[Hal.34] [Epilog] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Epilog - Ayu

Buket bunga itu akhirnya layu setelah beberapa hariBuket bunga yang tak bisa ditolak –bagaimana pun. Itu buket bunga yang kuterima dari seorang teman di pernikahannya. Di saat gadis-gadis berdiri di depan gereja menunggu si mempelai wanita melemparkan buket bunganya, aku memperhatikan dari kejauhan. Tiba-tiba Glenda menghampiriku walau ia tahu aku tidak akan percaya pada mitos yang mengatakan bahwa siapa yang mendapatkan bunga dari mempelai wanita ia akan segera menikah. Ia memberikan buket mawar putih itu padaku dengan senyum bahagia di wajahnya. Sebelum ia naik mobil pengantin –Porsche hitam yang dihiasi bunga dan pita, di mana Peter sudah menunggu. Mereka terlihat sumringah saat mobil melaju meninggalkan kami yang melambai-lambaikan tangan ke arah mereka.

Hari itu, aku melihat sekelilingku. Sebuah kota yang asing bernama Den Haag, dan aku tidak percaya bisa menginjakan kakiku di sana. Aku menarik nafas panjang sebelum menyeret kakiku, meninggalkan gereja itu. Sendirian. Dan andai dia ada di sampingku saat itu, alangkah bagusnya. Sampai detik ini pun, tempat di sampingku masih kosong. Meski dulu ada beberapa orang yang  mengisinya, mereka berlalu seperti angin. Tidak meninggalkan bekas. Mungkin karena aku memang tidak pernah lagi benar-benar mencintai seseorang. Begitu mereka meninggalkanku, aku hanya merasa mereka tidak berhak atas masa depanku.

Aku merelakan mawar-mawar putih yang cantik itu akhirnya layu dan membuangnya ke tempat sampah. Tapi, lagipula siapa yang akan menikah? Aku telah memutuskan untuk tidak menikah.

Aku masih seorang yang keras hati. Aku tidak betul-betul mendengarkan kegelisahan orang tuaku. Di umur dua puluh sembilan tahun, di saat teman-teman sebaya sudah menikah dan memiliki anak aku masih sibuk bekerja. Setelah perdebatan panjang dengan keluargaku yang berusaha menjodohkanku dengan kenalan mereka, aku memilih tetap bekerja dengan NGO dan tidak pernah menetap di satu negara. Aku hanya pulang satu atau dua kali dalam setahun untuk menghindari lebaran dan pertanyaan ‘kapan menikah?’ dari kerabat yang lain. Di satu sisi orang tuaku bangga denganku, tapi di sisi yang lainnya mereka terus mengeluh.

Bagiku menikah bukan sebuah tujuan akhir. Saat orang-orang tidak ingin mengarungi lautan karena merasa lebih aman di daratan dan mengikuti apa yang tertulis, aku mengikuti Peter yang menawarkan sebuah kehidupan yang berbeda. Aku meninggalkan rumahku, kotaku, dan negaraku untuk hal-hal menakjubkan di belahan dunia lain yang tidak pernah aku tahu sebelumnya.

Sekarang dia sudah menikah, menghentikan petualangannya. Tapi, petualanganku belum selesai. Aku terus berkelana dan melakukan hal-hal yang tidak banyak orang-orang lakukan. Lepas dari keluarga konservatif. Lepas dari adat dan tradisi bahwa anak perempuan harus berada di rumah. Aku hanya ingin menjadi manusia yang baik; meski aku masih bukan seorang perempuan yang baik. Lebih dari itu aku bisa melanjutkan pendidikan. Mempelajari banyak hal dan mengembangkannya. Aku mulai menulis jurnal; aku banyak menuliskan pengalamanku tentang kesehatan mental dan perjalanan spiritual mencari kedamaian dengan Tuhan. Menulis apa saja yang patut diingat sebagai kenangan. Karena aku tahu, suatu hari nanti... seperti Peter, aku akan berhenti bepergian dan menetap di satu tempat; yang jelas bukan kota kelahiranku. Aku akan membacanya lagi ketika aku merindukan diriku yang masih muda.

---

Padang, Agustus 2019....

Aku punya kehidupan yang mapan, teman-teman dan hobi yang menyenangkan untuk mengisi waktu ketika aku bosan. Tidak punya kekasih untuk waktu yang lama bukanlah masalah. Aku menabung untuk masa tua –hal yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Aku hidup dengan baik dengan bepergian ke mana pun dan sibuk mengisi passport-ku dengan stempel dari berbagai negara. Lalu pulang ke kampung halaman ketika aku bisa mengambil cuti sedikit lebih lama.

“Apa ini?” Radhi mengernyitkan dahinya saat aku memberinya sesuatu; hadiah dalam kotak yang baru ia keluarkan isinya.

Setiap pulang ke Padang, kami akan pasti akan bertemu untuk reuni. Juga dengan beberapa orang di Palang Merah. Tapi, hari ini, aku hanya bertemu dengan Radhi karena dia satu-satunya yang masih menyempatkan diri untuk reuni kecil ini. Pada umumnya semua teman-teman relawan kami sudah bekeluarga dan realistis –melakukan pekerjaan yang dibayar.

“Dari Nairobi,” jawabku.

Radhi terkikih. “Apa ini mainan untuk Azid?” tanya dia menunjukan miniatur zebra di tangannya.

Azid adalah putra Radhi yang baru berumur tiga tahun. Dia sudah menikah dengan seorang perempuan yang bukan Erin. Radhi sekarang bekerja sebagai pegawai negeri.

“Itu sama sekali tidak cocok untuk anak kecil, kamu tahu?” balasku.

Radhi tertawa; mengembalikan zebra itu ke dalam kotak dan mengenyampingkannya. “Jadi setelah ini kamu akan ke mana lagi?” tanya dia.

“Palestine,” jawabku.

Radhi mengangguk-angguk; tapi tampaknya ada sesuatu yang ingin ia katakan padaku.

“Apa, Rad? Kamu ingin menanyakan apa?” celetukku.

“Apa kamu benar-benar yakin ini kehidupan yang kamu inginkan?” dia bertanya. “Maksudku... terlepas dari karena sekarang kamu bisa bebas dan melakukan hal-hal yang kamu sukai, apa kamu tidak pernah merasa kesepian, Yu?”

“Kesepian?” balasku. Lalu tertawa pelan. “Tidak, Rad. Kalau maksud kamu harusnya aku menjalin hubungan serius dengan seseorang lalu menikah seperti yang lain.”

Radhi terdiam; menatapku seolah tidak setuju dengan jawabanku.

“Rad, aku sudah hidup di luar kotak,” kataku menegaskan.

Ia hanya mengernyitkan dahinya; mungkin tidak mengerti dengan kotak yang aku maksud. “Pertama, aku keluar dari rumahku, lalu aku meninggalkan kota ini, lalu negara ini dengan penuh kesadaran. Kedua, aku tidak lagi tinggal di lingkungan yang Islami seperti di sini. Aku hidup di tengah berbagai macam orang dari negara lain dan itu bukan di sebuah tempat yang damai, tapi daerah rawan konflik dan bencana. Aku pernah hampir mati karena menaiki mobil yang sudah dipasangi bom. Tapi, di sana aku belajar bahwa untuk menjadi orang yang baik kita tidak perlu harus menjadi orang yang beragama, hanya perlu menjadi manusia. Pandanganku terhadap kehidupan sudah berbeda jauh. Satu lagi, hanya karena aku sendirian, tidak berarti aku kesepian. Tidak berarti juga aku tidak bisa mencintai orang lain.”

“Baik,” katanya, tersenyum. “Dari dulu, aku selalu tahu kalau cara berpikir kamu sedikit unik.”

“Oh ya?”

“Memangnya siapa yang bisa melupakan Ayu yang mengaku-ngaku jadi ‘Dennis’ dan malah jadi relawan saat keluarganya mengira dia sudah mati?” balasnya.

Aku tertawa. Tapi, malah jadi ingat sesuatu yang sebenarnya ingin aku katakan pada Radhi sejak lama.

“Terima kasih, Rad,” kataku.

“Untuk apa?”

“Mengizinkan aku membantu kamu dan kemudian kita meneriakan nama orang hilang di rumah sakit. Karena kalau hari itu kamu menyuruhku pulang ke keluargaku, mungkin aku....”

Sudah mati karena frustasi karena Alan meninggalkanku di rumah yang telah runtuh.

“Ya, aku senang kamu hidup dengan baik sekarang. Meski pun aku sedikit khawatir kamu... masih memikirkan Dennis yang asli,” katanya. “Aku tahu. Dia adalah alasan kamu tidak ingin menikah sampai sekarang.”

“Bukan, Radhi. Kamu salah. Aku tidak mau menikah ya karena aku memang tidak mau. Itu pilihan hidup yang aku ambil dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Alan atau orang lain manapun. Coba bayangkan, kalau aku menikah. Aku tidak bisa memasak. Aku tidak cakap dalam mengurus rumah tangga. Aku juga tidak terlalu pandai dengan anak-anak.”

“Kamu bekerja di NGO yang mengurus anak-anak pengungsian, Yu. Masa kamu masih tidak suka dengan anak-anak?”

Salah satu tujuan Peter membawaku walaupun dia tahu aku sakit adalah untuk mengajakku melihat dunia. Menyembuhkan diriku dengan membantu orang lain. Itulah yang membuatku hidup sampai detik ini.

“Bukan tidak suka. Mengurus anak-anak di pengungsian berbeda dengan mempunyai anak sendiri. Kamu tahu, Rad, tidak benar-benar ada standar yang tepat sebagai orang tua ideal di dunia ini. Membesarkan seorang anak bukan pekerjaan yang mudah. Aku pernah mengalami gangguan mental, kamu ingat? Mungkin aku tidak akan jadi ibu yang baik dan seorang anak bukan bahan percobaan. Bagaimana kalau aku tidak bisa dan malah jadi tidak waras? Aku tidak mau mempertaruhkan semua itu hanya untuk ‘mencoba’ jadi seorang ibu karena itu menyangkut seorang anak, seorang manusia yang akan tumbuh dan harus punya masa depan. Lagipula, mengurus anak-anak di pengungsian justru malah membuatku merasa lebih baik.”

“Kamu selalu rumit, Ayu. Tapi, sudahlah,” kata dia. “Yang penting bagiku, kamu tidak melakukan hal-hal bodoh lagi seperti dulu.”

Tapi, untuk tidak melakukan hal-hal bodoh lagi, entahlah. Aku hanya manusia. Karena aku bukan manusia yang suci dan tak pernah melakukan kesalahan. Di satu sisi aku adalah aku; manusia yang tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya.

“Aku tidak mau lagi melihat kamu masuk rehabilitasi... karena itu... juga pernah sangat melukai hatiku,” sambung Radhi lagi. “Untungnya aku mengenal kamu dengan sangat baik, bahkan melebihi Dennis yang masih kamu cintai sampai sekarang, jadi aku tahu setidaknya kamu tidak pura-pura bahagia.”

Aku tahu Radhi menyukaiku. Tapi, kami hanya berteman. Saat itu dia selalu ada untukku. Dia melakukan banyak hal untukku.

“Rad, aku menyayangi kamu,” kataku akhirnya. “Aku beruntung mempunyai teman seperti kamu. Kamu salah satu orang yang penting dalam hidupku dan aku bahagia saat kamu menikah lalu punya anak yang lucu. Maksudku, aku tidak kekurangan apa pun saat ini. Jadi kamu tidak perlu terus merasa khawatir lagi hanya karena aku tidak menikah, oke?”

Radhi memutar matanya. Tapi, aku tahu dia setuju denganku.

Aku telah meninggalkan masa-masa kelam di rumah sakit saat jaring-jaring ketakutan mengikat tangan dan kakiku. Yang kurasakan di ruang pesakitan itu hanya sepi. Aku terus bertanya-tanya apa kiranya yang aku lakukan sehingga mereka mengurungku di sana. Separuh diriku mati dan dikubur di dunia antah berantah itu. Sedangkan separuh lagi, hidup di dunia nyata, dihantui oleh diriku yang mati.

Mereka bilang aku tidak bergerak seperti beku. Mereka bilang aku tidak pernah bicara untuk waktu yang lama. Mereka pikir kegilaan pikiranku tersembunyi di sana. Mereka tidak tahu bahwa aku hanya kembali ke saat-saat di mana semuanya masih terang, sebelum gelap memasungku dalam lubang dalam penderitaanku pada kakiku yang pincang dan serta tubuh dengan banyak jahitan. Mereka tidak tahu bahwa di dalam ruang itu aku menjerit agar mereka mengeluarkanku. Aku menggedor-gedor pintu, berteriak kepada siapapun yang ada di luar sana agar mengeluarkanku. Tapi, tak ada seorang pun yang datang.

Ya, saat itu aku belum tahu bahwa skizofrenia membuat seseorang berada dalam halusinasi yang hebat. Dan itu sulit disembuhkan. Aku terlanjur hidup di dunia antah berantah. Tentang hal-hal menyenangkan dan membangun dinding tinggi yang tak bisa ditembus siapapun. Dan ketika kusadari bahwa mimpi buruk masih belumlah berakhir, aku berusaha lari darinya.

“Tidak semua orang yang berkelana itu tersesat, Radhi,” ucapku untuk yang terakhir kalinya.

“JR Tolkien,” katanya.

Radhi sepertinya mulai mengerti. Segala hal yang aku miliki sangat berarti. Dirinya, Peter dan Glenda, bahkan Emmy dan Isan yang masih sering datang dalam mimpiku dengan nyanyian dan petikan gitar mereka, juga keluargaku yang masih tetap konservatif. Tanpa mereka aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang; diriku yang aku cintai meskipun aku masih memendam kesedihan dan trauma itu di satu tempat.

Setelah bertemu Radhi, aku menyempatkan diri untuk singgah di peristirahatan Emmy dan Isan –hal yang juga selalu aku lakukan setiap kali aku pulang. Aku tidak akan pernah melupakan mereka walaupun mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku datang.

***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments