[Ch. 25] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Setengah ‘Hero’

Mami selalu membuatnya seperti anak kecil. Mungkin karena jarang bisa bersama. Tapi, melalui foto-foto yang dipajang di rumah itu aku jadi tahu mereka sebenarnya sangat dekat namun keadaan membuat jarak di antara mereka. Aku dengar sampai bisa sembuh, Mami-nya sama sekali tidak pernah meninggalkannya. Memberinya dukungan walaupun hampir putus asa.

Seolah terlahir kembali, Daniel menjadi seperti dulu tapi aku tidak tahan dengan sifat yang kadang kekanakan. Membuatku gerah, tapi ada saatnya dia begitu tenang dan kelihatan lebih dewasa. Dia menghadapiku dengan baik. Meski dia juga sering tidak sesuai harapanku setelah mulai bekerja dan aku lebih sering menunggu sehingga aku kembali lagi pada teman-temanku.

Ternyata indahnya pacaran hanya bisa dinikmati sebulan di awal dan setelah itu rasanya benar-benar tersiksa. Setelah dia memberiku sebuah hadiah dan aku menjadi gadis paling bahagia sedunia.

Begitu aku terbangun dari tidurku, aku menyadari bahwa aku terbangun di sebuah tempat yang lain dari biasanya. Dalam pelukannya yang meyakinkan aku pertemuan dengannya di suatu sore di pinggiran jalan raya di Jakarta bukanlah sebuah mimpi. Aku telah memutuskan untuk menerimanya apapun keadaan dan masa lalu-nya yang kelam. Karena aku sudah jatuh cinta padaya jauh sebelum semua tragedi terjadi dalam hidupnya.

Aku tidak pernah ditanyai oleh seorang lelaki yang memohon agar aku memaafkannya dan mencintainya dengan semua kekurangan yang dia miliki. Seperti dalam lirik lagu yang ditulis untuk mewakilkan perasaan seseorang yang mencintai. Aku seperti seorang perempuan yang bahagia sekaligus menangis terharu dan tertawa bersamaan di film-film barat yang romantis. Menerima sebuah hadiah yang begitu dia inginkan selama bertahun-tahun dalam hidupnya.

“Aku nggak pernah memberikannya pada siapapun karena ini milik kamu”, jelasnya sewaktu memperlihatkan kalung yang pernah kami beli bersama dan seharusnya menjadi hadiah untuk Utari. Tapi, Daniel tidak pernah memberikannya sehingga gadis itu marah dan mencercaku.

Ternyata benar dugaan Utari, bahwa Daniel sama sekali tidak berniat memberikan padanya. Karena itu sebagai gantinya ia membeli sebuah cincin agar Utari tidak mengungkit soal kalung itu. Sudah jelas bagi Daniel bahwa akulah yang sebenarnya menginginkan kalung itu melingkar di leherku dan menyadari tatapan yang penuh harap pada kalung itu saat penjaga toko mengemasnya dalam sebuah kotak kecil yang indah.

Aku menemukannya masih sama seperti saat kami membelinya tiga tahun yang lalu. Daniel sengaja menyimpannya untukku dan pasti juga berpikir untuk memberikannya. Agar aku terikat selamanya dengan dirinya. Tapi, dinginnya dinding penjara membuat jarak yang tidak bisa disebrangi saat Mami-nya datang mejemput dan meyerahkannya ke panti rehabilitasi.

Daniel memakaikannya untukku dan membuatku menangis saat menerimanya. Tidak pernah ada tempat senyaman pelukannya saat itu, membawaku ke sebuah tempat yang selalu kuimpikan bersamanya dan aku tidak akan pernah menyesal memilihnya.

---

Aku tidak tahu dia ada di mana. Aku sudah lupa bahwa sifat Daniel yang stereotype, lirik sana, lirik sini. Aku tahu dari dulu penyakitnya. Lebih parah dari Ben yang jelas-jelas memacari cewek yang dia suka. Tapi, Daniel? Dia keranjingan mengganggu cewek yang menurutnya cantik. Tidak  salah dulu aku bilang dia jahat, sangat-sangat jahat!

Cinta itu memang harusnya buta. Supaya tidak melirik kiri kanan. Bahkan itu terjadi di depanku. Saat dia melihat seorang cewek berkulit putih dan berambut panjang lewat. Tanpa dia sadari, matanya terus memperhatikan ke mana cewek itu pergi sampai benar-benar menghilang dari pandangannya.

Aku hanya diam saja. Seharusnya aku menendang kakinya supaya dia sadar ada aku di depannya. Tapi, itu akan membuatku kelihatan bodoh. Jadi, aku sama sekali tidak menyinggungnya saat dia kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus gara-gara ulahnya itu. Berpura-pura merasa tidak terganggu. Tapi, lama-lama capek juga.

Yang terbaru, dia meminta Mami-nya mencarikan seorang asisten yang harus seorang cewek. Karena dia nyaris tidak mengerti apapun soal menjalankan usaha furnitur milik Mami-nya. Dengan alasan, cewek lebih teliti dan cermat. Dia juga meminta persyaratan tambahan yang tidak kalah menghebohkan, harus cantik dan berpenampilan menarik. Dengan alasan, supaya tidak malu saat bertemu rekan bisnis.

Terakhir, aku bilang padanya “Kenapa nggak pacaran aja sekalian!” di telpon da sejak itu aku sama sekali tidak mau bicara dengannya lagi.

Apa sekali lagi aku salah memilih orang? Apa aku sedang menangisi ketololanku lagi?

“Semua orang melewatinya juga kok” ujar Ben yang tumben memberi nasehat padaku. Seolah sangat berpengalaman “Tapi, dari sekian banyak masalah, pasti ada satu yang malah meyakinkan kita untuk bertahan”

“Contohnya?” tanya Alya, tertarik sekali dengan pendapat pacarnya. Tapi, dia sepertinya malah menantang karena sebenarnya mereka sering bertengkar karena karakter yang kontras.

Aku juga, tidak bisa mengingkari bahwa itu terkadang benar.

“Kalau lagi banyak masalah, coba deh ingat-ingat saat masih senang” jawabnya.

Kalau diingat banyak sekali hal-hal menyenangkan yang kami lakukan, sejak SMA hingga sekarang. Di sekolah dan di pasar malam itu. Aku tidak pernah bisa melupakan saat-saat bersamanya yang menurutku selalu menyenangkan. Mungkin karena dulu kami belum menjalin hubungan yang jelas jadi tidak ada istilah posesif atau mencemburui satu sama lain. Semua berjalan apa adanya.

Tapi, mengapa di saat hubungan itu sudah jelas, semuanya jadi kacau?. Padahal aku tahu betul sulit bagi Daniel untuk berubah. Tapi, aku sudah berjanji akan menerima keadaannya walau bagaimana pun. Karena dia berjuang keras untuk sembuh demi aku. Dia menyimpan kalung yang sangat kuinginkan itu juga demi aku. Perasaannya sejak SMA sama sekali tidak berubah. Dia menyesal tidak mencariku dan sakit hati saat tahu aku disakiti oleh orang lain. Dia berusaha medampingi aku di saat terberat dalam hidupku walaupun dia menghilang lagi tapi itu karena dia terpaksa harus mendekam di penjara. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana tertekannya dia sejak hari itu sampai melihatku datang kembali dan mengusirku dengan cara yang kasar.

Sekarang dia sudah kembali seperti saat kami pertama bertemu. Aku yang memintanya termasuk sifat stereotypeyang tidak bisa dirubah itu.

Tidak  ada cara mencintai yang sempurna. Aku ingat, dia tidak pernah menjanjikan untuk tidak menyakiti aku karena sengaja atau tidak sengaja, dia pasti akan melakukannya. Tapi, dia berjanji dengan sungguh-sungguh, aku adalah yang terakhir.

Dia mencemburui aku dengan memeriksa handphone-ku setiap bertemu. Aku bahkan tidak pernah memegang handphone-nya apalagi memeriksanya untuk memastikan dengan siapa Daniel berjanji karena aku tidak mau terkesan kekanakan.

Sebuah cincin sudah melingkar di jari manis dan hanya tinggal menunggu harinya datang. Setelah semua pekerjaan Daniel selesai aku akan melepas status single dan akan tinggal bersamanya menjalani sebuah kehidupan baru yang entah bagaimana jadinya jika Daniel masih seperti ini.

Lelaki punya kebiasaan berbohong yang sudah akut. Saat bertanya ada di mana dengan santainya menjawab sedang bekerja. Jangankan Daniel yang sudah menyerah tanpa syarat padaku, Ben yang tampak takluk pada kemarahan Alya saat mereka bertengkar, juga mengatakan hal yang sama saat handphone-ya berbunyi. Padahal jelas-jelas dia berjanji bertemu denganku.

“Apa salahnya jujur?” tegurku, mengernyit padanya karena aku pikir dia keterlaluan berbohong seperti sedang menemui kekasih gelap.

Alya temanku dan aku keberatan.

“Kalau bilang yang sebenarnya nanti malah minta jemput”, jelasnya.

“Kamu serius nggak sih sama Alya?”, tanyaku lagi, jengkel.

“Seriuslah!” jawabnya cepat tapi diragukan kebenarannya karena aku tahu Ben belum belajar menjadi orang yang setia. “Kamu pikir aku main-main pacaran sama cewek yang pernah jadi teman dan tahu betul siapa aku?”

“Terus?”

“Terus apanya?” balas Ben mulai tidak suka didesak olehku, “Kenapa jadi ngomongin soal aku? Katanya kamu punya masalah lagi sama Daniel”

“Bagaimana mau cerita sama orang yang kelakuannya sama seperti Daniel?” tukasku, kesal dan jengkel. Menyadari bahwa bicara dengannya sama seperti menepuk air di dulang, terciprat wajah sendiri.

“Nggak sama!” protesnya, “Aku nggak pernah lirik sana sini saat di depan pacar sendiri!”

“Jadi di belakang Alya sering?” tandasku dan Ben seketika  terdiam saat menyadari bahwa dia baru saja keceplosan mengungkap perangainya, “Ketahuan...”

“Itu tandanya cowok normal!”, Ben membela diri.

Aku butuh tempat yang tenang. Bertemu Ben ternyata malah bikin tambah stress. Lagi-lagi aku kabur. Pulang naik angkot sendiri walaupun Ben mengejarku dan meminta aku tidak marah. Tapi, aku tetap saja kesal sampai rasanya mau teriak.

Di tengah jalan, tahu-tahu handphone-ku berbunyi. Jika dari Daniel aku pasti akan mematikannya lagi. Tapi, tidak biasanya Mami yang telpon. Mengajak bertemu di suatu tempat dan dia bahkan mau menjemputku. Aku jadi tidak enak.

---

“Karena kebiasaan sibuk tiap hari, diam-diam di rumah Mami jadi nggak betah” jelasnya saat duduk di sebuah tempat makan sambil minum kopi. “Kamu juga pasti nggak betah ya? Harusnya Daniel nggak suruh kamu berhenti kerja.”

Aku mengangguk, “Tadi habis ketemu teman” jelasku, mengiyakan bahwa aku sering menghabiskan waktu sendirian di rumah.

“Kalau kamu bosan, main-main ke rumah. Temanin Mami” ujarnya, “Tapi, kalau kamu mau.”.

Berat untuk menolaknya dan terpaksa, aku mengangguk tapi tidak bisa janji. Mami pasti tidak tahu sudah seminggu lebih aku tidak bicara dengan Daniel. Aku merasa tidak enak sama Mami-nya yang baik sekali padaku dan seolah memastikan bahwa kami tidak punya masalah. Memang Mami tidak pernah tahu jika kami bertengkar atau cekcok sedikit. Tapi, dia punya firasat yang kuat.

Mungkin, karena dia seorang ibu.

Dengan setengah memaksa dia mengajakku ke rumah. Katanya mau memasak untuk Daniel dan aku harus tahu apa yang dia suka dan beberapa kebiasaannya. Aku jadi tidak bisa menghindari pertemuan itu dan tidak bisa menunjukan kekesalanku padanya.

“Ternyata yang dicari datang sendiri ke sini” komentarnya saat Mami sudah tidak ada.

Aku diam, tidak betah, mau pulang. Tapi, segan pada Mami karena aku baru saja datang dan tidak menyangka Daniel ada di rumah. Jadi aku harus bersabar selama beberapa jam lagi sampai batas berkunjung habis. Namun, sepertinya Daniel tidak akan mengizinkan aku pergi sebelum aku bicara.

“Handphone mana?” ia bertanya padaku sambil mendekat dan langsung menggeledah tasku.

Aku kesal saat mencoba merampasnya kembali tapi dia mendapatkannya lebih dulu.

“Sengaja dimatikan?” Daniel bertanya lagi dan aku tetap tidak menjawab. Bahkan tidak mau melihat wajahnya. Dia mulai mengutak-atik handphone-ku. Memeriksanya seolah mencurigaiku. Tidak lama handphone-ku yang satu lagi berbunyi dan dia kembali memeriksa tasku seperti razia senjata tajam.

Apa lagi sekarang?, makin lama aku makin geram.

“Sejak kapan punya handphone baru?” ia bertanya, kembali mencurigai. “Kok nggak pernah bilang?”

Akhirnya aku beli juga. Sebuah Blackberry, teman yang paling ‘gaul’ dan sudah dipakai oleh hampir semua orang. Karena desakan teman-temanku supaya kami bisa tetap mengobrol walaupun tidak bisa bertemu langsung. Akibatnya aku jadi seperti penggila smartphone yang tidak bisa hidup tanpa chatdan menulis status ungkapan hati. Apalagi saat aku kembali bisa berhubungan dengan teman-temanku di Jakarta. Pagi-pagi sekali setelah bangun tidur hal yang pertama kali kulakukan adalah memeriksa apakah ada pesan baru yang belum terbaca. Aku jadi malas mandi karena sibuk berbalas pesan. Kadang lupa mengecas handphone yang biasa aku pakai untuk menghubungi Daniel.

“Kenapa kamu nggak bilang? Padahal kalau kamu bilang pun aku nggak larang”, protesnya lagi sementara handphone itu berbunyi lagi dan dia langsung memeriksanya. “Kamu bisa janjian sama Ben tapi kalau aku yang ajak keluar selalu bilang nggak punya waktu”.

 Aku kesal. Luar biasa kesal. Tapi, karena ini di rumahnya aku hanya bisa mengepalkan tanganku dengan kuat untuk menahannya. Aku tidak mau Mami dengar pertengkaran kami dan dia jadi berpikir aku cewek yang emosian.

Aku bersikap seolah tidak sengaja melakukannya. Hatiku menggerutu, jalan keluar dengannya selalu membuat tensi darahku naik setiap kali dia memandang gadis selain aku. Selama itu aku menahan emosi dan lama-lama bisa kena stroke. Belum lagi asistennya itu, yang jelas-jelas lebih cantik dari aku. Membuatku berkecil hati setiap kali melihat mereka datang berdua bagaikan pasangan yang serasi. Aneh rasanya, saat melihat, Via, asistennya itu, mengingatkan aku pada Tasya.

Bertubuh tinggi semampai, berkulit putih, dan juga bermata sipit. Memakai baju seperti apapun pasti bagus. Modis dan fashionable.

Aku benar-benar angkat tangan dan lelah. “Kenapa kamu nggak melihat diri kamu sendiri?!”, teriakku, “Kenapa mencurigai aku sementara kamu jelas main mata sama asisten kamu sendiri dan juga cewek-cewek yang ada di sekeliling kamu?!”

“Itu karena kamu nggak pernah marah seolah-olah kamu nggak punya perasaan apa-apa sama aku!” balasnya dan kembali membuatku tidak habis pikir. Sangat kekanakan. “Aku nggak pernah tahu apa yang kamu pikirkan! Jalan berdua selalu sibuk sama kamera! Kalau sudah kumpul sama teman-teman kamu juga menganggap aku nggak ada! Kamu akrab sama Ben dan aku nggak suka karena aku tahu dulu dia suka mengejar-ngejar kamu! Aku jadi kepikiran karena dulu kalian sama-sama kerja di Jakarta, belum lagi kamu ketemu mantan pacar dan kabarnya kamu seperti mau balikan lagi! Aku kabur dari rehabilitasi untuk menjemput kamu karena nggak mau itu terjadi dan dimarahi Mami habis-habisan! Kamu suruh aku begini atau begitu aku turutin semuanya! Aku tanya Alya semua tentang yang kamu inginkan dan berusaha membuatnya jadi kenyataan! Tapi, aku nggak pernah terima balasan apa-apa dari kamu!”

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments