[Hal. 25] [Ch.9] NOTHING IN BETWEEN - Baca Novel Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Maaf, aku sangat terlambat...,” ucap Kellan di depan pintu; wajahnya kelihatan lesu sekaligus lelah, tapi dia berusaha untuk tersenyum di depanku.

“Apa ada masalah?” tanyaku  penasaran sambil mengikuti langkahnya setelah ia masuk dan melonggarkan dasi di lehernya.

Kellan langsung pergi ke ruang tengah dan menjatuhkan diri di sofa; membuat tarikan nafas panjang dan kasar. Sepertinya dia hanya lelah karena bekerja seharian. Ia menoleh padaku sambil menggeleng dan tersenyum lagi. Tatapannya seolah memanggilku untuk duduk di sebelahnya dan aku dengan berdebar mengambil tempat di sisinya.

“Seharusnya aku mengajak kamu makan malam hari ini,” kata dia. “Tapi, hari ini aku benar-benar sibuk.”

Pasti Harish sengaja membuatnya sibuk....

“Apa Harish bikin kamu tekanan mental lagi?” tanyaku, merengut.

Kellan tertawa kecil sambil membelai puncak kepalaku. “Aku terlalu fokus ingin menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat,” jawabnya.

“Kamu benar-benar mau kembali ke Jerman?” tanyaku lagi.

“Kehidupanku yang sebenarnya ada di sana,” dia menjelaskan dengan hati-hati. “Aku lebih suka mengajar, berurusan dengan mahasiswa nakal, daripada berada di depan komputer seharian dan... punya boss seperti Harish.”

Aku pun terdiam.

“Kenapa?” tegurnya. “Kamu nggak ingin aku pergi?”

Tentu saja. Aku baru saja terbiasa dengan kehadirannya dan selalu ingin tahu lebih banyak tentangnya; jika itu bisa membuatku merasa bahagia. Aku tidak ingin sendirian atau kesepian lagi.

“Kamu mau ikut denganku, Sabine?” tanya Kellan tiba-tiba. “Setelah pekerjaanku selesai, apa kamu ingin ikut aku ke Jerman?”

Pikiranku agak menerawang jauh. Permintaan yang ingin sekali kupenuhi tanpa syarat, tapi... mungkin tak mampu kulakukan.

“Ya, bisa benar-benar memulai lembaran baru di sana. Masuk sekolah seni, mungkin,” katanya. “Di sana benar-benar berbeda.”

Aku pernah berharap diberi kesempatan untuk mengulang hidupku sekali lagi dan memulai dari awal, menjadi orang lain untuk melepaskan diri dari semua hal memalukan yang melekat padaku seperti noda yang tak bisa hilang. Aku ingin pergi ke tempat yang jauh di mana tidak ada seorang pun yang mengenalku. Tapi, saat ini seolah ada sesuatu yang merantaiku untuk tetap tinggal dalam bayang-bayang yang menawanku.

 Aku mungkin hanya belum siap untuk semua hal baru yang ditawarkan Kellan karena takut mengecewakannya. Tapi, terkadang, ada perasaan ingin mencobanya untuk tahu apakah ini layak atau tidak; di sisi lain, aku tidak mungkin mempertaruhkan kebahagiaan seseorang di atas keraguanku. Memanfaatkan seseorang untuk melupakan seseorang yang lain adalah hal yang kejam; tapi itulah yang sedang aku lakukan sekarang karena ia membuatku merasa begitu dicintai. Aku tidak ingin melepaskan tangan yang berusaha menarikku keluar dari jurang walaupun aku sadar aku adalah beban yang sangat berat yang bisa menariknya ikut jatuh.  

“Kamu ingin aku ikut?” tanyaku kemudian.

“Aku pasti senang kalau kamu ikut,” jawab dia pasti. “Tapi, sekali lagi... aku nggak ingin memaksa kamu. Kamu harus memutuskan tanpa tekanan dari siapapun.”

“Apa yang terjadi kalau kamu nggak usah kembali ke sana?” tanyaku lagi.

“Kalau kamu memintanya, aku nggak akan pergi,” jawab dia, tanpa keraguan di wajahnya yang menatapku lekat-lekat dan kusadari kami sudah terlalu dekat. “Aku akan tetap di sisi bersama kamu, Sabine....”

Kami baru saja memulai hubungan ini dan aku tidak ingin terburu-buru menyerahkan diriku walaupun terkadang... ketika memandangi wajahnya, ada percikan aneh yang menyala di dalam diriku. Yang perlahan membesar, apalagi saat ia menyentuhku dengan jemari dan bibirnya di saat bersamaan... aku menginginkan lebih dari itu saat jantungku memberontak di dalam dadaku. Aku memejamkan mataku dan merasakan hangat dirinya lewat pelukan yang mulai sering ia berikan setiap kami terjebak dalam tatapan masing-masing satu sama lain.

“Tapi,... aku akan sangat bahagia... kalau kamu mau ikut denganku...,” katanya di depan wajahku yang ia belai lembut dengan jarinya sebelum itu menyapu bibirku. “Kita bisa hidup bersama di sana... jauh dari segala hal yang ingin kamu lupakan... .”

Aku hanya menatapnya tanpa jawaban; kusingkirkan kaca mata yang bertengker pada hidungnya yang tinggi. Kurabai kedua pipi tirus dan rahangnya sambil memperhatikan bibirnya yang bicara perlahan hingga ia mengecupku tanpa aba-aba. Lalu aku tersandera di dalam pangkuannya oleh pesona kekasih sempurna milik Kellan selama ia mencengkram tubuhku dengan kedua lengannya yang panjang. Saat kami berhenti untuk mengambil nafas, kami saling tatap. Aku telah memasrahkan diriku  padanya dalam detik-detik percikan itu membesar; aku juga melihat percikan yang sama menyala di matanya –nafsu.

“Sabine,” dia menegurku, berdehem lalu menundukan wajahnya di saat yang sama ia melonggarkan dekapannya di tubuhku yang rindu padanya. “Aku ingin istirahat malam ini.”

Tertegun, aku membeku saat ia menurunkanku di sisinya dan langsung berdiri untuk menghindariku.

“Sebaiknya kamu juga tidur,” kata dia berujar dengan tenang dan mulai melangkah meninggalkan ruang tengah di mana aku masih tidak percaya dia... menolakku. “Bukannya hari ini juga melelahkan buat kamu?”

Aku mengangguk-angguk; menghilangkan perasaan terhina yang tiba-tiba menggeliat di hatiku karena dia lebih memilih menghindar saat ia hanya tinggal selangkah lagi. Dia bahkan tidak menoleh ke arahku lagi sebelum menghilang di balik pintu kamar tidurnya; tempat yang paling steril dariku.

*** 

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments