[Hal.32] [Ch.18] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Pernikahan

Jakarta, Agustus 2013…

Sore masih menyisakan bau matahari yang bersinar sepanjang siang di luar. Aku bisa melihat rona kemerahan pada langit yang baru melepas raja siang pergi ke belahan dunia lain. Aku terlalu familiar dengan pemandangan di jendela apartemen ketika aku menutup gorden, setiap kali tiba di rumah.

Melissa pasti lupa menutupnya setiap dia keluar.

Aku melompat ke atas sofa, menjatuhkan setiap bagian dari tubuhku yang lelah. Membiarkan setelan kantor itu tetap melekat di tubuhku. Hanya dengan melonggarkan dasi sedikit, aku bisa bernafas lega meski terkadang rasanya masih sesak.

Rumah ini selalu sepi, sekalipun sekarang bukan hanya aku saja yang tinggal di sini. Aku hanya terbiasa mendengar suara berisik tengah malam ketika aku ketiduran menunggu di sofa.

Suara pintu yang dibuka lalu suara gedebuk sesuatu yang jatuh di lantai, dan jeritan kesakitan yang kesal.

Melissa tersungkur, karena kepalanya terlalu berat. Seakan kakinya tidak sanggup menyangga badannya. Atau karena sepatu hak tinggi yang selalu ia pakai.

“Hai, Dennis…,” dia masih menyapaku dengan senyum bodoh di wajahnya di sela helaian rambut kecoklatannya yang panjang.

Aku selalu menghela nafas, sebelum aku mengangkat tubuhnya dari lantai dan ia terkulai lemas sambil tertawa tidak jelas. Dia mabuk.

Dalam tujuh hari selalu ada beberapa malam di mana aku menemukannya terjatuh di atas karpet dengan keadaan berantakan. Dengan bau minuman yang kuat dan aku jika sedang sial, ada bekas muntahan pada gaun mahal dan terbuka yang selalu ia kenakan. Aku harus membereskan semua itu jika ingin tertidur nyenyak di sampingnya.

Keesokan pagi, kami tidak pernah membicarakannya. Aku bersiap pergi ke kantor dan Melissa masih tergeletak di atas ranjang. Aku meninggalkannya dan ketika kembali, dia tidak pernah ada di tempatnya lagi.

Hanya sesekali, kita berada di rumah. Aku bisa memperhatikannya mengumpulkan semua pakaian kotor dan memasukannya ke dalam mesin cuci. Atau berada di dapur, memasak untukku dan aku menunggu di ruang tengah sambil menonton TV. Dia akan memanggilku untuk duduk di meja makan setelah menyiapkan semuanya.

Dia terlihat senang saat melepas celemek dari tubuhnya dan menggantungnya di dinding. Tersenyum padaku, seolah ia akan duduk di sampingku, menanyakan bagaimana rasa masakannya. Tapi, tidak. Melissa masuk ke kamar dan sejam kemudian keluar dengan dandanan yang luar biasa cantik.

“Den, aku keluar sebentar ya…,” dia pamitan saat mengenakan sepatu hak tingginya dan langsung pergi dengan ceria.

Dia tidak peduli, aku tidak menghabiskan makananku. Barangkali dia juga tidak melihat atau menyadari bahwa aku jadi tidak ingin memakannya karena dia meninggalkanku di sana. Begitu pintu itu tertutup selepas kepergiannya dan menyisakan bunyi yang menggema di kepalaku, semua yang ada di atas meja itu berserakan di lantai.

---

Pagi-pagi sekali, aku menemukan diriku terjaga sendirian. Walaupun, aku selalu tahu bahwa Melissa jarang berada di rumah karena bersama teman-temannya di luar lebih menyenangkan –tentu saja, daripada menungguku untuk basa basi hanya karena kami menikah.

Aku melihat jam weker di atas meja dan sudah terlalu terlambat mengejar waktu untuk berangkat ke kantor. Aku menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dengan lelah, lalu memandangi tempat di sampingku. Kosong. Seolah dia tidak pernah ada di sana sebelumnya.

Aku bangkit kembali, meregangkan otot-otot leherku yang rasanya kaku sekali. Aku merasa sangat letih seperti baru saja melakukan perjalanan jauh, mengejar sesuatu yang lari entah ke mana. Dalam kilasan ketika aku menutup mataku untuk menarik nafas dalam-dalam, aku melihat mimpi semalam yang muncul seperti garis terputus-putus di pikiranku.

Seberkas senyum yang baru kulihat kemarin, menyisakan kerinduan menyakitkan yang menusuk hati. Aku tidak tahu kapan akan melihatnya lagi. Tapi, menyadari bahwa aku bahkan sudah tidak pantas lagi menatapnya dengan caraku, aku memukul diriku sendiri untuk meneruskan apa yang kumulai tanpa tahu cara mengakhirinya.

Dari mereka semua, Melissa memang berbeda walaupun Ayu juga berbeda. Artinya mereka mempunyai kesamaan. Entah, rasanya begitu tidak adil jika aku mulai menyama-nyamakan atau membeda-bedakan. Kenyataannya, aku hanya tidak bisa melepaskan Ayu sekalipun aku tidak meragukan bahwa aku mencintai Melissa –istriku.

