๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Filled with Joy
“Sebenarnya aku mau turun dan memberikan hadiahnya langsung,” kata Kellan padaku, terdengar merajuk lagi setelah ia menepikan mobilnya.
“Kalau aku mengenalkan kamu sekarang, penyakit over protektif Papa-ku bakal kambuh,” jelasku sambil terkikih. “Dia bakal menyuruh aku tinggal di rumah dan membatasi ruang gerakku. Kita nggak akan bisa sering ketemu. Kamu mengerti?”
Kellan mendengus. Lalu mengangguk dan mengalah.
“Aku akan pulang naik taksi, jadi kamu bisa kembali ke kantor dan nggak perlu takut aku naik bus lagi,” ujarku padanya. “Oke?”
“Oke, itu cukup adil...,” gumamnya.
Aku bersiap untuk turun.
“Sabine, tunggu,” panggilnya tiba-tiba saat aku ingin membuka pintu mobil.
“Ada apa?” tanyaku, heran saat dia mengambil sesuatu dari laci dashboard.
Kunci rumahnya yang kemudian ia serahkan ke tanganku.
“Tunggu aku di sana,” katanya menatapku lekat-lekat. “Aku akan pulang cepat.”
Seperti ada ledakan kecil di kepalaku saat menatap wajahnya; lalu dadanya di mana aku pernah bersandar dengan nyaman saat aku menangis. Ada sedikit perasaan ingin kembali ke dalam dekapan itu tapi ini bukanlah saat yang tepat. Aku harus menyelesaikan kunjungan yang telah kujanjikan pada Papa; dan membawa hadiah untuk adik baruku.
“Oke,” balasku, lalu memasukan kunci itu ke dalam tasku lalu tersenyum padanya.
Kellan berdehem, menghindari tatapanku secara tiba-tiba. “Aku akan bantu kamu menurunkannya,” kata dia.
“Kado kamu terlalu besar,” komentarku melirik kado dengan bungkus silver yang tersandar di jok belakang. “Tapi, lihat, semuanya bagus-bagus ya?”
Kellan ikut menengok ke belakang lalu melirikku. “Kamu juga ingin diberi kado dengan bungkus warna warni dan pita bunga-bunga?” tanya dia.
Aku tertawa. “Kamu mau ngasih aku kado sebanyak ini juga?” balasku.
“Hm... mungkin,” jawabnya dengan cepat. “Ulang tahun kamu bulan depan ‘kan? Empat belas November.”
“Ih, kamu tahu dari mana?”
“Data karyawan,” jawab dia lugas dan tepat.
Terkadang aku lupa soal itu.
“Jangan bilang kamu bakal bikin kejutan,” kataku.
Kellan hanya menjawabku dengan senyum tipis. Lalu ia turun dan segera membuka pintu belakang untuk menurunkan semua kado Robyn.
“Yang ini sedikit berat,” katanya kecil mengingatkan.
Aku tahu. Tapi, aku pernah mengangkat yang lebih berat dari ini; sambil naik tangga darurat pula, hanya gara-gara boss sakit jiwa yang masih tinggal di apartemen jelek.
Setelah semua kado diturunkan, Kellan pun langsung pergi. Dengan penuh semangat aku membawa kotak besar itu dengan kedua tanganku sedangkan tas berisi kado lainnya menggantung di kedua lenganku. Saat ibu tiriku membuka pintunya, dia tampak kaget sekaligus senang. Dengan gembira ia memanggilkan Papa yang berada di ruang tengah. Ia datang bersama dua orang anak lelaki; anak tirinya yang berusia tidak lebih dari dua belas tahun itu. Semuanya terlihat senang dengan kedatanganku. Kalau saja aku tahu, aku juga akan membawakan hadiah untuk mereka juga.
Kami makan siang bersama dan bercerita banyak tentang cuaca yang tak menentu, musim penyakit dan hal yang jadi berita akhir-akhir ini di mana-mana. Sampai kemudian ia akhirnya bertanya tentang pacarku saat Papa kembali ke depan TV untuk menonton berita dan dua bocah tadi sudah pergi bermain keluar.
Pada akhirnya aku menceritakannya juga; secara singkat. Intinya aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang jauh lebih tua dariku, baik dan perhatian, sehingga mereka nggak perlu khawatir kalau aku bertemu laki-laki yang salah –itu sudah terjadi dan selesai dengan sendirinya. Waktu aku memperlihatkan fotonya, ibu tiriku histeris, karena menurutnya aura Kellan mirip dengan bintang utama sinetron stripping favoritnya di TV.
Jam empat sore aku memesan taksi dan meninggalkan rumah Papa dengan perut kenyang dan hati gembira. Mereka melambaikan tangan dan tampak berharap aku akan berkunjung lebih sering saat melepasku pergi. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa mengisi hatiku dengan kebahagiaan. Dalam perjalanan pulang, aku mengabari Kellan lewat telpon. Dan entah mengapa jantungku berdebar setelah menutup mematikan panggilannya setelah ia berkata, akan langsung pulang.
Apa yang akan berbeda dengan pertemuan kami nanti?
Komentar
0 comments