๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Alan - Side Story 2
Jakarta, Agustus 2017....
Hujan turun lagi. Gemuruhnya terdengar sangat jelas saat pertama kali aku membuka mata di pagi yang hampir sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Di sisiku sudah kosong. Melissa selalu bangun lebih awal karena dia harus menyiapkan banyak hal sebelum aku berangkat ke kantor; terlebih sekarang Raka tinggal bersama kami setelah ibunya menikah lagi dan sedikit sibuk dengan adik-adik perempuannya. Anakku berada di masa-masa pentingnya sebagai remaja sehingga kemudian aku memutuskan untuk membawanya ke Jakarta.
Aku melihat keduanya di meja makan; Melissa yang menuangkan susu ke dalam gelas Raka sementara anak itu tidak bisa lepas dari gawai dan headphone di telinganya –kebanyakan anak-anak sekarang memang tidak bisa lepas dari benda itu. Saat aku ikut bergabung duduk di meja makan, Raka langsung melepas penutup telinga itu dan menaruh handphone-nya di atas meja. Setidaknya anakku masih bisa menghentikan dirinya di saat tertentu. Dia mulai menghabiskan sarapannya karena kami tidak punya banyak waktu.
“Hari ini kamu pulang jam berapa?” tanya Melissa. “Kamu lembur lagi?”
“Aku akan pulang lebih awal,” jawabku.
Melissa tersenyum. Kami mengakhiri percakapan pagi saat waktunya telah tiba. Selesai sarapan, aku langsung berangkat dan membawa Raka bersamaku. Sebelum ke kantor aku harus mengantarkannya ke sekolah lebih dulu.
“Bunda tadi menelponku, Yah,” Raka memberitahuku saat kami dalam perjalanan ke sekolahnya; dengan mata yang masih asyik memandangi layar handphone-nya.
“Apa katanya?” balasku sambil tetap fokus menyetir.
“Tidak banyak. Bunda juga tanya kabar Ayah. Aku jawab kalau Ayah baik-baik saja,” dia berkata.
Aku baik-baik saja. Aku selalu menunjukan bahwa semuanya baik-baik saja. Walaupun sebenarnya aku tidak selalu baik-baik saja. Meski pun dikelilingi orang-orang yang mencintaiku, aku masih merasakan kesedihan yang sama karena memikirkannya. Aku selalu menyimpannya di hatiku sampai detik ini.
---
Hari ini dua belas Agustus lagi. Sesuai janji, aku pulang lebih awal karena Melissa mengadakan pesta keluarga di rumah; dia selalu melakukan itu untuk semua orang. Termasuk adik-adikku yang sudah menikah dan punya anak –ia juga menyiapkan acara keluarga di mana kami bisa berkumpul bersama dan tertawa. Melissa pernah berkata padaku bahwa menjadi anak tunggal sama sekali tidak menyenangkan. Dia dekat dengan Ivana dan Gina yang hampir selalu datang bermain ke rumah membawa anak-anak mereka. Mellisa sangat menyayangi semua keponakanku yang nakal dan berisik.
Saat kami berbelanja di pusat perbelanjaan, perhatiannya hampir selalu tertuju pada pakaian anak-anak atau mainan. Dan hampir selalu mengajakku untuk membelinya. Dia akan menyebutkan semua nama keponakanku dengan adil. Aku tahu sebenarnya Melissa juga menginginkan seorang anak; atau mungkin beberapa. Akan tetapi dia harus menerima keputusanku untuk sterilisasi tidak lama setelah kami menikah. Dia mungkin mengira caraku mendapatkan Raka adalah sesuatu yang traumatis. Tapi, itu tidak sepenuhnya salah. Memiliki anak lagi sedikit membuatku khawatir.
Walaupun Melissa selalu menjadi istri yang baik, bahkan terlalu baik bagiku, kami masih sering bertengkar. Aku pernah menawarkan untuk bercerai saja daripada hidup menderita bersamaku. Tapi, dia menolaknya. Mungkin untuk sebuah alasan bodoh. Rumah ini adalah rumahnya. Keluargaku adalah keluarganya. Dia juga menyayangi Raka bahkan sebelum kami menikah. Dia mengurus anak itu dengan sangat baik bahkan melebihi aku ayahnya. Tapi,saat itu dia juga mengatakan sesuatu yang benar-benar membuatku terdiam sangat lama.
“Aku memang istri kamu, Dennis. Tapi, dalam hidup kamu, akulah yang jadi perempuan kedua. Aku tahu itu dari awal.”
Hubungan kami terasa ganjil. Kami sama-sama tahu itu. Baginya dia tidak hanya terikat denganku; tapi dengan keluargaku juga. Entah bagaimana, ikatannya dengan keluargaku justru lebih kuat. Dia mencemaskan adik-adikku lebih daripada aku sendiri. Kadang ada sedikit masalah dengan adikku terutama Achen; dia selalu membuat masalah. Dia menyukai Tyas yang dulu pernah bekerja di rehabilitasi tempat dia dirawat dan terus mengejar-ngejarnya walaupun itu tidak masuk akal. Aku juga tidak menyetujuinya karena aku sangat mengenal Tyas yang selalu menolaknya. Bukan hal yang normal melihat adikku berhubungan dengan mantan kekasihku. Tapi, akhirnya Tyas luluh juga dan aku lebih tidak mengerti lagi dengan cara dunia ini bekerja.
Ajaibnya, adikku menjadi pribadi yang lebih baik dari yang sebelumnya. Dia mulai serius mencari pekerjaan demi melamar Tyas yang keluarganya pasti tidak akan setuju dengan mantan pecandu dan juga pengangguran. Lalu mereka menikah, punya dua anak. Sekarang keempatnya juga hadir dalam acara yang disiapkan Melissa. Kadang Melissa dan Tyas masih tidak cocok. Kombinasi aneh dan unik yang pernah aku lihat seumur hidupku saat akhirnya mereka mengobrol dan tertawa.
Tyas masih dengan gaya sarkasnya kadang tidak disukai si kembar. Di belakang Tyas, keduanya masih saling membicarakannya. Tentang kenapa aku dan Achen pernah menyukai perempuan seperti Tyas. Tapi, Tyas adalah orang yang jujur dan tidak munafik. Kadang dia menyindirku dengan sengaja untuk menggangguku lagi. Achen yang konyol menarik bahunya ke belakang dan menyumbat mulutnya dengan makanan supaya Tyas berhenti bicara. Tyas yang selalu terlihat angkuh, benar-benar kehilangan harga dirinya.
Semua tertawa walaupun di luar hujan deras. Dan aku menoleh keluar dengan khawatir; pada jendela kaca setinggi dinding yang menghadap halaman samping rumah yang berembun dan basah oleh tempias hujan. Karena aku pikir, Ayu sedang berdiri di sana mengawasiku dan berharap aku mengundangnya masuk karena ia kedinginan. Tapi, itu semua hanya halusinasiku saja. Saat hujan melanda seperti ini, dia pasti sedang berada di tempat yang panas dengan sinar matahari berlebihan. Mungkin dia sedang mengumpulkan anak-anak dan memberi mereka pakaian dan makanan.
Tapi, kadang aku juga meragukan hal itu.
Aku melirik layar handphone-ku tiap sebentar dan Melissa sepertinya sadar akan kegelisahanku. Dia merangkul bahuku, mengecup pipiku sekilas sebelum kembali menghampiri adik-adikku yang sibuk menyiapkan makan malam di atas meja. Aku mendengarnya berbisik.
“Tidak apa-apa.”
Melissa ada di sana; di hari ulang tahunku pada saat telponku berbunyi dan seseorang memberiku kabar kematian Ayu yang membuat gemetaran dan sampai jatuh berlutut. Setiap tahun setiap hari ini dirayakan, aku selalu merasa khawatir akan mendapatkan telpon yang sama lagi. Ayu bepergian dengan membawa semua lukanya dan dia selalu punya kemungkinan untuk melakukan hal yang sama.
---
Tahun ini aku berusia tiga puluh tujuh. Aku meminta Melissa untuk tidak menaruh lilin angka di atas kuenya karena pesta ini juga selalu menjadi pengingat semakin hari, aku semakin tua. Jadi dia menggantinya dengan lilin kembang api yang sangat banyak yang susah untuk ditiup. Semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku; memakai topi kerucut warna warni yang tampak lucu. Tapi, lagi-lagi aku tidak bisa menyatu dengan keceriaan mereka. Aku meniup lilinnya dan selesai.
Aku memang tidak pantas mencemaskan soal helaian rambutku yang akan memutih satu persatu. Aku masih menginginkan banyak waktu di dunia ini selagi Ayu masih tetap muda. Aku tidak pernah tahu aku akan menggelikan seperti ini sekarang. Tapi, bertahun-tahun yang lalu, ketika aku masih muda, aku tidak pernah memikirkannya. Ayu hanya gadis kecil saat kami bertemu pertama kali dan aku sudah cukup dewasa. Perbedaan usia yang jauh tidak terlalu terlihat saat itu. Lalu ketika akhirnya dia berada di usia matang, aku semakin tua. Dan aku masih menunggunya kembali entah sampai kapan. Aku hanya bisa menjaga kesehatan dengan tidak memakan makanan sampah, menjauhi soda yang dulu sangat aku sukai, dan berolahraga teratur. Orang-orang bilang aku menua dengan baik karenanya. Tapi, angka itu terus bertambah, dan aku masih tidak tahu apakah... Ayu akan kembali padaku....
Setelah acara puncak dan makan-makan, mereka semua menyebar ke segala penjuru rumah. Aku mengasingkan diri lagi dengan berdiri di depan jendela di mana rasanya aku melihat Ayu mengawasiku. Hujan mulai reda, tapi gerimis masih turun dengan menyedihkan. Dan saat aku melamun, handphone di dalam sakuku bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layarnya. Aku punya firasat buruk soal ini. Selalu. Tapi, aku memutuskan untuk tetap mengangkatnya. Karena nomor itu menelpon lagi setelah panggilan yang pertama tidak kuangkat.
“Halo?” aku menyapa seseorang yang entah siapa di seberang sana dengan tenang; sambil tetap memandangi halaman depan rumah dengan kosong.
Aku mendengar suara batuk seseorang. “Selamat ulang tahun, Alan,” kata suara perempuan di seberang sana yang membuatku tanpa sadar tersenyum. “Kamu pasti bertambah tua.”
“Kamu di mana?” tanyaku; tak peduli dia meledekku.
Satu hal yang aku tahu, jika Ayu akhirnya menghubungiku berarti inilah akhir dari penantianku.
Ayu yang kedengarannya sedang sakit memberi tahuku ke mana aku bisa pergi. Aku langsung bergegas, mengambil kunci mobil saat Melissa dan yang lainnya masih di ruang tengah. Sementara para perempuan asyik mengobol, Raka dan Achen bermain game dengan gawai mereka, dan anak-anak kecil bermain membuat suara gaduh yang menyamarkan suara mesin mobilku meninggalkan garasi. Aku meninggalkan mereka begitu saja tanpa mengatakan sesuatu di pesta ulang tahunku sendiri.
***
Saat aku berdiri di depan pintu sebelum Ayu membukanya, aku mematikan handphone-ku.
“Kenapa kamu baru menelponku sekarang?” tanyaku. “Di saat kamu sedang sakit dan kamu sama sekali tidak punya siapa pun? Kamu menganggapku apa, Ayu?”
Ayu menatapku jengkel dari dalam kamar hotelnya. “Kamu juga pernah datang padaku dalam keadaan sakit,” protes dia, dengan suaranya yang serak. “Kalau kamu ke sini untuk marah-marah, sebaiknya pergi saja. Aku sudah demam selama tiga hari dan tidak bisa ke mana-mana karena hujan. Aku tidak mau sakitku bertambah parah karena mendengar kamu mengomel, Alan!”
Aku menarik nafas panjang. Udara di luar lebih dingin dari biasanya; mengingatkanku pada hari-hari yang seperti ini juga di Bukittinggi saat aku menemuinya dalam keputusasaan.
“Kamu sudah pergi ke dokter?” tanyaku akhirnya dan Ayu hanya menggeleng dengan pelan.
“Ya sudah, ayo kita pergi ke dokter,” ajakku.
Ayu langsung mengangguk. “Tunggu sebentar. Aku mau siap-siap dulu,” katanya sambil kembali ke dalam, membiarkan pintunya tetap terbuka tanpa membiarkanku masuk.
Tidak sampai lima menit, Ayu keluar dengan dibalut jaket yang sangat tebal. Wajahnya pucat dan ia hampir selalu bersin dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Sejak kapan kamu di Jakarta?” aku mulai menanyainya saat kami berdua sudah duduk di dalam mobil. “Kenapa tidak memberitahuku lebih awal?”
“Aku harus mengurus beberapa hal di Jakarta sebelum kembali,” jawab dia.
Sebuah jawaban yang mengecewakan.
“Jadi... kamu berhenti keluar masuk Afrika?” balasku.
Aku mendengarnya terkikih. “Sepertinya kamu benci sekali dengan Afrika,” katanya meledek lagi.
“Aku tidak benci. Aku hanya benci kamu membicarakan soal Afrika setiap kita bertemu karena kamu selalu bersemangat tentang itu,” balasku.
“Bukan salahku kalau kamu menghabiskan waktu dengan cara yang membosankan sepanjang hidup kamu,” celetuknya.
“Hidupku memang membosankan. Cuma kehadiran kamu membuatnya jadi berbeda, tapi kamu malah pergi ke Afrika setelah aku pikir kita bersama untuk seterusnya,” balasku lagi dan itu membuat Ayu terdiam untuk beberapa saat.
“Semakin tua, kamu semakin pemarah, Lan,” ejeknya lagi. “Sekarang kamu tahu rasanya saat kamu menyebutkan kata ‘Jakarta’ di depanku, karena itu artinya kamu akan meninggalkanku.”
Aku mengerti dengan perasaan semacam itu. Wajah Ayu yang langsung berubah muram saat aku menyebut Jakarta mungkin sama dengan yang aku perlihatkan saat ini padanya.
“Aku bertambah tua karena terlalu lama menunggu kamu, Ayu,” tegasku.
Aku cemas setiap harinya membayangkan bila mana aku akan mati lebih dulu sebelum bisa bertemu dengannya lagi. Tapi, Ayu sudah banyak berubah saat aku menjadi sosok tua yang punya banyak kekhawatiran. Caranya bicara, bahasa yang dia pakai, aksen daerah yang benar-benar sudah lenyap dari kalimat-kalimatnya yang ia lontarkan dengan tenang. Dia bukan lagi seorang gadis kecil, tapi seorang wanita mandiri dan berpendirian. Caranya menghadapiku dan membalas semua ucapanku menandakan bahwa dia dewasa dengan baik.
“Bagaimana dengan istri kamu?” tanya dia. “Apa yang akan dia pikirkan saat mengetahui kamu berselingkuh?”
“Pikirkan diri kamu sendiri. Apa pekerjaan sosial dan semacamnya bisa membuat kamu benar-benar merasa utuh?” balasku; menatapnya dengan serius beberapa saat. “Kamu justru malah merasa lelah karena terus berusaha melarikan diri dariku. Kamu mencintaiku, tapi tidak bisa memaafkanku. Sekarang, kamu tiba-tiba menelponku setelah sekian lama untuk apa?”
Ayu tidak menjawabku.
“Sampai kapan kamu akan terus menyangkal bahwa aku bukan kehilangan yang bisa digantikan dengan orang lain? Pernikahanku bukan alasan karena kamu selalu tahu aku hanya mencintai kamu. Akui saja, bahwa aku tidak akan bisa tergantikan oleh siapa pun,” kataku lagi.
Akhirnya kami tiba di rumah sakit dan Ayu masih tidak mengucapkan sepatah kata pun.
“Katakan saja, Ayu... kamu... tidak ingin menikah... karena kamu takut disentuh laki-laki dan selama ini kamu berusaha melupakan apa yang aku lakukan dulu.”
“Kamu bicara terlalu banyak, Alan,” dia berkata sambil melepaskan sabuk pengamannya. “Aku kira kamu akan senang melihatku kembali.”
Di luar masih hujan deras dan dingin. Aku menatapnya dan berusaha menutup mulutku saat ada banyak hal yang ingin aku ucapkan padanya. Ayu bersin lagi disertai oleh batuk. Aku segera mengambil payung di bagasi dan membukakan pintu untuknya agar ia turun dan kami segera menuju ke UGD agar ia mendapatkan pengobatan dari dokter.
Dua jam menunggu sampai aku mendapatkan obat untuknya, kami berbicara panjang lebar untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Ayu belum mengakhiri perjalanan jauhnya karena setelah ini dia akan kembali bertugas. Antara bangga dan sedih; gadis kecil yang dulu bekerja sebagai penjaga toko dan terkekang di lingkungan kolot itu sekarang bekerja untuk PBB. Artinya dia juga akan meninggalkanku lagi begitu urusannya di sini selesai dan aku akan menunggunya entah untuk berapa lama.
Tapi, hari itu, Ayu memanggilku untuk memastikan satu hal padaku. Semua yang ada di antara kami tidak akan pernah berakhir. Tidak akan pernah.
---
Dari sekian byk cerita di blog ini, Dear Alan & Let Her Go adl kisah paling menarik yg pernah aku baca. Dr mulai latar tempat,tahun,dan detail cerita seperti kisah yg benar-benar terjadi dan menyentuh. Ada beberapa part yg bikin bikin air mata lolos keluar. Awalnya aku pikir kehidupan Ayu terlalu berharga utk Alan hancurkan, tp setelah membaca kisah Alan ternyata kehidupan dia juga gak kalah menyedihkan nya seperti Ayu.. ๐ฅฒ๐ฅฒ. But makasih utk endingnya yg meskipun bikin greget, tp aku tau kisah cinta Alan dan Ayu ga pernah berhenti sampai disini. ❤