๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ch. 11 - Winner Loose It All
“Kellan...,” aku menyebutkan namanya saat ia lagi-lagi menatapku dengan rautnya yang tegang sekaligus ragu.
“Kamu yakin?” dia bertanya sekali lagi; bahkan di saat tak ada lagi yang menghalanginya, Kellan masih menahan diri untuk hal sudah ia nantikan. Seolah dia selalu membutuhkan izin untuk tahap demi tahap yang kami lakukan hingga berada di saat ini.
“Sabine...,” Kellan memanggilku dengan suara rendahnya; seperti sebuah isyarat bahwa dia akan memulai bagian paling mendebarkan dari kemesraan kami yang semakin intens setiap detik dan menitnya. Ia mengecup tipis bibirku yang terbuka saat menyebut namanya.
Kedua lenganku berpegangan pada bahunya yang sedikit maju dengan sentakan yang cukup kuat, setelah jeda singkat antara kecupan itu dan erangan yang cukup keras dari bibirnya; aku bisa merasakan dirinya memasukiku dengan sangat hati-hati.
“Ugh...,” suara itu keluar tanpa kusadari dari bibirku yang terasa kering.
“Kamu... nggak apa-apa?” tanya dia; di sela nafasnya yang berat.
Aku menatap wajahnya yang tampak kewalahan; sedikit tertegun dengan gesekan ketat yang kurasakan di antara kedua kakiku. Lalu tersenyum, membelai lembut wajahnya di depan mataku. Sebelum aku mengalungkan kedua lenganku di bahunya, menariknya ke bawah agar aku bisa menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku ingin dia tidak melepaskanku saat ia memulainya sampai ia menyelesaikannya. Aku benar-benar ingin dia terus memelukku.
“Lakukan apa pun yang kamu mau...,” ujarku di telinganya; pasrah pada nafasnya yang terengah-engah itu. “Aku milik kamu... Kellan....”
Pikiranku kosong. Ini tidak asing bagiku. Tapi, memperhatikan Kellan yang bergerak teratur dan terus menatapiku dengan lembut, membuat ini benar-benar berbeda. Sebenarnya dia boleh lebih keras jika ia menginginkannya; tapi dia tidak melakukannya.
Dalam hawa dingin, di bawah selimut tebal, kami bersatu selayaknya sepasang kekasih yang saling mencintai. Hujan menggila; begitu juga diriku dan dirinya. Suara gemuruh hujan terus mengisi ruangan tapi seakan tidak pernah penuh. Tapi, yang kudengar hanya suaraku sendiri dan suara Kellan yang bernafas dengan keras di setiap sentakan pinggulnya.
Menatap wajahnya yang mendambaku, aku teringat pada sosok yang masih kusebut ‘Pak Tobias’ itu. Seseorang yang aku kira hanya figuran dalam hidupku, telah menjadi pemeran utama dalam kisah cintaku. Pria dewasa yang tenang sekaligus misterius itu; yang dulu terlihat sebagai pegawai kantoran biasa dan sedikit kutu buku itu, kini menjadi milikku; hatinya dan tubuhnya.
“Kamu... baik-baik saja...?” tanya dia di telingaku, setelah entah berapa lama sejak kami mulai.
Aku hanya menjawabnya dengan kembali mengalungkan kedua lenganku di lehernya; lalu mengangguk.
Perlahan aku mulai merasakan kekuatannya sebagai seorang lelaki dan kemampuannya sebagai seseorang yang pernah menikah. Benar-benar berbeda dengan Harish tapi juga sulit dijelaskan. Secara keseluruhan... dia mampu membuatku kehilangan diriku sendiri setiap dia menggerakan pinggulnya. Aku tidak bisa melihat bagaimana di bawah sana, tapi... harus diakui, aku menyukai caranya yang tenang namun tepat; seolah dia tahu titik mana yang bisa membuatku menjerit tidak karuan. Aku membiarkan tubuhku terombang-ambing dalam gerakan Kellan yang teratur dengan kekuata stabil.
Pikiranku mulai menerawang dalam dekapan Kellan di bawah selimut, tapi Harish masih berkeliaran di dalam kepalaku. Bukan karena aku merindukannya dan berharap pria yang bercinta denganku saat ini adalah dirinya. Tapi, aku selalu membandingkan keduanya dalam hal apa pun.
Harish yang pernah mengejarku seperti seorang yang benar-benar sedang jatuh cinta. Tak benar-benar ada sesuatu yang menghubungkan aku dengannya selain seks yang seperti sebuah obrolan belaka; begitu mudah dilakukan tanpa perasaan. Sekarang aku tahu, justru karena tanpa perasan itulah... tak ada kenikmatan yang berarti sesuatu bagiku.
Harish tidak pernah membuatku segila ini; meskipun dia tangguh seperti seekor kuda. Kokain membuat dia sulit menyelesaikannya saat aku sudah menyerah pada kekuatannya yang luar biasa. Awalnya aku merasa bersemangat tapi... semakin lama, aku hanya ingin dia menyelesaikannya segera. Setelah ia meledak sambil bersumpah serapah, aku tidak merasakan apa-apa lagi selain sakit dan itu masih belum apa-apa jika dia tidak puas. Mungkin hanya beberapa kali, dia melakukannya dengan cara yang aku inginkan, itu memuaskanku ketika dia cukup baik. Dia memang tidak memukul pantatku atau mencekikku ketika merasa ‘tinggi’ setelah mengendus bubuk terkutuk itu, tapi dengan Harish seperti diperkosa oleh tiga orang secara bergantian. Setelah selesai, dia akan meninggalkanku begitu saja terkapar seperti daging busuk. Dia tidak pernah memelukku ketika tidur; bahkan saat aku menangis di sampingnya dia bisa kembali ke komputernya dan mulai bekerja lagi.
Aku tetap datang padanya agar ia tidak melakukannya dengan Laura atau gadis lain ketika merasa kosong. Entah karena aku memang terlalu mencintainya dan cinta itu buta, atau... karena dia lelaki pertamaku yang harus bertanggungjawab sampai akhir atau mungkin aku hanya terlalu naif. Tapi… aku tidak mau lagi hidup seperti itu; terus mengharapkannya bisa mencintaiku.
Sekarang... aku melakukannya dengan pria lain. Pria yang bisa memberiku rasa yang tidak pernah Harish berikan ketika menyentuhku. Pria yang tidak merutuk atau mengumpat untuk mengungkapkan kepuasannya; yang menatapku lekat-lekat dan meminta maaf setiap ia mengerahkan tenaganya sesekali untuk memuaskan dirinya. Yang selalu memastikan bahwa aku juga merasakan kesenangan yang sama dengannya. Yang juga hampir selalu menyebutkan namaku disela-sela tarikan nafasnya seakan dia begitu memujaku; dan itu terdengar seksi sekaligus menggairahkan. Yang bertanya apakah aku masih sanggup menahannya dan kemudian menarik dirinya secepat kilat sebelum ia mencapai klimaksnya. Pria yang jatuh di atas tubuhku untuk memelukku erat bahkan di saat ia sudah terlelap kelelahan, ia tidak pernah melepaskanku.
***
Komentar
0 comments