Aku menarik nafas panjang, sebelum turun dari tempat tidur. Lalu pergi ke dapur yang seingatku sangat berantakan. Aku terkejut menemukan sisa-sisa kekacauan itu sudah tak ada –piring-piring dan gelas-gelas yang pecah, sisa makanan yang tidak kuhabiskan karena kesal.

Aku terdiam di depan meja makan. Setiap sudut di rumah ini menjadi seperti semula, seolah kemarin aku tidak kehilangan diriku dan merusak semua yang ada di sekitarku. Entah, apakah aku sudah gila?, aku mengusap wajahku sambil tetap berpikir.

Apakah semalam Melissa pulang?

---

Malam itu samar-samar kudengar ada orang yang membuka pintu. Aku terlalu mengantuk untuk membuka mataku. Jadi aku tidak memastikan apa yang Melissa lakukan ketika dia kembali. Aku hanya marah, tidak ingin mempedulikannya setelah dia meninggalkanku begitu saja, di saat aku ingin memperbaiki kesalahanku.

Bagaimana pun aku tidak pernah mengingkari bahwa sikapku selama ini selalu menyakitinya. Aku lebih sering menghabiskan waktu di kantor daripada menemaninya belanja atau membeli keperluan rumah. Melissa bisa melakukannya sendiri tanpa pernah mengeluh atau meminta. Dan setiap bertemu, senyumnya selalu memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Hanya aku yang kurang peka terhadap kekosongan di antara kami.

Dia tidak pernah mengajak keluar bersama menghadiri pesta pernikahan teman atau acara perkumpulan lainnya, mengenalkan pada semua orang bahwa aku adalah suaminya. Bukan karena ia sengaja, tapi ia tahu bahwa aku tidak pernah punya waktu untuk bersosialisasi. Dia memberiku terlalu banyak waktu bagi diriku sendiri untuk tidak memikirkan dirinya.

Namun, bukan tidak pernah kami meributkan sebuah masalah. Bukan tidak pernah Melissa tidak menerima keadaanku. Bukan tidak pernah ia marah dan berteriak padaku. Dan bukan tidak pernah ia berkata menyesal menikah denganku. Ia mengatakannya dengan jelas dan berulang kali. Seperti hari itu.

Melissa mondar-mandir, sebentuk amarah seperti api yang berkobar membakar sekujur tubuhnya yang tampak panas. Ia menatapku dengan wajah kesakitan dan air mata mengotori wajahnya yang sedih.

“Kenapa?” ia bertanya padaku, menatapku merana, “Apa lagi kekurangan yang harus aku tutupi supaya kamu berhenti?”

Saat itu aku diam saja. Apapun yang aku katakan tetap akan membuatnya marah.

“Ayo jawab, Dennis!” desaknya menarik kedua lenganku, mengguncangnya dengan keras, “Apa lagi?!”

Dengan menyedihkan, aku tertunduk. Tak dapat mengelak. Seperti pencuri yang benar-benar tertangkap basah dengan barang bukti yang jelas-jelas ada. Komputerku tergeletak di atas lantai dengan posisi terbalik dan monitornya retak parah. Tidak ada alasan yang benar untuk mempertahankan sebuah kesalahan. Siapa pun yang hidup bersamaku pasti tidak akan terima jika aku masih menyimpan kenang-kenangan dari kekasih lama.

Melissa tanpa sengaja menemukan  foto-foto Ayu di komputerku yang baru saja ia lemparkan agar semua itu musnah. Jika saja aku hanya menyimpannya di otakku tentu tidak akan menjadi masalah besar karena aku bisa menyembunyikannya dengan sangat rapi. Tapi, gambar yang nyata itu seperti isi di kepalaku tentangnya yang tak bisa dimuat lagi oleh benakku.

Di matanya, aku terlihat seperti tertuduh yang benar-benar tidak akan diberi ampun. Sehingga, ketika dia berlari ke arahku, dengan amarah tak tertahankan, aku tidak menghindarinya. Melissa menamparku, memukul sekujur tubuhku dengan kedua tangannya dengan begitu kuat. Tapi, aku tetap berdiri meski hampir tidak mungkin menahannya karena Melissa mengerahkan semua tenaganya.

Mengetahui bahwa aku tidak menghentikannya, ia semakin marah. Dia memukul dadaku, “Aku benci kamu, Dennis!” teriaknya parau. Dia terus memukulnya sampai lelah dan rubuh di kakiku dalam lima detik untuk selanjutnya meratap di sana.

Tidak akan cukup mengatakan padanya bahwa aku menyesal. Tidak akan cukup mengatakan bahwa aku juga mencintainya. Aku terjebak antara apa yang ia inginkan dan jika aku memberikannya, aku mungkin lebih baik pergi. Tapi, tidak ada satupun yang menang, jika semuanya kalah.

Bagiku, bicara dengannya, lebih seperti maju selangkah tapi mundur dua langkah. Apapun yang aku lakukan ia akan tetap marah dan meronta, tidak ada yang bisa kulakukan untuk menenangkannya. Aku tidak bisa menenangkan pikirannya.

Aku mengerti, jika dia akhirnya memutuskan untuk pergi dari hidupku. Menyisakan gantungan baju yang kosong di dalam lemari. Meski tak melihatnya pergi, aku bisa membayangkan bagaimana ia masuk ke kamar tengah malam, mengawasi aku yang tertidur dan memastikan bahwa aku tidak terbangun oleh suara berisik saat ia melepaskan baju-bajunya dari gantungan untuk memasukkannya ke dalam koper.

Aku terduduk di sisi tempat tidur, seolah dapat menyaksikan menit-menit ia menghapus jejaknya di rumah ini. Bagaimana ia menatapku dengan sedih sebelum menyeret kopernya keluar. Ia membereskan semua kekacauan di dapur yang aku buat dan merasakan sisa-sisa amarahku pada piring dan gelas yang pecah, serta makanan yang ia buatkan untukku, terlihat seperti sampah paling menjijikan di lantai.

Rasanya seperti berputar di jalan satu arah . Aku tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan seolah itu akan membunuhku. Aku sudah mengatakan bahwa aku mencoba melupakan Ayu dan aku benar-benar melakukannya. Namun, aku tidak percaya ketika menyadari bahwa ternyata tiada jalan keluar bagi kami, seolah ini memang jalan cerita hidup kami.

Aku pikir masih ada waktu untuk membalikan keadaan daripada menghancurkan apa yang kami miliki di sini. Tapi, aku terus merasa bahwa ini sudah terlalu terlambat. Mungkin, karena kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama…

Aku tertunduk, saat kudengar suara dari dalam kamar mandi. Ada sesuatu di balik pintunya yang tertutup rapat. Pikiranku kosong saat kakiku perlahan mendekat ke sana dan tanganku ragu-ragu ingin menarik  gagangnya. Yang aku tahu, setelah melihat bagaimana kosongnya di luar dan di kamar ini, aku yakin tidak ada seorang pun selain aku.

Tapi, dugaanku salah. Ketika aku mendorong pintu yang tidak dikunci aku melihat Melissa berdiri dengan sesuatu di tangannya –sesuatu  yang bercahaya.

Sepasang lilin dengan bentuk angka 33 menyala di atas sebuah kue tart coklat dalam genggamannya. Dihiasi oleh senyum manis dan seruan dari beberapa orang yang bersorak di belakangnya.

“Selamat ulang tahun!!” seru mereka bersamaan dengan pita-pita dan kertas-kertas warna warni yang menyembul ke arahku. Mereka juga meniup peluit lidah yang membuat kehebohan.

Aku masih bingung, lepas dari kaget yang membuatku malah merasa ini seperti mimpi atau mungkin kenyataan yang belum pernah kutemukan selama hidupku. Tidak pernah ada yang memberiku kejutan seperti ini.

“Dennis!” tegur Melissa, “Ayo tiup lilinnya!”

Teman-teman Melissa yang jumlahnya ada sekitar 6-7 orang berseru, sambal bertepuk tangan, “Tiup lilinnya! Tiup lilinnya!” di sela-sela suara peluit dan terompet.

Ya, aku mengucapkan sebuah permohonan sederhana sebelum itu. Aku ingin orang-orang yang kusayangi diberkahi oleh kebahagiaan yang tak terhingga.

Asap dari lilin mengepul, tepuk tangan dari teman-teman ‘dugem’ Melissa semakin riuh. Mereka menghambur keluar dari kamar mandi dan membuat rumah termasuk kamar tidur menjadi berantakan.

Seorang teman Melissa, mengambil kue tart dari genggamannya. Aku masih berdiri, menunggu ucapan selamat yang sesungguhnya dari istriku dengan tidak sabar. Sebuah pelukan erat yang artinya lebih besar dari sebuah ucapan selamat.

“Jangan pernah menghilang seperti itu lagi…,” kataku, menyadari bahwa tadi aku begitu ketakutan, menemukan semua lemari dikosongkan.

Melissa tertawa di bahuku. Kurasakan ia menggeleng. Lalu tertawa lagi, “Aku cuma memindahkan baju-bajuku ke rumah kita yang baru kok…”

Aku melepaskan pelukanku,”Rumah baru?” aku cukup terkejut. Kita belum pernah membicarakan soal pindah rumah sebelumnya.

“Aku pikir… kamu harus meninggalkan semua yang ada di sini…,” kata dia tertunduk, “Lagipula… tempat ini terlalu kecil untuk kita… kamu tahu…untuk anak-anak juga…”

Aku membelalak.

Melissa menatapku dengan senyum yang aneh. Antara malu-malu dan ragu-ragu.

“Kamu…,” aku tengah berpikir saat ia mulai tersenyum lalu mengangguk-angguk.

Aku tertawa, tidak percaya, sebelum Melissa memelukku lagi. Perasaanku begitu luar biasa. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata tapi aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku yang berlebihan.

Akhirnya aku menemukan apa yang aku cari.

Tapi, tidak dengan Ayu.

Di luar sana ia masih tersesat…

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments