[Hal.33] [Ch.19] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Prasasti

Jakarta, Desember 2013…

Tiba-tiba suatu hari seseorang berdiri di depan pintu apartemen. Saat aku membukanya untuk menyeret sebuah dus besar dan berat dengan bantuan seorang karyawan jasa pindah rumah.

“Hai,” ia menyapaku dengan wajah dihiasi senyum yang dulu pernah sangat aku rindukan.

Hal pertama yang membuat mataku terpaku pada wajahnya adalah sebuah bekas jahitan luka yang panjang di pelipis kanannya. Namun senyum itu mengembalikan kenangan lama saat pertama kali aku melihatnya. Entah, aku terpaku, terkejut –dia datang mencariku.

“Ayu…,” aku mengambil beberapa langkah ke dekatnya untuk memastikan halusinasiku tidak sedang mempermainkanku lagi.

“Apa kabar?” tanya dia, mengukuhkan kenyataan mengejutkan yang membuat perasaan senang menyusup diam-diam ke hatiku, tapi lenyap seketika begitu kusadari semuanya sudah terlalu terlambat.

“Baik…,” jawabku, tersenyum. Menyembunyikan sedikit perasaan cemas dan kecewa yang nyaris membuatku tidak dapat melakukannya.

Ayu memandangi orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami serta barang-barang yang sengaja diangkat keluar. Raut wajahnya menunjukan ia tengah menyimpulkan sesuatu sesaat sebelum ia menatapku lagi, dengan dahi berkerut dan heran. “Kamu mau pindah rumah?” ia bertanya lagi.

Aku mengangguk, “Ya…,” jawabku.

Dia ikut mengangguk-angguk. Masih ada senyum bahagia dan sumringah di wajahnya, sebelum tiba-tiba itu hilang begitu melihat Melissa.

“Ada tamu ya?” Melissa menanyaiku, menatapi Ayu dengan tatapan heran juga.

Kusaksikan ia tertegun, memandang Ayu.

Sedangkan Ayu terpaku memandang Melissa.

Aku berada di antara mereka dan berusaha bersikap tenang. Apa yang mungkin kukatakan saat ini pada keduanya?

Ayu tiba-tiba tertawa pelan. Awalnya tertunduk, sebelum ia menggeleng-geleng pelan sebelum menatapku lagi, memandangi Melissa lagi. Seketika ia menyeret kakinya mundur beberapa langkah sebelum setetes air mata terlihat samar sebelum ia berbalik dengan cepat tanpa mengatakan apa-apa.

Aku hanya menyaksikannya berlari pergi menyusuri lorong yang memantulkan suara langkah kakinya hingga ia berhenti di depan lift dan tampak tidak sabaran memencet-mencet tombolnya. Begitu pintu terbuka, ia melompat ke dalam. Dan tidak pernah terlihat lagi.

Aku tidak pernah meminta maaf padanya…

---

Jakarta, April 2014…

Aku membunyikan klakson beberapa kali. Makin tidak sabar pada keramaian yang membuatku semakin lama terjebak di jalanan. Antara dinginnya AC dan parfum mobil yang terlalu wangi. Namun aku tidak bisa membuka kaca karena polusi akan menyeruak ke dalam.

Aku menghela nafas panjang, ketika akhirnya aku dapat bergerak maju dan mobil-mobil lain memberi ruang untuk lewat. Pagi telah datang menungguku dengan rutinitas yang sama. Meski setahun belakangan ada sesuatu yang sedikit berbeda pada hidupku.

“Pak Dennis!” resepsionis menegurku saat aku sedang menyeret langkahku yang malas menuju lift. “Hm…,” perempuan itu tampak ragu, “Ada yang mau bertemu Bapak”

“Saya tidak punya janji temu hari ini,” kataku ingin segera berlalu dan pintu lift terbuka. Aku segera naik bersama beberapa orang lainnya.

“Tapi, Pak, orang ini ngotot sekali…,” kata resepsionis itu dan aku mengabaikannya. Pintu lift hampir menutup dan resepsionis itu berkata lagi, “Dia bilang namanya Ayu Raima”

Seisi lift terkejut begitu aku menjulurkan tangan –tanpa sengaja mendorong barisan dua orang di depanku, untuk memencet tombol buka. Resepsionis itu juga terkejut dengan reaksiku begitu juga dengan orang-orang di dalam lift.

Aku tidak percaya. Sungguh, aku tidak percaya. Dia duduk di sana –terlihat sangat santai. Memainkan handphone yang dipasangkan earphone dan ia mengangguk-angguk mendengarkan musik yang kedengaran asyik sambil mengunyah permen karet. Aku tidak melihat wajahnya yang tertutup topi yang ia kenakan di kepalanya.

Rambutnya sudah panjang lagi dan ia kelihatan agak gemuk. Tapi, aku belum lupa bahwa dia adalah satu-satunya gadis kecil yang pernah membuatku melakukan hal bodoh seumur hidupku. Tidak, dia bukan gadis kecil lagi sekarang, karena aku sendiri juga sudah cukup tua.

Begitu aku tiba di hadapannya, ia langsung mengangkat kepalanya. Memperlihatkan wajahnya yang tersenyum lalu tertawa.

“Jadi….benar-benar susah ya bertemu Dennis Harianto itu?” candanya dan aku diam.

Dia masih tertawa saat berdiri di hadapanku.

“Aku sedang transit…,” ia menjelaskan kemunculan yang tampak seperti kejutan –seolah Tuhan baru saja menjatuhkannya dari langit untukku. Sambil melihat jam tangannya, ia melanjutkan, “Nunggu di bandara sampai enam jam pasti membosankan, jadi… aku ke sini…”

Rasanya seperti bertemu untuk pertama kali. Ah iya, April tahun ke enam sejak saat itu. Ia datang ke sini seolah ingin merayakannya. Ketika dia memperlihatkan dua kaleng Coca Cola di tangannya, ia mengajakku duduk di suatu tempat untuk minum.

“Aku sudah tidak minum itu lagi,” kataku sambil mengikuti langkahnya yang selalu mendahuluiku.

Dia menoleh ke belakang dengan tawa lebar, “Kenapa sih?” tanyanya santai.

“Kamu bilang membuat tulang cepat keropos,” jawabku. “Aku sudah kepala tiga, Ayu…”

Ayu cekikikan sambil berlari-lari kecil meninggalkan lobi. Dia selalu berjalan lebih dulu, seolah sedang menuntunku. Dan biasanya sepanjang jalan, dia akan tertawa sambil berbalik, memanggilku untuk berjalan lebih cepat.

Kami tidak berjabat tangan seperti seharusnya. Setelah tiga tahun tidak melihatnya, aku pikir aku dapat melepaskannya. Sekarang, keadaannya sudah jauh berbeda. Kami mempunyai kehidupan masing-masing. Kami sama-sama tahu itu.

---

“Kamu benar-benar mirip orang Afrika,” kataku dan dia malah cekikikan.

“Rasanya kamu pernah bilang begitu,” ia tampak berpikir, “Tapi, setahun belakangan aku memang di Afrika…”

“Jadi kapan kembali?” tanyaku, memperhatikan wajahnya yang kini dapat terlihat jelas setelah ia melepas topinya.

Kulit wajahnya segelap kulit di tubuhnya. Dia benar-benar tidak kukenali lagi. Hanya suara dan caranya tertawa yang meyakinkan aku bahwa dia benar-benar Ayu.

“Hm…,” dia tampak berpikir lagi, menengadah ke atas langit. Mengernyit karena terik sekali dan warna langit terlalu cerah di matanya. “Aku tidak tahu…”

Aku sedikit kecewa. Selalu mempertanyakan apa yang dia cari di negeri seperti Afrika. Mendengarnya saja aku sudah tidak tertarik. Yang ada di pikiranku hanya gajah, jerapah dan zebra, serta padang tandus dengan hawa yang luar biasa panas dan pohon akasia berduri. Perkampungan kumuh, dan anak-anak kecil yang kurus sekali dengan perut buncit.

“Kenapa?’, dia bertanya padaku dengan senyum mencurigakan.

Aku hanya memalingkan wajahku darinya, menatap pemandangan yang bisa terlihat dari atas sini. Lewat jendela kantorku di mana dia tadi begitu takjub dan terus memanggilku Dennis. Rasanya dia masih beranggapan bahwa Alan dan Dennis adalah dua orang yang berbeda. Padahal mereka sama, hanya berada pada masa yang berbeda.

“Apa kamu tidak merasa lelah?” tanyaku.

“Kadang-kadang,” jawabnya santai, berdiri di dekat jendela, melirikku sebentar, “Kadang juga bosan. Mau pulang. Tapi, tidak bisa langsung pulang kalau aku tiba-tiba jadi homesick.”

“Salah sendiri…,” gumamku.

Dia mendengus, “Afrika itu kan jauuuh sekali…,” katanya, mencibir, “Bahkan kamu belum pernah ke sana”

“Aku  tidak tertarik pergi ke Afrika,” cetusku.

Ayu tertawa. “Iya deh, nanti aku pasti pulang,” kata dia menghampiri, “Habisnya kamu mengecewakan”

“Aku? Kenapa aku?” protesku.

Ia menghela nafas, terlihat sedikit gusar, “Siapa suruh kamu menikah?” celetuknya, lalu kembali menghadap jendela, “Kamu itu… selalu memutuskan semuanya dengan cepat.”

Aku  terkekeh, “Kamu bisa ganti pacar lima kali dalam setahun,” balasku dan ia memberiku tatapan sinis.

“Seperti kamu tidak pernah melakukannya saja,” balas dia, mencibirku.

Aku menghela nafas. Jika ini dilanjutkan tentu akan berakhir dalam perdebatan yang tidak terlalu penting.

“Balas dendam?” aku bertanya padanya.

“Itulah hidup,” dia menoleh, sambil tersenyum dengan lapang.

Ayu akan melanjutkan petualangannya sedangkan aku sudah menikah lagi sejak setahun yang lalu. Meski kami adalah dua garis lurus yang tidak akan pernah bertemu, masih ada harapan yang tersembunyi yang menunggu untuk dikabulkan. Suatu hari nanti.

---

Handphone-ku berbunyi, tidak lama setelah Ayu naik taxi kembali ke bandara. Aku tertawa sendiri, dia masih ingat nomor teleponku. Apa dia lupa mengucapkan selamat tinggal karena tahu mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi?

Tapi, dari seberang sana, aku hanya mendengar sebuah lagu.

Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,

Semua tak 'kan mampu mengubahku,

Hanyalah kau yang ada di relungku,

Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta,

Kau bukan hanya sekedar indah,

Kau tak akan terganti…

Ayu tidak pernah mengucapkan selamat tinggal padaku. Dia selalu memberiku firasat bahwa semuanya belum berakhir. Aku mulai melihat suatu hari ketika kami sama-sama sudah lelah –entah itu pada saat kami sudah tua nanti, kami akhirnya bisa bersatu. Bagiku pernikahan hanyalah sebuah ikatan di atas kertas untuk saling menjaga dan mencintai tapi pada kenyataannya mereka tidak tahu arti kesetiaan.

Sekarang aku mengerti kenapa ayah dan ibuku yang telah berpisah begitu lama sama-sama tidak pernah menikah hingga mereka menua. Karena cinta mereka sejati dan abadi, begitu mereka tiada semua itu akan tinggal menjadi prasasti agar aku tahu apa itu ‘setia’. Sedangkan cinta tetaplah cinta…

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments