[Hal.24][Ch.8] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Forgiveness

“Aneh…," gumam Natha memandanginya dengan tatapan menyeledik.
Rory tersenyum dengan lesung pipinya. Tapi, masih belum pudar dari ingatan Natha rautnya yang menakutkan tadi siang, seakan tersimpan di kepala selamanya. Bagaimana bisa dia bisa bersikap seolah nggak pernah terjadi apapun?
Mereka ribut tadi siang dan sekarang ada di restoran mahal untuk makan malam.
Rory terlihat lebih santai menghabiskan makanannya dan sering berkata ‘ini enak’. Tapi Natha menggeleng, saat Rory lupa lagi, dia nggak makan daging. Rory minum air putih dalam gelas, meneguk setengahnya lalu menaruhnya lagi. Sedangkan Natha belum menyentuh salad miliknya.
“Kenapa?," tegur Rory, memperhatikan Natha sedikit gelisah.
“Apa sih maksud kamu ngajak makan di luar?," tanya Natha, tangannya menggenggam gaunnya, di bawah meja. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
“Ini permintaan maaf karena tadi siang marah-marah sama kamu," katanya, tenang dan mengandung makna yang sungguh-sungguh. "Aku sadar kok kalau apapun masalahnya, kamu nggak pantas menerima sikap aku tadi”
Natha tersenyum sinis, melihatnya yang sekarang nggak ada yang menyangka empat jam sebelumnya dia kehilangan kontrol yang benar-benar parah. "Aku pikir kamu sama sekali nggak sadar,”
Rory menarik nafas lagi. "Aku serius," ia menegaskan, agar Natha nggak menjengkelkan di saat ia mengaku salah. “Aku minta maaf”
“Jadi apa yang kamu lakukan ke Erris?," tanya Natha yang penasaran kelanjutan kejadian semalam.
“Aku nggak mau ngomongin itu," wajah Rory berubah masam.
“Tangan kamu pasti sudah mendarat di wajahnya Erris," tebak Natha dan Rory berpura-pura nggak terpengaruh.
“Nggak punya pilihan lain," Rory membenarkan.
“Itu nggak menyelesaikan masalah," kata Natha.
“Aku tahu, tapi sekarang masalahnya udah selesai, Little Mermaid," jelas Rory melirik salad Natha. "Cepat habisin, aku capek, mau cepat-cepat pulang”
“Kamu mengirim Erris ke neraka?," Natha nyeleneh’ lagi dengan gayanya yang menyebalkan.
“Belum," jawab Rory santai.
“Masalahnya bukan sama Erris," kata Natha. "Kamu kesal karena kamu terlambat tahu alasan dia menolak kamu lagi dan kamu benar-benar  udah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan dia”
“Sok tahu," cetus Rory menolak dahi Natha dengan ujung jari telunjuknya.
“Iiih, apa sih?!” Natha langsung menepiskan tangan Rory dari kepalanya.
---
“Harusnya kita punya kulkas, supaya aku bisa buat salad sendiri," kata Natha menyeberangi ruang depan menuju kamarnya.
Rory tersenyum simpul. "Tapi kamu pernah bilang nggak ada istilah ‘kita’ di sini," katanya, sekedar mengingatkan, dia pernah ditolak dengan cara itu, dengan kata-kata  ‘nggak ada kita'.
Natha berbalik dan dia tersenyum, dengan sedikit malu-malu, saat Rory berdiri di depannya. Dan ia berusaha menatapnya tanpa ketakutan seperti tadi siang.
“Kamu mau buat pengecualian untuk kali ini?” Rory bertanya dengan lesung pipi yang terlihat lebih jelas dari dekat. Dia semakin mendekat ke wajah Natha dan yakin Natha nggak akan mendorongnya. Dia akan mengakhiri semua keragu-raguan ini dengan satu ciuman, pikirnya semakin mendekat, mengisi kekosongan diantara ia dengan Natha. 
“Aku pikir…," Natha menjawab, ia mundur selangkah sebelum itu sempat terjadi dan membuatnya nggak bisa tidur. "Aku nggak berpikir seperti itu, Mr. Stalker”
Masalahnya hanya satu. Rory tampak belum melepaskan Uki sepenuhnya. Inilah akar dari amukan Rory siang ini. Natha terlalu berat mengakui bahwa ia kecewa. Dan Natha nggak akan membiarkan Rory masuk untuk membuatnya terluka.
Rory terdiam. Nggak  marah, dan justru tampak maklum, pada reaksi Natha. Syukur ia nggak dimaki atau ditampar karena berbuat kurang ajar. Sadar, mereka sekarang, adalah tanpa ikatan dan suatu kesalahan, jika tetap melakukannya
Natha mundur, masuk ke kamarnya. "Aku ngantuk," katanya, sebelum menutup pintu dan menghilang dari pandangan Rory. Dia bersandar ke pintu yang tertutup, menghembuskan nafas, dan kembali meringkuk di sana.
“Oke…Miss Broken Heart…," Rory bergumam pelan setelah pintu tertutup, kembali di depan wajahnya, lalu berbalik dengan kecewa sambil menyapukan helaian rambutnya ke belakang. Menghembuskan nafas panjang, lalu duduk di sofa, tempat terakhir-nya. Tersenyum untuk dirinya sendiri. "Ini nggak mungkin, Rory…”
---
“Ini sih bukan soal Uki lagi..," kata Laras, dengan kepala terkulai di atas meja. Tiga sloki membuatnya tidak berdaya sekarang.
Damar yang sedang merokok dan minum, menggeleng. "Kalau Rory nggak ada, gue yang pukul Erris," katanya. "Itu kelewatan, kita ini dianggap apa sih?”
Laras tertawa pelan, rambut panjangnya menutup setengah wajahnya yang lemas, ia menepuk-nepuk punggung Damar. "Udah…," katanya serak. "Kalian sahabatan sejak lama…”
Damar tersenyum simpul, melirik Laras yang harusnya sudah diseret pulang. Cewek ini memang nggak pernah berubah, pikirnya. Tipe yang terlalu cuek dan santai. Laras adalah ‘Rory’ versi cewek, karena  juga punya tato di tubuhnya.
“Lo tau nggak sih Erris yang paling sabar di antara kita?," tanya Laras, setelah mengangkat kepalanya kembali dan menatap Damar sejenak. “Di antara kita cuma dia yang…agak normal. Maksudnya…dia berusaha untuk serasional mungkin di saat kita bertiga berusaha menjadi apa yang nggak bisa orang lakuin…”
Nggak  ada tanggapan dari Damar yang menyalakan sebatang rokok lagi dan menghisapnya untuk meniupkan asap tebal dari mulut dan hidungnya.
“Setiap kita bikin masalah, selalu dia yang tanggung jawab. Ingat waktu itu Erris nyembunyiin kita setelah Rory nabrak orang saat kita liburan ke Anyer? Erris ikut terlibat padahal waktu kejadian dia nggak sama-sama kita, Mar. Dan lo ingat ketika lo sama Rory berantem dan dia coba melerai, tapi lo malah pukul dia. Sampai Erris luka di kepala. Erris dijemput polisi di sekolah, ikut-ikutan jadi tersangka karena melindungi kita," kenang Laras. "Erris ketua OSIS, punya teman yang semuanya anak bandel. Dia nggak pernah bilang kita merusak reputasinya di sekolah dan dia sering dinasehati guru supaya bisa mengiring kita ke ‘jalan yang benar’, dia nggak pernah memaksa kita keluar dari jalur kita supaya dia dianggap hebat…gue rasa…perjuangan Erris saat itu hebat juga sih…”
“Termasuk perjuangan nyembunyiin Uki?," Damar sinis. “Dari Rory yang patah hati berat, dan dari kita, yang dia bela dari orang-orang?”
“Gue cewek, Mar," kata Laras lebih serius.
“Bukan itu masalahnya, apa kita seperti orang-orang itu kalau Erris terus terang?," Damar nggak setuju. “Kita sahabat! Bukan baru kenal sebulan dua bulan”
Laras tertawa lagi, pelan dan dalam,
Gue ngerti posisi Erris," katanya, terdengar pembelaan seorang pengacara sukarela bagi Erris. "Yang satu sahabatnya, yang satu cewek yang dia suka, dia nggak bisa memilih salah satu. Harusnya kita yang pengertian. Toh, Uki juga belum tentu suka sama Rory  sekalipun Erris nggak ada. Cinta nggak bisa dipaksain, Mar”
“Kayaknya lo tambah pintar sejak pulang dari Australia," celetuk Damar, tiba-tiba, tertawa pelan dan sinis. Seperti ejekan, karena selama ini Laras hanya tahu soal marah tanpa sebab. “Atau jangan-jangan lo masih punya perasaan sama Erris?," Damar tertawa pelan.
Laras bungkam cukup lama, dan terkulai tanpa bicara. Memandang Damar sambil mendengus, ia menggeleng pelan. "Gue bahkan lupa kalau Erris cinta pertama gue…," akunya. Lalu tertawa pelan. "Dan gue juga lupa, satu-satunya orang yang berhasil bikin Damar terkapar berantem adalah Erris”
Damar terkejut saat melihat Laras mengeluarkan rokok dari tasnya lengkap dengan korek apinya. Dia baru tahu sekarang Laras juga perokok selain peminum. Dia juga punya tato di punggung sebelah kirinya dan sejak tadi ia abaikan, karena tertulis sebuah  nama 'Myles' di sana. Nama yang seringkali membuat amarahnya meledak-ledak. Tapi, sudah bukan hak-nya untuk marah.
Damar mengalihkan pandangannya ke minuman yang dia pesan. Menyingkirkan semua yang pernah mengganggu perasaannya.
Laras membuat tato-nya di Australia. Tampaknya juga tidak peduli, sekarang Damar jadi mengetahuinya. Ia menganggap semua yang terjadi hanya kenang-kenangan. Hanya sebatas kenangan. Karena mereka sekarang melangkah di jalan yang berbeda.
---
Natha mendengar suara berisik dari dapur, yang membuat matanya terbuka sekarang. Dia baru saja tertidur karena bosan sepanjang siang. Ini sudah jam empat sore tapi nggak terdengar kegaduhan dari suara TV yang dinyalakan Rory untuk sekedar santai, sebelum ia keluar lagi, melakukan ‘pekerjaan’.
Natha terkejut saat melihat dua orang asing baru keluar dari dapurnya. Mereka berseragam toko elektronik dan baru akan pergi. Ia mengucek-ngucek matanya saat melihat Rory ada di dapur dengan sebuah kulkas baru!
“Kamu mau pergi belanja sekarang?," tanya Rory yang tersenyum padanya di pintu, sebagai kejutan.
Senyum terpancar di wajahnya, Natha mengangguk, menghampiri Rory. Dengan senang hati dia nggak akan menolak. Lalu pergi dengan taksi, agar bisa membawa lebih banyak barang.
Rory datang mendorong trolley. Dia memasukan apa saja yang dia suka ke dalamnya sambil berjalan.
“Kamu nggak akan balikin ke raknya lagi kan?," Rory bertanya saat mengambil satu paket mie instan yang terdiri dari lima bungkus.
Natha tersenyum manis, mengambil paket mie instan-nya dan Rory sempat berpikir bungkusan itu akan pindah ke trolley, tapi malah kembali ke tempatnya.
“Aku bukan orang Jerman!," serunya begitu Natha mendorong trolley ke tempat lain. “Aku nggak biasa makan roti yang cuma bisa tahan kurang dari satu jam di perut!”
“Aku pernah dengar kalau makanan pokok orang Indonesia bukan mie instan," balasnya, menoleh sebentar lalu berjalan lagi.
Ini moment paling menyenangkan yang pernah ia alami. Natha mendorong trolley-nya di antara rak khusus makanan kecil. Ia mengambil beberapa bungkus snack, lalu berjalan lagi. Mereka butuh snack untuk nonton TV dan saat Rory membalik-balik buku pelajaran sambil tiduran di sofanya.
Rory sudah nggak terlihat mengikutinya. Natha pun keluar dari lorong khusus snack dan menemukannya kembali.
Rory sedang mengobrol bersama si kerdil itu di depan rak khusus mie instan.
Natha baru tahu bahwa cewek itu bekerja di supermarket langganan mereka. Natha pun menarik trolley-nya pergi, ke tempat lain. Di mana dia nggak akan melihat mereka lagi.
---
Natha mengangkat satu kantong ke atas meja di samping kulkas baru dan ingin mengisinya dengan buah dan sayur. Dengan gembira ia menyusun semuanya dengan terampil dan rapi.
Rory mengambil sebuah apel dari dalam kantong, mengelapnya sebentar dan menancapkan gigitan pertamanya, yang berbunyi, ‘krauk’ yang terdengar jelas oleh Natha yang tersenyum di sampingnya. Manis, katanya, saat melirik Natha.
“Aku mau pergi, ada urusan," kata Rory padanya, sekedar memberi tahu, ia mungkin nggak bisa di rumah sampai malam.
Natha mengangguk, biasanya dia akan bilang, ‘kenapa aku harus tahu?’. Kali ini sikapnya lebih manis. Mungkin karena terlalu senang. "Ambilin kantong yang itu dong…," pintanya lembut pada Rory sambil menunjuk salah satu di antara dua kantong yang isinya belum dikeluarkan.
Rory ingin berkomentar, bahwa ini pertama kalinya Natha berbicara padanya dengan nada seperti itu, dan meminta tolong padanya. Ia mengambilkan salah satu, menaruhnya di atas meja, menyingkirkan kantong yang sudah kosong, agar Natha bisa mengeluarkan isi kantong yang baru. Menyusun telur, jus jambu dan jeruk, serta susu cair di dalam kulkas. Rory menarik perkiraannya bahwa Natha adalah nona kaya yang nggak tahu apa-apa selain marah-marah.
Natha tersenyum, menatap ke bawah. Tersirat sebuah kekecewaan yang ganjil. Sekarang dia berpura-pura bisa tertawa, sementara hatinya menjerit sejak mereka di supermarket. Sejak menemukan si gadis penjaga supermarket dan Rory masih terlihat memendam perasaan itu.
Dapur lebih terlihat seperti dapur, dengan adanya peralatan makan yang baru.
Tawa renyah terdengar saat mereka saling ejek.Rory menyikut tangannya yang sedang bekerja, dan Natha bergeser agak jauh. Lalu seseorang mengetuk pintu.
“Jangan lemari," Natha mengingatkan ia nggak ingin dikurung seperti waktu itu lagi, saat Rory menoleh padanya.
“Iya," jawab Rory yang segera pergi ke depan, sementara Natha masuk kamar. Rory baru membuka pintu setelah memastikan bahwa Natha menutup pintunya rapat-rapat.
---
Nggak  ada yang perlu ditakutkan, hanya Erris.
Rory  menatapnya dingin saat Erris kembali menunjukan penyesalannya.
Dia sudah pasti datang untuk minta maaf dan memperbaiki apa yang sudah dirusaknya. Tapi, semua memang bukan tentang Uki lagi sekarang. Hanya soal persahabatan. Semua ucapan Uki di supermarket masih ia ingat dengan jelas. Uki memintanya untuk nggakmembenci Erris karena itu juga salahnya. Uki membela Erris itu pasti.
 “Gue…," Erris memulai, ia duduk di teras, sementara Rory tetap di motor-nya.
Semua amarah sudah lenyap dari wajah Rory.
 “Gue selalu bukan di posisi yang bisa berkeluh kesah,“jelas Erris.
“Harusnya lo bilang, Ris," tuntut Rory, menggelengkan kepalanya, ia berusaha menerima, ini masa lalu, ini sudah terjadi, ini nggak bisa diubah lagi. "Gue kelihatan begok di depan semua orang, tahu nggak?”
“Gue tahu,..,” jawabnya murung,
“Gue tahu Uki yang minta untuk tetap diam. Sebenarnya ada masalah apa lagi sih di antara kalian?," tanya Rory, teringat pada kata-kata Uki yang akhirnya mengakui sekaligus membenarkan analisa Chris, adiknya.
Erris tetap tertunduk. "Nggak akan mudah bagi Uki, jika semua tahu. Gue seperti penghalang buat dia meraih apa yang dia mau. Bodohnya gue turutin kemauan dia karena gue nggak pernah bisa lepasin dia," jawabnya. "Gimana mungkin gue jujur kalau pacar gue adalah cewek yang disukai sama temen gue sendiri?”
"Terus, sekarang kalian gimana?," tanya Rory.
"Uki nggak lagi seperti Uki yang dulu. Gue pernah hancurin hidup dia, sekali untuk selamanya, Sampai sekarang gue masih terus mencoba perbaiki kesalahan gue tapi dia nggak pernah mau terima gue lagi."
"Memangnya apa yang lo lakuin ke dia?" Rory mengernyit. "Lo tahu Chris dekatin Uki, apa nggak itu masalah buat lo?".
Erris menggeleng. "Gue nggak ngerti...," jawab dia, bingung. “Gue sama Uki udah mutusin. Semuanya memang nggak mungkin dilanjutin”
Rory menarik nafas panjang. "Sumpah, sekarang gue nggak mau lagi bahas masalah itu.," kata Rory mengakhiri kebingungan Erris yang tampak nggak punya penjelasan lain selain dari keragu-raguan dan rasa bersalah yang tersirat di wajah murungnya. "Itu sudah jadi urusan lo dan Uki"
"Lo mau maafin gue kan?," tanya Erris.
Rory menarik nafas panjang lagi. "Gue kenal lho sudah separuh umur," jelas dia, menatapnya lalu tersenyum simpul. "Dan ini memang pertama kalinya lo ngelakuin hal yang bikin gue kesel setengah mati. Pertama kali, tapi paling nyakitin. Tapi...kalau diingat-ingat lagi, semua itu belum ada artinya dibandingkan sama apa yang pernah kita hadapi sama-sama. Lo, gue, Laras dan Damar...Nggak akan adil kalau persahabatan kita putus cuma gara-gara masalah ini..."
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

3 comments

  1. avatar Unknown says:

    Mksdny mbak?:s
    Kn dia yg mnta bwt blikin passportny.. Kok skrg mlah ga mau blik?:s
    Udh mulai jtuh cinta x ya?x_x

    • avatar Unknown says:

      Kentang banget mbak motong ceritanya
      si natha mulai ada rasa ni sama rory

      mbak arashi,penulisan nama ada yg salah itu rory apa reno ?
      hehehhe .....

      jangan lama2 mbak uplodnya.

      • avatar Midnight says:

        Sory udah ralat kok...
        hm...sebenarnya sih krn gak muat lg jadinya kepoong di sana...
        tp suer deh, update nya tiap hari...hahahha
        thanks...jgn lupa like page kita ya...