[Hal. 28] [Ch.10] NOTHING IN BETWEEN - Baca Novel Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Kalau saja mereka tidak bersaudara, mungkin akan lebih mudah untukku. Orang-orang mungkin tidak akan pernah tahu yang sebenarnya. Tapi, seumur hidupku, aku akan terhukum dengan tuduhan ini: Helena yang sampai detik ini belum pernah kutemui, pasti membenciku karena aku telah mengambil suaminya, adiknya lalu sepupunya. Aku menginginkan pria ini walaupun aku tahu pasti perasaan ini bukan cinta; bukan cinta yang sama dengan yang aku rasakan untuk Harish. “Kenapa kamu tetap memilihku? Bukankah aku juga rumit? Aku pasti akan sering menyakiti perasaan kamu....” Kellan tidak menjawabku; ia hanya memberiku tatapan yang tak terbaca, mungkin karena kami berada di kegelapan yang mengaburkan wajahnya. “Kamu pasti mengerti perasaanku lebih dari siapa pun,” katanya. “Bukannya... perasaan kamu terharap Harish juga begitu? Kamu tahu dia hanya menyakiti kamu, tapi kamu tetap mencintainya... ‘kan?” Aku menelan ludah, menatapnya dengan rasa bersalah lagi. “Tapi... memang begitulah caranya mencintai...,” sambung dia, kembali mengelus wajahku dengan jemarinya yang hangat. “Kalau kamu tanya... kenapa aku nggak menghentikannya, jawabannya hanya satu.” “Apa?” “Aku sudah bilang kalau selama ini... aku hampir nggak pernah kesulitan untuk mendapatkan yang aku mau. Tapi, aku percaya bahwa pasti ada hal yang nggak bisa aku dapatkan semudah biasanya....” Cinta. Apa yang dia maksud adalah cinta? “Untuk sekarang... itu adalah kamu,” tegasnya. “Nggak ada satu hal pun yang bisa aku miliki dengan sempurna di dunia ini. Walaupun rasanya nggak mungkin karena kamu mencintai orang lain, tapi kalau aku nggak berusaha untuk membuat kamu jatuh cinta padaku... aku hanya akan berakhir jadi seorang pengecut. Aku... pernah mencoba untuk mundur... tapi aku malah jadi terus memikirkan kamu....” Terkadang... kita menginginkan sesuatu yang tidak bisa kita miliki. Ya, aku memahami perasaan Kellan terhadapku saat ini. Mencintai seseorang yang hatinya milik orang lain memang menyakitkan, tapi... juga tak bisa berhenti. Seakan menyerah jauh lebih menyakitkan daripada tidak melakukannya sama sekali. “Tapi, aku sedikit percaya diri karena sekarang... usahaku sepertinya berhasil. Paling tidak untuk bisa melihat seperti apa diri kamu yang asli. Diri kamu di luar dari apa yang telah dilakukan Harish atau orang-orang di Athlon terhadap kamu selama ini....” Diriku yang asli? “Kamu... sepertinya penuh dengan warna,” katanya. “Tapi... kemudian... semuanya hilang entah ke mana. Aku bangga bisa mengembalikannya walaupun belum semuanya....” “Warna?” “Kamu... gadis yang menyenangkan, Sabine. Ketika kamu tertawa, kamu terlihat sangat hidup. Mata kamu bercahaya saat sedang membicarakan apa yang kamu sukai. Berbeda dari pertama kali waktu kamu masuk ke ruanganku. Kamu... seperti kain yang luntur dan kusut setelah dibiarkan begitu saja dalam hujan dan terik matahari. Aku pikir... nggak ada salahnya untuk berusaha lebih keras, agar semua warna itu bisa kembali seutuhnya.” Kata-katanya yang selalu ingin membuatku menangis. “Seharusnya... aku baca lebih banyak buku... supaya... kosa kataku juga lebih banyak. Seperti kamu,” kataku, sambil menghapus tetesan kecil di ruang mataku. “Tapi, aku benar-benar pemalas. Aku jadi bodoh karena terlalu banyak bersedih....” “Aku nggak akan memberi kamu buku lagi,” dia mengingatkan. “Kamu trauma gara-gara Harish yang balikin buku yang pernah kamu kasih?” Aku menyesal soal buku-buku itu. Aku tidak menjaganya dengan baik dan bahkan tidak tahu kapan Harish mengambilnya dari tempat aku menyembunyikannya. “Kamu nggak pernah membacanya. Itu sama seperti memberikan cangkul ke nelayan,” balas dia, lalu terkikih. “Tapi, aku nggak peduli lagi soal buku yang dikembalikan Harish. Itu hanya buku, sementara bagiku... kamu jauh lebih berharga. Lagipula... sekarang kamu bersamaku.” Lagi-lagi dia membuatku tersipu. “Kamu sudah melakukan terlalu banyak...,” kataku. “Tapi, aku belum pernah memberikan apa-apa ke kamu... aku payah ya?” “Memangnya apa yang bisa kamu berikan?” tanya dia, sontak jantungku berdebar keras. Aku harap dia tidak memikirkan sesuatu yang ada di kepalaku saat ini; keputusasaan yang aku tunjukan belakangan di depannya dan kemudian ajakan setengah memaksa yang membuat ia harus tidur di tempat sempit dan tidak nyaman ini bersamaku. Aku melakukan itu... karena aku... merasa harus melakukan sesuatu untuknya sebagai balasan. Tapi, tampaknya... Kellan juga tidak nyaman dengan itu; makanya dia menghindariku saat kami hampir saja.... “Kamu sudah memberikan lebih dari yang aku harapkan... saat kamu sendiri juga berusaha keras untuk lepas dari belenggu yang menahan kamu...,” ujarnya. “Karena kalau kamu nggak begitu, mungkin itu akan lebih melelahkan untukku... atau bahkan... bikin aku sangat kecewa....” Apa maksudnya? “Aku senang karena kamu memberiku kesempatan. Apa lagi yang lebih baik dari itu, Sabine?” Jawaban Kellan kali ini... terlalu cari aman. Bukankah begitu? Tapi, itu justru membuatku semakin penasaran, apakah dia tidak punya hasrat terhadapku? Dia selalu tenang. Bahkan saat ‘tanda bahaya’-nya menyala, dia bisa menolakku. Apa yang menahannya? Bahkan saat ini, ketika pertahananku sama sekali tidak ada. Aku jelas terlihat mendambakan setiap sentuhannya ketika dia mengelus wajahku atau membelai rambutku. Tapi, dia hanya menatapku dengan rautnya yang tenang seakan itu cukup untuknya. “Aku nggak mau kamu memaksakan diri,” ulangnya; entah untuk ke berapa kalinya. “Aku lebih ingin... semuanya berjalan dengan nyaman.” Kedua lengannya kembali mendekapku dan aku terkesiap dengan hawa maskulin dari tubuhnya yang wangi. Harish juga wangi tapi... aromanya berbeda. Kellan lebih lembut; persis seperti orangnya. Apa... dia juga bercinta dengan cara yang lembut? Pikiranku mulai sedikit menyebalkan. Tapi, memang sulit untuk bisa berpikiran lurus karena aku tahu tubuhnya yang memelukku hanya mengenakan sepotong kecil pakaian; aku menjadi penasaran. Untuk apa dia berani melepasnya tanpa banyak tanya, kalau dia tidak berniat untuk hal yang lain selain tidur? Atau aku memang tidak bisa membuatnya ‘bereaksi’? Atau dia memang orang yang sulit terpancing?

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments