๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dia berdiri di lorong, dengan piyama putih yang kebesaran di badannya. Aku terkejut melihatnya bukan karena dia terlihat seperti penampakan menakutkan yang biasa membuat orang-orang merinding, tapi karena Hersch baru saja pergi setelah aku bicara dengan pria itu dan Ayu mendengar semuanya.
Bersandar ke dinding yang dingin itu, ia
menatapku sambil menyeka air matanya yang terus menetes. Ia tidak bicara
sepatah kata pun padaku. Tidak sama sekali, bahkan saat aku memeluknya, dia
hanya menangis. Menyesali kebodohan kami berdua yang membuat kami terpisah
sangat lama dan sama-sama hidup di neraka selama itu.
Dia mencengkram tubuhku erat dengan kedua
lengannya yang kurus. Tanpa kata-kata.
Semua telah terjadi. Tidak ada yang bisa
mengembalikan masa-masa itu. Betapapun mata ini menangis darah, tidak akan
bisa. Kami sama-sama kecewa mengetahui kenyataan itu. Tapi, setelah ini pun hidup
harus tetap dilanjutkan.
“Kamu harus tetap bahagia, dengan atau
tanpa aku, Ayu…,” ucapku menatapnya lekat-lekat, membelai rambutnya dengan
sangat pelan. “Kamu harus tetap terjaga…”
Ia mengangguk-angguk. Mendengarkan
kata-kataku, seperti mendengarkan titah.
“Aku tidak pernah ada di dalam cermin mana
pun, tidak pernah ada di tempat mana pun…,” kataku, berujar, mengecup dahinya
dan tanganku sendiri gemetaran seperti miliknya yang menggantung di leherku.
Aku memberi sedikit jarak di antara kami, menaruh tanganku di dadanya, “Tapi,
di sini… selamanya akan terus ada di sini…”
Dia mengangguk-angguk lagi, menggenggam
tanganku di dadanya sebelum aku memeluknya lagi, sangat erat hingga ia tidak
bisa bernafas.
Pagi yang membangunkan aku dari mimpi
menyedihkan itu adalah hari ketika dia telah menghilang dari sisiku. Aku
terbangun di kamar rumah sakit itu sendiri. Ayu bahkan tidak pamitan dan… dia
tidak mengucapkan selamat tinggal.
---
Aku tengah membayangkan bagaimana suatu
hari nanti adikku yang nakal keluar dari rumah pesakitan itu. Tapi, bilamana
ingat, keluhan Tyas soal kelakuannya itu, aku tidak yakin Achen ingin
cepat-cepat keluar dari sana. Dan aku pernah mengingatkan Achen, bahwa wanita
itu tidak suka pria dengan salib di lehernya. Satu lagi, jika ada perempuan
seperti Tyas di antara kami, sebuah keluarga akan hancur.
Achen sedikit menggerutu, begitu ingat itu
kata-katanya sendiri. Tapi, dia tampak lebih bersemangat sejak aku memberikan
hadiah dari Mami untuknya. Tapi, tidak memenyangka begitu ia keluar dari tempat
itu, Mami tidak sempat melihat perubahan yang begitu besar pada dirinya.
Siang itu kami menunggunya di rumah. Aku,
Gina dan Ivanna, serta Raka, bersama Mami yang telah tertidur di dalam peti
mati dalam keabadian. Hanya aku yang berusaha untuk tidak menangis, demi
adik-adikku. Aku berusaha menahan semua bentuk kesedihan lewat kilasan-kilasan
masa kecil di warung nasi, semua amarah dan tawanya ketika bersama kami –yang
muncul di kepalaku saat memandang wajahnya yang tenang untuk terakhir kali.
Kami sangat kehilangan. Begitu juga dengan
ayah yang berada di sisinya sampai ia dibawa ke pemakaman. Teringat pada
kata-katanya yang menegaskan bahwa cinta tetaplah cinta… seperti itulah mereka.
Cinta yang ingin kumiliki. Namun, ayah
mengingatkan, akan sangat berat bagi orang yang menjalani cinta yang seperti
itu. Ada yang bilang, perkawinan dengan cinta adalah selamanya.
Lalu ia pergi lagi, menitipkan Gina dan
Ivanna pada Achen –sama-sama menempuh jalan yang menurut mereka benar, yang
mana aku tidak dapat melakukannya. Karena aku telah berbeda keyakinan. Aku
telah memilih jalanku begitu juga dengan mereka. Ayah tampak menghargai itu. Ia
pun pulang ke kampung halamannya, untuk mengenang semua tentang cintanya yang
telah pergi.
Dan suatu pagi, seperti sebuah kejutan, aku
menemukan Sania di depan pintu apartemen. Dia tersenyum ramah padaku dan ketika
Raka melihatnya, ia langsung berlari memanggilnya.
“Bundaaaa!!” terlihat keceriaan yang begitu
besar di wajah lugunya.
“Bagaimana kabar kamu, Alan?” dia bertanya,
setelah menolak ajakanku untuk masuk.
Aku tidak menjawab, dan wajahku pasti
terlihat sangat murung.
“Aku turut berduka cita soal ibu kamu,”
katanya dengan hati-hati. Lalu ia tidak lagi menghiraukanku dengan menciumi
Raka penuh kerinduan.
“Kamu sama sekali tidak mau masuk?” tanyaku
lagi.
Dia menggeleng sambil tersenyum. “Aku ke
sini mau menjemput Raka,” katanya.
“Apa?” aku terkejut, rasanya aku belum siap
jika artinya sekarang.
“Bukannya aku sudah bilang cuma sementara?”
dia mengingatkan.
“Tapi, tidak bisa begitu, Nia…,” aku
sedikit kesal karena ia tampak begitu angkuh.
“Maafkan aku, Alan, tapi Raka harus ikut
aku…,” dia sedikit memaksa.
Raka mulai terlihat bingung.
“Tapi, kenapa harus sekarang? Kenapa harus
di saat seperti ini?”
“Aku tidak bisa menunggu lebih lama… aku
ingin tenang, Lan…”
“Oh ya, lalu bagaimana dengan aku?!”
suaraku meninggi, “Kamu tega mengambil Raka di saat aku begini?”
“Aku coba mengerti, Lan. Tapi, aku mohon,
kamu juga harus memikirkan aku…,” pintanya, tatapannya melunak, “Kamu bisa
menikah, punya anak lagi dengan istri kamu…”
“Jangan keterlaluan, Nia! Raka darah
dagingku! Kenapa kamu tidak bisa lebih adil dengan membiarkan dia tinggal denganku lebih lama?!”
“Maaf, Lan, aku tidak bisa…,” dia tertunduk
di ujung kalimatnya.
Raka menatapku sedih saat ia diseret ibunya
saat pergi. Dan ia bahkan tidak sempat mengucapkan sesuatu padaku. Kulihat anak
itu masih kebingungan saat mengikuti ibunya.
Kenapa harus di saat seperti ini?
Kenapa semuanya meninggalkanku sendiri?
Aku tidak puas bertanya pada diriku. Entah
sadar atau tidak, aku melemparkan semua yang kutemukan di dekatku. Dan saat ini
aku benar-benar sendirian.
Ibuku meninggalkan aku dan adik-adikku di
usia 54 tahun, lalu Sania membawa Raka pergi dariku dan sebelum itu Ayu memberi
jarak yang begitu jauh di antara kami. Sedangkan Melissa, seorang wanita yang
begitu mencintaiku. Yang mau menerimaku dengan tangan terbuka setelah semua
ketidakadilan yang kuberikan padanya. Lalu, aku dengan raut sedih –membawa semua kepedihan yang aku punya, mengetuk
pintu rumahnya. Dia masih bisa tersenyum ketika melihatku lagi. Selangkah aku
mendekat dengan langkah gontai dan tubuh gemetaran, dia menyambutku dengan
pelukan yang melunturkan semua kesedihan itu di hatiku.
---
Komentar
0 comments