uki lalu Rory. “Kebetulan kalau gitu”
“Ya…," Rory mulai menguasai dirinya. "Dulu Uki teman sekelas gue di SMA? Kita dekat…”
“Aku juga dekat sama Laras, Damar dan…Erris," sambung Uki. "Aku nggak tahu kalian saudara”
Rory masih berusaha untuk tersenyum. "Ya, Uki dekat sama setiap orang…," katanya. “Kalian pacaran?”
“Ng…Nggak kok!," kata Uki, alisnya ditarik ke atas, bibirnya tersenyum,
Tawa Rory mulai terdengar. "Pacaran, juga nggak apa-apa lagi," katanya.
Chris langsung mengerti, yang ingin ia lakukan adalah menjauhkan Uki dari tatapan menakutkan Rory. Chris membukakan pintu mobil untuk Uki, sebelum ia berjalan mengitari mobil sedannya dan mengawasi ke mana tatapan Rory tertuju; pada Uki.
“Kita urus ini nanti," ia memperingatkan ketidaksukaannya pada suasana kikuk tadi, pada Rory, seakan ia berani baku hantam untuk memperebutkan Uki, jika diperlukan. Chris sudah menyiratkan arti dari suasana ini.
Tapi, kenapa harus Uki?
---
Woohhooo..
Kentang bgt mbak.. Ckck
Tpi bgus nih
Mbak.. Slah ktik nih..
Itu tlisanny "introducing" bkan "indtroducing"
=D
ayo dilanjut mba' , sampe bab berapa nih mbak?..salam kenal y..
hahahah makasih semua...salam kenal juga...
ini blog baruku...
semoga readers semua suka soalnya aku termasuk pemalu klu karyaku dibaca orang lain.
dan terima kasih masukannya semua, itu membantu aku banget untuk nulis lebih bagus lagi
arigatou...