[Hal. 23] [Ch.8] NOTHING IN BETWEEN - Baca Novel Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
 Menyandarkan kepalanya ke belakang, Kellan tiba-tiba tertawa pelan. “Sebelumnya aku lebih sering bertemu dengan gadis yang hanya memanfaatkanku. Yang terakhir, kejadian dengan Harish,” katanya tiba-tiba. “Saat aku dan Harish berkelahi karena dia mengganggu pacarku, dia mengatakan hal-hal yang membuatku... cukup kena mental-breakdown sampai aku jadi anti-sosial setelah Gretta meninggal.” 

”Kenapa dia berani bilang sesuatu yang menyakiti kamu begitu? Bukannya kalian dekat?” 

“Harish... kadang bisa sangat kekanakan kalau kesal dan kemudian bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah itu dia bisa melupakannya begitu saja. Tapi kata-katanya yang itu... nggak bisa aku lupakan... mungkin karena saat itu dia sedang mabuk dan yang aku tahu, orang mabuk biasanya jujur.” 

Dia memang kekanakan. Karena itu dia selalu tertarik dengan perempuan yang lebih tua; seperti Laura. Semua titik-titik telah membentuk garis. Satu persatu teka-teki mulai terpecahkan. 

“Dia bilang apa?” 

“Selalu bertemu gadis yang salah adalah kutukanku,” jawab dia; menatap lurus ke depan tanpa rona.  

Seketika aku terhenyak. Kenapa Harish begitu percaya pada kata kutukan dan dia seolah memaksa Kellan untuk mempercayainya juga? 

“Aku punya segalanya. Aku nggak pernah kesulitan untuk mendapatkan yang aku mau. Beasiswa. Tawaran pekerjaan di perusahaan yang bagus. Bahkan Papanya Harish sempat memintaku untuk memimpin salah satu anak perusahaan yang aku tolak begitu saja karena sebenarnya posisi itu punya Harish,” sambungnya. “dan sebagai gantinya dia menyerahkannya ke Roland yang kamu tahu sendiri ujungnya seperti apa.” 

Bagiku itu agak mengejutkan. Kalau saja Kellan menerima tawaran itu, Roland nggak akan punya kesempatan untuk menghancurkan keluarga itu dari dalam. Dia baru masuk ke perusahaan setelah semuanya kacau dan itu pun karena Harish. 

“Harish kedengaran ngawur. Tapi, nyatanya memang nggak semua hal yang bisa aku miliki dengan sempurna,” sambung Kellan lagi. “Satu-satunya yang berbanding lurus dengan kebahagiaan adalah penderitaan....” 

Terkadang aku juga merasa seperti itu. Mereka bilang gadis cantik akan mendapatkan keberuntungan di sepanjang hidupnya, tapi dalam hidupku semuanya telah terpatahkan. Meski kemudian aku bersama Kellan yang memperlakukanku seperti seorang putri, namun... sebagian dari diriku telah hancur. 

“Setelah Gretta meninggal aku baru sadar kalau Harish benar. Saat aku kira aku sudah menemukan orang yang tepat, aku tetap kehilangannya. Mungkin itu akan terus terjadi. Jadi... kemudian... aku nggak pernah lagi memberi ruang untuk siapa pun dalam hidupku. Sebenarnya ini adalah kelemahanku, Sabine. Aku sangat takut memulai dengan seseorang yang baru... karena nggak ingin kehilangan lagi.” 

Akhirnya Harish dan Kellan mempunyai satu kesamaan. 

Kelemahan yang disebut cinta dan perasaan takut kehilangan. 

“Tapi, aku nggak pernah tahu bahwa aku akan bertemu dengan kamu saat aku pikir cinta terakhirku adalah pekerjaanku.” 

Ekspresinya yang yang tumpul juga menunjukan ketakutan bahwa mungkin aku akan memberikan pengalaman yang sama. Aku bisa menyelami perasaan kehilangannya yang membuatnya tampak begitu berhati-hati; mungkin saat pertama kali dia mulai memiliki perasaan terhadapku. 

“Saat itu yang aku tahu, Harish membenci kamu dan minta aku untuk menangguhkan pengunduran diri kamu selama dia menginginkannya. Awalnya, aku nggak peduli karena itu bukan urusanku dan tetap menjalankan tugas seperti yang Harish mau agar pekerjaanku cepat selesai dan aku bisa kembali ke Jerman. Bagiku alasan Harish sebenarnya cukup bisa diterima walaupun caranya sangat kekanakan. Hanya saja aku punya keyakinan, Roland pasti akan menyelamatkan kamu kalau kalian memang punya hubungan. Tapi, setelah berbulan-bulan pun, kamu masih tetap di sana. Dan sejak itu... aku mulai memikirkan kamu....” 

Mungkin aku mengecewakannya begitu semua rahasiaku dan Harish terbongkar.... 

“Melepaskan seseorang yang ingin pergi lebih baik daripada terus menahannya karena mencintai nggak selalu berhasil. Pikiran kita sudah dirancang secara alamiah untuk melakukan yang terbaik agar nggak terluka... tapi... Sabine, walaupun aku sendiri yang pernah bilang bahwa aku nggak keberatan kalau nanti kamu bahagia tanpaku, hidupku pasti nggak akan sama lagi karena kehadiran kamu sudah mengubahnya.” 

Aku tertunduk. Mungkin wajahku memerah karena malu. 

“Tapi... sebenarnya buatku bukan itu bagian terburuknya....” 

Lalu apa? Aku menatapnya lagi hanya untuk melihat ketakutan melintas di wajahnya dan merasakan bahwa apa yang akan dia katakan, mungkin akan membuatku merasa bersalah. 

“Setelah kamu pergi... mungkin aku akan tersiksa dengan kenyataan bahwa kehadiranku sama sekali nggak pernah mengubah hidup kamu,” jawab dia. “Karena jika aku bisa mengubahnya, kamu pasti nggak akan meninggalkanku.” 

Barangkali aku hanya akan menjadi ‘gadis yang salah lainnya’ yang akan memberinya kehilangan yang lebih menyakitkan.  Bukankah kami memulai ini di atas kenyataan bahwa hati dan jiwaku masih dimiliki oleh adiknya?  

Aku terdiam selagi Kellan memperbaiki posisi duduknya dan kemudian memasang seatbelt. Aku kira dia akan menyudahi pembicaraan yang agak menyedihkan ini dan segera mengantarku ke rumah ayahku. Kado-kado di belakang sana harus diantar sekarang dan aku tidak sabar menantikan bagaimana reaksi keluarga Papa saat aku menyerahkannya. 

“Aku... pikir... aku hanya butuh waktu...,” kataku dengan hati-hati; sedikit menahan nafas dengan khawatir sambil mengamati raut wajahnya yang kosong. “Karena... aku juga nggak mau membohongi kamu.” 

Aku juga tidak ingin mendustai perasaanku; di mana kadang aku berharap bahwa Kellan adalah Harish. Aku pernah berharap dialah yang melakukan hal-hal menyenangkan ini untukku. Akan tetapi... kenyataan bahwa dia adalah Kellan –bukan Harish, juga membuatku lega. Karena Harish adalah putra dari selingkuhan ibuku; dia seperti buah terlarang yang membuat Adam dan Eve berdosa.

“Tapi, aku menyukai kamu karena kamu berbeda,” ucapku dan tertunduk lagi. “Aku senang saat kita bersama.” 

Akhirnya dia memberiku senyum yang menyenangkan itu. “Bagiku itu sudah cukup,” dia berkata sambil membelai puncak kepalaku. “Aku juga nggak ingin memaksa kamu. Tapi, mulai sekarang... kamu harus terbiasa dengan caraku. Aku hanya ingin kamu merasa tenang dan nyaman. Nggak lebih.” 

“Terima kasih,” ucapku ikut tersenyum. “Semuanya berarti untukku....” 

“Sekarang jangan memikirkannya lagi. Nggak peduli seperti apa pun kita nanti, aku akan tetap melakukan apa yang harus aku lakukan sekarang,” dia berujar setelah membuat perasaanku campur aduk. “Aku akan memberi kamu waktu untuk semuanya.” 

Tapi, apakah mungkin kita bisa... mencintai dua orang sekaligus? 

Aku telah memilih Kellan yang kemudian menciumku dengan lembut sebelum kami melaju ke rumah ayahku dan sepanjang jalan menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya yang ingin menyentuhku lebih lama tapi... dia mampu mengendalikan dirinya. Sentuhan tangannya yang hangat membuatku penasaran; seperti apa dipeluk oleh tubuhnya tanpa semua yang ia kenakan sekarang? 

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments