[Hal.35] [Side Story 1] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Side Story - Ayu

“Kamu sudah terlalu banyak menolak orang, Ayu. Sebenarnya kamu mau apa? Sampai kapan kamu mau bekerja kesana kemari? Kamu lupa hidup di dunia hanya sementara?” Ibu masih mengomel saat aku sedang duduk santai di depan TV sambil menemani Amar bermain game dengan smartphone-nya.

“Aku tahu, Bu. Tapi, hidup juga hanya satu kali,” jawabku. “Aku hanya ingin melakukan hal yang berguna. Aku tidak bilang kalau menikah dan punya anak itu sesuatu yang tidak berguna. Tapi... aku merasa tidak menikah bukan akhir dari dunia.”

Ibuku hanya mendengus. “Keras kepala kamu memang tidak berubah,” gumamnya. “Kalau nanti kamu sudah tua siapa yang akan mengurus kamu?”

Aku hanya tersenyum. Aku sudah menyiapkan tabungan hari tua. Aku tidak ingin membebankan hidupku pada orang lain –apalagi anakku. Lagipula aku tidak akan menetap di kota ini. Tidak semua pandangan dan pendapat bisa disampaikan pada orang lain; itulah yang aku pelajari saat berkelana di luar. Di negeri yang menjunjung tinggi agama adalah segalanya, orang-orang ‘menyimpang’ sepertiku tidak dibutuhkan. Mengingatkanku pada sebuah novel Dystopian yang pernah aku baca setiap aku tidak suka menunggu sesuatu tanpa melakukan apa apun;  berjudul Divergent –mungkin aku adalah seorang Divergent yang tidak bisa masuk ke dalam golongan mana pun, dan karena itu mereka dihabiskan.

“Rana sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Aku juga sudah menentukan ke mana aku akan pergi setelah ini. Ibu tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja, Bu...,” kataku.

“Apa ini karena kamu... merasa Ibu dan Bapak gagal membesarkan kamu karena dulu kamu merasa terkekang dan selalu ingin melarikan diri? Kamu bertemu laki-laki itu dan bahkan sampai sekarang belum bisa melepaskan diri darinya.”

Aku memang pernah berpikir bahwa kedua orang tuaku telah gagal membesarkanku; saat aku mengalami PTSD dan skizofrenia. Tapi, sekarang tidak lagi, aku hanya seorang gadis yang belum dewasa. Mungkin tidak ada salahnya untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang dewasa walaupun terkadang aku masih menyalahkan orang tuaku yang pernah terlalu keras.

Aku menggeleng. “Aku minta maaf karena Ibu sampai berpikir seperti itu. Tapi... semakin aku dewasa, semakin aku mengerti kalau Bapak dan Ibu bukan pahlawan. Bapak dan Ibu sama seperti aku. Hanya berusaha untuk tidak terluka,” kataku. “Aku tidak ingin bekeluarga karena merasa itu lebih baik. Menikah itu rumit dan aku tidak siap untuk itu. Saat ini aku bahagia dengan kehidupanku. Bukannya itu yang lebih penting, Bu?”

“Ibu tidak memahami kamu, Ayu. Tapi, asalkan itu tidak membuat kamu melukai diri kamu sendiri, Ibu akan mendukung kamu,” katanya dan aku hanya tersenyum. “Sayang kamu tidak menikah.”

“Lebih sayang lagi kalau aku menikah lalu berpisah karena tidak cocok. Jarang laki-laki yang bisa cocok denganku karena aku keras kepala,” balasku. “Dengan Rana yang seayah dan seibu saja aku juga tidak bisa cocok kadang-kadang.”

“Cuma Alan yang cocok,” celetuk Rana tiba-tiba. Dia ikut bergabung bersama kami di depan TV. “Dia lebih suka terus berpacaran daripada menikah, Bu.”

Aku hanya menyikut kakakku yang bicaranya selalu tajam itu.

“Kamu masih berhubungan dengan Alan?” tanya ibuku tampak heran.

Aku menggeleng. Kami sudah tidak bertemu sejak 2014 dan juga tidak melakukan komunikasi macam apa pun di jaman secanggih sekarang; sosial media yang lebih beragam. Dia seorang lelaki yang sudah menikah; aku tidak cukup gila untuk terus menemuinya, walaupun ketika aku merindukannya, aku bisa saja terbang dari belahan dunia lain untuk menemuinya.

Aku mungkin telah hidup dengan baik. Tapi, bukan berarti aku tidak pernah merasa sedih dan hampa. Aku sudah bilang bahwa aku hanyalah manusia; tidak peduli seberapa pun pintarnya dia bisa mengatasi masalahnya sendiri, kesedihan adalah teman akrab yang setia. Aku mungkin masih menangis saat menuliskan tentangnya dalam jurnal. Jika aku jujur, aku mungkin akan menelponnya, tapi, aku harus melepaskannya.

---

Pulang ke kota pernah hancur sepuluh tahun kemudian di mana segala hal tentang Alan adalah kenangan yang manis sekaligus pahit.

Aku menapaki kembali jalan yang dulu pernah kami lewati dengan berjalan kaki walaupun aku tahu ini bukan hari yang tepat untuk keluar karena saat aku meninggalkan rumah, cuacanya sudah mendung. Tapi, aku hanya punya hari ini sebelum pergi jauh lagi.

Padang telah jauh berubah semenjak aku tidak pernah lagi jadi bagian darinya. Pecinan dan Kota Tua yang sudah dipadati pertokoan, cafe, restoran, dan pusat bisnis lainnya. Jembatan Siti Nurbaya dipadati penjual kaki lima. Tapi, beberapa hal juga tidak berubah. Jalan sepanjang pantai yang telah mulai dibangun dengan serius. Pedestrian sepanjang Taman Kota di bawah pohon-pohon berdaun mini yang berjatuhan seperti salju berwarna kuning. Aku berhenti di depan toko milik kerabat jauh Alan yang masih berada di sana; berdiri tepat di mana aku pernah menemuinya untuk pertama kali; lalu memikirkan apa yang sedang dia lakukan saat ini.

Berharap dia akan ingat untuk merindukanku di kota di mana dia tinggal; menghabiskan waktu dan menjalani hidup bersama istrinya setelah ia memutuskan untuk pindah rumah. Aku tahu ia tidak akan pernah menginjakan kakinya di sini lagi, saat Jakarta telah memeluknya dan memberinya kehangatan.

Gerimis jatuh bersamaan dengan dedaunan kuning kecil yang gugur; gerimis halus yang sangat deras. Aku mengeluarkan handphone-ku, berpikir untuk memesan tranportasi daring.

“Aku kira sekarang kamu sedang berada di dalam tank yang sedang dihujani peluru di Syria.”

Mungkin aku melupakan sesuatu yang selalu dia katakan padaku; bayangan bulan di atas air. Katanya seperti itulah kami.  Aku tidak pernah mempercayainya. Akan tetapi, aku mulai meragukan apa yang aku percayai saat ini ketika melihat dia berdiri tidak jauh dari tempatku mencoba memesan kendaaraan untuk membawaku ke bandara. Sayangnya, aku akan pergi hari ini.

Aku menemukan Alan di pedestrian yang mulai lembab oleh tetes gerimis dari langit abu-abu di atas kami. Tubuhnya lebih berisi dan tegap. Masih berkaca mata; tentunya. Dia kelihatan sangat terurus dengan baik seperti kebanyakan laki-laki yang menikah dengan perempuan yang tepat. Tapi, aku tidak terlalu sedih dengan kenyataan itu. Aku sedikit berterima kasih pada perempuan itu karena telah menjaganya.

“Aku belum pernah ke Syria,” kataku; tertawa sambil menghampiri Alan yang aku rasa tidak terlalu berubah dari saat ami bertemu di Jakarta.

Bukankah dia berusia empat puluh tahun ini? Tapi, mungkin saja dia memang tidak menua dengan jelek. Teman-temanku di luar menyebutnya aged like a fine wine.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku.

“Pertanyaan yang sama, apa yang kamu lakukan di sini?” balas dia.

Aku tertawa lagi. “Aku tahu. Mungkin kita melakukan hal yang sama,” jawabku akhirnya. “Nostalgia mungkin?”

“Mungkin,” ulangnya.

“Aku kira kamu tidak akan pernah kembali ke tempat yang paling kamu benci, Alan,” kataku.

“Aku punya seorang anak yang masih tinggal di sini,” jelas dia.

Ya, dia seorang ayah. Kadang aku lupa soal itu. Kadang aku juga lupa kalau dia punya seorang istri. Sepertinya hubungan dia dengan Sania juga sudah membaik.

“Lagipula aku tidak sebenci itu lagi, Ayu. Aku tidak bisa membenci sesuatu yang ada kamu di dalamnya,” sambung dia dan itu membuatku tertegun beberapa saat sebelum mengangguk dengan pelan. “Aku merindukan kamu di setiap detik yang sama saat kamu berusaha melupakanku.”

Entah apa lagi yang bisa aku katakan padanya. Karena pikiranku menginginkan hal yang berbeda dari apa yang seharusnya aku lakukan sekarang; pergi ke bandara karena pesawatku akan berangkat dua jam lagi. Walaupun pertemuan ini sepertinya ajaib, kami tetap saja bertemu dalam waktu dan kesempatan yang tidak tepat.

“Kamu sedang buru-buru?” tanya dia saat aku kembali membuka handphone-ku memastikan posisi transportasi daring yang sudah aku pesan.

Aku mengangguk. “Aku harus ke bandara sekarang,” kataku.

Alisnya terangkat; sepertinya dia cukup terkejut. “Sekarang?”

Aku mengangguk lagi. “Ya, aku harus mengucapkan selamat tinggal untuk semuanya,” kataku padanya.

“Untukku juga? Setelah bertahun-tahun kamu tidak pernah mengucapkannya?” balas dia; ada sedikit emosi dalam nada suaranya.

Aku tertunduk lagi; dan saat itu aku melihat sesuatu pada jemari Alan yang mengepal –cincin pernikahan yang sedang menyindirku. “Apa yang akan kita lakukan, Alan?” tanyaku. “Mengulangi hari-hari yang sama yang pernah kita lalui di sini? Menonton film yang sama dua kali?”

Kenangan perjalanan jauh yang penuh air mata. Aku meninggalkan kota ini dengan kesedihan yang dalam karena dia mencampakanku lalu memungutku lagi saat aku sedang menata ulang hidupku kembali di Bukittinggi. Setelah bertahun-tahun lamanya aku berusaha mengingkari apa yang aku alami di rumah itu; saat kami bertengkar dan saling menyakiti. Aku terjatuh dan kepalaku terhempas di lantai yang dingin. Pandanganku mengabur dan Alan memaku pergelangan tanganku dengan genggamannya. Aku menyaksikan semua yang dia lakukan tanpa bisa melawan.

Tapi, aku tetap mencintainya setelah itu. Walaupun ia kemudian tetap menjadi milik orang lain setelah dia memilikiku dengan cara yang sangat traumatis yang seringkali membuatku bermimpi buruk tentang dirinya. Benar, itu sebuah perkosaan; satu-satunya luka yang tak pernah bisa sembuh sampai sekarang. Aku tidak pernah menceritakannya pada siapa pun bahkan saat aku gila. Aku memendamnya sampai detik ini hingga aku kesulitan menjalin hubungan yang baru dengan orang lain. Aku selalu dibayangi oleh hari itu.

“Setelah ini kamu akan pergi ke mana lagi?” dia akhirnya bertanya. “Apa kamu akan terus hidup seperti itu?”

Aku tidak menjawab; aku selalu pergi ke tempat yang jauh. Dia tahu itu.

“Aku tahu alasan kamu pergi ribuan mil hanya untuk menyembuhkan diri, Ayu. Kamu ingin terus menghukumku? Tapi, tidak bisakah kamu menghentikannya sekarang?”

“Memangnya apa yang kamu lakukan? Kamu mau meninggalkan istri kamu demi aku?” tanyaku; sambil tertawa satu kali.

“Ayu, aku masih mencintai kamu. Apa itu tidak cukup?”

Aku tidak menjawabnya. Saat itu mobil yang sudah kupesan berhenti tidak jauh dariku dan menunggu.

“Saat kamu mulai berhenti membenci kota ini karena pernah ada aku di dalamnya, aku justru mulai membencinya,” kataku. “Aku tidak ingin lagi menoleh ke belakang karena aku akan terus mengingat semua yang kamu lakukan. Walaupun tidak semuanya buruk, tapi... ada satu bagian yang belum bisa berdamai denganku, Alan.”

Dari raut yang dia tunjukan, aku tahu Alan mengerti dengan apa yang aku maksud. Dan aku pun membuka pintu mobil. Tanpa bicara lagi, aku pun masuk. Mobil melaju. Meninggalkan Alan di tengah gerimis yang kemudian berubah menjadi hujan lebat. Alan tidak beranjak dari sana; seolah dia menungguku turun dari mobil ini dan berlari padanya –sama seperti caranya pernah kembali padaku waktu aku membawanya pulang.

Akan tetapi, aku tidak melakukannya. Tetap menuju bandara, naik pesawat dan meninggalkan semua kenangan perjalanan jauh itu di tangannya.

Aku masih membutuhkan waktu untuk bisa menerimanya dirinya kembali; dia yang menikah dan masih mengenakan cincin di jarinya bukan alasan untuk tetap pergi ribuan mil lagi darinya. Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang telah kumulai. Katanya, cinta tetaplah cinta. Cinta yang buta. Cinta yang hanya setara dengan penderitaan. Dan cinta yang mampu memaafkan...


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments