๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Sabine, kamu benar-benar butuh bantuan.”
Kellan sepertinya belum bisa tenang sejak kami meninggalkan toko mainan. Saat aku begitu senang memandangi tumpukan tas di jok belakang sembari memakai seatbelt-ku, ia masih memandangku dengan tidak sabar. Aku ingin sekali mengatakan hal menyenangkan agar dia berhenti khawatir soal kejiwaanku.
“Aku baik-baik saja,” ujarku, menatapnya sungguh-sungguh lalu tersenyum. “Berkat kamu.”
Seakan jawabanku tidak bisa dipercaya, ia menatapku sangsi.
“Bin, aku nggak mau kamu berpura-pura. Jika ada sesuatu yang rasanya benar-benar berat untuk kamu ceritakan padaku karena kamu nggak ingin melukai perasaanku, kamu harus bicara dengan orang yang tepat untuk mengungkapkan semua kekhawatiran kamu,” dia berkata. “Aku benci bicara begini. Tapi, Harish adikku. Aku tahu persis apa yang bisa dia lakukan yang bisa menghancurkan mental seseorang. Dia juga pernah melakukan hal yang sama padaku dan kalau bukan karena itu, aku nggak akan menjauhinya mati-matian walaupun di satu sisi aku tahu kadang dia cuma iseng dan dia benar-benar menyesalinya kemudian.”
Aku tertegun. Setiap Kellan membicarakan Harish, tak pernah ada hal yang terdengar baik tentangnya. Memang. Aku juga tidak pernah mendengar hal yang baik sejak mengenal dirinya. Bahkan di pertemuan pertama kami, dia sedang mencampakan seorang gadis dengan begitu kejamnya.
Akan tetapi... sudah kukatakan, apa yang tidak bisa membunuhku, menjadikanku lebih kuat. Aku memang pernah hampir melompat dari jembatan penyebrangan karena begitu frustasi membayangkan hari-hari yang begitu sulit; kehilangan, perasaan terbuang dan ketidakadilan. Namun... saat aku pikir aku akan mati karena mengalami pendarahan waktu itu, satu hal terlintas di pikiranku ketika aku terjaga –pasti ada alasan tentang mengapa hanya aku yang selamat dari kecelakaan naas itu; seperti yang dikatakan Jessica dan Roland.
Terlebih setelahnya aku berhasil mengobati diriku sendiri, aku bertahan sekuat tenaga selama hampir tiga bulan ini. Padahal kematian pernah hanya tinggal sejengkal dariku dalam rasa sakit yang sangat yang mencabik diriku dan akan membunuhku secara perlahan. Hatiku hancur. Tubuhku merana. Tapi, sampai detik ini... aku masih hidup seakan aku telah melewati neraka.
Lalu aku bertemu dengan Kellan. Dia membantuku berdiri kembali dan memberiku tempat berteduh dari hujan badai. Setidaknya aku membaik, meski pun kenyataan tentang masa lalu ibuku masih mengganggu. Dan itu berkat dirinya; semua perhatiannya, juga ketulusan yang rasanya belum pernah aku temukan pada siapa pun.
“Kalau aku sendirian, mungkin aku memang harus pergi ke psikolog atau bahkan psikiater karena aku nggak punya siapa-siapa,” ujarku. “Tapi, kamu ada di sini. Apa lagi yang aku butuhkan?”
Kellan masih menatapku ragu.
“Bukankah dukungan orang-orang terdekat juga penting?” tanyaku masih berusaha meyakinkannya. “Kamu satu-satunya orang terdekatku saat ini jadi aku nggak butuh dokter. Bukannya kamu yang bilang ini proses menjadi dewasa?”
Meski belum memastikan seperti apa perasaanku yang sebenarnya. Yang jelas setiap bersamanya... aku bisa tertawa sepanjang hari dan terus tersenyum bahkan setelah aku pulang ke rumah. Tertawa bagiku bukan lagi sesuatu yang langka saat ini. Juga bukan tawa yang menyimpan kesedihan.
Namun tatapan Kellan masih bergeming di balik kaca mata bingkai tebalnya. Dia tetap belum bisa tenang.
“Sebelum bertemu kamu dan Tante Esther, aku bertemu orang-orang seperti Jessica, Roland, dan Harish. Belum lagi Vivian dan Pak Rudy dengan rahasia kelam soal Mama-ku. Kamu lihat sendiri gimana mereka semua menghancurkanku ‘kan? Aku memang pernah berpikir untuk mati, tapi... sekarang sudah nggak lagi karena aku sadar itu... bukan cara untuk menyelesaikan masalah,” kataku kembali berusaha meyakinkannya. “Kamu yang menyelamatkan aku dan kamu saja sudah cukup. Apa lagi? Jessica pernah bilang ke aku, kalau aku mati, orang yang masih peduli padaku pasti akan sedih.”
Aku rasa kematian adalah hal yang membuat Kellan benar-benar takut. Yah, dia sudah kehilangan istrinya. Aku bisa mengerti bahwa ia tidak ingin hal yang sama kembali terjadi kepadanya.
“Baik...,” ia bergumam setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan sedikit senyum lega. “Tapi, aku masih belum mengerti dengan sikap mencurigakan itu.”
“Mencurigakan?”
“Aku senang kamu mengucapkan selamat tinggal untuk masa lalu tapi kamu juga menunjukan kalau kamu... akan meninggalkan semuanya termasuk aku....”
Baru kali ini dia terdengar merajuk.
Kesedihan menutupi keistimewaan di wajahnya yang hampir selalu tenang dan teduh. Aku mengerti bahwa perasaan ingin memiliki diriku mulai tumbuh karena kami sudah semakin dekat. Caranya menatapku dan memperlakukanku selalu menunjukan bahwa dia tidak ingin kehilangan diriku.
“Pekerjaanku adalah memperhitungkan segala hal. Aku menguasai manajemen resiko, prediksi tren, dan hal-hal semacamnya untuk mencegah kerugian. Semuanya ada di kepalaku. Aku selalu mempertimbangkan dengan matang setiap hal yang ingin aku lakukan atau ucapkan. Aku nggak akan melakukan hal-hal yang nggak perlu karena kadang itu menyebabkan masalah lain. Dan kalaupun ada hal-hal yang di luar kendaliku, aku selalu bisa mengatasinya dengan mudah. Aku terlahir dengan pikiran cemerlang dan menerima banyak pujian sepanjang hidupku, tapi begitu menyangkut soal perasaan, keahlianku sama sekali nggak berguna. Menghadapi kehilangan... adalah sesuatu yang berbeda. Nggak ada ilmu dan rumus pasti... agar kita bisa mencegahnya...,” katanya lagi dan itu membuat hatiku luruh seketika, “sekalipun kita sudah tahu itu akan terjadi.”
Sebuah kata ‘kehilangan’ yang tampak seperti sumber dari sebentuk kesedihan di wajahnya saat ini memukulku dengan cukup keras. Kehilangan terdengar seperti sinonim dari kata ‘trauma’ dari bibirnya.
“Apa lagi kalau kita... kehilangan seseorang yang dicintai...,” sambung dia; wajahnya telah berubah murung dan redup seperti bola lampu yang perlahan kehilangan pijarnya. “Itu yang aku pelajari dari kematian Gretta. Aku tahu... dia akan meninggalkanku dan aku pikir aku bisa mengatasi kesedihan setelah kepergiannya dengan mengisi saat-saat terakhirnya dengan hal-hal yang indah. Agar nggak ada penyesalan. Tapi... saat aku harus melepaskannya... kamu tahu... ternyata bukan penyesalan yang menyiksaku, tapi... setengah dari diriku seperti ikut mati bersamanya... Itu benar-benar di luar prediksi yang aku buat saat memutuskan untuk menikah walaupun Gretta berusaha untuk mengusirku karena dia sekarat....”
Ya, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan.
“Rasa sakit karena kehilangan... perasaan itu... adalah perasaan yang paling nggak aku inginkan untuk terjadi lagi...,” jelasnya.
Aku tidak tahu harus bicara apa. Kellan seperti sedang menyerahkan seluruh hatinya untukku dan tampak berharap aku tidak akan menyia-nyiakannya sekali pun dia juga bisa merelakanku jika ini tidak berhasil. Namun... bukankah ini tidak akan adil baginya?
Komentar
0 comments