[Hal.23][Ch.7] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Kacau

Uki jadi buah bibir para cewek, karena kebodohannya. Dia nggak bisa matematika, nggak bisa bahasa Inggris, bahkan untuk Bahasa Indonesia, dia malah dapat nilai enam. Walaupun begitu, ia tetap disukai cowok-cowok karena manis dan pandai membawa diri, juga karena suaranya yang jazzy dan merdu saat menyanyi. Dia sering dengan santai membalas candaan cowok-cowok sambil lewat. Dia juga bukan tipe yang gampang terbujuk rayu.
Rory melihat kehati-hatian yang besar pada Uki terhadapnya. Dia tampak berusaha menghindari masalah. Tapi, Rory selalu berusaha meyakinkan Uki bahwa dia bukan masalah. Rory pernah mengumpulkan semua teman sekolahnya untuk membantu sebuah acara penembakan di lapangan olahraga. Membentuk tulisan ‘I’, gambar hati, ‘U’ dan ‘Uki’. Dengan begitu Uki nggak akan punya alasan untuk menolak.
Tapi, dia keliru di saat bersamaan.
Uki minta maaf dan pergi. Sejak itu nggak pernah mau bicara dengannya lagi. Rory adalah cowok paling keren di sekolah tapi juga adalah yang paling menggelikan.
Sekarang, Rory mengerti arti dari penolakan itu. Uki nggak mau terlibat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Erris.  Karena itu juga sekarang dia mematahkan hati Chris, seperti mematahkan hati Rory berkali-kali. Rory mencoba mempercayai bahwa selama ini Erris diam, bersikap dia adalah teman yang paling mendengarkan. Ekspresi Erris nggak terbaca sehingga nggak ada seorang pun yang tahu, apa yang ia sembunyikan.
---
Natha diam, Rory nggak bicara. Sibuk sendiri-sendiri setelah pertemuan semalam yang melegakan bagi keduanya, namun sekarang jadi nggak ada artinya lagi.
Rory keluar dari kamar, setelah mandi dan berpakaian sementara Natha di dapur mengolesi rotinya dengan selai hijau sarikaya. Sambil memperhatikan Rory, mengambil sepatu dan duduk di sofa untuk memakainya. Rory menyandang ranselnya keluar tanpa bilang apa-apa dan pintu depan tertutup dengan bunyi keras. Natha menaruh rotinya kembali di piring, dia kehilangan nafsu makannya.
Suasana hati Rory sedang buruk. Dia tampak ingin memukul seseorang hari ini dan sudah lama Natha nggak melihatnya semarah itu. Terakhir Rory terlihat menakutkan saat berkelahi dengan Kevin. Dia selalu begitu kalau  marah, seolah apapun yang ada di dekatnya akan dia lemparkan. Karena itu Natha menjaga jarak darinya.
Natha nggak mengajaknya bicara. Begitu bangun tidur, Rory sudah duduk di sofanya dan pasti dia nggak tidur semalaman. Saat pintu kamar terbuka, ia langsung masuk menuju kamar mandi, dia juga membanting pintu dengan keras. Ia membuka lemari nggak sabaran, memberantaki isi lemarinya hanya untuk mencari sehelai kaos yang baru. Dia terlihat sangat emosional saat lemari nggak bisa merapat karena tersangkut dia menendangnya sampai engsel-nya lepas. Dia berjalan terburu-buru keluar.
Ada kesedihan yang nggak bisa diungkapkan saat itu.
Kegaduhan semalam  membuatnya penasaran. Ia bangkit dari tidur pura-pura-nya untuk mencari tahu asal suara-suara itu. Ia berdiri di jendela mengintip diluar melihat Rory  kehilangan kendali, mengetahui sahabatnya berkhianat. Chris di sampingnya dan mereka seperti baru saja pulang dari pertunjukan sirkus yang gagal.
Rory nggak bisa tidur. Ia tampak gelisah berbaring di sofa, lalu ia bangkit untuk duduk, lalu berbaring lagi, itu terjadi berkali-kali. Dia membungkuk, terlihat mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia berusaha menahannya tapi dia nggak cukup mampu mengatasinya.
Natha ingin keluar, menghampirinya. Duduk di depannya, menggenggam tangan-nya yang mengepal gemetaran itu agar Rory mengalihkan wajahnya kepada dirinya. Jika Rory sudah menatapnya, semoga itu bisa mengurangi gemuruh di hatinya. Natha mungkin akan merangkulnya seperti saat Rory menghilangkan ketakutannya di pinggir jalan kemarin. Dan jika, sebuah ciuman bisa menyapu semua amarah itu, Natha akan memberikannya. Natha tahu, itulah yang ingin dilakukan Rory saat melihatnya tertidur, tapi ia urung saat wajah mereka hanya berjarak beberapa inci lagi. Rory memilih keluar dari kamar.
Betapa pun inginnya dia, Natha nggak melakukan semua itu. Karena separuh hati Rory, sudah dibawa pergi Uki.
Rory terjaga semalaman, begitu juga dirinya yang meringkuk kesepian di balik pintu yang memisahkan ruang mereka. Natha mengumpulkan semua yang ia tahu tentang Rory, untuk menyatukannya menjadi sebuah kepastian bahwa dia nggak seperti apa yang terlihat dari gaya rambut dan tato-nya. Tapi, Natha mulai merasa, apa yang terjadi pada Rory bukan sekedar karena Erris, sahabatnya tapi juga gadis itu, yang pernah dia cintai selama bertahun-tahun. Pikirannya sendiri membuat Natha kecewa.
Natha terdiam sejenak, lalu menyadari bahwa roti gandum-nya sudah habis. Ia harus pergi membeli yang baru nanti. Mungkin sendiri, karena Rory pasti sibuk seharian ini mengurus masalahnya.
---
“Gue kecewa bukan karena Uki nggak pernah jadi milik gue, Ris," kata Rory pada Erris yang tertunduk penuh rasa bersalah. “Lo sahabat gue! Udah seperti saudara buat gue!”
Rory seperti banteng yang sedang mengamuk. Matanya merah dan sudah jauh melewati batas yang ia sebut titik sabarnya. Dia sedang membayangkan bagaimana mereka berdua sembunyi dengan aman. Setiap kali Rory bercerita padanya soal Uki, dia dengan penuh perhatian mendengarkan, bahkan memberi saran. Sekarang, semua itu menjadi duri dalam daging, dan Rory merasa dibodohi selama bertahun-tahun.
Laras menariknya dari Erris, sebelum Rory bermain dengan kepalan tangannya dan Erris akan terluka.
Erris nggak bisa berkelahi. Dia pasti akan 'habis' di tangan Rory jika seseorang nggak menghentikan kegilaannya itu.
“Rory, udah," ujarnya, dia sudah menyiapkan diri untuk situasi seperti ini dari semalam. Karena dia adalah orang pertama yang diberi tahu Erris telah melakukan kesalahan yang berat  “Semua udah terjadi, kita nggak bisa apa-apa lagi sekarang”
Nggak  ada satu kata pun yang keluar dari bibir Erris selain maaf.
“Lo bersikap seperti teman setia! Lo bahkan mengusir Natha demi kepentingan gue! Sebelumnya lo ngapain, Ris?!”
Damar membantu Laras, menahan Rory. "Cukup, Ror!," katanya memegangi pundak Rory dan menahannya lebih kuat. “Kita bisa selesaiin masalah ini, oke?”
“Lo nggak hanya bohongin gue, tapi Laras dan Damar juga! Gue hanya pingin tahu, kenapa lo lakuin ini ke kita!," Rory nggak peduli, kemarahannya semakin meluap. Menatap Erris seperti menatap musuh dan mereka nggak pernah demikian buruk sebelumnya.
Erris jatuh tersungkur di lantai, menimpa sebuah kursi yang ada di belakangnya.
“Rory?!," Laras menjerit.
Rory berbalik, menatapnya lalu Damar. "Masih mau berteman sama pengkhianat?!," teriaknya sebelum pergi dan menendang kursi yang menghalangi jalannya.
Semua mata tertuju padanya dengan ngeri.
Nggak  ada yang mencoba me-reka ulang saat-saat penuh tawa di SMA. Mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu dan memakai sepatu kets ke sekolah. Rory, Erris dan Damar, masih berambut cepak sedangkan Laras, memakai rok. Rory menjelma menjadi pembuat masalah berkat Damar. Erris terpilih jadi ketua OSIS, sementara Laras dan Damar sudah kasmaran sejak SMP. Lalu Uki masuk, di tahun ke dua mereka. Menyita perhatian semua orang dengan kemampuan menyanyi-nya.
Mereka yang ibarat api kecil pada sebatang korek jika sendirian, tapi jika sudah lengkap, mereka bisa membakar apa saja.
---                                                                                                                         
“Kamu dari mana?," Rory bertanya. Suara yang dingin terasa menakutkan bagi Natha yang terdiam di depan pintu karena terkejut. Dia pikir siapa yang tengah duduk di sofa seperti patung, tapi tiba-tiba bergerak.
Natha pulang dengan membawa barang belanjaan karena ia nggak mau menunggu Rory dan memutuskan untuk lebih mandiri. Lagipula Rory bukan pacar yang harus mengurusi semua kebutuhannya. Jadi dia melangkah melewatinya tanpa menjawab. Dia hanya pergi belanja dan Rory melihat sendiri kantongnya.
Rory segera berdiri. "Aku tanya kamu dari mana?!”. Ia bertanya sekali lagi sambil menarik lengan Natha kuat-kuat,
Kantong belanjaan Natha terjatuh karena dia kehilangan keseimbangan oleh suara yang terdengar bagaikan petir di tengah mendung.
“Aku pergi belanja!,"  jawab Natha, berteriak, karena kesal. Dia nggak harus menjadi pelampiasan karena ini sama sekali nggak ada hubungan dengan dirinya. Bahkan dia nggak ikut campur, berpendapat juga nggak. Masalah itu juga sudah ada jauh sebelum dia hadir di sini.
“Kenapa nggak bilang?!," tanya Rory, belum melepaskan tangannya.
Sekarang mereka berhadapan, Natha membalas tatapannya dengan cara yang sama, tajam dan menantang. Seperti nggak pernah bosan, membangkitkan amarah Rory.
Natha pun nggak punya pilihan, jika nggak melawan, apa yang akan dilakukan cowok yang marah ini padanya? Dia sangat menakutkan untuk dipandang langsung ke matanya.
“Kenapa aku harus bilang?!," cetus Natha berusaha melepaskan tangannya. “Aku memang tinggal di rumah kamu tapi nggak berarti kamu juga bisa ngatur-ngatur aku!”
“Kamu tahu akibatnya tersesat seperti kemarin malam?!”
“Apa peduli kamu?!”
“Aku peduli!”
“Kenapa harus peduli?! Memang aku ini apanya kamu?!”
Rory melepaskannya segera dengan kasar.
Kamu ini kenapa sih?! Apa kamu baru aja mukul orang gara-gara cewek impian kamu?," gerutu Natha sambil membungkuk, mengambil barang belanjaannya yang terjatuh.
Rory masih diam di tempatnya. "Kamu nguping ya?," tanya Rory lebih tenang.
“Dengan suara sekeras itu siapa yang nggak akan bangun?!," tandas Natha.
Natha menahan rasa takutnya.
 Kenapa sih segala sesuatu yang berhubungan sama pegawai supermarket  itu selalu bikin kamu jadi gila?! Kenapa kamu nggak kejar dia dan berhenti melampiaskan kekesalan sama aku!," teriak Natha sebelum ia masuk ke kamar dan menutup pintu. Natha juga langsung menguncinya, takut kalau-kalau Rory akan memaksa masuk.
Tatapan cowok itu membuatnya merinding, seakan membakar dan melelehkannya. Hingga tanpa sadar tubuhnya nggak berhenti gemetaran. Natha bersandar lemas ke pintu, melepaskan kantong belanjaan dari genggaman, lalu dia beringsut ke bawah. Meringkuk ketakutan dan menangis kebingungan.
Rory sangat menakutkan. Dia kelihatan seperti mau membunuhnya.
Sementara itu, Rory tertegun di depan pintu yang kini menghalangi pandangannya. Memandangi pintu yang tertutup rapat dan sudah pasti dikunci oleh Natha yang nggak ingin ia mendekat lagi. Apapun yang terjadi padanya, sungguh, cewek itu nggak pantas menerima semua sisa amarahnya.
Bukan salahnya..., hatinya bergumam.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments