[Hal.1] THE MAN WHO CAN'T BE MOVED - Baca Cerpen Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Aku berdiri di hadapan ratusan kepala. Memberi penyambutan, sekaligus penutupan. "Terima kasih kalian sudah bekerja dengan baik", lalu turun podium. Menyalami beberapa dewan direksi sebelum meninggalkan hall.

Aku naik limo, melewati jalanan New York yang padat. Dan macet menjadi lama saat ada kecelakaan seorang tunawisma tertabrak. Aku memandang ke sebelah kiriku, menerawang kaca mobil di mana aku melihat satu sudut jalan di ujung blok. Terpana ke sana.

Selalu setiap lewat di jalan ini, aku memandang ke sana. Mengingat ketika aku masih berjalan kaki ke stasiun subway terdekat. Dengan tas kerja dan dikejar waktu. Lalu aku bertemu seseorang.

Dia menabrakku di sudut jalan itu dan menumpahkan latte pada kemejaku. Aku harusnya marah dan membentaknya "Lihat apa yang kau lakukan!", tapi aku tidak seberani itu karena dia perempuan.

Seorang perempuan muda, berusia sekitar 23 tahun. Matanya biru seperti langit. Kulitnya kecoklatan. dan Rambutnya hitam berombak. Aku terpana beberapa saat. Di saat yang sama ia menatapku dengan rasa bersalah sambil mengusap-usap kemejaku dengan gemetaran. Noda kecoklatan itu semakin parah. Bagiku itu masalah besar ketika aku tidak bisa sampai di kantor tepat waktu.

Namun aku tidak keberatan dia menarikku ke laundry terdekat. Aku tahu aku akan mendapat masalah nanti. Tapi aku mengenyampingkannya ketika memandang wajahnya sambil menunggu kemeja-ku kering.

"Apa kau berasal dari sini?", tanyaku.

Dia terdiam sejenak. Sebelum mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah catatan kecil dan ia melihatnya beberapa saat.

"Aku Hannah Lyle. Aku dari Florida", jawabnya tersenyum.

"Apa itu?", tanyaku penasaran dengan buku kecil yang ada di tangannya.

"Catatan", jawabnya tersenyum manis, "Aku harus mencatat banyak hal karena aku sangat mudah lupa"

"Semudah itukah?", aku mengernyit.

"Sejenis alzheimer", dia menjelaskan.

"Kau terlalu muda untuk menderita alzheimer, Nona Hannah", kataku.

Dia tersenyum simpul, "Kasus langka. Satu di antara seribu di dunia", jelasnya.

"Seperti short term memory loss?", aku bertanya lagi.

"Yap", dia menjawab sambil berdiri dan sepertinya kemejaku sudah bersih.

Aku tidak lagi memikirkan soal kantor dan atasan yang marah saat mengenakan kembali kemejaku.

Kami berdiri di depan laundry dan aku menyadari dia tampak kebingungan.

"Apa kau baik-baik saja, Nona Hannah?", aku menegurnya.

Ia menatapku. Dengan bingung.

"Apa yang terjadi?", tanya dia padaku.

Aku terdiam. Memandang dia yang mulai cemas sambil memeriksa isi tasnya. Ia mengeluarkan catatan kecil, beberapa lembar foto dan kamera polaroid. Ia mulai memeriksanya satu persatu.

Penyakit seperti itu lebih parah dari yang aku tahu. Mungkin karena dia masih terlalu muda. Saat dia seperti kehilangan sesuatu yang tidak bisa dia temukan lagi. Dia kehilangan tujuannya saat menabrakku tanpa sengaja. Dan tersesat.

---

"Juan, apa kau masih ingat soal gadis penderita ingatan jangka pendek itu?", aku menanyai asisten pribadiku, seorang pria 45 tahun yang sudah bersamaku selama 10 tahun ini.

"Ada apa, Tuan? Apa anda melihatnya?", ia melirikku dari spion depan sambil mencari jalan di tengah kemacetan.

"Tidak...", jawabku memandang ke sudut jalan yang kemudian kami lewati. Aku bersandar ke headstand. Lalu kembali ke sudut jalan tempat pertama kali aku melihatnya.

Hannah Lyle. Seorang gadis dengan foto-foto bernama yang ia kenali sebagai keluarga dan teman-temannya. Paman Alfie dan Bibi Marry, keluarga. Tn. Quentin dan Ny. Gainsbourgh, tetangga. Edward, Tania, dan Dane, teman-teman. Tapi, dia tidak punya alamat dalam catatan itu. Bagaimana mungkin penderita ingatan jangka pendek tidak punya identitas lengkap saat bepergian?

"Apa kau ingin menemui seseorang?", tanyaku saat kami duduk di pinggir jalan, minum latte lagi. Dan aku membolos kerja. Menemani dia sampai kami tahu jalan keluarnya.

Hannah menggeleng. Dia benar-benar lupa apa yang mau dia lakukan. Sehingga aku bertanggungjawab karena menyebabkan hal itu terjadi.

Aku tidak bisa meninggalkannya. Walaupun aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuknya. Tapi, aku tidak berniat membawanya ke kantor polisi.

"Apa kau berasal dari sini?", tanyaku.

"Mungkin tidak...yah...walau aku tidak ingat dengan pasti. Biasanya aku selalu punya firasat terhadap suatu tempat yang pernah aku datangi", jelasnya.

"Ajaib...", komentarku.

"Kau sendiri? Apakah kau berasal dari sini?", ia melirikku, menatapku dengan rasa ingin tahu.

"Aku tinggal di Brooklyn", jawabku.

"Jauhkah dari sini?", tanya dia lagi.

"Sekitar 15 menit dari sini, dengan subway", jawabku.

Ia mengangguk-angguk. Tidak ada kecemasan di wajahnya sekalipun ia tahu tengah tersesat di kota besar dengan seorang pria asing yang tidak pernah dia tanyakan namanya.

Aku menarik kesimpulan dia sudah sangat terbiasa dengan ini. Jadi, dia tampak santai. Aku yakin dia tidak berkeliaran di jalanan New York sendirian. Mungkin seseorang akan datang untuk menemukannya tidak lama lagi.

Hannah terpana kepada sekitarnya. Gedung-gedung mewah dengan lampu-lampu meriah. Kaca-kaca branded store yang mengkilat dengan mode-mode terkini pada manekin yang tinggi langsing. Dia tampak asing sekaligus bergembira.

Apa yang dia lakukan di New York?

"Apa kau tidak bekerja?", tanya dia padaku, ketika malam membuat cahaya lampu menciptakan biasan warna indah di setiap sudut jalan. Lampu jalan, hingga lampu lalu lintas. Bunyi-bunyian khas keramaian serta penyanyi jalanan yang mengobral mimpi mereka.

"Harusnya...", jawabku.

"Maaf aku sudah merepotkan", katanya, "Aku pasti selalu merepotkan setiap orang yang aku temui"
"Tidak apa-apa", aku menatapnya tanpa berkedip.

Wajahnya mulai memerah karena dingin. Hannah saling mengusapkan kedua telapak tangannya. Musim dingin akan segera tiba, udara New York menjadi tak bersahabat bagi orang Florida.

Kita sudah berjalan cukup jauh untuk melihat-lihat. Lalu kami sudah duduk di atas bus yang akan membawa kami ke tempat semula.

"Kau sangat baik", katanya yang duduk di sampingku.

Aku masih menatapnya lalu tersenyum. "Benarkah?", aku meragukannya.

"Apa setelah ini aku tidak akan melihatmu lagi?", dia bertanya padaku.

"Kenapa tidak?", balasku.

"Aku akan lupa begitu kita tidak bertemu lagi", katanya.

"Kenapa kita tidak bisa bertemu lagi?"

"Aku merasa seseorang akan membawaku pergi jauh",

Aku menghela nafas. Begitu banyak orang yang datang dalam hidupnya. Namun hampir semua yang pergi tanpa jejak. Hannah pasti sudah lupa dengan siapa pertama kali ia jatuh cinta. Menderita penyakit itu kadang bagus karena bisa dengan mudah melupakan apa yang tidak ingin diingat. Namun lain cerita jika hal membahagiakan juga terlupa.

Seperti malam ini.

Saat dia tertawa mendengar ceritaku bahwa besok pagi aku pasti akan dimarahi atasanku dan aku tidak mungkin menceritakan padanya bahwa aku berkeliling sepanjang hari dengan seorang gadis asing. Dan sekarang duduk dengannya sambil tertawa di bus. Aku punya seorang manajer perempuan yang gendut dan cerewet. Juga suka sekali berdiri diam-diam di belakangku untuk menegur lalu membuat jantungku seakan melompat keluar karena terkejut dengan suaranya . Dia selalu memastikan aku mengerjakan tugasku dengan baik dan jika dia menemukanku lalai maka dia akan berteriak sampai seluruh ruangan menoleh ke arahku.

Dia juga menderita anoreksia yang parah namun tetap saja bermasalah dengan berat badan. Ms. Dawson seperti babi saat wajahnya yang bulat memerah ketika marah. Itu selalu membuatku ingin tertawa tapi aku tidak bisa karena jika aku melakukannya aku bisa saja dipecat.

Hannah tertawa riang.

Tapi, itulah yang ia tahu selama ini. Sebuah kebiasaan di mana ia akan lupa dengan siapa ia pernah pergi. Dan siapa yang pernah mencintainya. Aku ingin meninggalkan jejak yang mungkin tidak pernah dilupakan oleh hatinya saat bersamaku.

Aku mencintai Hannah sejak saat itu.

---
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments