Chapter 70 - Confused Man

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Sore itu, penthouse sunyi seperti biasa. Yang terdengar hanya suara klik-klik keyboard dari ruang kerja Axel.

Noa berdiri beberapa detik di depan pintu ruang kerja terbuka, ragu apakah ia boleh mengetuk. Ia memegang tas kecil, tangan lainnya menggenggam ponsel yang terus bergetar.

"Rayden..." suaranya pelan.

Axel berhenti mengetik. Cukup untuk menandakan ia mendengar, tapi tidak sampai memalingkan wajah.

"Ada apa?"

Noa menarik napas. "Aku... tidak bisa datang beberapa hari ini. Aku harus menemani nenekku."

Kali ini Axel menoleh. Hanya sedikit, dengan alis terangkat, bukan simpati, lebih ke rasa ingin tahu yang netral.

"Kenapa?"

Noa menelan ludah. "Kondisinya turun. Aku harus ada sana."

Axel menyatukan jarinya, berpikir sejenak. Ia tidak bertanya apakah Noa baik-baik saja. Tidak bertanya apa yang terjadi. Tidak menawari bantuan.

Namun ada kilatan kecil di matanya, seolah masih marah pernah ditinggalkan dalam keadaan menggantung malam itu.

"Jadi ini alasanmu?" katanya datar. "Kenapa kamu... mencoba menjual diri? Untuk membayar perawatan?"

Noa menunduk. Dia tak punya jawaban karena pertanyaan pria itu sendiri sudah merupakan jawaban.

"Tapi apa kamu tahu beban seperti itu memang milikmu?" Axel bersandar ke kursi. "Aku pernah dengar, kadang orang-orang di luar sana saling menanggung hal-hal seperti itu."

"Orang-orang di luar sana" - bagi Axel, istilah itu seperti menyebut planet asing.

Noa hanya diam.

Axel melanjutkan, tanpa nada jahat, tapi dengan cara yang langsung menusuk karena terlalu realistis, terlalu dingin.

"Nenekmu sudah tua, Noa. Kamu perlu mempersiapkan diri. Berjuang mati-matian untuk membuat orang tua tetap hidup... seringkali tidak ada hasilnya. Pada akhirnya, mereka tetap akan pergi."

Ucapan itu menghantam Noa seperti pukulan yang diberi pelan, tapi tepat sasaran.

Rasanya perih, tapi ia tidak menunjukkan apa pun.

Ia tidak boleh menunjukkan apa pun.

"...Aku mengerti," kata Noa akhirnya. Sederhana. Lembut. Dalam.

Axel memperhatikannya. Tidak menyesal. Tidak peduli apakah kata-katanya menyakitkan. Baginya itu hanya kenyataan.

"Kalau kamu harus pergi, pergilah," katanya akhirnya.

Noa mengangguk. "Terima kasih."

Ia berbalik. Hampir mencapai pintu ketika suara Axel memanggil lagi, bukan lembut, bukan khawatir, hanya memastikan posisi barang yang dikeluarkan dari tempatnya.

"Kapan kamu kembali?"

Noa berhenti sejenak. "Setelah nenekku membaik."

Axel mengangguk.

Pernahkah ia peduli?

Atau itu hanya kebiasaan; memastikan koleksi pribadinya tidak hilang?

Noa tidak bertanya.

Karena hubungan mereka bukan tempat untuk saling mengungkapkan beban atau kelemahan.

Di luar, Noa menghela napas panjang.

Di dalam, Axel sudah kembali mengetik seolah Noa tidak pernah berdiri di sana.

**

Setelah suara langkah Noa lenyap, ruangan benar-benar senyap.

Axel melanjutkan pekerjaannya, atau setidaknya mencoba. Lama-lama jarinya di keyboard terasa tidak sejalan dengan pikirannya. Ada jeda-jeda kecil yang tidak pernah terjadi sebelumnya; detik-detik singkat ketika pikirannya bergeser pada satu hal yang tidak seharusnya mengganggunya.

Malam itu. Ciuman yang belum selesai. Cara Noa bersandar padanya sebelum panik dan menarik diri. Dan suara pintu tertutup yang terdengar seperti sesuatu yang dicabut dari tenggorokannya.

Axel benci mengingat itu. Lebih benci lagi bahwa ia mengaku bahwa ia mengingatnya.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa: Axel bekerja, mengurus bisnis, memenuhi panggilan ayahnya. Tapi ada sesuatu yang tidak seperti biasanya... sesuatu yang tidak tepat.

Biasanya, ketika seseorang tidak bisa memenuhi panggilannya, Axel hanya perlu menemukan yang lain, mengucapkan satu kalimat, dan orang baru akan muncul di depannya tanpa menunggu lama.

Tapi Noa? Noa tidak muncul. Dan Axel tidak bisa menjustifikasi memanggilnya kembali ketika ia tahu alasan gadis itu tidak datang. Ia merasa itu menjengkelkan. Bukan karena Noa pergi. Tapi karena ia tidak memiliki alasan yang sah untuk marah.

---

Hari berikutnya.

Axel duduk di ruang kerjanya. Ia mengambil ponsel dan menatap nama Jay selama beberapa detik. Ia tidak suka merasa penasaran. Tidak suka merasa butuh kabar tentang seseorang.

Tapi ia tetap menghubungi Jay.

"Cek Noa," katanya. "Pastikan dia tidak-"
Ia berhenti. Kata mengulur waktu terasa kekanak-kanakan untuk diucapkan oleh seseorang sepertinya. Ia memperbaiki kalimatnya dengan kedinginan yang disengaja. "Pastikan dia tidak... berkeliaran entah ke mana."

Jay mengerti maksudnya. Butuh satu jam untuk kembali dengan jawaban.

"Neneknya memang masuk rumah sakit. Dokter bilang perlu observasi intensif."

Axel tidak memberi respons verbal. Hanya anggukan pendek yang Jay tidak bisa lihat.

Garis rahangnya mengeras, bukan karena Noa berbohong, tapi karena gadis itu ternyata tidak berbohong. Dan itu membuat Axel tidak punya alasan untuk menyalahkannya.

**

Axel melakukan hal yang sama seperti selalu ia lakukan ketika sesuatu mengganggu pikirannya: bekerja.

Pagi itu ia turun ke lantai operasional Infinite Hotel; gedung yang biasanya menjadi medan tempatnya merasa paling dominan, paling terkendali. Tempat di mana ratusan manusia mengikuti instruksinya tanpa berani mengerutkan dahi.

Tapi hari itu ia baru berada di lantai itu tiga puluh menit sebelum menyadari sesuatu yang ganjil.

Axel tidak bisa fokus.

Para staff menghampirinya dengan laporan, tapi kata-kata mereka terdengar seperti suara dari balik air. Teredam. Tidak penting.

Seorang tamu VIP menyapa, berharap Axel mengenalinya seperti biasa. Axel menatapnya beberapa detik tanpa ekspresi, mencoba mengingat nama pria itu; sebuah hal kecil yang biasanya tidak pernah salah.
Pria itu mundur dengan canggung.

Jay, yang mengikuti di belakang sambil membawa tablet laporan harian, sampai melirik Axel dua kali, mencoba memastikan bahwa bosnya tidak sedang mengalami sesuatu yang serius.

Axel hanya berjalan, matanya tajam menyapu koridor namun pikirannya tidak berada di sana.

Lampu-lampu hotel yang selalu terang kini terasa berlebihan. Suara obrolan tamu yang biasanya ia abaikan kini menusuk kepalanya. Ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang tidak seharusnya memengaruhi dirinya; tapi jelas sedang terjadi.

Pada jam dua siang, Axel memutuskan bekerja menjadi tidak efisien.

"Jay," katanya datar, "cek Noa."

Jay mendesah kecil. "Aku sudah mengeceknya hari ini. Neneknya tidak sadarkan diri dan dia belum meninggalkan rumah sakit beberapa hari ini."

Axel tidak menjawab, tapi rahangnya mengencang, seperti menahan rasa jengkel yang tidak seharusnya ada.

Jengkel pada siapa? Pada Noa? Pada dirinya sendiri? Atau pada kenyataan bahwa ia menunggu?

**

Setibanya di penthouse malam itu, ia menyalakan lampu, melepas jas, dan berdiri lama di depan cermin.

Lelaki yang menatap balik padanya; bahunya tegang, mata hitamnya tampak sedikit kosong. Bukan kosong seperti biasa. Lebih buruk. Kosong karena ada sesuatu yang tidak hadir.

Tidak seharusnya satu gadis membuat ritme hidupnya berubah seperti ini. Tidak seharusnya ia peduli apakah gadis itu sedang mengurus neneknya... atau sedang mencari alasan untuk menjauh.

Namun setiap kali ia memerintahkan Jay mengecek kondisi Noa, dan Jay selalu berkata bahwa Noa memang sibuk mengurus wanita tua yang sekarat.

Axel merasakan sesuatu yang ia benci: ketidakberdayaan. Ia tidak bisa memaksa gadis itu datang tanpa terlihat seperti monster. Dan Noa yang datang dalam kondisi mental buruk akan membuat interaksi mereka jadi percuma. Ia ingin seseorang datang bukan karena perintah. Tapi karena ia menginginkannya.

Jay kembali memberi kabar.

"Noa masih di rumah sakit. Dia begadang semalaman. Katanya neneknya belum stabil, tapi membaik sedikit."

Axel berhenti membaca laporan yang ada di tangannya.

Ia tidak bertanya,

'Apa dia sudah makan?', 'Apa dia aman?', dan
atau pertanyaan sejenis yang menunjukkan kepedulian.

Tapi Axel malah bertanya, "Dia bilang sesuatu tentang kembali?"

Jay menggeleng.

Axel mendecak pelan. Ia merasa... kesal. Tapi bukan pada Noa. Justru pada dirinya sendiri. Karena ia tahu, meskipun ia bisa saja menghubungi Noa dan memerintahkannya kembali, gadis itu pasti akan datang; bahkan jika jiwanya masih setengah hancur di ruang ICU. Dan itu... membuat Axel merasa seperti bajingan.

Ia duduk di sofa, menekan pelipis dengan dua jari.

Gadis itu dengan nenek yang hampir menemui ajal tidak akan bisa memusatkan perhatian padanya. Tidak akan bisa mencium seperti malam itu. Tidak akan bisa menatapnya tanpa membawa beban yang lebih berat daripada dirinya sendiri.

Axel, entah kenapa, tidak ingin menjadi pria yang menarik Noa keluar dari rumah sakit saat dia seharusnya ada di sana. Ia tidak menyukai perasaan itu. Tidak suka menyadari bahwa ia sedang mengalah. Mengalah pada sesuatu yang tidak seharusnya memegang kendali atas dirinya.

Namun setiap hari, setelah bekerja, ia tetap bertanya pada Jay.

Bukan karena ia merindukan Noa. Axel tidak pernah menggunakan kata itu.

Rindu.

Terlalu lemah. Terlalu bukan dirinya. Walaupun ia tak yakin lagi siapa dirinya yang sekarang. Tapi karena ia ingin tahu kapan gadis itu akan kembali... untuk menyelesaikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah terputus.

Dan setiap malam, ketika ia berdiri di balkon sambil memegang gelas wiski, ia kembali mengingat ciuman itu; ciuman yang ia lakukan terlalu hati-hati, terlalu lambat untuk seseorang sepertinya.

Dan fakta bahwa ciuman itu berhenti bukan karena ia ingin berhenti... membuat Axel semakin sulit tidur.

**

Dalam beberapa minggu terakhir, Trias sebenarnya tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik Axel sedetail dulu. Ia merasa putranya akhirnya berada pada fase yang lebih... stabil dengan cara mengejutkan.

Axel tidak lagi mengejar Sandrine; keputusan yang membuat Trias lega lebih dari yang ingin ia akui. Ia juga bekerja dengan konsisten, mengelola Infinite Hotel tanpa banyak mengeluh, meski kadang sewot ketika diberi tugas tambahan di luar tanggung jawab hotel. Tetapi Axel tetap menyelesaikannya. Tanpa drama. Tanpa insiden.

Dan, yang paling tidak disangka... Axel bahkan punya seseorang di hidupnya. Meski itu tidak sepenuhnya hal yang membuat Trias tenang juga.

Trias tidak tahu seperti apa hubungan itu. Ia tidak ingin tahu terlalu dalam. Menurutnya, selama Axel tidak membuat kekacauan, biarkan saja. Ia hanya melihat bahwa sejak kemunculan gadis bernama Noa Seren, anaknya jauh lebih tenang. Tidak terlalu meledak-ledak. Tidak terlalu gelap.

Ketika akhir-akhir ini Axel terlihat murung, Trias mulanya tidak menganggap itu aneh. Putranya memang begitu; terkadang bersemangat, terkadang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ada hari Axel bekerja dengan sangat fokus, ada hari ia masuk rapat hanya untuk tampak menatap kosong meja selama sepuluh detik sebelum akhirnya kembali sadar dan menjawab semua pertanyaan dengan dingin.

Itu bukan sesuatu yang baru bagi Trias.

Namun semakin hari, tatapan Axel menjadi berbeda. Lebih gelisah, tapi disembunyikan rapi. Sesuatu yang selalu ada di belakang matanya, mengganggu konsentrasinya meski Axel tetap berusaha mengabaikannya.

Trias bukan tipe ayah yang ingin ikut campur hubungan anaknya, tapi ia juga tidak buta. Ada sesuatu yang menggerogoti Axel. Dan dia tidak menyukainya.

Pada akhirnya, ia menekan nomor Jay. Lagi.

**

Jay mengangkat telepon dengan nada profesional yang sangat dipaksakan. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan hanya dari cara Trias menyebut namanya.

"Jay," suara itu datar, berat. "Akhir-akhir ini Axel terlihat... murung. Ada sesuatu?"

Jay mengusap wajah dengan lelah. Ia sebenarnya malas membahas dinamika kehidupan pribadi Axel; terutama urusan itu. Tapi Trias menelepon bukan sebagai bos besar dengan perintah mutlak, bukan sebagai pemilik perusahaan yang menuntut jawaban, melainkan sebagai seorang ayah yang resah kalau anaknya tiba-tiba meledak tanpa sebab.

Karena setiap Axel melakukan manuver setelah diam panjang, tidak ada yang siap dengan dampaknya.

Jay memilih kata-kata yang paling aman.

"Hanya masalah anak muda biasa, Pak," katanya.

Trias terdiam beberapa detik, lalu mengembuskan napas. Ia tidak mengerti maksud spesifik kalimat itu, tapi ia cukup paham untuk menyimpulkan: ini bukan hal yang bisa ia campuri.

Dia tidak perlu tahu detailnya. Tidak perlu tahu bagaimana hubungan Axel dengan pacar barunya. Tidak perlu tahu apa masalahnya.

Selama itu bukan jenis masalah yang pernah Axel ciptakan dulu; masalah yang membuat mereka harus menutup-nutupi segala sesuatu dari publik, Trias memutuskan untuk tidak ikut campur.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Selama dia tidak melakukan hal bodoh."

Jay mengangkat bahu, meski Trias tidak bisa melihatnya.

"Sejauh ini tidak."

Memang bukan tindakan bodoh. Tapi lebih...

Dan dalam hati, Jay ingin menambahkan:

Putramu yang aneh hanya tidak tahu caranya memiliki sebuah hubungan normal. Kadang terlalu dingin, kadang terlalu intens, dan kali ini dia kehabisan cara menghadapi seseorang yang dia... pedulikan.

Tapi tentu saja itu tidak ia ucapkan.

Trias tampaknya sudah cukup yakin. Ia menutup telepon tanpa pertanyaan tambahan.

Jay menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum mendesah panjang.

Masalah Axel akhir-akhir ini memang hanya satu: bukan pekerjaan, bukan hotel. Juga bukan keluarga.

Tapi seorang gadis muda yang merawat neneknya di rumah sakit; dan seorang lelaki yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan perasaan yang seharusnya tidak ia punya.

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments