๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Epilog
“Halo?”, suara itu mungkin tidak mengenaliku tapi aku menahan semua harga diriku untuk bisa bicara dengannya.
“Wira?”, panggilku dan menyadarkannya bahwa aku lagi-lagi datang untuk mengganggunya.
“Ada apa?”, sahutnya kemudian dengan suara yang datar dan tenang. Walau dia tahu aku sedang menangis karena suaraku gemetar dan pastinya dia sudah akrab sekali dengan suara seperti itu. “Kamu ada masalah?”
“Aku nggak tahu lagi mau ngomong sama siapa”, jelasku.
“Terus?”, sahutnya amat datar.
“Aku minta maaf karena selama ini aku selalu berpikiran jelek sejak kepergian kamu”, jelasku lagi, “Sekarang aku mengerti alasan kamu pergi...”
“Oh ya?’, reaksinya masih terdengar datar olehku.
“Karena kamu...nggak ingin mengalami kesulitan di saat kamu sudah punya banyak masalah dengan kehidupan kamu kan?”, aku menjelaskan lagi, “Karena...orang seperti aku sangat rumit dan kamu pun nggak akan kuat menghadapi aku kan?”
Mencintai orang dengan masa lalu yang kelam tidak semudah mengucapkannya dan bahkan berjanji. Saat ini, aku jadi memahami posisi Wira saat dia memutuskan untuk meninggalkan aku, karena aku juga ada di posisi itu sekarang. Membayangkan masalah yang ditimbulkan oleh Daniel dalam hidupku yang seumur-umur tidak pernah bertengkar dengan orang lain untuk memperebutkan seseorang yang tidak bisa dibilang ‘baik’. Aku pasti sudah gila saat menantang Utari untuk merelakan Daniel.
“Kamu bicara apa?”, tukasnya, seolah tidak setuju.
Aku terdiam.
“Itulah yang membuat kita nggak pernah cocok, tiap sebentar bertengkar”, tukasnya lagi, “Karena kamu nggak pernah belajar membaca situasi”
Aku tertunduk. Apa dia akan menceramahi aku lagi seperti saat itu dan kemudian aku menjawab semua kata-katanya sampai Wira kesal?
“Aku nggak pernah mempermainkan cewek”, katanya, “Aku selalu pacaran serius. Nggak pernah kepikiran main-main sama cewek”
“Kenapa kamu ninggalin aku kalau kamu nggak main-main sejak kita punya masalah berat?”
“Ya ampun, Bita. Harus gimana lagi bicara sama kamu? Kamu memang nggak pernah melihat apapun selain diri kamu sendiri dan bahkan kamu menyalahartikan semuanya lalu beranggapan bahwa kamu selalu disakiti”, jelasnya, “Aku laki-laki yang akan melindungi perempuan. Mana mungkin aku mempermasalahkan masa lalu kamu, tapi kamu nggak pernah bisa mengerti. Makanya aku pergi dengan cara seperti itu”
“Jadi semua janji kamu serius?”
“Aku nggak pernah bohong soal itu. Karena aku pikir setiap orang punya saat terburuk dalam hidupnya. Kamu hidup sendirian dan butuh perhatian yang lebih tapi aku nggak sanggup memberikannya. Kamu tahu sendiri bagaimana keluargaku. Adikku masih kecil dan mereka nggak punya ibu”, sambungnya, “Tapi, diungkit juga nggak ada gunanya lagi sekarang. Kita hidup masing-masing”
“Memangnya waktu kamu pernah memutuskan untuk bertanggungjawab sama aku, apa sih yang kamu pikirkan kalau itu memang benar-benar serius...?”
“Aku pun punya keburukan dan aku juga berharap akan dicintai seutuhnya. Aku pikir aku akan mendapatkannya dari kamu, tapi...” jawabnya, “Aku pikir kamu akan menerimanya, tapi sikap kamu sangat jelas menunjukan bahwa kamu ingin aku seperti yang kamu mau. Aku nggak bisa dan akan lebih baik buat kamu mencari orang yang bisa menjadi seperti yang kamu mau, Bita...”
Aku menangis lagi.
“Kita impas sekarang...” kata Wira lagi, “Seperti apa dulu aku mencampakan kamu, seperti itu juga aku dicampakan orang yang aku cintai, Bita. Aku terima tamparan kamu waktu itu karena semua yang pernah kita lakukan dulu dan aku memang cowok yang jahat buat kamu. Karena pastinya...butuh waktu lama untuk bisa melupakannya...”
Aku segera menutup telpon dan berbaring di atas tempat tidur. Menangis lebih keras agar aku puas dan setelah itu aku akan mencarinya lagi. Aku akan mencarinya dan kalau perlu aku akan menjambak Utari agar menjauhinya.
---
Aku memberanikan diri untuk menghubunginya walaupun aku sama sekali tidak tahu apa yang akan kukatakan untuk mengajaknya bertemu. Tapi, aku sudah berpikir berulang kali bahwa aku tidak akan mengubah keputusanku.
Namun, semua tidak sesuai rencana dan ternyata tidak mudah memulai kembali.
Aku menekan bel pintu kamar bernomor 305 di sebuah hotel yang cukup berkelas dan sangat privat bagi tamu-tamunya. Di tempat seperti ini apapun bisa terjadi. Aku meyakinkan diriku dan menarik nafas berulang kali untuk menenangkan jantungku yang berdebar keras sejak saat mendengar Utari yang mengangkat telpon. Apapun yang akan kulihat di dalam, aku akan berusaha untuk tenang, walau hal terburuk sekali pun.
“Kamu berani juga datang ke sini...”, Utari tampak nggak menyangka, aku menyanggupi tantangannya dan dia tidak mengizinkan aku masuk. Sepertinya kedatanganku di luar dugaannya.
Aku mendorong pintu dengan keras sebelum dia sempat berhasil menutupnya. Aku tidak akan membiarkan dia menawan Daniel lebih lama karena aku sama sekali tidak ingin Utari ‘memakan’-nya.
Utari menjambak rambutku lebih dulu saat aku merongrong masuk dan menghentikan langkahku. Tapi, aku membalasnya dengan mendorongnya kuat-kuat, memaksanya keluar agar tidak lagi menyentuhku. Aku mengunci pintu dari dalam dan dia mulai menggedor-gedor karena tidak terima.
“Kamu ngapain, Daniel?” tegurku shock melihatnya duduk di lantai sambil merokok.
Dia menoleh padaku dan tampak sebuah ekspresi datar yang tidak mempedulikan kegaduhan yang baru saja terjadi. Sedang ‘terbang’ entah ke mana meninggalkan tubuhnya yang terduduk di sudut antara tempat tidur dan meja lampu.
Aku menghampirinya, menyingkirkan racun-racun itu dari hadapannya. Aku baru tahu bahwa Utari juga seorang pecandu dan sulit bagiku untuk mempercayai bahwa Daniel yang mengajarinya.
Sekarang Utari kembali menjerumuskannya.
“Ngapain kamu ke sini?”, cetus Daniel acuh tak acuh. “Nggak seharusnya kamu datang ke sini...”
“Aku datang ke sini untuk kamu...”, suaraku mulai bergetar menahan tangis.
“Buat apa?’, cetusnya menatapku dengan mata sayu dan tubuh gemetaran, “Kamu lebih baik hidup tanpa aku”
Aku menggeleng dan kemudian menarik tangannya agar dia segera pergi dari sana. Aku sungguh tidak tahan melihatnya seperti itu. “Kita pergi sekarang!”
Tapi, Daniel malah menepiskan tangannya sehigga genggamanku terlepas dan aku tidak bisa mempercayai sikapnya.
“Kamu pergi aja sendiri”, katanya kembali duduk dan sepertinya aku tidak bisa lagi menariknya pergi, “Aku masih mau di sini...”
“Aku nggak mau...”, kataku sambil kembali mendekat, walau dia bisa saja mengasariku. “Aku akan tetap di sini bersama kamu, apapun yang mau kamu lakukan...”
“Kenapa?”, dia bertanya seperti orang yang ketakutan dan tidak berdaya di sudut tempat tidur.
“Aku sayang kamu...”, ucapku menyeka keringat yang mengucur deras di dahinya karena tubuhnya mencoba melawan pengaruh dari obat yang dihirupnya.
“Apa buktinya kamu sayang aku?”, ia bertanya dengan gelisah.
“Apapun aku lakukan buat kamu...”, ujarku dengan suara pelan agar Daniel kembali tenang. Lepas dari pengaruh itu.
Setetika dia menyergapku. Memeluk tubuhku sampai aku tidak bisa bernafas apalagi bergerak. Tapi, aku tidak melawan walau rasanya aku akan mati karena tidak kuat, hatiku yakin dia tidak akan melukaiku walaupun yang ada di depanku saat ini, bukan Daniel yang kusukai melainkan sisi gelap yang berusaha ia sembunyikan dariku, agar aku tidak terluka.
“Da...niel...”, aku memanggilnya di saat aku tidak bisa menghirup udara sama sekali dan ia pun langsung melepasku.
Aku terbaring sambil mengatur nafas dan Daniel berada di depanku, menatapku dengan mata merah yang seakan marah. Aku sempat berpikir, aku akan ‘habis’ di tangannya. Tapi, tidak kusangka setetes air mata-nya jatuh di pipiku.
“Daniel?”, aku menegurnya karena dia menangis. Aku mengusap pipinya dengan lembut.
“Aku ini jahat...”, katanya padaku, menundukan wajah yang menangis dan kelihatan tidak berdaya.
“Aku tahu...”, aku berusaha untuk tidak menangis. “Tapi, kamu mencintai aku...”
“Tapi, itu nggak pernah cukup untuk bisa bahagia...” katanya lagi.
“Bahagia itu hanya ada dalam dongeng...”, ujarku, “Cinta kita nyata, bukan dongeng...”
“Aku takut, Bita...”, keluhnya masih menangis, “Aku takut nggak bisa melindungi kamu...”
“Tapi, kamu mencintai aku...”, ulangku.
“Aku yang seperti ini?”, tanyanya memperlihatkan wajah sedih.
Aku mengangguk, “Aku tahu kamu...” jawabku, meraih tubuhnya dengan kedua tanganku dan merasakan detak jantungnya berdetak keras, “Jangan pergi lagi...”
Daniel menarik nafas dan terdengar sudah bisa mendapatkan kendali atas dirinya. “Aku nggak mau drugslagi...”, ucapnya, “Aku janji...kalau aku melanggar janji, kamu boleh pukul aku sampai mati...”
Aku tertawa, “Kalau aku pukul sampai mati, aku hidup sama siapa?”, balasku.
Aku ingin memberi Utari sedikit pelajaran berharga karena menjambak rambutku. Selain sudah membuatnya menunggu di luar sangat lama, aku keluar dengan perasaan puas, aku juga mengembalikan foto-foto pribadi miliknya yang sengaja kubawa.
“Aku nggak suka punya koleksi foto seperti itu!”, celetukku setelah melemparkannya pada Utari seperti saat dia membuatku shock kemarin, “Kalau kamu juga punya video-nya juga boleh, aku mau tahu kamu lebih hebat dari pada aku atau nggak”
“Bita, sudah...”, kata Daniel yang hendak membawaku pergi sebelum aku ribut lagi dengan cewek itu dan mempermalukan diriku sendiri. “Kita pulang sekarang...”
Utari geram lagi seperti hendak menyerangku lagi tapi Daniel menghentikannya sebelum sempat mendekat.
“Saranku buat kamu, mendingan kamu ke rehabilitasi aja”, kataku sebelum pergi, “Karena otak kamu perlu diperbaiki!”
---
“Aduh!”, keluh Daniel kesakitan dengan berteriak, “Kenapa tiba-tiba nampar sih?!”
“Kamu sudah sadar kan?”, tanyaku ketus.
“Kamu kenapa?”, gerutunya tidak terima tamparanku yang mendadak mengacaukan kesenangannya, “Kemarin baiknya seperti bidadari, sekarang marah-marah!”
“Siapa yang suruh kamu datang ke sana ketemu dia lagi! Kepikiran nggak sih gimana rasanya mendengar suara cewek itu angkat handphone kamu?!”, cercaku, “Aku nggak bisa terima!”
“Lho? Bukannya...”
“Apa?!”, tukasku yang masih menyimpan emosi tertahan sejak meninggalkan rumah dalam keadaan panik, gara-gara dia yang malah enak-enakan ‘nge-drugs’ di hotel dengan seorang cewek yang pernah jadi mantan pacarnya. Akhirnya aku menangis lagi setelah tidak bisa menyembunyikan rasa shockyang bagaikan serangan jantung. Beruntung, aku tidak langsung pingsan melihatnya menikmati kesenangan dari hal yang paling aku benci di dunia ini. ”Kamu mau aku bilang sama Mami kamu ketemu Utari dan ‘nge-drugs’ bareng?”
“Jangan gitu, sayang...”, ujarnya setengah memohon, “Kalau Mami tahu dia bisa sedih...”
“Kamu tahu itu, tapi kenapa masih aja coba-coba?! Kamu nggak ingat sembuh dari drugs itu susah?!”, semburku memukulnya sekali lagi sampai puas. Sampai sakit hatiku hilang karena dia masih berani menemui Utari di saat aku sedang menderita karena dirinya.
“Aku pikir kamu nggak mau lihat aku lagi! Aku pikir kamu nggak mau terima aku lagi!”, teriaknya membela diri supaya aku berhenti memukulnya, “Ke mana lagi aku bisa pergi setelah kamu nggak mengingingkan aku?!”
Aku memukulnya makin keras dan bahkan menendang kakinya, “Coba kamu bilang sekali lagi!”, teriakku, “Cowok nggak guna!”
“Bita, sudah!”, katanya supaya aku berhenti memukul, “Kalau kamu begitu terus, tangan kamu sendiri yang sakit!”
“Biar!”, jeritku sekeras-kerasnya, “Biar aku mati sekalian karena kelakuan kamu!”
Akhirnya aku berhenti karena lelah dan tanganku benar-benar sakit karena punggungnya keras. Nafasku sesak dan jantungku berdetak sangat cepat. Kemarin dan hari ini aku telah melakukan sebuah kebodohan yang membuatku jadi tidak memiliki harga diri lagi. Bertengkar memperebutkan seorang cowok bodoh yang bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Seorang cowok jahat yang hanya bermodalkan tampang keren untuk menggoda gadis di sekitarnya.
Aku membenturkan kepalaku ke dashboardmobil. Tenagaku sudah habis. Aku butuh ketenangan. Kesabaran yang lebih untuk bisa menghadapinya karena aku akan menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Aku berharap agar bisa melupakan kejadian ini secepatnya.
“Aku janji akan berhenti total...”, ujarnya, “Aku nggak benar-benar mau seperti itu tapi dia mengancam aku akan mengirim foto-foto itu ke kamu dan Mami...”
“Kalau itu terjadi harusnya kamu terima!”, tandasku, “Karena itu akibat perbuatan kamu sendiri! Wajar dia nggak terima!”
“Tapi, aku sudah dipenjara! Hidup aku juga hancur dan aku nyaris kehilangan kamu selamanya!” balas Daniel, “Apa aku salah ingin hidup bahagia sama orang yang paling aku sayang?”
“Pokoknya aku nggak mau tahu! Apapun yang terjadi kamu harus terima!”, cetusku, mengakhiri perdebatan yang makin sengit.
“Aku bisa terima kemarahan Mami tapi...kamu jangan tinggalin aku lagi seperti kemarin...”, pintanya terdengar memohon.
“Asal kamu nggak ganggu aku sementara ini!”, tukasku dan akhirnya turun dari mobil. Meninggalkannya seperti kemarin karena nggak ingin bertengkar.
Hari ini adalah hari yang sangat berat. Sampai rasanya ingin tidur dan melupakan kejadian itu. kejadian memalukan yang tidak pantas untuk diingat.
---
“Kamu kenapa duduk di depan rumah sambil nangis?”, seseorang menegurku di saat aku masih mengeluhkan kejadian kemarin.
Merenung di depan pintu memandangi anak-anak bermain di lapangan kecil yang kebetulan ada di depan rumahku. Anak-anak komplek yang selalu berkumpul sore hari membeli jajanan dari gerobak-gerobak yang berjejer di pinggir lapangan. Mulai dari bakso, batagor, somay, mie ayam dan jagung bakar yang menawarkan wangi menggoda.
Rupanya Alya yang datang di saat yang paling tepat untuk menikmati secangkir teh dan jagung bakar depan rumah sore hari.
Aku tidak pernah berada di lingkungan sedamai ini sebelumnya.
“Aku dengar dari Ben katanya Daniel ketemu sama Utari lagi ya?”, tanyanya sambil ikut duduk di teras bersamaku.
“Ya, kemarin sempat berantem sama Utari juga...”, jawabku.
“Terus siapa yang kalah?”, tanyanya penasaran.
“Apaan sih?” cetusku, “Kamu kira sabung ayam?”
“Yaah...Utari kan kasar, aku bisa bayangkan wajahnya selalu kelihatan mau menjambak rambut cewek yang mendekati Daniel”, jelasnya.
“Kepalaku sakit karena dia tarik rambut aku kuat-kuat...”
“Terus terus?”
Mana mungkin aku cerita soal foto-foto itu? Memalukan...
“Aku balas dia dengan cara yang nggak kalah menyakitkan kok”, jawabku.
“Apa?”
“Aku bawa Daniel kabur...”
“Kok kedengarannya nggak lucu, Bit?”
“Nggak harus lucu, Al...”, tandasku. Lalu teringat pada kejadian tempo hari yang membuat kami sempat jadi musuh kembali, “Kamu sudah baikan sama Ben?”
“Kayaknya nggak akan...”, jawabnya, “Mana mungkin sih aku pacaran sama cowok yang masih suka sama teman aku sendiri?”
“Kamu tahu nggak sih kalau sebenarnya Ben itu nggak benar-benar suka aku?”
Alya diam.
“Dia mengejar-ngejar aku karena aku nggak pernah tertarik”, jelasku berujar, “Aku nggak jamin dia nggak akan meninggalkan aku dalam waktu yang nggak kurang dari seminggu jika aku masuk perangkapnya”
“Maksud kamu apa sih?”, tandasnya.
“Dengan kamu dia bertahan selama ini, itu maksudnya...”
Alya lagi-lagi terdiam. Lalu tersenyum mengalihkan perhatiannya ke dalam rumah. “Kamu nggak takut tinggal sendiri di rumah sebesar ini?”, tanya Alya.
“Daniel dan Mami-nya sering datang”, jawabku, “Hampir tiap hari...”
“Kamu sudah tentukan harinya?”, tanya Alya lagi.
“Aku nggak tahu karena semua Mami yang atur, soalnya aku kan yatim piatu...”, jawabku, “Termasuk soal tinggal rumah ini”
“Yaah...jaman sekarang pernikahan hanya sebuah legalitas, Bit...”, katanya berpendapat, “Tapi, itu ikatan yang sangat suci yang melindungi kita dari dosa tapi pernikahan nggak menjanjikan kebahagiaan yang abadi...”
Kebahagian yang abadi hanya sesaat yang berupa ilusi, ketika kita kembali kepada kenyataan yang sebenarnya. Hal-hal manis yang pernah dilakukan menjadi sangat menyakitkan namun juga menguatkan. Aku harus mengingatnya supaya usahaku tidak berbuah kegagalan lagi.
Padahal begitu kembali dari Jakarta, aku begitu bahagianya karena dia datang menjemputku dan berjanji tidak akan meninggalkanku. Aku langsung percaya karena aku sudah menunggu lama untuk bisa bersama dengannya karena nasib yang tidak berpihak padaku. Aku masih ingat hal-hal menyenangkan yang aku lakukan bersamanya. Seperti mimpi, pergi ke mana pun berdua. Mengabadikan hari-hari itu menjadi lembaran-lembaran foto yang kutangisi sekarang.
Aku merindukan saat-saat itu seperti aku merindukan dirinya yang selalu tahu cara menyenangkanku. Dan aku juga berharap dia merindukan saat aku memeluknya untuk menghalangi keinginannya untuk mencoba obat terlarang sekali lagi, di saat ia merasa tidak tenang. Aku tidak akan membiarkannya menyentuh barang itu lagi dan aku selalu takut saat membayangkannya kembali terjerat hanya karena tidak bisa menguasai dirinya.
“Aku berharap kamu nggak akan menyesal mencintai aku walaupun aku tahu kamu akan banyak menangis karena aku yang seperti ini...”, katanya tertunduk tidak berdaya dan gemetar.
Aku ikut menangis saat mendekapnya dan berusaha meredakan kegelisahannya. Sambil mengingat masa-masa bahagia yang sudah dilewati bersama. Pergi jalan-jalan dan makan di pinggir jalan. Mengunjungi tempat-tempat wisata yang terkenal, mengambil foto. Berbelanja dan mengukir banyak kenangan di setiap sudut kota. Dan kembali ke pasar malam di mana kami bertemu lagi setelah sekian tahun. Agar aku banyak mengingat bahwa bersamanya-lah aku mendapatkan apa yang selalu kuinginkan sebagai seorang gadis. Luka ini hanya segelintir duka yang bagaikan batu kerikil dan aku tidak ingin tersandung dan jatuh karenanya.
Perjalanan jauh yang sudah ditempuh selama sepuluh tahun terpisah, membuktikan bahwa ini adalah cinta yang sejati. Meskipun akan ada banyak pertengkaran dan nyaris membuatku gila, aku sudah berjanji tidak akan menyesal.
Daniel menghampiri aku yang tertidur bersama gambar-gambar kenangan yang paling manis milik kami, di lantai ruang tengah. Di rumah yang akan kami tempati setelah hari penting itu. Dia mendekat dengan langkah pelan berharap aku tidak menyadari kehadirannya. Tapi suara itu terdengar jelas di telingaku sehingga aku segera bangkit. Dia kembali memandangku dengan perasaan bersalah.
Aku terdiam menunggunya sampai ke sisiku.
Daniel menghapus air mataku yang selalu dia lakukan di saat aku menangis. Itu saja sudah lebih dari cukup bagiku untuk bertahan di sisinya walau pun aku akan sering terluka.
Komentar
0 comments