[Hal.30] [Ch.17] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Perpisahan

Jakarta, September 2011…

“Tante Melissa mana?” aku menanyai Raka yang duduk di depan TV dan ia terlalu serius menatap ke sana –mengabaikanku.

“Pulang,” jawabnya santai

Aku menelisik ke setiap sudut ruangan. Ke ruang tengah, dapur dan kamar tidur. Tapi, aku tidak menemukan wanita itu.

Biasanya ia akan terlihat, menunggu di ruang tamu, membacakan buku untuk Raka. Lalu begitu melihatku, dia akan berdiri untuk menghampiriku. Memeluk dan memberiku ciuman di pipi sebagai ucapan selamat datang.

Biasanya di meja makan, akan ada sesuatu untuk dicicipi dan rasanya selalu enak. Dia menarik kursi dari bawah meja makan dan menyuruhku duduk, menyiapkan piring dan gelas, menyalin air putih ke dalam teko dan menaruhnya di depanku. Ketika aku makan dia selalu bertanya apakah rasanya enak dan dia selalu senang ketika aku mengangguk lalu menghabiskan makanan di piring.

Dia akan mengawasi Raka dengan duduk di sampingnya. Memastikan bahwa Raka tidak menyisihkan wortel dan buncis di piring karena tidak mau memakannya. Dan seperti biasanya, selalu ada jus sayur kemasan yang ia beli dari supermarket. Dia menuangkannya untukku dan Raka.

Setelah memastikan Raka tertidur, ia baru akan pergi dan tidak pernah memintaku mengantar walaupun sudah larut malam. Dia selalu mengatakan bahwa kota ini bersahabat dengannya. Jadi setiap aku memaksa mengantar pulang, dia akan menolak.

Tapi, sore ketika aku kembali dari perjalanan panjang dari Padang yang rasanya melelahkan. Aku tidak menemukannya. Aku hanya lupa, bahwa ia tidak tinggal bersamaku –meskipun rasanya seperti itu. Hanya saja, ketika aku putuskan menelpon, ia seolah sengaja mengabaikanku.

Aku tahu, dan merasa bersalah padanya. Dia pasti berpikir bahwa aku akan meninggalkan dirinya.

Entahlah…

---

“Yah, kenapa Tante Melissa tidak pernah datang lagi?” Raka bertanya padaku dan aku hanya tersenyum.

“Tante Melissa lagi sibuk,” jawabku saat aku membimbing tangannya melewati pagar rumah keluargaku dan aku bisa melihat Ivanna menunggu kami di teras.

Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Raka, begitu kami sampai, seperti biasa, Ivanna akan menggendongnya dan membawanya bermain ke dalam. Suara Gina yang riang juga terdengar menyambutnya dan mereka mulai membuat gaduh di lantai dua.

Mami duduk di kursi roda, menyambutku dengan senyuman ketika aku meraih tangannya untuk menciumnya. Begitulah cara orang Islam menghargai orang tuanya –seperti yang Ayah ajarkan.

“Kamu sehat, Alan?” tanya dia dari kursi rodanya, ketika aku menuntunnya ke dalam rumah.

“Ya, aku sehat…,” jawabku, “Mami Bagaimana?”

“Apa yang kamu harapkan, Wei Lan?” balas dia, terkekeh dan sudah lama sekali aku tidak mendengarnya memanggil nama lengkapku. “Mami ini sudah tua, tidak ada lagi istilah sembuh, yang ada malah sakitnya tambah parah…”

“Mami tidak boleh bilang begitu…,” ujarku, duduk di sofa di depan Mami, “Kalau Mami tidak ada, kami mau bagaimana?”

Tiba-tiba saja Mami memukul kepalaku, “Kamu ini sudah tua, Alan!” katanya, terlihat gusar dan marah, “Mau sampai kapan kamu mau seperti ini terus?”

Aku terdiam, tidak punya jawaban dari pertanyaan yang selalu ia ajukan ketika bicara dengannya. Soal kenapa aku masih belum menikah. Hanya itu satu-satunya pertanyaan yang paling sulit yang pernah ia tanyakan.

“Tidak ada yang perlu kalian cemaskan,” kata Mami, “Hidup memang seperti ini…”

Aku masih diam dan sekarang tertunduk.

“Pengobatan semahal apapun, Mami akan tetap seperti ini. Karena Mami sudah tua, ingat itu,” katanya, dengan nada tegas, “Tapi, hanya satu yang membuat Mami tenang…”

Aku menunggu, dengan menatap ke dalam matanya yang memancarkan kasih sayang yang tak pernah pudar.

“Melihat kalian bahagia dengan kehidupan kalian…,” katanya dan aku tersenyum mengangguk.

“Mami jangan khawatir…,” ujarku, menatap sungguh-sungguh.

Ia membalas senyumanku. Dengan senyuman penuh kedamaian yang sudah lama tidak kulihat di bibir-nya, mungkin karena sudah jarang bertemu. Tapi, aku mengingatnya baik-baik seakan aku tidak akan melihatnya lagi.

Mami memintaku mengantarnya ke kamar untuk mengambil sesuatu pada laci di meja dekat tempat tidur. Sebuah kotak persegi panjang dibungkus kain beludru warna hitam yang sangat familiar bagiku. Dulu benda itu milikku, Mami yang memberikannya sesaat sebelum aku berangkat ke Jakarta demi cita-citaku. Ketika itu aku masih sangat muda -20 tahun dan aku masih mempercayai Tuhan yang namanya asing bagiku.

“Mami tidak akan menyuruh kamu memakainya lagi…,” kata dia, menemukan ekspresi terkejut pada wajahku, mengira ia ingin mengembalikannya padaku, “Mami tahu kamu tidak membutuhkannya lagi. Tapi…”

Aku kembali menunggu suaranya mengatakan sesuatu.

“Kamu berikan pada Achen. Supaya di sana dia bisa lebih tenang,” kata Mami, teringat pada adikku yang saat ini berada di rehabilitasi dan ia harus menjalani terapi bersamaan dengan rasa kesepian yang pasti membuatnya putus asa.

Aku mengangguk dengan patuh.

Walaupun aku memanggil Tuhan dengan nama berbeda, di dunia ini mereka masih keluargaku. Aku meninggalkan Raka bersama mereka sementara ini, karena aku belum bisa mengurusnya sendiri –sejak Melissa tidak pernah datang lagi dan ia seolah menghindariku karena kecewa.

---

Keesokan pagi, aku sangat terkejut menerima sebuah surat di atas meja. Sebuah surat pengunduran diri yang ditanda tangan oleh Melissa sendiri.

Dengan senyum lapang, ia duduk di depanku untuk resign interview sambil menjelaskan alasan apa yang membuatnya melakukan ini.

“Kerja di kantor itu melelahkan,” dia menegaskan, “Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak untuk bersenang-senang.”

Aku tidak mengomentarinya. Memangnya apa yang harus kukatakan? Sekali pun aku tahu, bahwa alasan terselubung di balik sikapnya yang bersahabat adalah ia tidak ingin melihatku lagi. Aku telah mengecewakannya, meskipun aku belum mengatakan apa-apa padanya soal apa yang kutemui di Padang. Tapi, dia pernah mengakui bahwa ia sedikit bersedih, ketika aku memutuskan pergi hari itu juga –di hari ulang tahunku, ke Padang. Dan menurutnya aku masih mengharapkan Ayu kembali.

Dia memang benar soal itu. Tapi, apa dayaku? Itu hanyalah sebuah harapan. Kenyataannya Melissa tidak tahu bahwa Ayu telah memutuskan. Tapi, aku belum menjelaskan pada Melissa bahwa aku dan Ayu tidak akan kembali bersama. Karena akan terdengar bahwa aku memilihnya setelah memastikan bahwa semua usahaku gagal. Akan sangat tidak adil bagi Melissa jika aku mengatakannya, lalu menegaskan aku ingin bersamanya saat ini.

Melissa mengulurkan tangannya setelah wawancara selesai. Ia terlihat santai meninggalkan ruanganku karena kami bukan lagi sesama karyawan yang harus saling menjaga sikap professional.

Saat berdiri di pintu, sebelum keluar, ia menoleh sambil tersenyum, “Maafkan aku, Dennis,” ucapnya, tak lagi dapat menyembunyikan kegetirannya lewat tarikan nafas saat ia berusaha mengucapkannya agar terdengar senyaman mungkin. Tapi dia gagal.

Aku berdiri dari kursiku, menatapnya, memperhatikan ekspresinya yang masih menunjukan kekecewaan yang sama saat aku berusaha mengajaknya bicara dan ia malah memilih berlari pergi dariku. Aku mengerti, sangat berat baginya. Begitu pula dengan diriku. Setelah semua yang kami lewati bersama belakangan ini.

Aku merasa sangat jahat padanya.

“Kamu tidak usah khawatir,” ia berujar, “Aku masih tinggal di Jakarta.”

Aku tidak menjawab.

“Dan…,” ia tampak menelan ludah, menatap dengan mata berbinar, “Kamu boleh datang kalau kamu benar-benar sudah yakin…”

---

“Itu titipan dari Mami supaya kamu memakainya,” kataku pada Achen dan ia terpana memandangi kalung Kristus di dalam kotak hitam beludru yang sengaja aku bawa.

Setelah hampir sebulan berlalu, aku baru sempat mengunjungi Achen lagi di rehabilitasi.

“Kenapa Mami memberikan ini?” dia bertanya padaku dengan wajah khawatir, “Apa artinya, Bang?”

Aku menarik nafas, “Supaya kamu lebih tenang,” jawabku, duduk di dekatnya, menyadari bahwa pipinya yang biasanya selalu tirus sekarang sedikit lebih berisi.

“Bukannya ini dulu milik Abang?’, dia menatap kalung itu lalu aku.

“Ya…,” jawabku, masih memperhatikannya lalu tersenyum.

“Apa Mami baik-baik saja?” tanya dia, mulai cemas.

Aku mengangguk, meyakinkannya bahwa Mami masih seperti Mami yang biasanya. Ia hanya sudah terlalu tua dan lemah. Ia sudah menjalani hidup lebih dari separuh abad.

Adikku menggenggam kalung itu, tertunduk.

Aku terkejut karena dia meneteskan air mata. Saat itu, aku hanya menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan, “Kamu harus cepat-cepat keluar dari sini. Biar bisa bertemu Mami dan melihat Ivanna menikah”

Achen menarik nafas panjang, mengangkat kepalanya begitu ia selesai menyeka air matanya yang menetes. Memperlihatkan matanya yang merah dan begitu sedih. Ini pertama kalinya aku melihat si preman jalanan begini.

Kami terlalu menyayangi Mami.

“Maaf, waktu kunjungannya habis,” seorang wanita menegurku dengan mengetuk pintu.

Aku menoleh ke belakang, seorang wanita berpakaian serba putih dan berkaca mata berdiri di ambang pintu dengan sebuah catatan di tangannya. Aku sangat mengenal wanita itu.

Aku menepuk punggung Achen sekali lagi, “Abang pergi dulu,” kataku pamitan, turun dari sisi ranjang dan aku masih memperhatikan adikku menggenggam kalung itu sambil menangis –pesan terakhir dari ibu yang kami cintai.

“Abang yang baik…,” wanita itu menyapaku begitu aku tiba di depannya dan aku hanya tersenyum simpul. Dia mulai mengikuti langkahku saat seorang perawat yang tadi bersamanya masuk ke dalam, mengurus Achen. “Rasanya aku pernah lihat kalung itu…”

Aku meliriknya. Dia masih ingat saja, aku pun tersenyum. Tidak ada orang Padang yang mengenakan salib di lehernya, mereka semua beragama Islam. Itu kata-katanya, kata-kata seorang gadis yang kutemui di pesawat lalu membuatku jatuh cinta. Tapi, itu sudah lama sekali.

 Tyas  tertawa, “Jadi…,” dia melanjutkan, “Itu warisan turun temurun?”

“Begitu kira-kira,” jawabku tenang, meliriknya lagi. Aku pikir aku tidak hanya akan berurusan dengannya karena aku masih saja bertetangga dengannya.

Aku hanya tidak memenyangka bahwa ia memutuskan mengabdikan diri di rehabilitasi. Aku rasa banyak hal yang telah merubah sifat emosional dan seenaknya yang selama ini kutahu identik dengan dirinya. Dia terlihat sangat sederhana sekarang.

“Bagaimana kabar Ayu?” tanya dia tiba-tiba.

Aku mengangkat bahu, “Dia di Nairobi sekarang,” jawabku.

Tyas  mengangguk-angguk. “Hebat,” komentarnya.

Kita sudah sampai di depan pintu. Aku menghentikan langkahku untuk beberapa percakapan tidak penting yang bunyinya terdengar seperti basa basi.

“Lalu bagaimana dengan kalian?” tanya dia lagi.

Aku hanya tersenyum. Apapun itu tidak ada urusan dengan dirinya dan aku tidak akan menceritakannya pada orang lain. Cukup hanya menjadi kisahku, karena aku belum tahu di mana kisah ini akan berakhir. Kisah ini tidak akan pernah berakhir.

 Tyas  melambaikan tangannya. Hingga aku naik ke mobilku dan menghilang dari pandangannya. Aku hanya memberi kilasan singkat soal hari di mana aku masih bisa melihat Ayu dan bicara dengannya sebelum Peter Hersch membawanya pergi.

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments