๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Wandering Mind
“Besok kamu harus ke kantor?” tanyaku.
Kellan menoleh ke arahku. “Ya,” jawabnya dan aku mengangguk-angguk mengerti.
“Sebaiknya kamu tidur sekarang...,” kataku, hampir tidak bisa mengendalikan jantungku yang masih belum aman.
Pikiranku terus bertanya-tanya tentang apa yang seharusnya aku lakukan atau sekedar tanyakan padanya dalam keadaan seperti ini. Mungkin karena aku terbiasa dengan Harish yang selalu memulai lebih dulu; yang bertemu hanya untuk naik ke ranjang.
“Kamu juga mau tidur sekarang?” tanyanya sambil melepaskan jas hitam yang membalut tubuh tingginya yang sedikit kurus.
Aku tidak menjawab, hanya menatapnya terpana saat ia menarik dasi yang sudah longgar dari lehernya yang menggeliat. Lalu mengusap tengkuknya dan aku bisa mendengarnya bernafas dengan berat; dia benar-benar kelihatan lelah. Sambil tetap mengawasinya, aku membaringkan diriku dengan perlahan di sisi tempat tidur yang menyatu dengan dinding, menunggunya mengambil tempat kosong yang ada di depanku yang sebenarnya tidak terlalu besar –matras tidurku hanya seukuran twin-size.
“Kalau kamu mau pakai baju itu lagi besok, kamu harus lepas supaya nggak kusut,” kataku; aku juga tidak yakin soal itu.
Aku hanya....
“Apa... kamu nggak keberatan?” tanya dia, kedengaran ragu.
Aku menggeleng pelan. “Nggak...,” jawabku.
Entah.
Suasana semakin canggung di antara kami. Seakan-akan kami sepasang remaja yang sama-sama tidak tahu harus memulai dari mana; sementara kami tahu apa yang mungkin akan terjadi.
Kellan berdiri dari sisi tempat tidurku dan melangkah ke gantungan baju yang berada di belakang pintu kamar dengan tenang, membawa jas dan dasi di tangannya. Lalu menanggalkan setelan kemeja putih dan celana hitam yang langsung ia gantung di sana.
“Matikan lampunya...,” kataku dengan debaran di dada yang cukup keras setelah Kellan hanya mengenakan celana boxer. Kebetulan saklar lampu berada tidak jauh dari belakang pintu.
Aku tidak tahu seperti apa wajahku saat ia kembali ke dekatku dalam kegelapan. Cahaya dari TV yang masih menyala membias ke dinding, bergerak-gerak dan kadang meredup dan silau seketika. Aku meraih remot TV di atas kepala dan mematikannya. Semuanya nyaris gelap, tapi mendebarkan. Satu-satunya sumber cahaya yang tertinggal hanya cahaya lampu di teras depan yang masuk dari ventilasi. Aku menyaksikan dia mulai berbaring dan menyelip di bawah selimut tebal yang sama denganku, aku sedikit bergeser hingga kurasakan punggungku bertemu dengan dinding yang dingin di belakangku.
“Maaf, tempatnya sempit...,” kataku, memandangi sosoknya yang terbaring menghadap langit-langit kamar dan aku memperhatikan figur samping wajahnya yang tampak estetik di keremangan.“Apa... kamu nggak nyaman?”
Ketika wajah itu menoleh padaku, aku hampir tidak bisa mengendalikan detak jantungku sendiri. Kuharap suara hujan deras dan gemuruh di luar bisa menyamarkannya.
“Bukannya... kamu yang nggak nyaman sampai menjaga jarak?” jawabnya; walau remang-remang aku bisa melihat caranya menatapku.
Justru aku pikir dia yang akan menjaga jarak dariku karena kemarin malam menolakku saat kami sudah terlalu dekat. Tapi, saat aku menelan ludah karena gugup, ia memiringkan badannya lalu mendekapku ke dadanya.
“Sekarang tidur,” bisiknya di puncak kepalaku selagi wajahku berada di depan dadanya yang telanjang. Lengannya membelai punggungku dengan lembut.
Bagaimana kalau aku tidak bisa? Detak jantungku semakin tak terkendali dan aku mulai khawatir dia bisa merasakannya. Di dalam pelukannya sekaligus di bawah selimut ini, tidak hanya hangat tapi juga panas. Anehnya, Kellan selalu saja bisa tenang.
Apa benar Kellan bisa tahan hanya dengan memelukku seperti ini? Apa dia normal?
Pikiranku menjadi semakin aktif saat tubuh yang mendekapku hanya bergeming.
Apa dia sudah tidur?
Terlalu canggung untuk menggerakan badan dan memastikannya sendiri. Khawatir dia akan menemukanku tengah penasaran dan itu akan sangat memalukan. Aku tidak mau disebut agresif. Akan tetapi... kalau seperti ini aku tidak akan bisa tertidur dengan mudah juga bukan?
“Kellan? Kamu sudah tidur?” tegurku, pasrah.
Paling tidak aku masih ingin berbincang-bincang dengannya, karena rasa kantukku benar-benar sudah hilang.
“Kenapa?” balas dia; suaranya terdengar normal. Ia melonggarkan dekapannya hingga aku bisa mundur sedikit dan bisa menatap wajahnya.
Kedua bola matanya yang hitam menatapku dengan seksama; seperti ingin menghipnotisku.
Aku menggeleng-geleng, lalu tersenyum getir. “Aku memikirkan kamu seharian ini,” kataku.
“Oh ya?”
“Dan aku selalu berhenti pada satu pertanyaan....”
“Pertanyaan?”
Komentar
0 comments